Apakah kamu pernah mendengar kisah orang lain ataupun kamu yang mengalami terlalu diatur atau dikontrol oleh pasangan, ada kekerasan baik verbal maupun non-verbal, tidak mendapat dukungan dari pasangan, bahkan sampai tidak bisa menjadi diri sendiri. Jika pernah mendengar atau mengalami, sadari dan hati-hati bahwa kamu atau mereka sudah masuk ke dalam hubungan yang beracun/toksik ataupun yang dikenal sebagai toxic relationship. Toxic relationship sendiri merupakan hubungan yang ditandai dengan perilaku yang menimbulkan efek tidak baik yang secara emosional dan fisik sering merusak satu sama lain (Dutta, Probal and Bose, 2011).
Untuk menyadari lebih jelas, kita harus tahu dan paham bahwa toxic relationship memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
- Terdapat rasa ketidakamanan yang didapatkan dari salah satu pasangan.
- Adanya dominasi yang berlebihan dari salah satu pihak dan menimbulkan rasa ingin mengendalikan pasangannya, serta menimbulkan sikap yang posesif terhadap pasangan.
- Adanya objektifikasi dari salah satu pihak, yang menjadikan pasangannya sebuah “objek”. Artinya bisa diperlakukan sekehendaknya.
- Sikap egois salah satu pihak (Dutta, Probal and Bose, 2011).
Ketika sedang menjalin hubungan tentunya banyak emosi dan perasaan yang dialami, baik senang/bahagia, rasanya ada kupu-kupu diperut, ataupun menangis dan rasa cemburu. Dalam kasus toxic relationship, dapat kita lihat terdapat sebuah opponent emotion. Apa itu opponent emotion?
Opponent Emotion Theory merupakan rangsangan yang pada awalnya menimbulkan ketidaksenangan kemungkinan akan diikuti oleh perasaan setelah yang menyenangkan dan sebaliknya.”(Solomon, 1980)
Terdapat beberapa fase dari opponent emotion ini, yaitu :
1. Puncak dari sebuah proses, yaitu pertemuan antara dua pasang kekasih yang diselimuti perasaan senang dan bahagia. Fase ini berada pada masa awal menjalin sebuah hubungan yang romantic, mereka akan saling memberikan kegembiraan
2. Tingkat mantap, fase ini ketika salah satu pasangan menyakiti mental atau fisik pasangannya, mulai ada trigger atau pemicu yang menimbulkan perasaan kesedihan.
3. Puncak dari respon, pada fase ini perasaan sedih, kecewa, dan marah perlahan mulai menghilang, pasangan yang membuat kesalahan mulai meminta maaf dan berjanji tidak akan melukai pasangannya baik secara emosional maupun fisik, dan mulai memaafkan satu sama lain.
4. Proses membusuk, individu mulai kembali ke baseline artinya ke perasaan bahagia lagi.
Dari fase-fase emosi tersebut orang yang terjebak dalam hubungan yang toxic mengulang fase ini terus menerus, dan tidak sadar terjebak dalam hubungan yang toxic. Dari penjelasan di atas juga dapat diketahui bahwa dinamika emosi seseorang ketika terjebak dihubungan yang toxic adalah pertama dibuat senang terlebih dahulu, kemudian dibuat merasa sedih, kecewa, marah, setelah itu karena pasangannya meminta maaf dan berjanji akhirnya memaafkan, dan emosinya kembali ke base awal. Siklus ini akan terus berulang sampai tidak sadar terjebak dalam hubungn yang toxic. Berdasarkan penelitian daya tarik pasangan tumbuh dari waktu ke waktu yang menempatkan dalam hubungan toxic (Dutta, Probal and Bose, 2011).
Referensi : Dutta, Probal and Bose, S. (2011). [WIP] Mp r a. Economic Policy, 2116, 0–33.