Alexithymia adalah kondisi saat seseorang mengalami kesulitan mengidentifikasi dan mengekspresikan emosi. Orang dengan alexithymia kemungkinan memiliki masalah dalam hubungan interpersonal dan beradaptasi dengan lingkungan sosial. Orang-orang yang memiliki alexithymia tidak selalu memiliki sikap apatis, mereka hanya tidak memiliki emosi yang kuat seperti orang lain dan mungkin sulit merasakan empati. Alexithymia bukan termasuk gangguan kesehatan mental, tetapi memiliki hubungan dengan autisme dan mungkin terjadi bersamaan dengan gangguan kesehatan mental.
Kata “alexithymia” pertama kali dikemukakan pada tahun 1970-an oleh Peter Sifneos seorang psikiater dan profesor emeritus psikiatri di Harvard Medical School. Alexithymia berasal dari bahasa Yunani, ‘a’ yang berarti kekurangan, ‘lexis’ yang berarti kata, dan ‘thymos’ yang berarti emosi jadi secara keseluruhan alexithymia artinya tidak memiliki kata-kata untuk mengungkapkan emosi.
Orang dengan alexithymia biasanya memiliki masalah dengan introspeksi atau mengamati proses mental dan emosional mereka sendiri, bingung dengan sensasi tubuh yang terhubung dengan emosi, dan sulit mengomunikasikan emosi mereka kepada orang lain.
Gejala Alexithymia
- Sulit mengidentifikasi perasaan dan emosi;
- Sulit membedakan antara emosi dan sensasi tubuh yang berhubungan dengan emosi tersebut;
- Memiliki kemampuan yang terbatas untuk mengomunikasikan perasaan kepada orang lain;
- Sulit mengenali dan menanggapi emosi orang lain, termasuk nada suara dan ekspresi wajah;
- Kurang memiliki fantasi dan imajinasi;
- Memiliki gaya berpikir logis dan kaku yang tidak memperhitungkan emosi;
- Memiliki keterampilan koping yang buruk dalam menghadapi stres;
- Berperilaku kurang altruistik daripada yang lain;
- Tampak tidak ramah, kaku, dan tanpa humor;
- Memiliki kepuasan hidup yang rendah.
Penyebab Alexithymia
Sampai saat ini para ahli belum menemukan penyebab pasti alexithymia, tetapi ada beberapa penelitian yang menunjukkan beberapa faktor yang diperkirakan memicu terjadinya alexithymia, yaitu:
Keturunan. Penelitian pada anak kembar menunjukkan bahwa ada komponen genetik pada alexithymia. Orang lebih mungkin menderita alexithymia jika ada riwayat anggota keluarga yang memiliki alexithymia.
Faktor lingkungan. Studi yang sama juga menunjukkan bahwa faktor lingkungan berperan dalam alexithymia. Contoh faktor lingkungan adalah riwayat trauma masa kanak-kanak, adanya kondisi kesehatan fisik atau mental, atau faktor sosial ekonomi.
Kerusakan otak. Penelitian menemukan bahwa orang yang mengalami cedera pada bagian otak yang insula anterior memiliki kemungkinan mengalami alexithymia.
Beberapa faktor risiko alexithymia meliputi laki-laki (laki-laki mengalami alexithymia hampir dua kali lebih sering daripada perempuan), berusia lanjut, berpendidikan rendah, status sosial ekonomi rendah, serta memiliki kecerdasan emosi yang rendah.
Alexithymia dan Kesehatan Mental
Seperti yang telah disinggung di atas alexithymia berhubungan dengan autisme. Hal ini berdasarkan sebuah penelitian pada tahun 2018 yang menunjukkan bahwa sekitar setengah dari penderita autism spectrum disorder (ASD) kemungkinan memiliki alexithymia. Penelitian lain mengemukakan bahwa kesulitan sosial dan emosional yang dialami oleh penderita ASD kemungkinan adalah alexithymia. Alexithymia biasanya juga terjadi bersamaan dengan kondisi kesehatan mental tertentu, seperti depresi, post traumatic stress disorder (PTSD), attention-deficit hyperactivity disorder, gangguan makan, skizofrenia, penyakit neurodegeneratif, hingga bunuh diri.
Alexithymia bukan suatu gangguan mental, melainkan ketidakmampuan untuk mengidentifikasi dan menggambarkan emosi. Orang yang mengalami alexithymia akan kesulitan mengenali dan mengomunikasikan emosi mereka sendiri, serta sulit mengenali dan merespons emosi orang lain. Meskipun tidak ada diagnosis formal untuk alexithymia, ada beberapa skala yang dapat membantu mengidentifikasi tanda-tandanya. Profesional kesehatan tidak bisa memberikan pengobatan untuk alexithymia, kecuali jika terjadi bersamaan dengan kondisi lain seperti depresi atau PTSD.
Referensi:
Cherney, K. (2021, September 9). All About Alexithymia, or Difficulty Recognizing Feelings. Healthline. Retrieved October 22, 2021, from https://www.healthline.com/health/autism/alexithymia
Leonard, J. (2019, September 25). What to know about alexithymia. Medical News Today. Retrieved October 22, 2021, from https://www.medicalnewstoday.com/articles/326451#summary