Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

White Lies: Berbohong Untuk Kebaikan

Sejak kecil salah satu larangan yang diajarkan orang tua adalah “jangan berbohong”. Masalahnya larangan ini justru membuat sebagian besar orang justru berbohong. Berbohong menjadi salah satu tindakan yang dilakukan oleh banyak orang. Namun, bagaimana jika berbohong yang dilakukan adalah untuk kebaikan? Misalnya orang tua yang mengatakan pada anaknya untuk menghabiskan nasi tanpa tersisa karena kalau tidak, maka nasinya akan menangis. Bukankah itu termasuk kebohongan? Karena secara rasional nasi bukanlah manusia atau hewan yang dapat mengeluarkan air mata. Ini dinamakan white lies.

Apa itu White Lies?

White lies adalah kebohongan tentang hal kecil atau tidak penting yang dikatakan seseorang untuk menghindari menyakiti orang lain. White lies sering digambarkan tidak berbahaya bagi orang lain. Kebohongan nyata cenderung lebih mementingkan diri sendir dan dapat mengakibatkan konsekuensi negatif bagi diri sendiri dan orang lain. Sementara white lies seringkali dianggap sebagai lebih seperti pembengkokan kebenaran yang tidak berbahaya dan konsekuensinya tidak serius. White lies biasanya dilakukan untuk menciptakan dunia ajaib pada anak-anak, menjaga sopan santun dan tata krama sosial.

Sejarah White Lies

Definisi white lies yang terdokumentasi dimuat dalam sebuah artikel tahun 1741 di publikasi Inggris, The Gentleman’s Magazine. Di dalamnya penulis menulis, “Seorang wanita dengan kualitas terbaik… membuat perbedaan yang bijaksana antara white lies dan black lies. White lies adalah kebohongan yang tidak dimaksudkan untuk melukai siapa pun dalam hal kekayaan, minat, atau reputasi, tetapi hanya untuk memuaskan sifat cerewet dan keinginan untuk menghibur orang dengan menceritakan kisah-kisah yang baik. Jadi sepertinya white lies dicirikan sebagai kebohongan yang tidak berbahaya yang diceritakan untuk menambah-nambahkan cerita atau dongeng-dongeng. Penggunaan kata ‘white’ berutang pada sejarah associations of white yang identik dengankemurnian dan kebaikan, sedangkan ‘black’ membawa konotasi kedengkian dan kejahatan.

Penelitian tentang White Lies

Penelitian diera modern telah meneliti tentang whie lies dan perannya dalam ranah penipuan manusia. Penelitian telah menunjukkan bahwa tidak semua kebohongan dipandang sama. Kebohongan dapat bervariasi sesuai dengan tingkat konsekuensi dan moralitas. Orang mengatakan white lies ketika mengatakan yang sebenarnya justru akan membuat situasi menjadi terlalu rumit, tidak nyaman, atau membosankan. White lies memungkinkan orang untuk menyensor kebenaran yang berbahaya, membingkai ulang fakta yang dapat menyebabkan kecanggungan secara sosial, dan menghindari situasi yang tidak nyaman. Sebagian orang berpendapat bahwa lebih baik untuk mengatakan white lies yang masuk akal daripada melontarkan kebenaran yang ofensif dan terlalu blak-blakan. Penelitian lain menunjukkan bahwa orang-orang yang selalu mengatakan kebenaran bahkan ketika kebenaran itu memalukan dan menyakitkan, secara luas dipandang tidak siap untuk lingkungan sosial masyarakat modern.

Motivasi untuk Mengatakan White Lies

Para peneliti telah mengeksplorasi lebih jauh terkait apa yang memotivasi orang mengatakan white lies dan ditemukan kalau ada empat motivasi yang mendorong seseorang mengatakan white lies.

Motivasi pertama adalah kebijaksanaan. Orang-orang mengatakan white lies untuk bersikap sopan dan menjaga perasaan orang lain. Jika kamu sedang pergi dengan seroang teman, lalu ia bertanya apakah kamu merasa bosan atau tidak, mungkin akan lebih bijaksana jika kamu mengatakan kalau kamu merasa senang daripada berkata jujur kalau kamu bosan.

Motivasi kedua adalah kompensasi psikologis. Artinya seseorang mengatakan white lies untuk melindungi diri yang sedang rapuh atau sedih. Jika seseorang bertanya alasan kamu putus dengan pacarmu, maka kamu bisa mengatakan bahwa alasan hubunganmu berakhir adalah karena sudah tidak ada kecocokan lagi daripada mengakui kebenaran kalau kamu ditinggalkan begitu saja.

Motivasi ketiga adalah menghormati kekuasaan. Orang cenderung mengatakan white lies kepada mereka yang berkuasa untuk menghindari perliaku yang terlihat tidak patuh. Seorang karyawan mungkin memberi tahu atasan mereka bahwa mereka senang bekerja lembur, padahal mereka tidak menyukainya.

Motivasi keempat adalah untuk stabilitas hubungan. Mengatakan white lies kerap membantu orang menghindari konflik dan menjaga keharmonisan hubungan. Seorang suami mungkin berpura-pura taat beribadah untuk menghindari keretakan hubungan dengan istrinya yang taat beribadah.

Katakan White Lies atau Tidak?

Berdasarkan pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa white lies adalah kebohongan kecil, tidak terlalu penting, tidak berbahaya, dan dapat diterima secara sosial dengan alasan kepatutan atau menghindari rasa malu. Namun, penting untuk diingat bahwa baik tidaknya suatu kebohongan adalah masalah perspektif. Apa yang terlihat baik dari sudut pandang pembohong bisa dengan mudah dilihat sebagai suatu yang jahat dari sudut pandang orang yang dibohongi. Perbedaan antara white lies dan kebohongan nyata bukanlah fitur objektif dari kebohongan itu sendiri, melainkan seberapa menyakitkan kebohongan tersebut.

Berikut ada sebuah ilustrasi yang bisa memberikan gambaran lebih luas tentang white lies. Seorang mahasiswa baru sedang mengalami kesulitan pada minggu pertamanya di perguruan tinggi, tetapi ia memberi tahu orang tuanya kalau ia baik-baik saja agar mereka tidak khawatir. Dalam situasi ini, si mahasiswa baru memikirkan perasaan orang lain atas dasar empati dan kebaikan. Minggu selanjutnya ia mulai bisa menyesuaikan diri dan senang karena tidak membuat orang tuanya khawatir.

Para ilmuwan menyebut kebohongan yang disengaja ini sebagai kebohongan prososial. Kebohongan prososial berbeda dari kebohongan antisosial. Menurut penelitian, kebohongan prososial sebenarnya dapat membangun kepercayaan dan rasa kebaikan di antara orang-orang, sedangkan kebohongan antisosal ditujukan hanya untuk keuntungan pribadi.

Referensi:

Field, B. (2021, May 17). Are There Times It’s Okay To Lie? Verywell Mind. Retrieved October 26, 2021, from https://www.verywellmind.com/is-it-ever-okay-to-lie-5118228

Hart, C. L. (2020, October 28). What Is a White Lie? Psychological Today. Retrieved October 26, 2021, from https://www.psychologytoday.com/us/blog/the-nature-deception/202010/what-is-white-lie

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *