Interaksi yang dilakukan manusia tentu terkadang melakukan kesalahan/kekeliruan, hal ini didasari karena adanya aturan yang berlaku, perbedaan cara pandang terhadap sesuatu, budaya, kepribadian.
Psikologi positif dalam rentang waktu terdapat 3 inti pembahasan yaitu tentang masa lalu, masa kini, dan masa depan. “gratitude“, “memaafkan”, dan “dimaafkan”. Psikologi postif menjelaskan “memaafkan” dan “dimaafkan”. Kedua kata yang terkesan sama akan tetapi berbeda makna namun dalam pelaksanaan keduanya sama-sama membutuhkan kerja keras, kemauan yang kuat, dan ketulusan.
Meminta maaf (Apology) atas ketidaksalahan yang dilakukan terlebih dahulu kepada lawan bicara bukan merupakan sesuatu yang salah. Meminta maaf (Apology) dapat memberikan kepuasan secara psikologis yang menyebabkan diri terhindar dari rasa dendam/menyakiti orang lain. Melalui upaya permintaan maaf dapat membantu dalam pertumbuhan empati dan simpati pada seseorang, mengurangi konflik antar sesama. Enright berpendapat meminta maaf sebagai bentuk kesediaan untuk mengurangi/ meninggalkan perasaan marah akibat perbuatan kurang menyenangkan orang lain yang dirasakan, mengurangi/ menghilangkan penliaian negatif pada orang lain, mengurangi sikap acuh tak acuh, menghindari perilaku menyakiti, dan ingin bersikap adil. Serta, disisi lain memaafkan akan menumbuhkan perasaan iba, kasih sayang, dan kemurahan (dalam Nashori 2011). Smith menjelaskan bahwa forgiveness merupakan suatu proses (atau hasil dari sebuah proses) yang dapat membantu seseorang dalam mengubah emosi dan tingkah laku terhadap suatu penyesalan. Dan Droll menjelaskan bahwa ketika seseorang dapat memaafkan maka dapat dikatakan seseorang tersebut telah melakukan komunikasi interpersonal. Sehingga dapat disimpulkan memaafkan (forgiveness) artinya menerima kondisi orang lain yang berbuat buruk terhadap diri dan dari perilaku memaafkan akan mendorong perkembangan sikap altruisme, mengurangi rasa bersalah, mengurangi kemarahan, bahkan mengurangi kecemasan.
Manusia hidup di dunia akan selalu membutuhkan orang lain. Hal ini disebut manusia sebagai mahkluk sosial. Dengan memaafkan selain menimbulkan kepuasan psikologis juga dapat mengembangkan kemampuan misalnya komunikasi interpersonal, kontrol emosi, altruisme, simpati, dan empati. Dengan perkembangan kemampuan tersebut akan menjadikan peningkatan kualitas hidup. Walaupun sulit memaafkan atas kesalahan orang lain setidaknya belajar untuk memaafkan perlahan melalui cara memahami dan menganalisis latar belakang kesalahan yang dilakukan serta membantu dalam perubahan perilaku bermasalah menjadi perilaku yang seharusnya.
Referensi : Rahmawati. (2016). Hubungan Hope, Happiness dan Forgiveness terhadap Marital Adjustment. Jurnal Untirta, Vol. 01, (01), 51-62.