Pangkas Kasus Depresi Pada Remaja Di Era Modern!
Kesehatan mental merupakan hal penting yang harus diperhatikan selayaknya kesehatan fisik. Diketahui bahwa kondisi kestabilan kesehatan mental dan fisik saling mempengaruhi. Gangguan kesehatan mental bukanlah sebuah keluhan yang hanya diperoleh dari garis keturunan. Tuntutan hidup yang berdampak pada stress berlebih akan berdampak pada gangguan kesehatan mental yang lebih buruk.
Kecemasan dan kesedihan bukanlah fenomena baru di kalangan anak remaja. Namun dalam beberapa tahun terakhir terdapat peningkatan signifikan dalam persentase remaja atau orang muda berusia 12-20 tahun yang tercatat mengalami depresi berat.
Depresi merupakan gangguan mood berupa kesedihan yang intens, berlangsung dalam waktu lama, dan mengganggu kehidupan normal yang insidennya semakin meningkat seiring dengan meningkatnya tekanan hidup. Depresi merupakan problem kesehatan masyarakat yang cukup serius, penyakit ini mengenai 20% wanita dan 12% pria pada suatu waktu dalam kehidupan. World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa depresi berada pada urutan keempat penyakit di dunia pada tahun 2000. Pada tahun 2020, depresi diperkirakan menempati urutan kedua penyakit di dunia.
Apa yang menyebabkan peningkatan kasus depresi pada anak remaja dan bagaimana mencegahnya?
Beberapa penyebab meningkatnya kasus depresi pada remaja
- Hyper-connected and overstimulated
Remaja era milenium terhubung dengan internet dan media sosial hampir setiap saat. Interaksi dengan internet dapat menimbulkan beberapa efek negatif pada kondisi psikologis anak remaja. Salah satu yang paling kentara adalah pemikiran yang menganggap dirinya berharga berdasarkan komentar dan jumlah like yang mereka dapatkan di media sosial.
- Not enough sleep
Kurangnya kuantitas dan kualitas tidur banyak dialami oleh remaja saat ini. Penyebabnya adalah banyaknya tugas dan aktivitas berselancar di internet yang tidak bisa dikendalikan. Tidur yang kurang akan berdampak pada kondisi fisik dan psikologis remaja.
- Lack of Community
Hidup di zaman yang serba cepat dan penuh stres tentunya tidak mudah. Sayangnya saat ini kurang komunitas positif dan suportif untuk perkembangan kesehatan jiwa remaja. Kondisi kurangnya komunitas pendukung ini berdampak pada mudahnya depresi terjadi terutama bagi mereka yang kurang memiliki dukungan dari orang-orang terdekat seperti orang tua, keluarga, dan guru.
Gejala depresi pada remaja
Mengenali gejala depresi membantu orang tua melakukan pencegahan ataupun deteksi dini agar bisa dilakukan penanganan dengan segera. Menurut buku manual diagnosa kesehatan jiwa DSM 5 (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders), depresi pada anak remaja memiliki gejala-gejala sebagai berikut:
- Suasana hati yang sedih atau mudah tersinggung
- Minat yang menurun, sulit menikmati keseharian
- Penurunan konsentrasi dan sulit membuat keputusan
- Kualitas dan kuantitas waktu tidur tidak sesuai, Insomnia (sulit tidur) atau hipersomnia (terlalu banyak tidur)
- Perubahan nafsu makan atau perubahan berat badan
- Kelelahan yang berlebihan, mudah capek, energi berkurang
- Memiliki perasaan tidak berharga atau rasa bersalah yang berlebihan
- Pikiran berulang tentang kematian atau keinginan bunuh diri
Mencegah depresi pada remaja
Depresi pada anak remaja dapat dicegah dengan melakukan pola asuh yang tepat untuk mendukung kondisi mental anak. Misalnya:
- Love
Berikan cinta kasih dan perhatian pada anak dan pastikan anak tahu bahwa kita, orang tuanya, selalu ada untuk mereka.
2. Conversation
Dorong anak untuk mau bercerita tentang apa yang dialaminya, buat suasana yang membuat mereka nyaman dan bebas bercerita.
3. Listen
Pastikan kita mendengarkan apa yang anak ceritakan. Iya mendengarkan, bukan langsung menasihati apalagi menghakimi.
4. Feeling
Cari tahu apa yang anak sedang rasakan dan konfirmasi perasaan tersebut.
5. Symptoms
Kenali kemunculan tanda dan gejala depresi yang telah diuraikan di atas.
6. Behavior
Waspada terhadap berbagai perubahan perilaku yang ditunjukkan anak.
7. Patience
Sabar dalam menghadapi anak remaja, jangan memberi tekanan yang berat baginya.
8. Educate
Sampaikan pada anak apa itu kesehatan jiwa dan pentingnya menjaga jiwa tetap sehat.
10. Rest time
Pastikan anak memiliki waktu tidur yang cukup dan berkualitas.
11. Problem solving
Bantu anak dalam mencari pemecahan masalah yg efektif dan realistis.
12. Environment
Berikan anak lingkungan yang kondusif dan suportif untuk perkembangan mentalnya.
13. Support
Secara reguler selalu berikan dukungan, motivasi dan pujian bagi anak.
14. Be proud
Sampaikan selalu pada anak bahwa kita bangga padanya, hal ini penting untuk membangun harga diri dan percaya dirinya
Referensi
Radityo, W. E. (2012). Depresi dan gangguan tidur. E-Jurnal Medika Udayana, 1(1).
Dirgayunita, A. (2016). Depresi: Ciri, penyebab dan penangannya. Journal An-Nafs: Kajian Penelitian Psikologi, 1(1), 1-14.
Putri, A. W., Wibhawa, B., & Gutama, A. S. (2015). Kesehatan mental masyarakat Indonesia (pengetahuan, dan keterbukaan masyarakat terhadap gangguan kesehatan mental). Prosiding Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, 2(2).