Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Covert Narcissist: Cara Mengenali Ciri-Cirinya dan Menghadapi Hubungan yang Menguras Emosi Menurut Pakar

Yang membuat covert narcissism sulit dikenali bukan karena perilakunya selalu tersembunyi, tetapi karena kebutuhan akan perhatian, validasi, dan rasa penting dapat muncul melalui kerentanan, kesunyian, keluhan, atau sikap seolah-olah menjadi korban.

Ketika narsisme tidak terlihat seperti narsisme

Ketika mendengar istilah narsistik, banyak orang membayangkan seseorang yang percaya diri secara berlebihan, suka menjadi pusat perhatian, gemar membicarakan pencapaian diri, dan merasa dirinya lebih unggul daripada orang lain. Gambaran tersebut memang dapat muncul pada narcissistic personality disorder atau NPD, tetapi bukan satu-satunya bentuk ekspresi narsisme.

Ada pola yang jauh lebih sulit dikenali. Seseorang dapat terlihat pemalu, pendiam, sensitif, bahkan sering merendahkan dirinya sendiri, tetapi pada saat yang sama memiliki kebutuhan yang kuat untuk mendapatkan pengakuan, perhatian, atau perlakuan khusus. Dalam literatur populer, pola semacam ini sering disebut covert narcissism atau vulnerable narcissism.

HelpGuide menjelaskan bahwa orang dengan pola ini dapat tampak lebih tertutup dibandingkan individu dengan ekspresi narsisme yang lebih grandiose. Namun, di balik penampilan yang rendah hati atau menarik diri, dapat terdapat sensitivitas tinggi terhadap kritik, kebutuhan akan validasi, rasa tidak dihargai, kesulitan menerima kesalahan, dan kecenderungan menyalahkan orang lain.

Penelitian klinis juga menunjukkan bahwa narcissistic personality disorder memiliki manifestasi yang kompleks. Literatur membedakan antara aspek grandiose dan vulnerable, sementara istilah overt dan covert lebih berkaitan dengan bagaimana karakteristik tersebut diekspresikan. Bahkan, seseorang dapat memperlihatkan kombinasi beberapa pola tersebut dalam situasi yang berbeda.

Ekspresi lebih terlihat Ekspresi lebih tersembunyi

Ilustrasi konseptual: narsisme dapat muncul secara grandiose maupun lebih vulnerable dan tertutup.

Covert narcissism bukan diagnosis tersendiri

Satu hal penting sering hilang dalam pembahasan media sosial mengenai covert narcissist: covert narcissism bukan diagnosis resmi yang berdiri sendiri dalam DSM-5-TR. Diagnosis yang dikenal secara klinis adalah narcissistic personality disorder.

Istilah covert atau vulnerable lebih tepat dipahami sebagai cara untuk menjelaskan pola atau karakteristik tertentu dalam narsisme. Karena itu, tidak tepat mendiagnosis seseorang hanya karena ia pendiam, mudah tersinggung, suka mengeluh, atau sering mengatakan dirinya tidak dihargai.

Perilaku tersebut dapat muncul karena berbagai alasan. Seseorang yang mengalami kecemasan sosial, depresi, pengalaman penolakan, rasa tidak aman, atau masalah hubungan tidak otomatis memiliki NPD.

Prinsip penting: mengenali pola perilaku berbeda dengan memberikan diagnosis. Diagnosis gangguan kepribadian memerlukan evaluasi profesional yang mempertimbangkan pola jangka panjang, konteks kehidupan, fungsi interpersonal, serta dampaknya terhadap kehidupan seseorang.

Tanda-tanda covert narcissism yang sering luput

Covert narcissism sering lebih sulit dikenali karena kebutuhan narsistik dapat disampaikan secara tidak langsung. Bukan selalu melalui kalimat seperti “Saya paling hebat”, tetapi melalui pola interaksi yang berulang.

01 Sangat sensitif terhadap kritik

Koreksi kecil dapat dianggap sebagai penghinaan, penolakan, atau serangan terhadap harga diri.

02 Merasa sering tidak dihargai

Perhatian terhadap kontribusi diri dapat sangat besar, terutama ketika penghargaan yang diharapkan tidak datang.

03 Memainkan posisi korban

Kesulitan atau konflik dapat berulang kali dijelaskan sebagai akibat perlakuan buruk orang lain.

