Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Bystander Effect: Keengganan untuk Membantu

Belakangan ini dunia dihebohkan dengan kasus pemerkosaan di kereta yang menimpa seorang perempuan di Amerika Serikat pada tanggal 13 Agustus 2021 lalu. Di dalam kereta tersebut cukup banyak penumpang, tetapi para penumpang hanya menyaksikan kejadian itu tanpa ada yang menolong ataupun melapor ke nomor darurat. Sebenarnya apa yang terjadi dengan para penumpang ini? Mengapa mereka hanya diam saja menyaksikan tindak kejahatan yang ada dihadapan mereka?

Apa itu Bystander Effect?

Bystander effect mengacu pada fenomena di mana semakin besar jumlah orang yang hadir, semakin kecil kemungkinan orang untuk membantu seseorang yang mengalami kesulitan. Bystander effect terjadi terjadi ketika kehadiran orang lain membuat individu enggan melakukan intervensi dalam situasi darurat, melawan pelaku intimidasi, penyerangan atau kejahatan lainnya. Ketika situasi darurat terjadi, individu lebih mungkin untuk mengambil tindakan jika ada sedikit atau tidak ada orang lain. Kehadiran banyak orang justru membuat individu enggan menolong sehingga tidak ada satu orang pun yang bertindak.

Istilah bystander effect dipopulerkan oleh psikolog sosial Bibb Latané dan John Darley. Latané dan Darley mulai menggunakan konsep bystander effect setelah kasus pembunuhan yang menimpa seorang wanita 28 tahun bernama  Catherine “Kitty” Genovese yang terjadi pada hari Jumat, 13 Maret 1964. Kitty yang baru pulang bekerja  dia diserang dan ditikam di depan pintu apartemennya oleh seorang pria bernama Winston Moseley. Kitty berkali-kali berteriak meminta tolong, tetapi tidak ada satu pun orang di gedung apartemen yang mendengar teriakan apalagi menolongnya. Padahal diperkirakan ada puluhan orang yang berada di gedung apartemen saat itu.

Penyebab Bystander Effect

Kaget dan terdiam adalah respons yang wajar saat kita melihat keadaan darurat atau seseorang yang mengalami penyerangan. Ini biasanya karena individu yang merasa terlalu lemah, takut salah menafsirkan kondisi, atau bahkan merasa campur tangan justru akan membahayakan diri sendiri sehingga memutuskan tidak menolong.

Latane´ dan Darley (1970) mengidentifikasi tiga proses psikologis yang terjadi dibalik bystander effecr, yaitu:

1. Difusi Tanggung Jawab

Proses pertama adalah difusi tanggung jawab yang mengacu pada kecenderungan individu membagi tanggung jawab dengan orang lain yang berada dalam situasi yang sama secara subyektif. Artinya individu menganggap kalau menolong atau membantu orang yang sedang kesulitan bukanlah tugasnya, tetapi tuga orang lain yang sama-sama melihat kejadian. Setiap kali ada situasi darurat dan orang yang menyakiskan lebih dari satu orang, maka ada difusi tanggung jawab.

Penelitian yang dilakukan oleh Darley dan Latané (1968) tentang difusi tanggung jawab menunjukkan bahwa semakin banyak orang yang ada dalam suatu situasi, semakin lama waktu yang dibutuhkan korban untuk mendapatkan bantuan. Sebaliknya semakin sedikit orang yang menyaksikan, semakin besar kemungkinan korban menerima bantuan tepat waktu. Difusi tanggung jawab dikategorikan menjadi tiga, yaitu:

  • Kewajiban moral untuk membantu tidak hanya jatuh pada satu orang, tetapi semua orang yang menyaksikan keadaan darurat.
  • Kesalahan karena tidak membantu bukan kesalahan satu orang, tetapi semua orang yang menyaksikan.
  • Keyakinan bahwa orang lain yang sama-sama melihat akan menawarkan bantuan.

2. Ketakutan pada Sesuatu yang akan Terjadi

Proses psikologis yang kedua adalah evaluasi ketakutan terhadap sesuatu yang akan terjadi yang mengacu pada rasa takut dihakimi oleh orang lain ketika bertindak di depan umum. Individu mungkin merasa takut digantikan oleh penolong yang lebih baik, menawarkan bantuan yang tidak diinginkan, atau menghadapi hukuman dari menawarkan bantuan yang salah dan mungkin berbahaya.

3. Ketidaktahuan Pluralistik

Proses psikologis ketiga adalah ketidaktahuan pluralistik yang berasal dari kecenderungan untuk mengandalkan reaksi terbuka orang lain ketika mendefinisikan situasi yang ambigu. Ketidaktahuan pluralistik terjadi ketika seseorang memiliki jenis pemikiran tertentu yang berbeda dengan orang lain. Pada akhirnya individu mengikuti garis pemikiran tersebut padahal tidak ada yang mempercayainya. Dalam keadaan darurat individu cenderung sulit menafsirkan situasi dan berpikir kalau akan ada orang lain yang lebih cepat bertindak sehingga ia tidak perlu melakukan apapun.

Tahapan dalam Membantu

Latané & Darley (1970) merumuskan lima tahap untuk menjelaskan mengapa individu dalam keadaan darurat kadang-kadang membantu dan kadang-kadang tidak menawarkan bantuan. Jawaban pada setiap tahap akan menentukan keputusan individu untuk membantu. Jika jawabannya “tidak” maka tidak ada bantuan yang diberikan, sedangkan jawaban ‘ya’ membuat kemungkinan menawarkan bantuan menjadi lebih besar. Namun perlu diingat bahwa respon membantu dapat dihambat pada setiap tahap proses.

Kelima tahapan tersebut adalah:

  • Individu harus memperhatikan bahwa ada sesuatu yang salah;
  • Individu harus mendefinisikan situasi itu sebagai keadaan darurat;
  • Individu harus menilai seberapa perlu mereka bertanggung jawab;
  • Individu harus memutuskan cara terbaik untuk menawarkan bantuan;
  • Individu harus bertindak berdasarkan keputusan tersebut.
Mencegah Bystander Effect

Apa yang dapat kitalakukan untuk mengatasi bystander effect? Pertama, pahami kalau bystander effect memang kerap terjadi saat situasi bahaya menimpa seseorang. Saat menghadapi situasi yang membutuhkan pertolongan, pahami kalau kita dan orang sekitar bisa mengalami bystander effect yang bisa mencegah kita untuk menolong. Namun, ini tidak berarti  harus menempatkan diri dalam bahaya.

Lalu, bagaimana jika kita adalah orang yang membutuhkan bantuan? Bagaimana kita bisa meminta orang untuk membantu? Salah satu taktik yang sering direkomendasikan adalah memilih satu orang dari kerumunan. Lakukan kontak mata dan minta bantuan orang itu secara khusus. Dengan mempersonalisasikan dan mempersonalisasikan permintaan melalui mata membuat orang lain sulit untuk menolak.

Referensi:

Cherry, K. (2020a, March 23). What Psychology Says About Why Bystanders Sometimes Fail to Help. Verywell Mind. Retrieved October 28, 2021, from https://www.verywellmind.com/the-bystander-effect-2795899

CNN Indonesia. (2021, October 19). Perempuan AS Diperkosa di Kereta, Penumpang Tak Menolong. Retrieved October 28, 2021, from https://www.cnnindonesia.com/internasional/20211019085454-134-709491/perempuan-as-diperkosa-di-kereta-penumpang-tak-menolong

Emeghara, U. (2020, September 24). Bystander Effect and Diffusion of Responsibility | Simply Psychology. Simply Psychology. Retrieved October 28, 2021, from https://www.simplypsychology.org/bystander-effect.html

Psychology Today. (n.d.). Bystander Effect. Retrieved October 28, 2021, from https://www.psychologytoday.com/intl/basics/bystander-effect

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *