Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Self-Fulfilling Prophecy

Pernahkah kamu berpikir dengan yakin “aku akan berhasil melewati ujian hari ini” dan akhirnya benar – benar terjadi? Bisa jadi kamu sedang melakukan “Self-Fulfilling Prophecy”, lho. Apa sih maksudnya “Self-Fulfilling Prophecy”? Yuk kita ulas bersama.

Self-Fulfilling Prophecy adalah situasi dimana keyakinan atau kepercayaan terhadap suatu kondisi baik negatif atau positif dapat mengarahkan perilaku tanpa disadari. Ekspektasi dari self-fulfilling prophecy muncul karena adanya kepercayaan informasi yang sangat tinggi dan mendorong diri kita untuk mewujudkan ekspektasi tersebut.

Apa yang menyebabkan terjadinya self-fulfilling prophecy?

1. Ekspektasi

Ekspektasi atau harapan yang dimiliki individu membuatnya menjadi merasa harus selalu memenuhi harapannya, baik harapan untuk diri sendiri atau untuk orang lain.

2. Perasaan terhadap hal yang sedang atau akan dihadapi

Ada beberapa hal yang terkadang kita merasa takut terlebih dahulu padahal belum dihadapi. Kadang perasaan takut ini muncul dan dialami secara berlebihan hingga mengakibatkan terganggunya perilaku kita sendiri.

3. Pikiran atau keyakinan berlebih terhadap hal yang belum terjadi

Kita mungkin pernah mengalami kondisi ketika kita akan mengerjakan sesuatu, tapi kita sudah sangat yakin kalau kita akan gagal, padahal hal tersebut belum dikerjakan, pemikiran-pemikiran tersebut membuat kita takut dan cemas sampai mempengaruhi perilaku kita.

Lalu, apa sih dampak dari  self-fulfilling prophecy?

1. Bisa menimbulkan emosi negatif dalam diri

Emosi-emosi yang timbul bisa seperti marah, cemas, bahkan dalam beberapa kasus dapat menyebabkan depresi.

2. Mempengaruhi performa dalam pekerjaan dan kehidupan sosial

Karena adanya perasaan negatif atau pikiran yang terus menerus diyakini padahal belum terjadi atau belum dihadapi dapat mempengaruhi performa kerja atau bahkan sampai kehidupan sosial dari individu.

Gimana ya cara mengatasi perilaku self-fulfilling prophecy?

Cara terbaik untuk mengatasinya adalah dengan mengubah perilaku kamu terlebih dahulu. Kamu harus berani mengatakan bahwa diri kamu salah jika sedang melakukan kesalahan, hal ini diharapkan agar kamu tumbuh lebih kuat secara mental. Latih otak kamu untuk melihat diri kamu secara berbeda sehingga kamu dapat keluar dari perspektif amanmu dan mengubah masa depanmu.

Sadari, apakah perilaku yang kita lakukan akan membantu mengatasi masalah yang dihadapi atau tidak. Jika tidak, berpikirlah untuk mencari jalan keluarnya.

Lakukan coping stress untuk membantu agar diri kamu lebih tenang, agar dapat memahami pikiran dan perasaan diri sendiri lebih tepat.

Ketika kita mencurahkan seluruh energi dan fokus kita ke dalam sesuatu, secara tidak sadar kita mewujudkannya menjadi kenyataan, melalui perspektif dan perilaku kita. Kamu memiliki kekuatan untuk memilih untuk berhenti menulis ulang naskah lama yang tidak sehat dan menulis cerita baru yang lebih baik lagi.

Referensi:

  1. Morin, A. (2019). How to Break Free From the Negative Patterns in Your Life That Reinforce Your Self-Limiting Beliefs. Diakses pada 14 September 2021 dari https://www.inc.com/amy-morin/how-your-negative-thoughts-turn-into-self-fulfilling-prophecies-and-what-to-do-to-stop-it.html
  2. Regan, S. (2021). Self-Fulfilling Prophecies & How To Overcome Negative Ones, From Experts. Diakses pada 14 September 2021 dari https://www.mindbodygreen.com/articles/guide-to-self-fulfilling-prophecies-pygmalion-effect
  3. Rosenthal, R. (2012). Self-Fulfilling Prophecy. Elsevier, 328-335.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *