Wulandari (2017) menyebutkan resiliensi adalah kemampuan seseorang untuk menilai, mengatasi, dan meningkatkan diri ataupun mengubah dirinya dari keterpurukan atau kesengsaraan dalam hidup yang membuat seseorang berhasil menyesuaikan diri dalam berhadapan dengan kondisi yang tidak menyenangkan. Resiliensi adalah kapasitas untuk merespon secara sehat dan produktif ketika menghadapi kesulitan atau trauma, dimana hal ini penting untuk mengelola tekanan hidup sehari-hari (Reivich & Shatte, 2002). Resiliensi membuat seseorang berhasil menyesuaikan diri dalam berhadapan dengan kondisi yang tidak menyenangkan, serta dapat mengembangkan kompetensi sosial, akademik dan vokasional sekalipun berada di tengah kondisi stres hebat yang inheren dalam kehidupan dewasa ini (Desmita, 2005).
Reivich dan Shatte (dalam Widuri, 2012) menyebutkan ada tujuh kemampuan yang dapat membentuk resiliensi. Aspek-aspek tersebut ialah :
- Pengaturan emosi, ialah kemampuan tetap tenang saat berada di bawah kondisi yang menekan
- Kontrol terhadap implus, ialah kemampuan untuk mengendalikan keinginan, kesukaan, dorongan, dan juga tekanan yang berasal dari diri
- Optimisme, ialah saat melihat masa depan cemerlang individu yang resilien merupakan individu yang optimis
- Kemampuan menganilisis masalah, ialah kemampuan untuk menganalisis dan identifikasi penyebab dari masalah yang dihadapi secara tepat
- Empati, ialah kemampuan untuk memahami dan pedui pada orang lain
- Efikasi diri, ialah perasaan bahwa kita merupakan individu yang efektif dalam dunia
- Pencapaian, ialah kemampuan untuk mengambil hikmah atau hal-hal positif dari kehidupan setelah kemalangan yang dideritanya. Berdasar pada faktor-faktor inilah kita dapat menentukan bagaiman resiliensi yang dimiliki oleh individu.
Resiliensi berkaitan erat dengan level distres yang dimiliki oleh seseorang. Resiliensi turut berperan penting dalam membantu individu untuk dapat bertahan dari banyak faktor atau penyebab stres yang dapat membuat individu mengalami distres psikologis. Oleh karena itu resiliensi merupakan hal yang harus dimiliki oleh setiap individu, terutama pada mahasiswa yang rentan terhadap distres psikologis. Individu yang memilki resiliensi akan merasa mampu mencapai tujuannya dalam situasi kemunduran, tenang, berpikir dengan hati-hati, dan fokus dalam masalah, mampu beradaptasi dengan perubahan yang dialaminya, mampu mengendalikan diri, dan yakin akan Tuhan dan nasib. Individu yang memiliki kriteria resiliensi tersebut akan mampu beradaptasi dengan baik dalam situasi trauma, tragedi, atau peristiwa yang dapat menyebabkan stres lainnya. Sehingga Individu tidak mudah merasa cemas dan depresi, dengan begitu individu yang memiliki resiliensi akan memiliki tingkat distres psikologis yang rendah.
Banyak penelitian yang membahas dan membuktikan efek atau bahaya dari distres psikologis (Rees, Breen, Cusack, & Hagney, 2015 dan juga Graber, 2015). Selain itu juga ada beberapa penelitian yang mebahas mengenai hubungan antara resilensi dengan distres psikologis yang dialami oleh penderita demam berdarah. Dalam penelitian tersebut telah dibuktikan bahwa resiliensi dan distres psikologis memiliki hubungan negatif dimana individu yang memiliki resiliensi yang rendah memiliki tingkat distres psikologi yang lebih tinggi dibandingkan dengan mahasiswa yang memiliki tingkat resiliensi yang lebih tinggi (Mahmood & Ghaffar, 2014). Dalam Pidgeon, dkk (2015) juga telah dibuktikan bahwa pada mahasiswa di Amerika, Australia, dan Hongkong mahasiswa yang memiliki tingkat resiliensi rendah memiliki tingkat distres psikologis yang lebih tinggi dibandingkan dengan mahasiswa yang memiliki tingkat resiliensi yang lebih tinggi. Forman-Hofman, dkk (2014) mendapati bahwa individu dengan distres psikologis memiliki resiko kematian yang lebih tinggi dibandingkan dengan individu yang tidak mengalaminya, untuk mengatasi resiko yang timbul akibat dari distres psikologis ini maka sangat perlu untuk meningkatkan resiliensi individu. Karena dengan tingginya resiliensi pada individu maka kemapuan seseorang untuk bertahan dan bangkit melawan kondisi buruk atau negatif yang
dialami akan menjadi lebih kuat.
Referensi :
Desmita. (2005). Psikologi perkembangan peserta didik. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Forman-Hoffman, V. L., Muhuri, P. K., Novak, S. P., Pemberton, M. R., Ault, K. L., & Mannix, D. (2014). Psychological distress and mortality among adults in the U.S. Household Population.Center for Behavioral Health Statistics and Quality.
Graber, R., Pichon, F., & Carabine, A. E. (2015). Psychological resilience: State of knowledge and future research agendas. Working Paper, 425.
Mahmood, K., & Ghaffar, A. (2014). The relationship between resilience, psychological distress and subjective well-being among dengue fever survivors. Global Journals Inc. 14(10),13-24.
Pidgeon, A. M., Rowe, N. F., Stapleton, P., Magyar, H. B., & Lo, B. C. (2014). Examining characteristics of resilience among university students: an international study. Open Journal of Social Sciences,, 2, 14-22.
Reivich K dan Shatte, A. (2002). The Resilience factor: 7 essential skill’s for overcoming life’s inevitable obstacles. New York : Random House inc.
Rees, C. S., Breen, L. J., Cusack, L., & Hegney, a. D. (2015). Understanding individual resilience in the workplace: the international collaboration of workforce resilience model. Frontiers in Psychology, 6(73), 1-7.
Widuri. E. L. (2012). Regulasi emosi dan resiliensi pada mahasiswa tahun pertama. Humanitas. 9(12), 147-156.
Wulandari, N. N. T. M. (2017). Peran Efikasi Diri Dan Motivasi Intrinsik Terhadap Resiliensi Orangtua Dengan Anak Berkebutuhan Khusus Pada Sekolah Luar Biasa (Slb) Di Bali. Jurnal Psikologi Udayana, 4(02), 347-356.