Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Bagaimana Self Harm dari Kacamata Psikologi?

Self Harm

 

Pernah tidak di saat kita stres, kita ga ingin orang lain terluka, justru kita ingin menyakiti diri kita sendiri karena kita merasa kita pantas dihukum atas kesalahan yang pernah kita perbuat? Contohnya seperti membenturkan kepala ke tembok, rela tidak makan selama seminggu, atau bahkan melukai tubuh kita dengan benda-benda tajam? Nah kalau pernah, kalian perlu tahu bahwa kalian melakukan self-harm kepada diri kita..

Lalu, apa sih self harm itu?

Jadi, self harm adalah suatu bentuk menyakiti diri sendiri. Self harm memiliki definisi sebagai perilaku seseorang untuk menyakiti dan melukai diri sendiri dengan berbagai cara tanpa memandang ada atau tidaknya niat dan keinginan untuk mati (NICE, 2015; WHO, 2015).

Self harm sebenarnya bukanlah penyakit kejiwaan, tetapi mengindikasikan bahwa orang yang memiliki penyakit tersebut mengalami kegagalan dalam coping saat menghadapi stres  (Carroll, et al., 2014). Meskipun tidak tergolong dalam gangguan jiwa, tetapi apabila dibiarkan akan berujung bunuh diri (Chan M.,et al 2016).

Menurut Sadock, BJ.& Sadock, V (2009), ada beberapa penyakit kejiwaan yang berkaitan dengan self harm, kalian harus tahu yaa..

  1. Gangguan kepribadian ambang (Borderline personality disorder)
  2. Gangguan depresi
  3. Gangguan bipolar, dan 
  4. Skizofrenia 

Lalu, ciri-cirinya bagaimana?

Brown & Plener (2017) dan Cipriano dkk (2017) menjelaskan bahwa terdapat beberapa ciri-ciri yang mengindikasikan individu memiliki kecenderungan untuk menyakiti dirinya sendiri/self harm, yaitu:

  1. Memiliki sejumlah luka di tubuhnya, seperti luka sayatan di pergelangan tangan, luka bakar di paha, badan, lengan, atau memar di buku jari-jari tangan. Umumnya, individu akan menyembunyikan luka-luka yang mereka miliki dan akan menghindar untuk menjawab ketika ada orang yang menanyakan luka tersebut kepada mereka.
  2. Memperlihatkan gejala depresi, seperti suasana hati yang buruk, sering merasakan kesedihan dan menangis, serta tidak mempunyai motivasi dalam hidup.
  3. Kesulitan dalam bersosialisasi, baik di lingkungan rumah, sosial, maupun tempat kerja. Individu biasanya cenderung suka menyendiri dan enggan bicara dengan orang lain.
  4. Cenderung kurang memiliki percaya diri yang baik atau suka menyalahkan diri sendiri atas segala masalah yang terjadi kepada dirinya.
  5. Sering menggunakan pakaian yang menutupi seluruh tubuh, untuk menyembunyikan luka di tubuhnya.

Nah, faktor apa saja sih yang biasanya mempengaruhi hal itu?

Whitlock (2009) dan Jans dkk (2012) mengemukakan bahwa faktor yang mempengaruhi individu dalam memunculkan perilaku melukai diri sendiri (self harm) adalah faktor mekanisme pertahanan diri dalam strategi coping yang negatif. Hal ini dapat disebabkan karena pada masa kecil individu mengalami trauma psikologis, memiliki hubungan yang kurang harmonis dan hangat dengan keluarga, komunikasi yang kurang baik dalam keluarga, permasalahan yang terjadi di sekolah, permasalahan dalam hubungan percintaan, permasalahan dengan teman, kejadian buruk yang pernah dialami serta stres dalam menjalani kehidupan. Masa lalu yang tidak menyenangkan dan mengakibatkan individu mengalami trauma, keluarga yang tidak harmonis dan tidak mendukung, serta permasalahan dalam pergaulan sosial merupakan penyebab-penyebab utama individu melakukan perilaku self harm.

Nah selain itu ada faktor-faktor lain nih yang mempengaruhi. Menurut Martinson (1999) menyebutkan bahwa terdapat beberapa faktor yang menjadi penyebab dilakukannya self injury/self harm, yaitu:

  1. Faktor keluarga

Pelaku self harm yang disebabkan oleh faktor ini biasanya tidak memiliki peran model yang memadai pada masa kecil dalam mengekspresikan emosi dengan adaptif serta memiliki komunikasi yang kurang baik dengan anggota keluarga.

  1. Faktor pengaruh biokimia

Pelaku self harm dapat melakukan perilaku self harm karena memiliki masalah yang spesifik dalam sistem serotogenik otak yang menyebabkan terjadinya peningkatan impulsivitas dan agresivitas

  1. Faktor psikologis

Pelaku self harm merasakan adanya kekuatan emosi yang membuat mereka merasa tidak nyaman dan tidak mampu untuk mereka atasi sendiri.

  1. Faktor kepribadian

Tipe kepribadian introvert memiliki kecenderungan yang lebih tinggi untuk memunculkan perilaku self harm dibandingkan dengan tipe kepribadian ekstrovert saat sedang menghadapi permasalahan hidup. Pola perilaku self harm sangat bergantung pada suasana hati seseorang. Selain itu, harga diri yang rendah, pola pemikiran yang kaku, serta kesulitan untuk mengekspresikan dan mengkomunikasikan perasaan menjadi faktor yang menunjang bagi seseorang untuk melakukan self harm.

 

Kita Harus tahu apa saja cara untuk menanganinya

Menyakiti diri sendiri (self-harm) adalah salah satu bentuk gangguan perilaku yang perlu mendapatkan perhatian khusus. Perilaku self-harm membutuhkan penanganan dari psikolog atau psikiater, terlebih jika kondisi ini berhubungan dengan gangguan mental tertentu. Pelaku self harm perlu untuk segera mendapatkan perawatan khusus dari ahli kejiwaan, baik psikolog maupun psikiater. Ahli kejiwaan akan melakukan pemeriksaan untuk mendiagnosa perilaku self harm yang muncul serta penyebabnya. Secara umum, penanganan pada pelaku self harm meliputi pemberian pertolongan medis, baik berupa rawat jalan maupun rawat inap pada pelaku yang menderita luka atau masalah kesehatan lainnya. Selain itu, terapi dan konseling juga akan diberikan kepada pelaku self harm.

 

Selain menjalani perawatan serta terapi, orang yang memiliki kecenderungan untuk menyakiti diri sendiri juga disarankan untuk:

  1. Tidak menyendiri. Carilah dukungan secara sosial dan psikologis melalui teman, keluarga, maupun kerabat dekat.
  2. Menyingkirkan benda-benda tajam, zat kimia, atau obat-obatan yang dapat digunakan untuk menyakiti diri sendiri.
  3. Bergabung dengan kegiatan-kegiatan yang positif, seperti klub olahraga.
  4. Menghindari konsumsi minuman beralkohol dan narkoba.
  5. Mengalihkan perhatian ketika timbul keinginan untuk melakukan perilaku self harm
  6. Rutin berolahraga, tidur dan istirahat yang cukup, serta mengonsumsi makanan yang memiliki gizi seimbang.

 

Sumber

Agustin, D., Fatria, R., Febrayosi, P. 2019. Analisi Butir Self-Harm Inventory. Jurnal Muara Ilmu Sosial Humaniora dan Seni 3(2). pp.396, DOI:10.24912/jmishumsen.v3i2.3880

Brown, R.C. & Plener, P.L. (2017). Non-Suicidal Self-Injury in Adolescence. Current Psychiatry Reports. 19(3), pp. 20.

Cipriano, A., Cella, S., & Cotrufo, P. (2017). Nonsuicidal Self-injury: A Systematic Review. Frontiers in Psychology. 8, pp. 1946.

Jans, T., Taneli, Y., & Warnke, A. (2012). SUICIDE AND SELF-HARMING BEHAVIOR. In J. M. Rey, e-Textbook of Child and Adolescent Mental Health (pp. 1-35). Ganeva: IACAPAP.

Martinson, D. (1999). Self injury fact sheet. New York: Amazon.

Whitlock , J. (2009). The Cutting Edge: Non-Suicidal Self-Injury in Adolescence. Research Facts and Findings , 1-9. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *