Kesepian atau loneliness didefinisikan sebagai perasaan kehilangan dan
ketidakpuasan yang dihasilkan oleh ketidaksesuaian antara jenis hubungan sosial
yang kita inginkan dan jenis hubungan sosial yang kita miliki (Perlman & Peplau,
1982). Loneliness merupakan hidup tanpa melakukan hubungan, tidak punya
keinginan untuk melakukan hubungan interpersonal yang akrab (Baron, 1991).
Menurut Peplau, Sears, dan Taylor (1998) loneliness adalah perasaan kesepian
individu, ketidaknyamanan subjektif individu rasakan ketika hubungan individu
tersebut kurang erat. Dan perasaan kesendirian mungkin merupakan kondisi
sementara yang dihasilkan dari sebuah perubahan dalam kehidupan sosial individu. Loneliness emosional disebabkan oleh tidak adanya hubungan keterikataran, isolasi sosial disebabkan oleh kegagalan untuk mengintegrasikan secara sosial.
Karakteristik Orang yang Loneliness
Menurut Myers (1999) orang yang loneliness secara kronis kelihatan terjebak di dalam lingkaran setan kegagalan diri dalam kognisi sosial dan perilaku sosial. Orang yang loneliness memiliki penjelasan yang negatif terhadap depresi yang dialami, menyalahkan diri sendiri atas hubungan sosial yang buruk dan berbagai hal yang berada di luar kendali. Lebih jauh lagi orang yang loneliness menerima orang lain dalam cara yang negatif. Pandangan negatif ini akan mempengaruhi keyakinan orang-orang yang mengalami tersebut. Pandangan negatif ini akan menyebabkan orang yang mengalami loneliness kehilangan kepercayaan sosial dan menjadi pesimis terhadap orang lain, yang justru akan menghambatnya dalam mengurangi loneliness mereka (Myers, 1999). Orang yang loneliness cenderung menjadi self-conscious dan memiliki self esteem yang rendah (Myers, 1999). Ketika berbicara dengan orang asing, orang yang loneliness lebih banyak membicarakan diri sendiri dan menaruh sedikit ketertarikan terhadap lawan bicaranya. Setelah pembicaraan selesai biasanya kenalan baru tersebut memberi kesan yang negatif terhadap orang yang loneliness tersebut (Jones dalam Myers, 1999).Tidak ada orang yang dapat kebal terhadap loneliness, tetapi beberapa orang memiliki resiko yang tinggi untuk mengalami loneliness (Taylor, Peplau &Sears, 2000). Selanjutnya, menurut Brehm (2002) beberapa orang rentan terhadap loneliness dan beberapa orang yang lain tidak.
Bentuk-bentuk Loneliness
Weiss (dalam Santrock, 2003) menyebutkan adanya 2 bentuk loneliness yang
berkaitan dengan tidak tersedianya kondisi sosial yang berbeda-beda, yaitu:
- Kesepian emosional (emotional loneliness) adalah suatu bentuk loneliness yang muncul ketika seseorang tidak memiliki ikatan hubungan yang intim, orang dewasa yang lajang, bercerai, dan ditinggal mati oleh pasangannya sering mengalami kesepian jenis ini.
- Kesepian sosial (social loneliness) adalah suatu bentuk loneliness yang muncul ketika seseorang tidak memiliki keterlibatan yang terintegrasi dalam dirinya, tidak ikut berpartisipasi dalam kelompok atau komunitas yang melibatkan adanya kebersamaan, minat yang sama, aktivitas yang terorganisasi, perang- peran yang berarti. Suatu bentuk loneliness yang dapat membuat seseorang merasa diasingkan, bosan dan cemas.
Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Loneliness
Menurut Brehm dkk (2002) terdapat 4 hal yang dapat menyebabkan seseorang
mengalami loneliness, yaitu:
- Ketidakadekuatan dalam hubungan yang dimiliki seseorang menurut Brehm dkk (2002) hubungan seseorang yang tidak adekuat akan menyebabkan seseorang tidak puas akan hubungan yang dimiliki. Ada banyak alasan seseorang merasa tidak puas dengan hubungan yang dimiliki, merasa tidak puas dengan hubungan yang tidak adekuat.
- Terjadi perubahan terhadap apa yang diinginkan seseorang dari suatu hubungan. Menurut Brehm dkk (2002) kesepian juga dapat muncul karena terjadi perubahan terhadap apa yang diinginkan seseorang dari suatu hubungan. Pada saat tertentu hubungan sosial yang dimiliki seseorang cukup memuaskan. Sehingga orang tersebut tidak mengalami loneliness. Tetapi di saat lain hubungan tersebut tidak lagi memuaskan karena orang itu telah merubah apa yang diinginkannya dari hubungan tersebut.
- Self-esteem. Loneliness berhubungan dengan self-esteem yang rendah. Orang yang memiliki self-esteem yang rendah cenderung merasa tidak nyaman pada situasi yang beresiko secara sosial. Dalam keadaan seperti ini orang tersebut akan menghindari kontak-kontak sosial tertentu secara terus menerus akibatnya akan mengalami loneliness.
- Perilaku interpersonalakan menentukan keberhasilan individu dalam
membangun hubungan yang diharapkan. Dibandingkan dengan orang yang
tidak mengalami loneliness, orang yang mengalami lonelinessakan menilai
orang lain secara negatif, tidak begitu menyukai orang lain, tidak mempercayai orang lain, menginterpretasikan tindakan orang lain secara negatif, dan cenderung memegang sikap-sikap yang bermusuhan.
Referensi :
Baron, R. & Byrne. D. (2003). Psikologi Sosial. Jakarta: Erlangga.
Brehm, S. et al. (2002. Intimate Relationship. Newyork: Mc Graw Hill.
Myers,G.EdanMyers,M.T. (1999). The Dynamics OF Human Communication : A Laboratory Approach.Sixth Edition.Mc GrawHill,Inc: NewYork.
Perlman, D., Peplau, L.A. (1982). Loneliness:A Sourcebook of Current Theory Research And Therapy. New York: John Wiley dan Sons.
Santrock, W.J. (2003). Adolescence Perkembangan Remaja Edisi Keenam. Jakarta: Erlangga.