Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

TikTok Tidak Sekadar Hiburan—Ia Mengubah Cara Kamu Melihat Diri Sendiri

Mereka Lebih Cantik dari Kamu — AURA Magazine
Beauty · Mind · Culture
April 2026
Laporan Utama

Mereka Lebih
Cantik
dari Kamu

Setiap kali kamu scroll TikTok, ada sesuatu yang bekerja diam-diam di dalam kepalamu. Dan sains baru saja membuktikannya.

♥ ♥ +2,4 rb suka following 847
“Kamu tidak sedang iseng. Kamu sedang dibandingkan — oleh dirimu sendiri, detik demi detik, tanpa kamu sadari.”

Jam sepuluh malam. Lampu kamar sudah redup. Kamu rebahan, earphone terpasang, dan ibu jari mulai bergerak sendiri. Scroll. Berhenti. Scroll lagi. Seorang perempuan di TikTok baru saja muncul di layarmu — tubuhnya sempurna dalam balutan athleisure, kulitnya memantulkan cahaya, sudut wajahnya tajam seperti dipahat. Kamu menonton tiga detik. Lima. Lalu lanjut scroll. Tidak ada yang terasa salah. Tapi sesuatu, entah apa, sudah berubah.

Perasaan itu susah dijelaskan. Bukan sedih. Bukan marah. Lebih seperti… tiba-tiba lebih sadar pada perutmu yang tidak serata itu. Pada kulitmu yang mungkin kurang bercahaya. Pada fitur wajahmu yang tidak se-defined itu.

Para peneliti punya nama untuk ini: body-related envy. Rasa iri yang sangat spesifik — bukan iri pada kehidupan seseorang secara umum, tapi iri pada tubuhnya. Dan sebuah studi yang baru terbit di jurnal bergengsi Frontiers in Psychology1 membuktikan bahwa media sosial adalah mesin paling efisien yang pernah ada untuk memicu rasa iri itu — dan mendorongnya ke arah yang lebih jauh dari yang kita bayangkan.

✦   ✦   ✦

Ini Bukan Soal Insecure.
Ini Soal Cara Otakmu Bekerja.

Tahukah kamu?

Leon Festinger meramalkan ini pada 1954 — jauh sebelum media sosial ada. Manusia secara naluri selalu membandingkan diri dengan orang lain. Media sosial hanya memperbesar arena itu menjadi tak terbatas.

Psikolog Leon Festinger sudah tahu soal ini sejak 1954. Dalam teorinya yang disebut social comparison theory6, ia bilang manusia secara naluri terus-menerus mengukur dirinya dengan melihat orang lain. Bukan karena lemah. Karena memang begitu cara otak kita bekerja.

Masalahnya: otak kita tidak pernah dirancang untuk memproses ribuan wajah dan tubuh per hari. Sebelum media sosial ada, kita membandingkan diri dengan lingkaran kecil yang nyata — teman, keluarga, kolega. Kumpulan yang terbatas, beragam, dan manusiawi.

Sekarang? Dalam satu sesi scroll 20 menit, kamu bisa terpapar ratusan perempuan — semuanya sudah difilter, diedit, dipilih di momen terbaik mereka. Dan algoritmanya tahu persis kamu menyukai konten kecantikan, jadi dia terus mengirimkan lebih banyak. Lebih banyak lagi. Tanpa henti.

38 jt
prosedur kosmetik dilakukan di seluruh dunia sepanjang 2024 — naik 42,5% dalam empat tahun. Angka yang tidak bisa dilepaskan dari peran media sosial.2

Penelitian Li dan timnya dari Chongqing University1 menemukan bahwa inilah persis yang terjadi: semakin pasif kamu memakai media sosial — scroll tanpa posting, lihat tanpa komentar — semakin sering kamu melakukan upward comparison, membandingkan dirimu dengan orang yang kamu anggap lebih menarik. Dan semakin sering itu terjadi, semakin besar body-related envy yang tumbuh di dalam.

“

Semakin pasif kamu scroll, semakin besar kemungkinan kamu berhenti dengan perasaan kurang — kurang cantik, kurang langsing, kurang cukup.

✦   ✦   ✦

Dari Rasa Iri ke Meja Operasi

Ini bagian yang paling mengejutkan.

Li dan rekan-rekannya tidak berhenti di “orang jadi tidak percaya diri.” Mereka melacak lebih jauh: setelah rasa iri itu muncul, lalu apa? Jawabannya, berdasarkan tiga studi dengan ratusan partisipan, adalah sesuatu yang konkret: perempuan mulai mempertimbangkan operasi kosmetik secara serius.

Bukan sekadar googling iseng. Ini pertimbangan terukur — seberapa besar kemungkinan mereka akan mendatangi konsultan, mencari info prosedur, atau benar-benar mengeluarkan uang untuk mengubah penampilan.

📱
Dalam salah satu eksperimen, peserta cukup menonton konten TikTok berisi perempuan memakai yoga pants — konten yang sangat umum dan terkesan tidak berbahaya. Hasilnya? Kelompok yang menonton melaporkan rasa iri terkait tubuh dan keinginan operasi kosmetik yang jauh lebih tinggi dibanding kelompok yang hanya melihat gambar produk tanpa model manusia.

Angka industri mempertegas ini. Perempuan menyumbang 84% dari seluruh prosedur kosmetik di dunia.2 Pasar estetika global bernilai hampir $57 miliar pada 2024 dan terus tumbuh.7 Untuk pertama kalinya, operasi kelopak mata menggeser sedot lemak sebagai prosedur bedah paling populer — sebuah detail kecil yang bicara keras tentang budaya selfie dan kamera video kita.

Tentu, mempertimbangkan prosedur kosmetik bukan otomatis salah. Tapi ada pertanyaan yang layak ditanyakan pelan-pelan pada diri sendiri: apakah keinginan ini datang dari tempat yang tulus dan sudah lama ada? Atau dari rasa iri yang baru dipicu semalam oleh seseorang di layarmu?

✦   ✦   ✦

Mengapa Perempuan Lebih Rentan?

Sisi Evolusi

Beberapa peneliti menyebutnya “kompetisi intraseksual” — perempuan secara evolusioner terprogram untuk bersaing secara fisik. Media sosial hanya memperbesar arena itu tanpa batas ruang dan waktu.

Bukan kebetulan penelitian ini fokus pada perempuan. Standar kecantikan masyarakat secara historis menekan perempuan jauh lebih keras — tubuh perempuan dikomentar, dinilai, dan dibandingkan sejak remaja hingga dewasa, dari ruang ganti sekolah hingga kolom komentar Instagram.

Media sosial tidak menciptakan ketidakpuasan tubuh dari nol. Tapi ia menyiramnya dengan bensin. Sebuah studi di Discover Psychology3 menemukan bahwa skor body-esteem perempuan turun signifikan setelah terpapar konten Instagram yang memicu perbandingan ke atas. Penelitian tentang konten fitspirasi di TikTok4 menemukan pola yang sama: kepuasan tubuh perempuan anjlok lebih cepat dan lebih dalam.

Ada yang lebih gelap lagi. Algoritma media sosial tidak netral. Ia menampilkan konten yang mendapat banyak engagement — dan konten yang menampilkan tubuh ideal secara konsisten menuai lebih banyak suka, simpan, dan komentar. Artinya, platform secara aktif memperkuat standar kecantikan yang sempit, bukan sekadar mencerminkannya.

Sebuah tinjauan sistematis di Cureus5 bahkan menemukan bahwa iklan operasi kosmetik yang beredar di media sosial secara langsung meningkatkan normalisasi prosedur estetik di kalangan perempuan muda. Kita tidak hanya dibuat merasa tidak cukup — kita juga terus-menerus ditawarkan solusinya.

“

Algoritmanya tidak jahat. Tapi ia bekerja dengan cara yang membuat perempuan terus-menerus merasa perlu diperbaiki — dan selalu ada yang siap menjual perbaikan itu.

✦   ✦   ✦

Scroll Pasif vs. Scroll Aktif:
Perbedaan yang Tidak Kamu Sangka

Salah satu temuan paling menarik dalam riset ini bukan soal berapa lama kamu pakai media sosial, tapi bagaimana caramu memakainya.

Scroll tanpa tujuan — yang disebut passive use — jauh lebih merusak dibanding posting, berkomentar, atau aktif berinteraksi. Saat kamu pasif, kamu dalam posisi hanya menerima: menyerap citra orang lain tanpa konteks, tanpa percakapan, tanpa kesetaraan. Kamu penonton di pertunjukan kecantikan yang tidak pernah mengundangmu ke balik panggung.

Saat kamu aktif — berkomentar, posting, berinteraksi — ada keseimbangan yang sedikit kembali. Kamu bukan lagi sekadar konsumen. Kamu peserta. Dan itu, tampaknya, cukup untuk sedikit melindungi rasa percaya dirimu.

84%
pasien prosedur kosmetik global adalah perempuan — angka yang mencerminkan betapa berat tekanan penampilan yang masih ditanggung perempuan hingga hari ini.2

Sebuah kajian di Psychology & Marketing8 menjelaskan ini: saat pasif, kita masuk ke mode contrast — merasa lebih rendah dari orang yang kita lihat. Saat aktif, kita lebih sering masuk ke mode assimilation — merasa bagian dari komunitas, bukan terasing di luarnya. Dua pengalaman yang terasa serupa dari luar, tapi bekerja sangat berbeda di dalam.

✦   ✦   ✦

Lalu, Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Ini bukan artikel yang menyuruh kamu hapus semua aplikasi dan hidup tanpa internet. Media sosial ada, ia berguna, dan ia tidak akan pergi. Tapi ada beberapa hal sederhana yang bisa kamu mulai.

Kurasi feedmu seperti kamu mendekorasi kamar. Unfollow akun yang setiap kali muncul meninggalkan perasaan kurang cukup. Bukan karena mereka salah — tapi feedmu adalah ruang psikologismu, dan kamu berhak memilih siapa yang ada di sana. Ganti dengan akun yang menampilkan keberagaman tubuh, humor, keahlian, atau minat yang benar-benar menyenangkanmu.

Perhatikan kapan dan bagaimana kamu scroll. Jam 11 malam setelah hari yang panjang, rebahan dengan ponsel di tangan — itu kondisi di mana otakmu paling rentan. Scroll pasif dalam kondisi lelah dan emosional adalah kombinasi yang paling berbahaya buat harga dirimu.

Kalau kamu mempertimbangkan prosedur kosmetik, tidak ada yang salah dengan itu. Tapi beri jarak antara keinginan itu dengan tindakannya. Tanyakan pada dirimu: sudah berapa lama perasaan ini ada? Apakah muncul setelah sesi scroll tertentu? Konsultasikan dengan profesional yang mendengar kebutuhanmu, bukan hanya menjual prosedurnya.

Dan yang paling penting: kenali bahwa perasaan “tidak cukup cantik” yang datang setelah scroll bukan fakta tentang dirimu. Itu adalah output dari sebuah mesin yang sangat canggih — yang memang dirancang untuk membuatmu merasa begitu, karena ketika kamu merasa tidak cukup, kamu lebih mudah dijual sesuatu.

“

Perasaan “tidak cukup” setelah scroll bukan cermin dari kenyataan. Itu adalah hasil kerja mesin yang memang dibuat untuk membuatmu merasa begitu.

✦   ✦   ✦

Kita Perlu Bicara Lebih Keras

Penelitian Li dan rekan-rekannya penting bukan hanya untuk kita sebagai individu, tapi untuk semua pihak — termasuk platform itu sendiri.

Perdebatan soal media sosial dan citra tubuh selama ini terlalu banyak berputar di soal iklan. Padahal riset ini menunjukkan masalahnya jauh lebih dalam: bukan sekadar iklan filler yang muncul di feedmu, tapi arsitektur platform itu sendiri — bagaimana konten dipilih, diperkuat, dan diantarkan kepadamu, hari demi hari, malam demi malam.

Beberapa negara mulai bergerak: regulasi yang mewajibkan label “telah diedit secara digital” pada konten iklan kecantikan, pembatasan promosi prosedur kosmetik untuk pengguna di bawah 18 tahun. Tapi itu baru permulaan yang sangat kecil dari masalah yang sangat besar.

Jari itu terus bergerak. Scroll. Berhenti. Scroll lagi. Di suatu tempat, di dalam kepala seseorang yang kita tidak tahu namanya, sebuah kalkulasi baru saja selesai dijalankan. Dan hasilnya, seperti jutaan kali sebelumnya, adalah: aku kurang.

Sudah saatnya kita tahu persis siapa — dan apa — yang membuat kita merasa begitu.

✦

Artikel ini merujuk pada: Li M, Li X, Yang F, Zhang T (2025) · Frontiers in Psychology · Vol. 16 · doi: 10.3389/fpsyg.2025.1628208

Referensi Ilmiah
Li M, Li X, Yang F, Zhang T (2025). They are more beautiful than me! Front. Psychol. 16:1628208.
ISAPS (2025). Global Survey 2024. International Society of Aesthetic Plastic Surgery.
Social comparison on Instagram and body-esteem. Discover Psychology, 2024.
TikTok fitspiration & body satisfaction. Front. Psychol., 2025.
Mironica A, et al. (2024). Social Media & Cosmetic Surgery. Cureus 16(7):e65626.
Festinger L (1954). A theory of social comparison processes. Human Relations, 7(2).
Precedence Research (2025). Cosmetic Surgery Market Report 2025–2034.
Derbaix C, et al. (2025). Social comparison dynamics on social media. Psychology & Marketing.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *