Misophonia adalah kondisi di mana seseorang bereaksi terhadap suatu suara spesifik dan menimbulkan respon otomatis. Suara tersebut berasal dari kebiasaan orang lain seperti suara mengunyah, mendecakkan lidah, bersiul, dan lain-lain. Orang yang mengalami kondisi misophonia biasanya tidak terganggu dengan suara tersebut apabila suara itu mereka ciptakan sendiri.
Apa Penyebab Misophonia?
Keadaan misophonia dapat terjadi sejak usia 9 sampai 13 tahun. Tidak ada peristiwa khusus yang mendasari, kondisi ini bisa tiba – tiba terjadi. Jastreboff, seorang profesor dalam bidang audiologi yang pertama mencetuskan konsep misophonia, menyatakan bahwa ada kesamaan antara misophonia dan tinnitus. Keduanya dihubungkan dengan koneksi berlebihan yang terjadi antara sistem auditori dan sistem limbik, sehingga menimbulkan reaksi berlebihan terhadap suara tertentu. Pasien yang menderita misophonia biasanya mempunyai asosiasi negatif terhadap jenis suara tertentu dan cenderung memiliki reaksi impulsif terhadap suara tersebut.
Gelombang suara menyebabkan tulang di bagian tengah telinga bergetar, kemudian akan mengubah suara menjadi sinyal elektrik yang akan dikirim ke saraf pendengaran pada otak. Setelah itu sinyal tersebut akan melalui dua jalur, menuju amigdala dan medial prefrontal cortex. Jalur ke amigdala berlangsung cepat, sebagai contoh ketika seseorang tiba-tiba mendengar suara keras dan tanpa sadar akan melompat karena terkejut. Bagian medial prefrontal cortex lebih berperan pada emosi dan interpretasi terhadap suatu suara. Pada penderita misophonia, ada kemungkinan terjadinya kerusakan pada medial prefrontal cortex.
Suara yang dapat memicu misophonia
Beberapa jenis suara yang umumnya dapat menjadi pemicu, antara lain:
- Suara seseorang saat makan atau mengunyah.
- Suara mendecakkan lidah.
- Suara detak jam.
- Suara berfrekuensi rendah.
- Suara langkah kaki.
- Suara bersiul.
- Suara anjing menggonggong.
Reaksi penderita misophonia
Ada beberapa reaksi emosional yang dihasilkan setelah penderita misophonia mendengar suara yang tidak disukai. Penderita mengalami perasaan:
- Tidak nyaman
- Stres dan gugup
- Marah, frustasi
- Takut
- Merasa kesal dan sangat terganggu
- Panik
- Menjadi tidak sabaran
Dampak yang ditimbulkan dari misophonia
penderita misophonia, berada di keramaian dapat menyebabkan rasa tidak nyaman karena kemungkinan adanya mendengar suara yang tidak mereka sukai. Penderita kondisi ini mungkin akan menghindari acara makan bersama serta mengurung diri dan tidak ingin terlibat acara sosial apapun. Jika dibiarkan hal ini dapat menyebabkan penderita misophonia mengalami depresi. Dampak yang lebih parah juga dapat terjadi seperti menyerang seseorang yang membuat suara yang bikin tidak nyaman.
Sumber:
- Edelstein, M., Brang, D., Rouw, R., & Ramachandran, V. S. (2013). Misophonia: Physiological Investigations and Case Descriptions. Frontiers in Human Neuroscience.
- N.Kim, M. (2014, December 1). Misophonia is a newly identified condition for people hypersensitive to sound. The Washington Post: https://www.washingtonpost.com/national/health-science/misophonia-is-a-newly-identified-condition-for-people-hypersensitive-to-sound/2014/12/01/7c392782-69ba-11e4-a31c-77759fc1eacc_story.html