Sering atau pernah menjumpai beberapa anak yang memiliki karakter seperti pencemas, penakut, perasaan rendah diri dan pemalu. Oleh para profesional perilaku-perilaku tersebut sering disebut sebagai jenis perilaku “neurotik” atau insecure (perasaan tidak aman). Insecure, atau rasa tidak aman, bisa diartikan sebagai rasa takut akan sesuatu yang dipicu oleh rasa tidak puas dan tidak yakin akan kapasitas diri sendiri. Rasa insecure inilah yang pada akhirnya, memicu anak untuk menciptakan ‘topeng’ agar sisi lain yang ingin kita sembunyikan itu tidak terlihat oleh orang lain. Dengan kata lain, kita berusaha menutupi sisi lain itu dengan melakukan sesuatu yang menurut kita, bisa membuat kita tampak hebat di mata orang lain.
Perilaku insecure pada anak dapat dicegah dengan mengasuh anak dalam cara-cara yang dapat meningkatkan kepercayaan diri, kemampuan beradaptasi, dan optimisme anak. Untuk itu orang tua dan guru serta pihak yang terkait dengan anak harus bekerja sama dan
membantu anak untuk mengatasi perasaan-perasaan tadi.
Berikut adalah tips atau cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi ras insecure pada anak, yaitu :
Bagi anak yang penakut
Ketakutan yang khas pada masa kanak-kanan meliputi rasa takut terhadap gelap, takut ditinggalkan, takut terhadap suara keras, penyakit, hantu, binatang, orang asing dan situasi yang tidak dikenal. Ada 3 faktor yang diidentifikasi sebagai sumber ketakutan
pada masa kanak-kanak (Schaefer dan Millman, 1981) :
1. Luka fisik seperti racun, operasi, perang dan ketakutan untuk diculik.
2. Badai seperti kejadian-kejadian alam, huru-hara keadaan gelap, kematian (ketakutan ini menurun sejalan dengan bertambahnya usia)
3. Stres psikis seperti ujian yang dihadapi, kesalahan yang dilakukan, kejadiankejadian sosial, sekolah dan kritik.
Untuk mengatasi ketakutan tersebut, berikut ini adalah beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi ketakutan yang mungkin dialami oleh anak (Schaefer,& millman, 1981) :
- Bermain
Bermain merupakan sebuah cara alami untuk mengendalikan perasaan dan kejadian-kejadian. Dengan bermain, anak belajar bagaimana mengendalikan rasa takutnya karena ketakutan dapat dikendalikan dalam situasi bermain.Sebagai contoh, anak takut kepada air dapat diajak untuk bermain air. Dengan bermain air,
anak akan menjadi terbiasa dengan air. - Menunjukkan Empati dan Dukungan
Jika anak menilai kita sebagai orang yang mampu memahami dan menolong, mereka akan lebih mampu menghadapi situasi yang menakutkan. Perhatian dan penghargaan dapat meningkatkan rasa aman pada anak. Kita dapat menunjukkan empati dengan cara memahami bagaimana anak berpikir dan merasa tentang hal yang ditakutinya. Cara yang sangat lansung memberikan anak empati adalah dengan memberikan anak kebebasan untuk berfikir dan merasa tentang apa pun. Ketika anak mengespresikan rasa takutnya, kita seharusnya menerima ketakutan- ketakutanya dan membantu anak. - Mengekspos Situasi yang menakutkan pada anak
Anak yang takut terhadap dokter dapat diajak untuk mengunjungi sebuah rumah sakit.Anak yang takut terhadap petir dapat diajak bersama-sama untuk menirukan suara petir, disertai dengan penjelasan yang dipahami anak dan dapat mengatasi ketakutan anak. - Menjadi Model
Sebagai orang tua, kita akan menjadi model bagi anak didik kita. Anak belajar untuk tidak takut dari orang yang juga tidak takut dan mampu mengendalikan situasi. Dengan demikian, anak memperoleh pemahaman lewat pengamatannya, bahwa apa yang mereka takuti sebenarnya merupakan sesuatu yang aman. - Memberi Reward
Kita harus sensitif terhadap kesiapan anak berubah dan tumbuh menjadi lebih berani.Untuk itu, pujilah sekecil apapun setiap langkah keberanian yang dilakukan anak.Selain pujian, reward-reward kongkret juga efektif bagi anak, misalnya, dengan memberikan cap stempel atau stiker atas keberanian anak.
Bagi anak yang rendah diri
Dalam pengertian sehari-hari, orang sering menyebut anak yang memiliki perasaan rendah diri dengan sebutan minder.Perasaan rendah diri sendiri berkaitan dengan konsep harga diri (self esteem).Rasa rendah diri adalah keadaan emosi yang mengakibatkan munculnya berbagai perasaan negatif seperti kegelisahan, rasa tidak aman, rasa tidak mampu, takut gagal dan sebagainya. Anak yang rendah diri adalah anak yang memberi penilaian yang rendah terhadap dirinya, termasuk kompetensi-kompetensi yang dimilikinya.
Ada sejumlah hal yang dapat kita lakukan untuk mengatasi rasa rendah diri anak (Schaefer,& millman, 1981).
- Meningkatkan Pemahaman Diri
Anak diberi pengertian bahwa tidak ada orang yang sempurna dan semua memiliki kekuatan dan kekurangan yang berbeda-beda. - Mendukung Kompetensi dan Kemandirian Anak
Anak perlu dilatih untuk melakukan keterampilan yang sesuai dengan usianya dan dijamin bahwa ia akan memperoleh perasaan aman dalam proses menguasai keterampilan tersebut. Jika anak menghadapi masalah, beri ia dorongan untuk berpikir, serta berikan bantuan jika hal itu benar-benar ia butuhkan. - Menyediakan Kehangatan dan Penerimaan
Dukungan emosional marupakan hal yang penting karena anak membutuhkan perasaan aman, yaitu perasaan bahwa kita berada di dekatnya. Mengekspresikan optimise anak terhadap apa yang sedang dilakukan anak, misalnya dengan mengatakan “ya bagus, kamu pasti bisa!” - Fokus Pada Hal-Hal Positif Yang Dapat Dilakukan Anak
Perlu mengenali dan mendukung kekuatan anak.Fokuskan pada kelebihan dan bukan pada kekuatan/kelemahan anak.Catatlah hal-hal yang baik tentang anak, baik keterampilan maupun usaha-usaha yang dilakukannya. - Menyediakan Pengalaman yang Konstruktif
Merencanakan bermacam-macam kegiatan dan menggunakan cara-cara yang tepat untuk menjamin agar anak mau berpartisipasi dalam kegiatan tersebut.Pengalaman konstruktif hendaknya dibuat secara realisasi, dengan tujuan yang dapat dicapai. - Meningkatkan Percaya Diri Anak Kepercayaan diri berangsur-angsur ditingkatkan dengan pengalaman keberhasilan yang berulang.Buatlah tugas yang sebisa mungkin dapat diselesaikan oleh anak dan ajari anak untuk mentoleransikan kegagalan. Dengan memberi tahu anak bahwa kegagalan lebih baik daripada tidak mau mencoba sama sekali.
- Memberikan Reward (Penghargaan) Setiap kali anak menunjukan sikap optimisme dan tidak mudah kecil hati, beri ia reward yang dapat memperkuat perilakunya. Salah satu bentuk rewad adalah dengan memberikan sesuatu yang disukai anak.
Bagi anak yang pemalu
Anak yang pemalu adalah anak yang breaksi secara negatif terhadap stimulus baru serta menarik diri terhadap stimulus tersebut (Berk, 2000).
Hal-hal yang dapat anda lakukan untuk membantu anak didik yang memiliki sifat pemalu (Schaefer,& millman, 1981).
- Mendukung dan memberi reward terhadap sosialisasi yang dilakukan anak
Berikan senyum atau komentar setiap kali anak bermain atau berbicara dengan teman, misalnya “senang ya bisa bermain bersama”. Jangan biarkan anak menyendiri dalam waktu lama namun jangan pula dengan khusus menemani dia. Dengan menemani anak yang sedang menyendiri, kita akan semakin memperkuat perilakunya untuk tidak bersosialisasi dengan orang lain. Salah satu cara me-reward prilaku anak adalah dengan memberinya beberapa poin atau gambar binatang dalam sebuah buku khusus reward agar ia tertarik untuk melakukan sosialisasi. Sistem poin hendaknya disusun sehingga prilaku yang lebih sulit (misalnya bicara dengan beberapa teman) mendapat poin yang lebih besar daripada prilaku yang mudah (misalnya, berbicara dengan hanya satu teman).Poin dapat di tukar dengan sesuatu yang menyenangkan bagi anak, misalnya pensil atau
stiker. - Mendukung Kepercayaan Diri dan Sikap yang Wajar
Anak sebaiknya didukung dan dipuji untuk kepercayaan dirinya dan tindakannya yang wajar.Ajari anak untuk menjadi dirinya sendiri dan mengekspresikan pendapatnya secara terbuka. - Menyediakan Suasana yang Hangat dan Penuh Penerimaan
Perbolehkan anak untuk mengatakan “tidak” untuk situasi di mana ia boleh memilih. Hargai kemandirian anak, dengan demikian anak dapat merasa bahwa mereka diterima, bahkan jika mereka tidak setuju dengan kita. Anak akan merasa disayang dan aman ketika mereka dihargai walau apapun pendapat mereka. Ajari anak bahwa mereka adalah bagian dari komunitas kelas, oleh karena itu mereka dapat mencari dukungan kapan pun mereka perlu tanpa rasa malu. - Melatih Keterampilan Sosial pada Anak
Latihan keterampilan sosial dapat dilakukan dalam beberapa langkah, yaitu langkah instruksi, umpan balik, pengulangan prilaku, dan modelling instruksi terdiri dari petunjuk kepada anak tentang cara spesifik atau khusus untuk berhubungan dengan orang lain. Ajari anak untuk memberi dan menerima pujian, tersenyum, menganggukkan kepala, mengucapkan terima kasih (jika diberi/dibantu sesuatu), maaf (jika melakukan kesalahan), dan tolong (jika minta bantuan), serta melakukan kontak mata setiap kali berkomunikasi dengan orang
lain. - Menyediakan Agen Sosialisasi untuk Anak
Kita sebaiknya memasangkan satu atau dua orang teman yang memungkinkan untuk menjadi teman bermain bagi anak yang pemalu.Selanjutnya, perkenalkan anak untuk bermain dalam kelompok yang lebih besar. - Membuat Kegiatan yang Merangsang Anak untuk Berinteraksi
Anak yang kurang komunikatif dapat didorong untuk berkomunikasi melalui gambar karena umumnya anak lebih seneng mendiskusi gambar. Selain itu, rancanglah kegiatan-kegiatan lain yang membuat anak harus menolong dan berkomunikasi satu sama lain, misalnya, menggambar bersama dalam satu kertas.
Bagi anak yang pencemas
Menurut Scaefer and Millman(1981).kecemasan dan kekuatiran diartikan sebagai kesukaran, kesedihan ,ketakutan, kegelisahan tentang masalah yang sudah diantipasi/akan dialami di masa mendatang.dengan kata lain kecemasan adalah ketakutan pada hal-hal yang terjadi dimasa mendatang.
Menurut Schaefer & Millman 1981 (dalam Vasta, dkk 2004), ada beberapa metode penagnganan yaitu :
1. Menerima anak dan menenangkan hatinya.
2. Gunakan bermacam – macam strategi dan cara untuk mengatasi kecemasan.
3. Mendorong anak dalam mengekspresikan perasaannya.
4. Meningkatkan pemahaman dan dan pemecahan masalah.
5. Meminta bantuan pada profesional.
Referensi :
Jamaris, Martini. (2005). Perkembangan dan Pengembangan Anak Usia Taman KanakKanak, Jakarta: Program PAUD PPS UNJ.
Vasta, R, Miller, S.A dan Ellis, S. (2004). Child Psychology, New Jersey : John Wiley & Sons.