Bayangkan kamu adalah seorang atlet bulutangkis yang sedang bertanding. Saat ini pertandingan sudah berada pada set 3 dan skor yang kamu peroleh adalah 15, sedangkan skor lawan 20. Lawan hanya perlu satu poin lagi untuk bisa menang, tetapi kamu maish butuh 6 poin. Apa yang akan kamu lakukan? Apakah kamu merasa bisa bangkit dan menang atau menyerah dalam kekalahan? Apakah kamu meragukan kemampuanmu untuk bangkit dan mengatasi kesulitan yang kamu hadapi?
Ilustrasi di atas adalah salah satu contoh sederhana dari self-efficacy. Self-efficacy adalah keyakinan seseorang pada kemampuannya untuk berhasil dalam situasi tertentu. Albert Bandura seorang tokoh psikologi terkemuka mendefinisikan self-efficacy sebagai keyakinan orang terhadap kemampuan mereka untuk melakukan kontrol atas fungsi dan atas peristiwa yang mempengaruhi kehidupan mereka. Bandura menggambarkan keyakinan ini sebagai penentu perasaan serta bagaimana orang berpikir dan berperilaku.
Self-efficacy tidak hanya dalam mempengaruhi bagaimana perasaan seseorang tentang diri, tetapi apakah ia berhasil mencapai tujuan hidupnya atau tidak. Menurut Bandura, self-efficacy adalah bagian dari sistem self yang terdiri dari sikap, kemampuan, dan keterampilan kognitif individu. Self-efficacy adalah bagian penting dari sistem self karena mempengaruhi bagaimana kita memandang situasi dan bagaimana kita berperilaku dalam menanggapi situasi yang berbeda. Self-efficacy juga menentukan tujuan apa yang kita pilih untuk dikejar, bagaimana kita mencapai tujuan tersebut, dan bagaimana kita merefleksikan kinerja kita.
Individu yang memiliki tingkat self-efficacy tinggi memiliki kepercayaan diri untuk mengambil dan melakukan upaya yang diperlukan untuk berhasil dalam tantangan dan mampu menghadapi situasi yang sulit. Hasilnya, individu akan lebih termotivasi, lebih bahagia, dan memiliki rasa pencapaian pribadi. Selain itu, ia juga cenderung lebih tangguh dalam situasi yang sulit dan tidak terduga. Sebaliknya, jika tingkat self-efficacy rendah, maka individu cenderung menghindari tantangan, tidak percaya dengan kemampuannya, fokus pada kegagalan dan hasil negatif, serta cepat menyerah.
Self-efficacy mulai terbentuk sejak masa kanak-kanak melalui berbagai pengalaman, tugas, dan situasi. Self-efficacy akan terus berkembang sepanjang hidup indivdiu ketika ia memperoleh keterampilan, pengalaman, dan pemahaman baru. Menurut Bandura, setidaknya ada empat hal sumber utama self-efficacy, yaitu pengalaman menghadapi tantangan, model sosial, persuasi sosial, dan respons psikologis.
Self-efficacy adalah seperangkat keyakinan yang layak untuk dikembangkan, tetapi sayangnya kita sering kali salah mempersepsikannya. Banyak orang mengalami kesalahan berpikir yang dapat memengaruhi perasaan dan perilaku. Belajar mengenali pikiran-pikiran yang keliru dan mengevaluasi keakuratannya dapat membantu kita mengembangkan respons yang lebih adaptif serta pandangan yang lebih percaya diri dan positif.
Berikut adalah tiga kesalahan berpikir yang jika tidak disadari dapat menghambat kita membangun self-efficacy:
1. Personalisasi
Personalisasi adalah perasaan bertanggung jawab atas sesuatu diluar kendali kita. Personalisasi terjadi ketika individu berpikir bahwa semua yang dilakukan atau dikatakan orang adalah reaksi terhadap dirinya. Aspek lain dari kesalahan berpikir ini adalah kecenderungan untuk membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Misalnya, ada salah seorang temanmu yang ikut klub melukis, lalu kamu berpikir kalau ia bergabung dengan klub melukis karena ada kamu di klub itu. Temanmu mungkin merasa sedikit terinspirasi saat melihat kamu melukis, tetapi mungkin juga ada alasan lain. Tidak semuanya adalah reaksi untuk kamu dan apa yang dikatakan atau dilakukan orang lain mungkin tidak selalu bersifat pribadi. Setiap orang memiliki alasan dan motivasi mereka sendiri
2. Pemikiran Emosional
Ini adalah keyakinan bahwa perasaan adalah kebenaran dan mendefinisikan apa yang sebenarnya terjadi. Misalnya, jika seseorang merasa bodoh, maka ia akan bodoh. Misalnya, kamu gagal dalam SBMPTN, ini membuat kamu merasa kesal dan tidak kompeten. Akibatnya kamu mungkin tidak lagi ingin mencoba tes karena percaya bahwa akan gagal lagi. Merasa cemas dan khawatir tentang mencoba tes lagi adalah hal yang normal, tetapi itu tidak berarti bahwa kamu tidak kompeten dan akan selalu gagal lagi. Keyakinan yang salah seperti itu dapat meningkatkan perasaan cemas, takut, dan khawatir yang berdampak pada kesejahteraan kita.
3. Kontrol Kesalahan
Ketika orang merasa dikendalikan oleh lingkungan, mereka senderung melihat diri mereka sebagai korban takdir. Self-efficacy membutuhkan keyakinan dalam menjalankan kontrol atas, jadi jika seseorang percaya kalau hal-hal penting berada di luar kendalinya, jika seperti ini maka akan sulit membangun self-efficacy. Aspek lainnya adalah seseorang cenderung merasa bertanggung jawab secara berlebihan dan semuanya bergantung padanya. Misalnya, kamu berpikir kalau rasa sakit dan kebahagiaan orang-orang sekitar adalah tanggung jawabmu. Pemikiran seperti ini hanya akan membuat sengsara dan kemungkinan besar akan menghambatmu mengambil tindakan yang berarti di masa depan.
Untuk mengatasi kesalahan berpikir ini dan belajar bagaimana membangun self-efficacy yang baik hal pertama yang harus kita lakukan adalah mengidentifikasi pola berpikir yang salah dan membingkai ulang pemikiran kita. Salah satu caranya adalah dengan bertanya pada diri sendiri. Tanyakanlah pertanyaan-pertanyaan seperti “apakah aku berpikir dengan cara ini?”, “apa yang membuatku berpikir seperti ini?”, “apa dampaknya jika aku berpikir seperti ini?”,”pikiran seperti apa yang bisa membuatku lebih percaya diri?”. Merangsang kesadaran diri dengan merenungkan pertanyaan-pertanyaan ini dapat membantu kita mengembangkan self-efficacy, mendorong pembelajaran emosional dan pertumbuhan pribadi dalam jangka panjang.
Referensi:
Cherry, K. (2020, July 22). How Self Efficacy Helps You Achieve Your Goals. Verywell Mind. https://www.verywellmind.com/what-is-self-efficacy-2795954
Hubscher-Davidson, S. (2021, October 1). 3 Beliefs that Prevent You from Building Self-efficacy. Psychreg. https://www.psychreg.org/beliefs-that-prevent-building-self-efficacy/