Eating disorder dan penyakit mental
Data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan bahwa setengah dari penyakit mental bermula sejak remaja, yakni di usia 14 tahun dengan banyak kasus yang tidak tertangani sejak dini. Pada masa remaja memang seringkali dikenal dengan fase “mencari jati diri” yang membuat remaja masih belum mampu menguasai dan memfungsikan secara maksimal fungsi fisik maupun psikis nya. Sikap remaja yang labil membuat pencarian jati diri justru akan membuat tekanan tersendiri untuk mereka. Anak remaja akan terus melakukan sesuatu yang bisa membuat dia diterima dan diakui oleh teman-temannya. Tanpa memedulikan hal yang dilakukannya itu sesuai dengan kemauan dirinya sendiri atau karena faktor lingkungan yang memaksa mereka.
Salah satu tekanan masyarakat yang sering kita temui di lingkungan sekitar adalah mengenai bentuk dan berat badan seseorang sehingga memicu keinginan untuk berusaha keras memiliki tubuh ramping. Banyaknya masyarakat yang menjadikan kesempurnaan fisik sebagai tolok ukur kesuksesan dan nilai seseorang, membuat sebagian individu terobsesi untuk bisa mengurangi berat badan hingga membuat orang tersebut makan terlalu banyak ataupun makan terlalu sedikit. Fenomena ini biasa disebut dengan eating disorder.
Eating disorder atau gangguan makan adalah gangguan serius terhadap perilaku makan yang dapat memberi pengaruh buruk terhadap kesehatan fisik, emosi, dan fungsi kehidupan sehari-hari seseorang. Terdapat 3 jenis gangguan makan paling umum yang diketahui, yaitu :
-
Anoreksia Nervosa
Pembatasan asupan energi, menyebabkan berat badan turun secara signifikan. Anoreksia membuat individu memiliki ketakutan obsesif terhadap kenaikan berat badan.
-
Bulimia Nervosa
Episode makan berlebihan secara berulang yang disertai dengan memuntahkan makanan, olahraga berlebihan, puasa, atau penyalahgunaan obat pencahar. Pengidap bulimia mengonsumsi makanan dalam jumlah sangat besar dalam waktu singkat diikuti perasaan malu dan bersalah.
-
Binge-eating Disorder
Episode makan berlebihan yang berulang tanpa kendali. Individu dengan jenis gangguan makan ini mengonsumsi makanan dalam jumlah sangat banyak selama waktu tertentu meskipun sedang tidak kelaparan atau bahkan sudah sangat kekenyangan.
Penelitian yang dilakukan oleh National Association of Anorexia Nervosa and Associated Disorders (ANAD) menyebutkan, sebanyak 33-50 persen pengidap anoreksia dan hampir setengah dari orang dengan gangguan bulimia dan binge eating, berjuang juga dengan depresi. Salah satu gejala dari depresi adalah munculnya pandangan negatif pada diri sendiri sehingga pola makan menjadi tidak teratur. Seseorang yang alami gangguan makan umumnya menciptakan jarak dengan orang lain hingga mengisolasi diri. Hal ini tentu saja mengakibatkan rusaknya hubungan sosial, hingga penurunan prestasi di sekolah atau penurunan kualitas kerja.
Pencegahan gangguan makan dapat dilakukan dengan berbagai cara, yaitu dengan selalu berpikir positif terhadap diri sendiri, mau mengonsumsi makanan sehat, dan mencari lingkungan yang menyenangkan. Jika seseorang sudah mulai merasakan gejala gangguan makan, maka sebaiknya segera menemui psikolog / psikiater agar dapat ditangani lebih awal. Psikolog pasti akan memberikan penanganan berupa psikoterapi yang melibatkan anggota keluarga untuk membantu individu mematuhi pola makannya di lingkungan rumah.
Penyakit mental bisa menyerang siapa saja, tidak peduli remaja ataupun dewasa. Banyak orang percaya para penderita penyakit mental adalah orang-orang yang berbahaya dan kejam. Pada kenyataannya, mereka jauh lebih mungkin menjadi korban pelaku kejahatan kekerasan, entah kekerasan secara verbal maupun fisik. Oleh karena itu, marilah bersama sama kita mulai untuk peduli dengan kesehatan mental diri sendiri maupun sekitar kita karena kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan tubuh secara keseluruhan, mereka saling berkaitan.
Daftar Pustaka
Aprilia, dr. Fitria. 2019. Bisa Menyerang Siapa Saja, Ini Fakta Kesehatan Mental. Jakarta: Halodoc
Priyambada, Utama. 2019. 7 Fakta Soal Kesehatan Mental Yang Perlu Anda Ketahui. Jakarta: Kumparan
Eating Disoreder. Seribu Tujuan
Gangguan Makan. Jakarta: Halodoc
Putri, Poppy Hervi. 2021. Gangguan Makan. Jakarta: Sehatq
Debora. 2020. Hubungan Antara Depresi Dan Gangguan Makan. Orami
Damara, Dionisio. 2019. Milenial Rentan Terkena Gangguan Mental. Jakarta: Bisnis.com
