Halo Sobat Psike! Apakah kamu pernah mendengar tentang stockholm syndrome? Mungkin beberapa diantara kamu ada yang langsung terpikir lagunya One Direction. Tapi, ini bukan tentang One Direction. Lalu, apa sebenarnya yang dimaksud dengan stockholm syndrome? Simak terus yuk artikel ini!
Definisi Stockholm Syndrome
Stockholm syndrome sebenarnya bukanlah diagnosis psikologis. Istilah stockholm syndrome, digunakan untuk menggambarkan ikatan emosional positif yang mungkin dikembangkan oleh seorang korban penculikan terhadap penculiknya. Sebuah ikatan dapat tumbuh antara korban dan penculiknya. Hal ini dapat mengarah pada perlakuan yang baik dari pelaku karena mereka juga dapat menciptakan ikatan positif dengan korbannya.
Hubungan psikologis ini berkembang selama berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, atau bahkan bertahun-tahun ditahan atau dianiaya. Dengan sindrom ini, sandera atau korban pelecehan mungkin bersimpati dengan penculiknya.Hal ini merupakan kebalikan dari rasa ketakutan, teror, dan kecemasan yang mungkin diharapkan dari para korban dalam situasi ini.
Perasaan yang Dirasakan Korban Terhadap Pelaku
Korban penculikan atau pelecehan yang mengalami stockholm syndrome akan merasakan hal-hal berikut terhadap pelakunya, seperti cinta, simpati, empati, dan keinginan untuk melindungi pelaku.
Gejala dari Stockholm Syndrome
Ada beberapa gejala yang muncul dari korban yang mengalami stockholm syndrome, antara lain:
- Korban mengembangkan perasaan positif terhadap orang yang menahan mereka atau menyiksa mereka.
- Korban mengembangkan perasaan negatif terhadap polisi, atau siapa pun yang mungkin mencoba membantu mereka melarikan diri dari penculiknya. Mereka bahkan mungkin menolak untuk bekerja sama melawan penculiknya dan berusaha untuk melindungi penculiknya.
- Korban mulai merasakan kemanusiaan penculiknya dan percaya bahwa mereka memiliki tujuan dan nilai yang sama.
Kondisi yang Dapat Menyebabkan Munculnya Stockholm Syndrome
Stockholm syndrome merupakan kondisi emosional yang muncul antara pelaku kekerasan dengan korban kekerasan. Oleh karena itu, hal ini banyak terjadi pada situasi yang berkaitan dengan kekerasan, seperti:
- Kekerasan pada anak
- Kekerasan dalam hubungan pacaran
- Perdagangan manusia dan prostitusi
- Penculikan
- Pembinaan olahraga yang menggunakan teknik pelatihan yang keras bahkan bisa menjadi kasar. Atlet mungkin mengatakan pada diri sendiri bahwa perilaku pelatih mereka adalah untuk kebaikan mereka sendiri, sehingga hal ini dapat termasuk stockholm syndrome.
Dampak dari Stockholm Syndrome dan Bagaimana Cara Mengatasinya
Korban yang mengalami stockholm syndrome akan merasakan gejala berikut setelah menyadari apa yang telah ia rasakan kepada penculiknya:
- Berusaha menolak keadaan
- Menarik diri dari lingkungan sosial
- Merasa tegang setiap harinya
- Perasaan kosong dan putus asa
- Depresi dan kecemasan
- Merasa tidak berdaya
- Kehilangan minat dalam beraktivitas
Jika kamu mengenal seseorang yang dirasa mengalami stockholm syndrome, maka ia harus diberikan penanganan medis dan terapi psikologis agar dapat membantunya keluar dari syndrome ini.
Referensi:
Brennan, D. (2021). What is stockholm syndrome? Retrieved from https://www.webmd.com/mental-health/what-is-stockholm-syndrome.
Holland, K. (2019). What is stockholm syndrome and who does it affect? Retrieved from https://www.healthline.com/health/mental-health/stockholm-syndrome.
Namnyak, M., Tufton, N., Szekely, R., Toal, M., Worboys, S., & Sampson, E. L. (2008). ‘Stockholm syndrome’: psychiatric diagnosis or urban myth?. Acta Psychiatrica Scandinavica, 117(1), 4-11.