Apa itu Hate Speech?
Hate speech atau ujaran kebencian adalah istilah umum yang mencakup berbagai perilaku kebencian, mulai dari memicu rasisme hingga genosida. The Council of Europe pada tahun 1970 mendefinisikan hate speech sebagai semua bentuk ekspresi yang menyebarkan, menghasut, mempromosikan atau membenarkan kebencian rasial, xenofobia, anti-semitisme, atau bentuk kebencian lainnya berdasarkan intoleransi. Pada tahun 2019UN Strategy and Plan of Action juga mengeluarkan definisi hate spceeh sebagai komunikasi yang menyerang atau menggunakan bahasa yang merendahkan atau diskriminatif dengan mengacu pada seseorang atau kelompok atas dasar siapa mereka, dengan kata lain, berdasarkan agama, etnisitas, kebangsaan, ras, warna kulit, keturunan, jenis kelamin, atau faktor identitas lainnya.
Hate speech memang terkesan sebagai frasa yang baru, padahal konsep dasarnya sudah ada sejak masa setelah Perang Dunia II. Hate speech menjadi pelanggaran hak asasi manusia jika memicu diskriminasi, permusuhan atau kekerasan terhadap seseorang atau kelompok yang ditentukan oleh ras, agama, etnis, atau faktor lainnya.
Jenis Hate Speech
Demonisasi. Menampilkan kelompok sasaran (seringkali tetapi tidak selalu minoritas) dalam istilah yang sangat negatif dan mencirikan mereka sebagai orang yang jahat, tidak jujur, atau mengancam.
Misinformasi palsu: Cerita palsu yang menghubungkan kelompok sasaran dengan perilaku kekerasan, kriminal, atau pelanggaran secara moral.
Dehumanisasi: Menggambarkan kelompok sasaran sebagai sub-manusia dan menyamakan mereka dengan hama, parasit, atau penyakit.
“Tuduhan dalam cermin”: Mengklaim bahwa kelompok sasaran berkonspirasi untuk menyerang populasi yang lebih luas dan menimbulkan ancaman eksistensial.
Jenis-jenis hate speech di atas dianggap berbahaya karena seiring berjalannya waktu dapat meyebabkan kelompok sasaran mengalami diskriminasi, agresi, dan pelecehan, bahkan jika hate speech disebarluaskan secara eksplisit.
Dampak Hate Speech pada Psikologis
Hate speech secara jelas dapat meningkatkan potensi kejahatan rasial dan kekerasan. Selain itu, hate speech juga memiliki dampak psikologis yang mendalam, seperti meningkatnya stres, kecemasan, depresi, dan desensitisasi. Penelitian menemukan kalau korban hate speech memiliki risiko tinggi untuk mengonsumsi alkohol dan penggunaan narkoba. Lebih lanjut, hate speech juga memiliki efek negatif pada kehidupan akademik dan kinerja siswa. Hate speech menyebabkan harga diri yang rendah sehingga mempengaruhi kinerja akademik siswa.
Apa yang Harus Kita Lakukan untuk Memerangi Hate Speech?
- Laporkan akun-akun yang menyebarkan hate speech pada platform yang bersangkutan, seperti Twitter, Instagram, Facebook, atau Youtube. Minta tindakan yang tegas dari platfrom, kalau tidak segera laporkan pada pihak yang berwajib.
- Mengedukasi orang-orang terdekat kita tentang bahaya hate speech.
- Memberikan dukungan kepada para korban hate speech.
- Menyebarkan pesan-pesan positif tentang toleransi.
- Bergabung dengan organisasi yang memerangi hate speech.
Referensi:
Rights for Peace. (n.d.). What is Hate Speech? Retrieved November 5, 2021, from https://www.rightsforpeace.org/hate-speech
Saha, K., Chandrasekharan, E., & De Choudhury, M. (2019). Prevalence and Psychological Effects of Hateful Speech in Online College Communities. Proceedings of the … ACM Web Science Conference. ACM Web Science Conference, 2019, 255–264. https://doi.org/10.1145/3292522.3326032
Stop Funding Hate. (n.d.). What is hate speech, why does it matter and how can we tackle it? Retrieved November 5, 2021, from https://stopfundinghate.info/about-the-campaign/what-is-hate-speech/
The Leadership Conference Education Fund. (2019, January 30). Online Hate Speech is Pervasive. Here’s How to Start Combating it. Retrieved November 5, 2021, from https://civilrights.org/edfund/resource/combat-online-hate-speech/