Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Body Image Pada Wanita, Sepenting Itu kah?

Bagi seorang perempuan, penampilan adalah hal yang sangat penting. Oleh sebab itu, penting baginya untuk memperlihatkan penampilan yang bisa menarik perhatian orang lain atau dengan kata lain tampil sempurna. Kebanyakan orang mempersepsikan seorang wanita yang sempurna itu adalah seorang wanita yang mempunyai paras yang cantik, pintar, mempunyai badan yang tinggi, langsing dan tubuh yang ideal. Padahal pada kenyataannya, definisi seorang wanita yang sempurna itu tergantung pada bagaimana seseorang memaknai dan mempersepsikan hal tersebut.

Keinginan seseorang untuk tampil sempurna di depan banyak orang akan menimbulkan kekhawatiran. Kekhawatiran inilah yang membuat seseorang akan melakukan segala hal untuk membuat penampilan fisiknya menarik seperti keinginannya. Baginya, penampilan fisik yang menarik akan menentukan kesan yang membentuk dirinya dan menentukan bagaimana hubungannya dengan orang lain (Gilbert & Thompson, 2002, Newell, 2000 & Rumsey & Harcourt, 2003). Mumford & Choudry (2000) menyatakan bahwa standar kecantikan di masyarakat bagi seorang wanita yang ideal adalah yang memiliki badan langsing, sehingga menyebabkan banyak wanita merasa tidak puas dengan berat dan bentuk badannya saat ini. Oleh sebab itu banyak wanita terdorong melakukan segala usaha untuk meraih standar ideal tersebut.

Dalam beberapa kasus, seseorang merasa tidak puas melihat dirinya sendiri karena mereka ‘merasa gemuk’ dan memotivasi diri sendiri untuk melakukan olahraga (Grogan, Evans, Wright & Hunter, 2004), hal itu juga dapat mencegah seseorang untuk melakukan kegiatan olahraga yang terorganisir seperti melakukan gym atau berolahraga di pusat olahraga karena kekhawatirannya tentang mengungkapkan bentuk tubuhnya kepada orang lain di tempat olahraga (Liggett, Grogan, & Burwitz, 2003) dan apakah seseorang memiliki jenis tubuh yang sesuai dengan tubuh orang yang sering melakukan olahraga, yaitu yang mengutamakan tubuh yang ideal dan sangat ramping (Choi, 2000).

Citra tubuh dapat ditafsirkan sebagai sikap diri seseorang yang multidimensional terhadap tubuh, terutama penampilan (Cash & Pruzinsky, 1990). Dengan demikian, citra tubuh mengacu pada bagaimana orang berpikir, merasa dan berperilaku berkaitan dengan penampilan fisiknya sendiri.

Ridha (2013) mengungkapkan bahwa penerimaan diri banyak dipengaruhi oleh body image yang berupa budaya dan standarisasi masyarakat mengenai penampilan dan kecantikan, meliputi konsep kurus, gemuk, indah dan menawan ketika dilihat. Penerimaan diri juga dipengaruhi oleh penilaian seseorang terhadap dirinya sendiri, baik berupa penilaian negatif maupun penilaian positif yang akhirnya menghasilkan perasaan keberhargaan atau kebergunaan diri dalam menjalani kehidupan dan sewaktu-waktu bisa menjadi pengaruh yang sangat kuat pada diri remaja.

Terdapat sebuah penelitian yang dilakukan oleh Hasmalawati (2017) tentang pengaruh citra tubuh terhadap penerimaan diri. Penelitian ini  menunjukkan bahwa hanya citra tubuh yang mempengaruhi penerimaan diri sedangkan perilaku makan sebaliknya. Semakin tinggi citra tubuh, maka semakin tinggi pula penerimaan diri seseorang terhadap dirinya sendiri.

Citra tubuh yang baik akan berdampak pada penerimaan diri yang baik pula. Kemampuan seseorang untuk bergaul dengan masyarakat akan sangat mudah bagi diri individu, sehingga seseorang tersebut merasa puas terhadap diri sendiri dan lingkungannya. Citra tubuh merupakan produk dari pengalaman yang nyata berupa persepsi terhadap bagian bagian tubuh serta penampilan secara keseluruhan yang sebagian berasal dari perkembangan fisik. Oleh karena itu, seseorang diharapkan untuk selalu bisa berpikir positif akan segala kelemahan, kesalahan, kekurangan, kekeliruan serta kekuatan dan kelebihan terhadap citra tubuh yang dimiliki, dengan cara menerima diri sendiri apa adanya (Ridha, 2013).

 

Sumber :

Cash, T. F. & Pruzinsky, T. (1990). Body images: development, deviance and change. New York, NY: Guilford.

Choi, P. (2000). Feminity and the Physically Active Woman. London: Routledge.

Gilbert, S., & Thompson, J. (2002). Body shame in childhood & adolescence. In P. Gilbert & J. Miles (Eds), Body Shame (pp.55–74). Hove: Brunner-Routledge.

Grogan, S., Evans, R., Wright, S., & Hunter, G. (2004). Femininity and muscularity: accounts of seven women body builders. Journal of Gender Studies. 13 (1), 49-61.

Hasmalawati, N. (2018). Pengaruh citra tubuh dan perilaku makan terhadap penerimaan diri pada wanita. Psikoislamedia: Jurnal Psikologi, 2(2), 107-115.

Liggett, G., Grogan, S., & Burwitz, L. (2003). The effectiveness of a six-week aerobic dance intervention on body image dissatisfaction among adolescent females. Paper. Presented at British Psychological Society Division of Health Psychology Conference, Stafford, 3–5 September.

Ridha, M. (2013). Hubungan antara body image dengan penerimaan diri pada mahasiswa Aceh di Yogyakarta. EMPATHY Jurnal Fakultas Psikologi. 1 (1).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *