Kebutuhan tidur dan istirahat menjadi sesuatu yang sangat penting dan diperlukan oleh setiap individu. Tapi, apakah kamu pernah merasakan kantuk yang berlebihan bahkan setelah tertidur dalam waktu yang cukup lama? Dimasa pandemi saat ini, segala aktivitas berada di dalam rumah. Aktivitas yang ringan atau berat membuat seseorang ingin tertidur. Bahkan, seringkali di masa pandemi saat ini, seseorang tidak sedang melakukan aktivitas yang begitu berat. Namun, kita selalu merasakan lelah dan rasa ingin tidur.
Untuk mengurangi rasa lelah dan kantuk, tidur menjadi solusi utama yang dapat menyelesaikan persoalan tersebut. Pembentukan daya tahan tubuh tentunya dibutuhkan dengan memiliki kualitas tidur yang baik. Tidur dengan waktu yang cukup diketahui dapat membuat seseorang menjadi lebih rileks, segar, dan kembali fit setelah melakukan aktivitas yang panjang. Namun, tidak semua tidur dapat menghasilkan kualitas yang baik bahkan durasi tidur seseorang berlebihan.
Hypersomnolence merupakan istilah yang mencakup periode tidur yang berlebihan dengan kualitas yang buruk. Hypersomnolence adalah keadaan seseorang yang mengalami episode kantuk bahkan setelah tertidur dengan waktu yang cukup atau 7 jam lebih. Sekitar 80% individu dengan hypersomnolence mengungkapkan tertidur dengan cepat, memiliki kualitas tidur yang nonrestoratif dan kesulitan bangun di pagi hari (APA,2013). Hypersomnolence juga ditandai dengan rasa kantuk yang berlebihan di siang hari tanpa sebab gangguan tidur lainnya seperti gangguan pernafasan. Bahkan dalam beberapa kasus hypersomnolence dapat tertidur selama 20 jam.
Hypersomnolence merupakan bagian dari Sleep-Wake Disorder dalam Diagnostic And Statistical Manual of Mental Disorder atau DSM 5. Hypersomnolence terjadi pada pria dan wanita dengan frekuensi yang sama. Hypersomnolence rentan terjadi pada masa remaja akhir hingga dewasa awal berkisar 17-24 tahun. Perlu diketahui bahwa hypersomnolence berbeda dengan rasa kantuk yang diakibatkan aktivitas yang padat. Terdapat tiga kategori dari Hypersomnolence yaitu akut, subakut, dan persisten. Kategori akut berlangsung selama kurang atau satu bulan, kategori sub akut berlangsung selama 1 hingga 3 bulan, dan kategori persisten yang berlangsung selama lebih dari 3 bulan. Dalam DSM 5 telah dijelaskan kriteria diagnostik hypersomnolence diantaranya adalah:
- Mengantuk berlebihan dengan periode tertentu seperti periode tidur dalam hari yang sama terjadi berulang, tidur lebih dari 9 jam perhari yang nonrestoratif atau tidak menyegarkan, dan kesulitan setelah terbangun tiba-tiba untuk terjaga kembali
- Terjadi tiga kali per minggu selama setidaknya 3 bulan
- Disertai dengan gangguan kognisi sosial atau fungsi lainnya
- Tidak disebabkan oleh efek psikologis seperti zat atau obat
Lalu, apa penyebab hypersomnolence disorder? Penyebab dari hypersomnolence disorder adalah lingkungan dan genetik fisiologis. Adanya infeksi virus dapat berkembang menjadi hypersomnolence dalam sebulan setelah terpapar virus. Hypersomnolence juga bersifat familian atau pewarisan autosomal dominan. Rata-rata tidur latensi hypersomnolence ini kurang dari 10 menit atau 8 menit. Tidur latensi adalah lama waktu yang dibutuhkan seseseorang untuk tertidur.
Hypersomnolence dapat menyebabkan disfungsi dalam pekerjaan atau aktivitas lainnya. Tidur malam yang panjang dan sulit untuk bangun membut seseorang tidak dapat menyelesaikan aktivitasnya. Tidur siang pada hypersomnolence juga dapat membahayakan seperti ketika sedang mengendara seseorang mengalami episode hypersomnolence sehingga tidak fokus.
Untuk mengetahui apakah kamu mengidap hypersomnolence disorder diperlukan konsultasi dan penanganan dari para professional seperti psikolog atau psikiater. Perlu diketahui bahwa hypersomnolence disorder ini tidak hanya sekedar rasa kantuk yang berlebih, tapi juga memerlukan tindakan lanjutan untuk mengetahui gejala dari hypersomnolence disorder. Jangan self diagnose ya.
Referensi :
American Psychiatric Association. (2013). Diagnostic And Statistical Manual of Mental Disorder Edition “DSM-5”. Washinton DC: American Psychiatric Publishing. Washinton DC.
Alhifzi,Sulaiman., Zaki,Nevin., Almeneesier, Aljohara., Bahmmam, Ahmed. (2020). Management Of Sleep Disorders In Psychiatry. America : Oxford University Press
Sateia, MJ. (2014). International Classification of Sleep Disorder 3ed. Chest Vol 146, Issue 5