“Kenapa ya aku gak bisa sekeren orang lain?”
“Hidupku gak berguna banget, gak kayak si A yang banyak pencapaian.”
“Apa sih kelebihanku? Hmm, kayaknya gak ada deh…”
“Tuhan sebenarnya ngapain sih ngasih hidup gak guna gini untuk aku?”
Pernahkah kamu memiliki pemikiran tersebut? Atau, bahkan belakangan waktu ini kata-kata serupa seolah-olah segan pergi dari pemikiran kamu? Bagaikan bayangan kehidupan yang akan selalu mengikuti langkah kehidupanmu. Khususnya di malam hari, waktu dimana pemikiran bergerak liar tanpa batas, sampai-sampai membuat diri merasa cemas.
Jika kamu pernah memikirkan kalimat seperti di atas, maka kamu sedang mengalami kondisi “Quarter Life Crisis”. Individu pada masa transisi remaja ke dewasa atau yang berusia 20-30 tahun rentan mengalami kondisi ini dimana nantiya seorang individu akan merasa khawatir dan cemas akan masa depan serta mempertanyakan kembali tujuan hidupnya. Kondisi quarter life crisis yang dialami seorang individu akan memberikan kesengsaraan dan kebimbangan dalam menentukan pilihan karir, keuangan, dan relasi dengan individu lain.
Quarter life crisis normal dialami oleh setiap orang, baik secara sadar maupun tidak sadar. Penelitian yang dilakukan oleh Robinson dan Wrig pada tahun 2013 kepada 1023 individu dewasa di UK menemukan fakta bahwa 70% orang berusia 30 tahun pernah mengalami quarter life crisis. Hal ini menunjukkan bahwa krisis ini sebenarnya menimpa banyak orang. Kondisi ini biasa terjadi karena harapan yang tidak sesuai realita ditambah lagi adanya sindiran halus dari lingkungan sekitar yang selalu membandingkan kondisi kehidupan setiap orang. Seolah-olah semua orang harus mempunyai jabatan tertentu, kondisi keuangan tertentu, dan hubungan spesial dengan orang tertentu, saat sudah menginjak umur 20 tahun-an.
Ingat mengenai kasus viral mengenai ideal tabungan Rp100 juta di “usia 25” tahun? Berita ini sempat menghebohkan masyarakat khususnya para pengguna Twitter. Pembahasan “usia 25 tahun” sempat menjadi trending topik di Twitter dan banyak menuai tanggapan. Banyak yang berpendapat bahwa tidak perlu membandingkan diri dengan orang lain dan menjadi insecure jika belum sampai di titik tersebut. Hal yang terpenting ialah bagaimana seseorang bisa tetap berbahagia, jangan sampai dikendalikan oleh quarter life crisis.
Pada tahun 2017 perusahaan LinkedIn melakukan survei terhadap ribuan orang pada usia 25-33 tahun. Hasil survei menunjukkan 75% target mengalami quarter life crisis dan paling banyak terjadi di usia 27 tahun. Proses ini rata-rata berlangsung selama 11 bulan lamanya.
Jadi, quarter life crisis merupakan kondisi yang telah banyak terjadi di masyarakat. Meskipun perasaan yang dimiliki saat mengalami quarter life crisis ini sangat meresahkan, namun sebenarnya kondisi ini dapat menjadi titik balik kehidupan. Ketika mengalami kondisi tersebut, cobalah untuk menemukan jati diri dan hal apa yang sebenarnya menjadi fokus serta sumber kebahagiaan dirimu.
Hindari pemikiran yang hanya terpaku kepada jabatan, jumlah uang, atau berbagai hal kaku lainnya. Itu hanya membuat diri menjadi lebih stres dalam menghadapi transisi hidup. Bukankah banyak hal kecil nan indah yang dapat dinikmati untuk menjadi sumber kebahagiaan?
Hal yang terpenting ialah tetap fokus mengejar apa yang menjadi keinginan kita. Gagal merupakan hal biasa yang terjadi. Namun jika sudah mencoba untuk menyerah maka disitulah letak kesalahan manusia.
“Stop comparing yourself to others. Always strive to improve yourself to become better today than you were yesterday to serve those around you and the world.” — Roy T. Bennett
Referensi:
Amalia, R., Suroso, & Pratitis, N. T. (2021). Psychological Well Being, Self Efficacy dan Quarter Life Crisis pada Dewasa Awal. doi:http://repository.untag-sby.ac.id/8006/9/Jurnal.pdf
Cartreine, J. (6 Mei 2016). More than sad: Depression affects your ability to think. Diakses pada 18 Oktober 2021 dari Harvard Health Publishing: https://www.health.harvard.edu/blog/sad-depression-affects-ability-think-201605069551
Kumparan. (4 November 2019). Survei: Quarter Life Crisis Terjadi di Usia 27 Tahun, Ini Alasannya. Diakses pada 18 Oktober 2021 dari KumparanWOMAN: https://kumparan.com/kumparanwoman/survei-quarter-life-crisis-terjadi-di-usia-27-tahun-ini-alasannya-1sBQOtx4Z0D/full
Menur, R. (17 Mei 2021). Fenomena Quarter Life Crisis. Diakses pada 18 Oktober 2021 dari http://rsjmenur.jatimprov.go.id/post/2021-05-17/fenomena-quarter-life-crisis
Robbins, A., & Wilner, A. (2001). Quarter life crisis: the unique challenges of life in your. New York: Tarcher Penguin.
Vaughan-Hall, J. (5 Oktober 2021). 17 Quotes For A Quarter-Life Crisis That Will Help You Keep It Together. Diakses pada 18 Oktober 2021 dari EliteDaily: https://www.elitedaily.com/p/17-quotes-for-a-quarter-life-crisis-that-will-help-you-keep-your-sht-together-2782893