Jika mendengar kata “Perfeksionisme” apa yang terlintas dalam pikiran anda?
Seringkali dalam menjalani interview entah dalam organisasi, pekerjaan, maupun mungkin beasiswa ada beberapa orang yang jika diberi pertanyaan “ apa kelemahan terbesarmu?” mungkin jawabannya bisa saja “saya sedikit perfeksionis dalam mengatur ruangan, pekerjaan, jadwal dan pakaian saya karena saya ingin tampil maksimal.” menurut anda, menjadi perfeksionisme adalah sebuah hal yang buruk atau sebaliknya?
Sebelum melangkah lebih jauh, mari kita belajar mengenali apa itu perfeksionisme dan apa saja jenisnya.
Perfeksionisme didefinisikan sebagai suatu kondisi yang dilakukan dalam rangka mencapai kesempurnaan secara terus menerus dan bahkan secara berlebihan (Flett & Hewitt, 2002).
Menurut jenisnya sendiri, perfeksionisme dibagi menjadi 3 yakni sebagai berikut:
1.Socially Prescribed Perfectionists
Tipe socially prescribed perfectionists ini secara sosial sangat kritis terhadap diri sendiri. Mereka merasakan tekanan besar untuk menjadi yang terbaik dan khawatir akan penolakan yang mungkin saja akan diterima dari orang lain. Kondisi ini mengharuskan individu untuk mampu mencapai standart tinggi yang ditetapkan lingkungan sosialnya, sehingga kadangkala membuat individu mengalami kesulitan untuk memposisikan dirinya sendiri dan kurang bisa mengenal diri dengan baik.
2. Other Oriented Perfectionists
Perfeksionis yang berorientasi pada orang lain seringkali menerapkan standar tinggi pada orang lain sehingga mereka dapat bersikap kritis serta menghakimi, bagi individu dengan perfeksionisme jenis ini akan cukup sulit untuk membangun kerja sama dalam tim. Kurangnya kepercayaan pada orang lain menjadi faktor sulitnya mereka bisa bekerja sama dalam tim.
3. Self Oriented Perfectionists
Perfeksionisme jenis self oriented ini membuat standar yang cukup tinggi bagi dirinya sendiri. Biasanya mereka menetapkan standar tinggi untuk diri mereka sendiri dalam kehidupan dan karier mereka, tetapi mampu mengejar tujuan mereka. Perfeksionisme jenis ini umumnya dikaitkan dengan sifat yang paling “adaptif” yang berkaitan lebih besar dengan produktivitas dan kesuksesan yang masuk akal, namun kadang tidak jarang mereka juga mengalami depresi karena standar tinggi yang mereka ciptakan sendiri.
Karakteristik Seorang Perfeksionis
•Perasaan puas yang hanya bersifat sementara, meskiupun sudah mencapai beberapa hal tetap berusaha untuk mencapai sesuatu yang lebih lagi.
•Berpikir secara hitam putih (benar-salah dan berhasil-gagal) jika tidak melakukan sesuatu dengan sempurna akan berpikiran bahwa anda sudah gagal.
•Berfokus pada hasil dan bukan proses. Anda percaya bahwa hanya dengan membuat segala sesuatunya sempurna di luar, Anda akan merasakan kedamaian dan ketenangan di dalam.
•Sangat kompetitif dalam hampir dalam semua hal.
•Cenderung merasa diam-diam menghakimi orang-orang yang tidak sempurna
•Memiliki keyakinan bahwa orang lain akan mengagumi dan menghargai anda karena pencapaian sukses anda.
Selain karakteristik seorang perfeksionis, berikut adalah beberapa hal yang mungkin menjadi masalah bagi seorang perfeksionis:
1. Masalah Dalam Hubungan
Cukup sulit untuk menjalin hubungan dengan seorang perfeksionis, dikarenakan harapan dan tuntuan yang ditetapkan cukup tinggi dan pasangan mereka sering merasa tidak mampu untuk memenuhi dan pada akhirnya malah merasa tertekan. Dalam hubungan, perfeksionis sering merasa kecewa, marah, dan kesal. Dalam persahabatan, mereka akan selalu berusaha untuk mendukung dan ramah, tetapi mereka juga bisa menjadi kompetitif, kaku.
2. Selalu Merasa Cemas dan Lelah
Seorang Perfeksionis hidup dengan kecemasan terus menerus tentang apa yang perlu dicapai, bagaimana cara mencapainya. Seringkali, ketika mereka mengalami kecemasan mereka malah bekerja semakin keras untuk mencapai lebih dan lebih lagi. Bekerja terlalu keras untuk sebuah pencapaian yang dilandasi kecemasan akan membuat mereka lelah. Sayangnya, respons perfeksionis terhadap kecemasan adalah bekerja
3. Produktif Adalah Sebuah Keistimewaan
Mereka percaya bahwa nilai dan harga diri mereka berasal dari produktivitas, pencapaian, dan kesuksesan yang sempurna dalam kehidupan mereka. Mereka memiliki keyakinan untuk harus terus-menerus mendapatkan tempat mereka sebagai yang “terbaik” di dunia, mereka berkeyakinan bahwa tidak cukup bagi orang lain untuk mencintai mereka apa adanya dan bukan karena pencapaiannya.
Menjadi seorang perfeksionis tidak selalu buruk, namun jika berlebihan tentu saja hal ini akan menjadi kebiasaan buruk.
Berikut adalah beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi perfeksionisme jika dirasa sudah terlalu berlebihan:
1.Mengenali Apa Itu Perfeksionisme
Ini merupakan langkah yang penting sebelum melangkah ke cara-cara selanjutnya. Mengenali perfeksionisme secara mendalam dapat memberi pengetahuan bagi diri kita untuk menyikapinya dengan pikiran terbuka.
2.Berpikir Secara Realistis
Bagi seseorang yang mencari kesempurnaan, mencapai sesuatu sesuai standar yang telah dibuat adalah suatu hal penting, namun kadangkala ketika kita gagal mencapai apa yang diinginkan, keadaan itu membuat kita menjadi lupa untuk berpikir secara realistis dan malah mengkritisi diri sendiri maupun orang lain. Alih- alih mengkritisi diri sendiri, ada baiknya bahwa kita berpikir secara rasional tentang setiap hal yang mungkin gagal kita capai misalnya seperti, “ tidak ada yang sempurna di dunia ini” atau “ aku sudah melakukan yang terbaik, dan kegagalan adalah hal yang biasa.” Bagi beberapa orang kalimat ini tidak akan berpengaruh terlalu signifikan, namun tidak ada salahnya jika diterapkan dalam kehidupan sehari-hari yang bisa membawa semangat positif ke diri sendiri.
3.Berpikir Dari Perspektif Lain
Seseorang dengan perfeksionisme biasanya cenderung menempatkan standartnya sendiri. Terbuka dengan saran dan masukan orang lain bukan hal yang buruk, bisa saja dengan terbuka pada masukan dan bantuan orang lain akan membuat hidup anda lebih baik.
4.Melihat Secara Luas
Seorang perfeksionisme kadang mengkhawatirkan hal-hal kecil yang belum tentu berpengaruh untuk hidupnya. Untuk mengatasi hal tersebut, mungkin anda bisa mengajukan beberapa pertanyaan sejenis ini ketika and mulai meragukan atau mengkhawatirkan sesuatu.
“Apakah ini benar-benar penting dan berpengaruh?”
“Apa kemungkinan buruk yang bisa terjadi?”
“Jika kemungkinan buruk itu terjadi, apa saya bisa menghadapinya?”
Itulah penjelasan singkat mengenai perfeksionisme. Semoga artikel ini dapat membantu anda!
Referensi:
https://www.anxietycanada.com/sites/default/files/Perfectionism.pdf
https://www.psychologytoday.com/intl/blog/trust-yourself/202109/3-types-perfectionism-watch-out
https://www.psychologytoday.com/intl/blog/inside-out/201311/4-difficulties-being-perfectionist
Lamarre, C., & Marcotte, D. (2021). Anxiety and dimensions of perfectionism in first year college students: The mediating role of mindfulness. European Review of Applied Psychology, 71(6), 100633.