04 Agresi tidak langsung

Kemarahan dapat muncul melalui sindiran, menarik diri, diam berkepanjangan, atau tindakan pasif-agresif.

05 Mencari validasi secara halus

Kerendahan hati atau self-deprecation dapat menjadi cara memperoleh reassurance dan perhatian.

06 Sulit melihat perspektif orang lain

Percakapan dan konflik dapat terus kembali pada kebutuhan, luka, atau pengalaman dirinya sendiri.

1. Sensitif terhadap kritik

Salah satu karakteristik yang paling sering muncul adalah respons kuat terhadap kritik. Pada ekspresi narsisme yang lebih terbuka, kritik mungkin dibalas dengan kemarahan atau konfrontasi. Pada pola yang lebih covert, responsnya dapat lebih tenang di permukaan tetapi tetap terasa sebagai hukuman emosional.

Seseorang mungkin mendadak menarik diri, menjadi dingin, berhenti berkomunikasi, memberikan sindiran, atau membuat orang lain merasa bersalah karena telah mengoreksi dirinya.

Yang perlu diperhatikan bukan satu kejadian, tetapi pola berulang ketika harga diri orang tersebut terasa terancam.

2. Selalu merasa tidak dihargai

Keluhan mengenai kurangnya apresiasi tentu bukan tanda narsisme dengan sendirinya. Semua orang dapat merasa kecewa ketika usahanya tidak dihargai.

Masalah muncul ketika hampir setiap interaksi berubah menjadi persoalan tentang bagaimana dirinya diperlakukan. Ia mungkin terus membicarakan bahwa orang lain tidak memahami dirinya, tidak mengakui kontribusinya, atau selalu mendapatkan kesempatan yang seharusnya menjadi miliknya.

Pada pola vulnerable narcissism, kebutuhan akan pengakuan dapat bercampur dengan perasaan malu, rendah diri, kecemasan, dan rasa tidak aman. Penelitian menunjukkan bahwa vulnerable narcissism memang lebih sering berkaitan dengan kecemasan, depresi, rasa malu, dan harga diri yang lebih rendah dibandingkan ekspresi grandiose.

3. Kerendahan hati yang selalu membutuhkan respons

Salah satu bentuk yang membingungkan adalah self-deprecation. Seseorang mungkin berkata, “Saya memang tidak pintar,” “Saya selalu gagal,” atau “Tidak ada yang menganggap saya penting.” Pernyataan tersebut dapat merupakan ekspresi genuine dari rasa rendah diri dan tidak boleh otomatis dianggap manipulatif.

Namun, dalam konteks tertentu, pola tersebut dapat menjadi cara tidak langsung untuk memperoleh reassurance. Setelah mengatakan sesuatu yang merendahkan dirinya, ia mungkin menunggu orang lain menyangkalnya dan memberikan pujian.

Cleveland Clinic mencatat bahwa self-deprecating behavior dapat digunakan untuk mendapatkan perhatian atau simpati dalam konteks covert narcissism. Namun, sekali lagi, self-deprecation saja tidak cukup untuk menyimpulkan seseorang narsistik.

4. Passive-aggressive ketika merasa tersinggung

Ketika marah, seseorang dengan pola covert narcissism mungkin tidak selalu mengatakan secara langsung bahwa dirinya kecewa. Kemarahan dapat muncul melalui diam, penundaan, sindiran, komentar bernada meremehkan, atau penarikan diri.

Misalnya, alih-alih mengatakan, “Saya kecewa karena keputusan itu,” ia mungkin berkata, “Ya sudah, seperti biasa pendapat saya memang tidak penting.”

Kalimat seperti itu bisa saja merupakan ekspresi frustrasi biasa. Yang perlu diperhatikan adalah apakah komunikasi tidak langsung tersebut menjadi pola yang membuat orang lain harus terus menebak kesalahan mereka dan akhirnya merasa bersalah.

“Masalahnya bukan sekadar apakah seseorang tersinggung. Yang lebih penting adalah bagaimana ia mengelola rasa tersinggung tersebut dan apakah pola responsnya secara konsisten merusak hubungan.”

5. Sulit menerima tanggung jawab

Hubungan yang sehat membutuhkan kemampuan untuk mengatakan, “Saya salah,” “Saya memahami dampaknya terhadap kamu,” dan “Saya akan memperbaikinya.” Pada pola relasional yang tidak sehat, tanggung jawab dapat dialihkan melalui berbagai cara.

Misalnya, seseorang meminta maaf tetapi segera menambahkan alasan mengapa sebenarnya orang lainlah yang menyebabkan kesalahannya. Atau konflik yang awalnya membahas perilakunya berubah menjadi pembahasan panjang tentang kesalahan pasangannya.

Dalam situasi seperti ini, perhatikan apakah konflik selalu berakhir dengan Anda yang meminta maaf meskipun masalah awalnya bukan berasal dari Anda.

6. Empati yang tidak konsisten

Kurangnya empati merupakan salah satu karakteristik penting yang dibahas dalam NPD. Namun, empati bukanlah kemampuan yang hanya memiliki dua kondisi: ada atau tidak ada.

Seseorang dapat memahami perasaan orang lain pada situasi tertentu tetapi kesulitan mempertahankan perhatian tersebut ketika kebutuhannya sendiri merasa terancam.

Literatur ilmiah tentang NPD menunjukkan bahwa hubungan antara narsisme dan empati cukup kompleks. Beberapa penelitian membedakan kemampuan memahami keadaan mental orang lain dengan kecenderungan untuk benar-benar berbagi atau merespons pengalaman emosional orang tersebut.

Mengapa hubungan dengan covert narcissist dapat terasa melelahkan?

Salah satu alasannya adalah ketidakpastian emosional. Anda mungkin tidak pernah tahu komentar mana yang akan dianggap sebagai kritik. Percakapan yang awalnya sederhana dapat berubah menjadi pembahasan tentang bagaimana seseorang merasa tidak dihargai.

Lama-kelamaan, pasangan, teman, anggota keluarga, atau rekan kerja dapat mulai melakukan emotional walking on eggshells: terlalu berhati-hati dalam berbicara karena khawatir memicu reaksi negatif.

Jika situasi berlangsung lama, seseorang dapat mulai mempertanyakan penilaiannya sendiri. “Apakah saya terlalu sensitif?” “Apakah sebenarnya saya yang salah?” “Mengapa setiap konflik selalu berakhir seperti ini?”

Perasaan bingung tersebut tidak membuktikan bahwa Anda sedang berhadapan dengan seorang narcissist. Namun, perasaan tersebut dapat menjadi sinyal bahwa dinamika hubungan perlu diperiksa secara serius.

Hubungan sehat membutuhkan komunikasi dan batasan yang jelas

Ilustrasi konseptual: menjaga batasan membantu seseorang tetap memiliki ruang psikologis dalam hubungan yang sulit.

Cara menghadapi covert narcissism tanpa kehilangan diri sendiri

Menghadapi seseorang dengan pola perilaku narsistik bukan berarti mencari cara untuk “mengalahkan” atau “membongkar” dirinya. Tujuan yang lebih realistis adalah mengelola interaksi, menjaga batasan, dan melindungi kesejahteraan diri.

1. Fokus pada perilaku, bukan label

Daripada mengatakan, “Kamu narcissist,” gunakan bahasa yang menjelaskan perilaku dan dampaknya.

Contohnya: “Ketika pembicaraan berakhir dengan saya yang selalu dianggap bersalah, saya tidak bisa melanjutkan percakapan ini.”

Pendekatan tersebut lebih konkret. Anda tidak perlu memenangkan perdebatan tentang diagnosis untuk menentukan bahwa sebuah perilaku tidak dapat diterima.

2. Tetapkan batasan yang spesifik

Batasan bukan ancaman. Batasan adalah penjelasan mengenai apa yang akan Anda lakukan ketika perilaku tertentu terjadi.

Batasan yang konkret:

“Saya bersedia membicarakan masalah ini ketika kita bisa berbicara tanpa penghinaan.”

“Kalau percakapan berubah menjadi teriakan, saya akan berhenti dan melanjutkannya nanti.”

“Saya tidak akan mengambil tanggung jawab atas keputusan yang bukan saya buat.”

Batasan akan lebih efektif jika konsisten. Mengatakan batasan tetapi selalu mengabaikannya justru membuat pola lama terus berulang.

3. Jangan terjebak dalam kebutuhan untuk terus membuktikan diri

Jika seseorang terus mempertanyakan niat, karakter, atau ingatan Anda, Anda mungkin terdorong untuk menjelaskan diri berulang kali.

Namun, semakin panjang penjelasan, semakin banyak bahan yang dapat digunakan untuk memperpanjang konflik.

Dalam situasi tertentu, respons singkat dan faktual lebih membantu. Tidak semua tuduhan membutuhkan pembelaan panjang.

4. Pertahankan hubungan di luar relasi tersebut

Hubungan yang menguras emosi dapat membuat seseorang semakin terisolasi. Karena itu, tetaplah memiliki teman, keluarga, aktivitas, pekerjaan, hobi, dan ruang pribadi yang tidak berpusat pada hubungan tersebut.

HelpGuide juga menekankan pentingnya mencari dukungan dan tujuan hidup di luar hubungan dengan orang yang memiliki pola narsistik. Dunia sosial Anda seharusnya tidak menyempit hanya karena satu hubungan menjadi sulit.

5. Catat pola jika Anda mulai meragukan ingatan sendiri

Dalam konflik berulang, catatan pribadi yang sederhana dapat membantu Anda melihat pola secara lebih objektif. Catat tanggal, kejadian, apa yang dikatakan, bagaimana Anda merespons, dan apa yang terjadi setelahnya.

Tujuannya bukan mengumpulkan “bukti untuk menyerang” seseorang, tetapi membantu Anda membedakan antara satu konflik biasa dengan pola perilaku yang terus berulang.

6. Jangan merasa bertanggung jawab untuk memperbaiki seseorang

Salah satu jebakan terbesar dalam hubungan yang sulit adalah keyakinan bahwa Anda harus menemukan cara yang tepat agar orang tersebut berubah.

Anda dapat menyampaikan kekhawatiran. Anda dapat mengajak seseorang mencari bantuan profesional. Anda dapat memperbaiki cara berkomunikasi. Tetapi Anda tidak dapat memaksa orang lain memiliki insight, menerima tanggung jawab, atau menjalani terapi.

Untuk NPD, terapi psikologis merupakan pendekatan utama. Pengobatan dapat digunakan untuk kondisi lain yang muncul bersamaan, seperti depresi atau kecemasan, tetapi tidak ada obat yang secara khusus menyembuhkan NPD.

Ketika masalah sudah masuk ke wilayah kekerasan

Pembahasan mengenai narcissism perlu dilakukan dengan hati-hati karena tidak setiap hubungan dengan orang yang memiliki ciri narsistik merupakan hubungan yang abusif. Sebaliknya, perilaku abusif juga tidak membutuhkan diagnosis NPD untuk dianggap serius.

Namun, penelitian meta-analisis yang mencakup 22 studi dan 11.520 partisipan menemukan hubungan positif yang lemah antara trait narcissism dan intimate partner violence. Hubungan tersebut lebih kuat pada vulnerable narcissism dibandingkan grandiose narcissism, terutama dalam analisis yang dilakukan peneliti. Studi tersebut juga menemukan hubungan dengan bentuk kekerasan psikologis dan cyber, sementara hubungan dengan kekerasan fisik tidak signifikan dalam analisis mereka.

Temuan ini tidak berarti orang dengan narcissistic traits pasti melakukan kekerasan. Hubungan statistik pada penelitian kelompok tidak dapat digunakan untuk memprediksi perilaku seorang individu.

Yang perlu menjadi perhatian adalah perilakunya. Jika sebuah hubungan melibatkan ancaman, intimidasi, kontrol terhadap keuangan atau pergaulan, penghinaan terus-menerus, pemaksaan seksual, pengawasan berlebihan, atau kekerasan fisik, fokus utama seharusnya bukan lagi apakah pasangan tersebut “narcissist”, melainkan keselamatan dan dukungan yang tersedia bagi orang yang terdampak.

Covert narcissism dan gaslighting: jangan menyamakan keduanya

Istilah gaslighting juga sering digunakan secara berlebihan dalam pembahasan narsisme di media sosial.

Gaslighting mengacu pada pola manipulasi yang membuat seseorang mempertanyakan persepsi, ingatan, atau penilaiannya sendiri. Tidak semua orang yang menyangkal tuduhan, lupa suatu kejadian, atau berbeda pendapat sedang melakukan gaslighting.

Begitu pula, tidak semua covert narcissist melakukan gaslighting. Label tersebut sebaiknya digunakan berdasarkan pola perilaku yang jelas, bukan sekadar karena seseorang membuat Anda merasa tidak nyaman.

Kapan sebaiknya mencari bantuan profesional?

Anda tidak perlu menunggu sampai kondisi menjadi sangat buruk untuk mencari bantuan. Konsultasi dengan psikolog atau psikiater dapat membantu ketika hubungan membuat Anda mengalami stres berkepanjangan, kehilangan kepercayaan terhadap diri sendiri, mengalami kecemasan atau gejala depresi, sulit menjalankan pekerjaan, atau merasa tidak mampu menetapkan batasan.

Terapi juga dapat membantu seseorang memahami pola hubungan yang terus berulang dan menentukan pilihan yang lebih sehat. Jika orang yang diduga memiliki NPD bersedia mendapatkan bantuan, psikoterapi dapat menjadi bagian penting dalam penanganannya.

Dukungan dapat membantu memulihkan perspektif dan batasan diri

Ilustrasi konseptual: dukungan profesional dan sosial dapat membantu seseorang memahami pola hubungan dan menjaga kesejahteraan diri.

Yang paling penting bukan labelnya

Popularitas istilah covert narcissist membuat banyak orang mulai mencari tanda-tanda narsisme dalam pasangan, orang tua, teman, atau rekan kerja. Pengetahuan tersebut dapat membantu, tetapi juga memiliki risiko: setiap perilaku yang tidak menyenangkan akhirnya dianggap sebagai bukti gangguan kepribadian.

Padahal, manusia jauh lebih kompleks daripada daftar “10 ciri narcissist” di media sosial.

Seseorang dapat menjadi sensitif terhadap kritik tanpa memiliki NPD. Seseorang dapat sering mengeluh karena sedang mengalami depresi. Seseorang dapat menarik diri karena kecemasan sosial. Seseorang dapat menjadi defensif karena pengalaman traumatis. Dan seseorang dapat melakukan perilaku manipulatif tanpa memenuhi kriteria gangguan kepribadian tertentu.

Karena itu, pertanyaan yang lebih berguna bukan hanya, “Apakah dia covert narcissist?”, tetapi juga:

Apakah saya merasa dihargai dalam hubungan ini?

Apakah saya bebas menyampaikan ketidaksetujuan tanpa takut dihukum secara emosional?

Apakah konflik dapat diselesaikan tanpa selalu mencari kambing hitam?

Apakah kebutuhan kedua pihak mendapatkan ruang?

Apakah saya masih dapat menjadi diri sendiri?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menggeser perhatian dari diagnosis amatir terhadap orang lain menjadi evaluasi yang lebih sehat terhadap kualitas hubungan dan dampaknya terhadap diri sendiri.

Kesimpulan

Covert narcissism menggambarkan bentuk ekspresi narsisme yang lebih tersembunyi dan sering dikaitkan dengan vulnerable narcissism. Seseorang dapat terlihat pendiam, rendah hati, atau sangat sensitif, tetapi tetap memiliki kebutuhan kuat akan validasi, kesulitan menerima kritik, rasa tidak dihargai, kecenderungan mempertahankan citra diri, dan masalah dalam hubungan interpersonal.

Namun, covert narcissism bukan diagnosis tersendiri, dan ciri-ciri tersebut tidak cukup untuk mendiagnosis seseorang dengan narcissistic personality disorder.

Jika Anda menghadapi hubungan yang sulit, fokuslah pada perilaku yang benar-benar terjadi. Tetapkan batasan yang jelas, pertahankan dukungan sosial, hindari upaya untuk “memperbaiki” orang lain secara paksa, dan pertimbangkan bantuan profesional ketika dampaknya terhadap kehidupan Anda semakin berat.

Pada akhirnya, memahami narsisme bukan tentang menemukan label untuk seseorang. Tujuan yang lebih penting adalah memahami pola hubungan, mengenali perilaku yang tidak sehat, dan memastikan bahwa kesehatan mental, martabat, serta batasan pribadi tetap memiliki tempat dalam sebuah hubungan.

Catatan sumber: Artikel ini dikembangkan dari HelpGuide, Cleveland Clinic, Mayo Clinic, American Psychological Association, Forbes Health, serta literatur ilmiah dan systematic review yang tersedia melalui PubMed/PMC mengenai narcissistic personality disorder, vulnerable narcissism, empati, dan intimate partner violence.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *