Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Self : Menjadi Diri Sebenarnya atau Diri yang Dinginkan

Seorang tokoh Psikologi Humanistik yaitu Carl Rogers menjelaskan dan mendifinisikan bahwa kepribadian individu terdiri dari Real Self (diri yang sebenarnya) dan Ideal Self (diri yang ideal; diri yang diciptakan). Mari kita bahas lebih lanjut soal dua inti dari kepribadian menurut Rogers ini :

Bagaimana cara individu melihat dirinya (yang sangat penting untuk kesehatan mental yang baik) pada saat ini, siapa dan apa sebenarnya individu itu, serta apa yang sebenarnya dilakukan oleh setiap individu adalah bagaimana individu menunjukkan Real-selfnya. Seringkali Real-self dikaitkan atau diartikan dengan citra diri. Individu mungkin menganggap dirinya sebagai orang yang cantik atau jelek, baik atau buruk. Citra diri ini secara langsung mempengaruhi bagaimana seseorang merasa, berpikir dan bertindak. Real-self juga dipahami apabila individu bertingkah laku sesuai dengan kesadaran dirinya sendiri dan berpotensi untuk bertumbuh.

Rogers (1954) mengidentifikasi Real-self didasari oleh kecenderungan aktualisasi, mengikuti penilaian organisme, kebutuhan dan menerima penghargaan dan penghargaan diri yang positif. Jika semua hal yang disebutkana tadi berjalan baik, maka kesehatan mental dan kehidupan individu juga akan menjadi lebih baik. Rogers percaya bahwa kita semua memiliki diri yang sebenarnya; yang tentunya berkaitan dengan kepribadian batin. Dirilah (Self) yang merasa paling benar tentang apa dan siapa kita sebenarnya. Mungkin tidak sempurna, tetapi bagian dari diri kitalah yang terasa paling nyata (Grice, 2007).

Terdapat kesesuaian antara Real-self dan Ideal-self, dimana kesesuaian ini akan membuat individu merasa berharga, ada kesesuaian antara real-self dan pengalaman, serta kesehatan mental yang baik. Adapun kesesuaian dalam real-self adalah :

1. Kecenderungan Aktualisasi/actualizing tendency : Tiap individu memiliki kecenderungan terarah (oriented tendency; bersifat selektif dan konstruktif) dalam diri masing-masing untuk tumbuh, untuk mencari pengalaman baru dan beragam. Kecenderungan aktualisasi memiliki dua macam yaitu : aspek psikologis dan biologis. Pendekatan psikologis berarti pengembangan potensi yang membuat kita memandang manusia lebih berharga. Pendekatan biologis melibatkan dorongan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti : kebutuhan akan makanan, air, dan udara.

Rogers beranggapan bahwa semua orang pada dasarnya baik dan kreatif. Individu akan mengembangkan kebaikan bawaan mereka, jika masyarakat bertindak terhadap mereka dengan cara yang mendorong dan mendukung. Rogers percaya bahwa individu harus dalam keadaan kongruen (kesesuaian) untuk mencapai aktualisasi diri. Hal ini menunjukkan bahwa aktualisasi diri terjadi ketika ideal-self (diri yang diingkan) kongruen dengan citra dirinya (real-self).

2. Pandangan Positif : Individu harus memiliki pandangan dan juga citra diri yang baik;yang positif bagi dirinya.

3. Self-Regard : Individu memperhatikan atau mempertimbangkan diri sendiri atau kepentingannya sendiri; adanya self-respect/kehormatan diri.

 

 

Bahasan kedua adalah Ideal-Self. Seseorang dapat dikatakan Ideal self, jika mereka bertingkah laku sesuai dengan yang dikehendaki oleh orang lain; cara seseorang ingin menjadi siapa, tipe orang yang bagaimana yang dia rasa harus menjadi diri yang ideal. Ideal-self adalah pribadi sempurna yang diinginkan setiap orang, dan digunakan sebagai model untuk membantu Real-self dalam mengembangkan potensinya dan mencapai aktualisasi diri. Ideal self ini akan mewakili usaha individu untuk mencapai tujuan atau cita-cita. Dengan kata lain, ideal-self merupakan ambisi dan tujuan yang dinamis.

Sejauh ‘kita dipaksa untuk hidup dengan kondisi nilai yang tidak sesuai dengan penilaian individu, dan hanya menerima penghargaan dan penghargaan diri yang bersyarat, individu berarti mengembangkan diri yang ideal’. Ideal self ini ini lahir dari pengaruh di luar individu. Ideal selflah yang memegang nilai-nilai yang diserap dari orang lain; puncak dari semua hal yang kita pikir kita seharusnya, dan bahwa kita merasa orang lain berpikir kita seharusnya. Ini mengacu pada individu yang bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada mereka dan berhenti menghubungkan tindakan mereka dari kekuatan luar.

Seperti yang dijelaskan sebelumnya bahwa terdapat kesesuaian antara Real-self dan Ideal-self. Adapun kesesuaian/konsistendi dalam ideal-self adalah :

1. Berusaha Keras/Berjuang : Individu akan berusaha keras dan berjuang untuk mencapai diri yang dia cita-citakan maupun diri yang dinilai baik di masyarakat.

2. Ambisius

3. Self-Worth : Merupakan perasaan internal agar individu merasa dirinya cukup baik dan layak untuk dicintai dan dimiliki oleh orang lain. Self-worth adalah keberadaan dalam makna pribadi, yaitu rasa pemenuhan yang menyertainya.Bagi Rogers (1959), seseorang yang memiliki self-worth tinggi, akan dapat mengatasi tantangan dalam hidup, menoleransi kegagalan dan kesedihan pada waktu tertentu, terbuka dengan orang lain, menjadi lebih toleran.

Menurut Frankl (1992), makna hidup seseorang dapat berubah, tetapi kebutuhan akan makna selalu ada. Baumeister (1991) membahas pencarian makna mencakup empat kebutuhan dasar. Salah satunya adalah self-worth, untuk percaya bahwa seseorang adalah orang yang berharga dengan karakteristik yang diinginkan.

 

 

Referensi :

Ismail, N. A. H., & Tekke, M. (2015). Rediscovering Rogers’s self theory and personality. Journal of Educational, Health and Community Psychology, 4(3), 28-36.

Negovan, V., Bagana, E., & Dinca, S. (2011). Gender, age and academic standards of school differences in adolescents’ self acceptance. Procedia-Social and Behavioral Sciences, 12, 40-48.

Nuha, R. A., basilisa, G., Ferent, F., & Situmorang, D. D. B. (2020, March 30). Perilaku bawa perasaan (BaPer) dikaji menurut teori Person-Centered. https://doi.org/10.31234/osf.io/r4p7c

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *