Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Nasihat Lisa Su, CEO AMD, untuk Kesuksesan Akademik dan Karir di era AI pada Wisuda MIT 2026

Lari ke Arah Masalah Tersulit: Nasihat Lisa Su untuk Wisudawan MIT 2026
Karier & Pendidikan Tinggi

Lari ke Arah Masalah Tersulit: Nasihat Lisa Su untuk Wisudawan MIT 2026

Dalam pidato kelulusan yang sangat personal, CEO AMD itu mengajak generasi baru insinyur dan ilmuwan untuk berani memilih masalah besar — bukan sekadar mengejar jalan yang aman.

Pada 28 Mei 2026, Lisa Su — Chair dan CEO Advanced Micro Devices (AMD), sekaligus alumnus MIT angkatan sarjana 1990, magister 1991, dan doktor 1994 — berdiri di podium OneMIT Commencement untuk menyampaikan pidato kelulusan di hadapan Kelas 2026. Berbeda dari kebanyakan pidato seremonial yang penuh jargon motivasi generik, pidato Su terasa sangat pribadi: ia bercerita tentang malam-malam tanpa tidur di asrama Next House, tentang wafer silikon yang ia takut pecahkan di ruang bersih, dan tentang nasihat seorang mentor yang ia bawa sepanjang kariernya.

Yang membuat pidato ini relevan bukan hanya karena disampaikan oleh salah satu eksekutif teknologi paling berpengaruh di dunia, tetapi karena isinya menjawab pertanyaan yang dihadapi hampir setiap mahasiswa dan profesional muda hari ini: bagaimana membangun kepercayaan diri ketika merasa tidak cukup pintar, bagaimana memilih masalah yang layak diperjuangkan, dan bagaimana menyikapi gelombang kecerdasan buatan yang sedang mengubah lanskap karier secara fundamental.

Dari Mahasiswa yang Ragu Menjadi Insinyur yang Percaya Diri

Su membuka ceritanya dengan kejujuran yang jarang terdengar dari seorang CEO. Ia mengaku, begitu masuk ke kelas 6.001 dan 6.002 di MIT, ia langsung menyadari betapa banyak orang yang jauh lebih unggul dalam matematika dibanding dirinya. Soal-soal pertama membuatnya berpikir, “ini sulit sekali” — sebuah pengalaman yang sangat dikenali oleh siapa pun yang pernah merasa kecil di lingkungan baru yang penuh orang berprestasi.

“MIT mendorongmu lebih jauh dari yang pernah kamu bayangkan. Kamu bergumul dengan masalah. Kamu meledakkan satu-dua sirkuit. Dan kemudian, entah bagaimana… benda itu bekerja. Saat itulah aku mulai merasa menjadi seorang insinyur.” — Lisa Su, Pidato Kelulusan MIT 2026

Pengalaman ini sejalan dengan apa yang dipelajari psikologi pendidikan tentang pembentukan kepercayaan diri akademik. Riset tentang growth mindset — kerangka yang dipopulerkan psikolog Carol Dweck — menunjukkan bahwa siswa yang diajari memandang kemampuan sebagai sesuatu yang bisa berkembang, bukan bawaan tetap, membangun resiliensi karena mereka mengubah kegagalan menjadi peluang belajar dibanding tanda ketidakmampuan. Sebuah studi yang diterbitkan dalam Personality and Social Psychology Bulletin bahkan menemukan bahwa siswa yang diajarkan memandang kecerdasan sebagai sesuatu yang dapat berubah menunjukkan resiliensi dan keberhasilan akademik yang jauh lebih besar, terutama saat menghadapi tantangan. Cerita Su tentang berubah dari mahasiswa yang gentar menjadi peneliti yang percaya pada proses berpikirnya sendiri adalah ilustrasi hidup dari temuan ini.

Bukan kepercayaan diri karena selalu tahu jawabannya. Tapi kepercayaan diri bahwa, meski belum tahu jawabannya sekarang, aku bisa mencari tahu caranya. Lisa Su, tentang apa yang ia pelajari dari riset UROP-nya

Mens et Manus: Filosofi yang Membentuk Cara Berpikir, Bukan Sekadar Slogan

Su mengangkat kembali motto MIT, Mens et Manus — pikiran dan tangan — dan menjelaskan bahwa makna sebenarnya baru ia pahami jauh setelah lulus. Bagi Su, motto itu bukan sekadar hiasan dinding, melainkan metode kerja: berpikir dalam, lalu membangun; menguji ide, lalu mengulang ketika eksperimen kelima pun belum berhasil.

Filosofi “berpikir lalu membangun, gagal lalu mencoba lagi” ini sangat dekat dengan konsep grit dalam psikologi positif — kombinasi antara semangat jangka panjang dan ketekunan menghadapi kegagalan berulang. Dalam kerangka populer di bidang psikologi terapan, hubungan antara grit dan resiliensi sering digambarkan secara sederhana: grit adalah mesin yang menggerakkan kita ke arah tujuan, sementara resiliensi adalah oli yang menjaga mesin itu tetap bergerak. Tanpa salah satunya, proses panjang seperti yang dialami Su di laboratorium semikonduktor MIT — gagal, menyesuaikan, mencoba lagi — akan terasa melelahkan tanpa arah.

Tahapan Perjalanan: Dari Ruang Bersih MIT ke Kursi CEO AMD

Alur cerita Su sebenarnya membentuk semacam linimasa karier yang bisa dipelajari siapa pun, terlepas dari bidang studinya. Berikut empat tahap kunci yang ia bagikan, lengkap dengan pelajaran yang relevan untuk mahasiswa dan profesional muda hari ini.

Tahap 01 — Masuk dan Terkejut

Menerima bahwa “sulit” adalah bagian dari proses

Su tiba di MIT pada 1986 sebagai remaja 17 tahun yang yakin dirinya pandai matematika — lalu menyadari betapa kompetitifnya lingkungan barunya. Ia tidak menyangkalnya; ia menjadikannya bahan bakar untuk belajar lebih keras, sering bersama teman sekelasnya hingga larut malam.

Tahap 02 — Riset Pertama (UROP)

Belajar dari kegagalan eksperimen secara langsung

Lewat program riset sarjana UROP, Su bekerja di laboratorium membuat mask blanks litografi sinar-X — tanpa benar-benar memahami kegunaannya pada awalnya. Sebagian besar eksperimennya tidak berjalan sesuai rencana, tetapi proses “menyesuaikan dan mencoba lagi” itulah yang membentuk fondasi cara berpikirnya sebagai peneliti.

Tahap 03 — Jenjang Doktoral

Berubah dari penerima ilmu menjadi penyumbang ilmu baru

Di bawah bimbingan Profesor Dimitri Antoniadis, Su berulang kali memfabrikasi perangkat di ruang bersih, mengujinya, dan menemukan bahwa hasilnya sering tidak sesuai prediksi. Perlahan, ia bertransisi dari mahasiswa yang belajar tentang bidang ilmunya menjadi periset yang benar-benar berkontribusi pada bidang itu.

Tahap 04 — Dunia Kerja dan Kursi CEO

Mengambil risiko pada masalah besar, bukan jalan paling aman

Di IBM, di usia 25 tahun, ia belajar bahwa rekayasa “tidak peduli berapa usiamu — ia peduli apakah idemu berhasil.” Belasan tahun kemudian, ketika ditawari posisi CEO AMD — perusahaan yang saat itu sedang berjuang — sebagian mentornya menyebutnya berisiko. Su menerimanya karena baginya itu adalah kesempatan bekerja di garis depan teknologi pada masalah yang benar-benar penting.

“Run Toward the Hardest Problems”: Nasihat Mentor yang Mengubah Arah Karier

Salah satu momen paling dikutip dari pidato ini adalah ketika Su mengulang nasihat dari salah satu mentornya di awal karier, yang ia akui baru benar-benar ia pahami bertahun-tahun kemudian.

“Lari ke arah masalah-masalah tersulit. Masalah yang sulit mengajarkanmu apa yang sebenarnya kamu mampu lakukan.” — Nasihat mentor Lisa Su, dikutip dalam pidato MIT 2026

Nasihat ini selaras dengan temuan riset tentang efikasi diri karier pada mahasiswa. Sebuah studi yang meneliti hubungan antara growth mindset dan kepercayaan diri dalam mengambil keputusan karier menemukan bahwa individu dengan growth mindset yang lebih kuat umumnya menunjukkan adaptabilitas yang lebih besar dan cenderung tidak menarik diri saat menghadapi kegagalan; sebaliknya mereka justru secara aktif menghadapi tantangan dan peluang baru. Dengan kata lain, “lari ke arah masalah sulit” bukan sekadar slogan motivasi — ia memiliki dasar empiris sebagai strategi membangun kepercayaan diri profesional jangka panjang, terutama di tengah pasar kerja yang makin kompetitif bagi lulusan baru.

Sorotan Analisis

Riset di bidang psikologi karier juga menunjukkan dampak nyata dari pola pikir ini terhadap hasil profesional jangka panjang. Pada profesi yang menuntut pembelajaran berkelanjutan, individu dengan growth mindset cenderung meraih kepuasan karier yang lebih tinggi dan resiliensi yang lebih besar saat menghadapi tantangan yang tak terhindarkan dalam pekerjaan mereka. Ini menegaskan bahwa nasihat Su bukan filosofi abstrak, melainkan strategi yang dapat diukur dampaknya terhadap kepuasan dan ketahanan karier seseorang.

AMD, Taruhan Jangka Panjang, dan Kelahiran “Naluri Insinyur”

Saat membahas masa-masa awalnya sebagai CEO AMD, dua belas tahun lalu, Su menjelaskan bahwa langkah pertama yang harus ia dan timnya tentukan adalah “ingin menjadi apa kami ketika dewasa”. Mereka memilih bertaruh jangka panjang pada komputasi performa tinggi sebagai teknologi masa depan yang paling penting — sebuah keputusan yang baru terbukti benar bertahun-tahun setelahnya, ketika AMD membangun teknologi yang mendukung komputer-komputer paling kuat di dunia.

Dari pengalaman itu, Su mendefinisikan istilah yang ia sebut “naluri insinyur” (engineer’s instinct): kemampuan menghadapi masalah yang terlihat mustahil, memecahnya menjadi bagian-bagian kecil, lalu mengerjakannya selangkah demi selangkah secara metodis. Namun ia menambahkan satu wawasan penting — naluri ini menjadi jauh lebih kuat ketika dimiliki bersama oleh sebuah tim, bukan hanya satu individu jenius.

Kepuasan terbesar dalam kariermu adalah membawa orang-orang bersama untuk melakukan sesuatu yang lebih besar daripada yang pernah dibayangkan siapa pun secara sendirian. Lisa Su, tentang kepemimpinan tim di AMD

Pandangan Su tentang AI: Bukan Pengganti, tapi Pengganda Kapasitas Manusia

Bagian paling relevan dari pidato ini untuk mahasiswa masa kini adalah ketika Su berbicara tentang kecerdasan buatan. Ia menyebut bahwa dunia telah mengalami beberapa gelombang teknologi besar — internet, komputasi mobile, komputasi awan — namun menurutnya, AI berbeda secara fundamental dari gelombang-gelombang sebelumnya.

“AI bukan sekadar alat yang membantu kita bekerja lebih cepat. Ia lebih dalam dari itu. AI memiliki potensi mempercepat penemuan di setiap bidang dan membantu kita memecahkan masalah yang belum pernah bisa kita selesaikan sebelumnya.” — Lisa Su, tentang gelombang AI

Su memberi contoh konkret di bidang kedokteran: AI dapat membantu dokter dan peneliti menghadirkan keahlian terbaik dunia untuk setiap pasien, memberikan perawatan dengan peluang hasil terbaik. Namun ia segera menegaskan batas penting yang sering dilupakan dalam diskursus publik tentang AI: teknologi tidak menentukan masa depan — manusia yang menentukannya.

“AI tidak bisa memutuskan masalah mana yang layak dipecahkan. Ia tidak bisa membuat keputusan sulit dengan informasi yang tidak lengkap. Ia tidak bisa bertanggung jawab atas hasilnya. Itu adalah tanggung jawab kita — dan kini menjadi lebih penting dari sebelumnya.” — Lisa Su, tentang batas tanggung jawab manusia di era AI

Pandangan ini relevan dengan diskusi yang berkembang di kalangan pendidik dan peneliti karier mengenai keterampilan apa yang justru makin bernilai di pasar kerja era AI: bukan sekadar kemampuan teknis menggunakan alat, melainkan penilaian (judgment), rasa tujuan, dan keberanian mengambil keputusan dalam ketidakpastian — persis tiga kualitas yang ditekankan Su sebagai pembeda lulusan MIT di tengah derasnya otomatisasi berbasis AI.

Keberuntungan Itu Dibuat, Bukan Ditunggu

Menjelang penutup, Su menyentuh topik yang jarang dibahas terbuka oleh eksekutif sekelasnya: peran keberuntungan dalam karier. Ia mengaku selalu menyertakan unsur keberuntungan ketika ditanya soal nasihat karier, namun ia segera menambahkan nuansa penting yang mengubah maknanya secara mendasar.

“Keberuntungan bukan sekadar berada di tempat yang tepat pada waktu yang tepat. Itu adalah mengambil risiko untuk mengerjakan sesuatu yang sulit. Menantang dirimu sendiri. Memilih masalah di batas terjauh dari yang kamu ketahui. Mengelilingi dirimu dengan orang-orang yang membuatmu lebih baik. Dan percaya bahwa, ya… kamu bisa mengubah dunia.” — Lisa Su, “How You Make Your Luck”

Kalimat penutupnya kepada Kelas 2026 juga layak menjadi pengingat bagi siapa pun yang baru memulai jenjang karier baru, betapapun seniornya posisi yang mereka pegang nanti: di suatu titik di masa depan, mereka akan kembali memasuki ruangan di mana mereka sama sekali tidak tahu apa yang mereka lakukan — dan itu bukan tanda kegagalan, melainkan bagian alami dari pertumbuhan yang sudah pernah mereka lalui sebelumnya di MIT.

Tabel Ringkasan: Nasihat Lisa Su dan Relevansinya bagi Mahasiswa

Pesan Inti SuKonteks dalam PidatoRelevansi Praktis
Kepercayaan diri datang dari proses, bukan dari selalu tahu jawaban Pengalaman pertama Su menghadapi kelas MIT yang sangat kompetitif Bangun kebiasaan belajar bertahap; kegagalan awal bukan indikator kemampuan akhir
Mens et Manus — pikiran dan tangan Filosofi MIT: berpikir dalam, lalu menguji lewat aksi nyata Padukan teori dengan praktik langsung (riset, proyek, magang) sejak masa studi
“Run toward the hardest problems” Nasihat mentor Su di awal karier di IBM Pilih tantangan yang menguji batas kemampuan, bukan jalur paling nyaman
Naluri insinyur lebih kuat saat dimiliki tim Transformasi AMD di bawah kepemimpinan Su Latih kolaborasi dan kepemimpinan kolektif, bukan hanya kompetensi individu
AI memperbesar kapasitas manusia, bukan menggantikan penilaian manusia Pandangan Su tentang gelombang AI dan dampaknya pada kedokteran, sains, energi Asah judgment, rasa tujuan, dan keberanian mengambil keputusan — bukan hanya keterampilan teknis alat AI
Keberuntungan dibuat lewat keberanian mengambil risiko Refleksi Su tentang perjalanan kariernya sendiri Aktif mencari masalah sulit dan lingkungan yang menantang, bukan menunggu kesempatan datang

Mengapa Pesan Ini Penting Tepat di Tahun 2026

Pidato Su muncul pada momen ketika kekhawatiran tentang dampak AI terhadap lapangan kerja lulusan baru sedang menjadi topik hangat di banyak ruang diskusi pendidikan tinggi. Penekanan Su pada penilaian manusia, tujuan, dan keberanian — bukan sekadar keterampilan teknis menggunakan alat — sejalan dengan riset psikologi karier yang menunjukkan bahwa efikasi diri dan ketahanan mental tetap menjadi prediktor kuat keberhasilan transisi dari kampus ke dunia kerja, bahkan di tengah ketidakpastian pasar kerja yang tinggi pasca masa-masa sulit perekrutan global. Pesan bahwa “keberuntungan dibuat” lewat keberanian mengambil risiko terukur, bukan ditunggu secara pasif, juga menjadi pengingat penting bagi mahasiswa yang sering merasa tertekan untuk segera memiliki jawaban pasti tentang arah karier mereka segera setelah lulus.

Ringkasan Untuk Diingat
  • Rasa “tidak cukup pintar” di awal perjalanan akademik adalah pengalaman umum, bukan tanda kegagalan — kepercayaan diri tumbuh lewat proses mencoba dan menyesuaikan diri berulang kali.
  • Padukan teori dengan praktik nyata sedini mungkin; pengalaman riset langsung sering membentuk identitas profesional lebih kuat daripada teori di ruang kelas saja.
  • Pilih masalah yang menantang batas kemampuanmu — bukan karena ingin gagah-gagahan, tetapi karena masalah sulit adalah cara paling efektif mengukur dan mengembangkan kapasitas diri.
  • Di era AI, nilai jual utama seorang profesional bukan lagi sekadar kemampuan teknis menggunakan alat, melainkan kemampuan menilai, menetapkan tujuan, dan bertanggung jawab atas keputusan.
  • Keberuntungan karier adalah hasil dari keberanian mengambil risiko dan memilih lingkungan kerja yang menantang — bukan sesuatu yang datang secara kebetulan.

Referensi

  1. MIT News. Commencement address by Lisa Su ’90, SM ’91, PhD ’94 (28 Mei 2026). news.mit.edu
  2. Center for Women, Faith & Leadership. Resilience and the Growth Mindset: How Belief Fuels Adaptation and Leadership.
  3. Careers in Psychology. Growth Mindset in Psychology Careers 2026.
  4. Positive Psychology. 5+ Ways to Develop a Growth Mindset Using Grit & Resilience.
  5. PMC — National Library of Medicine. Impact of growth mindset on college students’ career decision-making self-efficacy.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *