Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Menyerah Tidak Selalu Hal Yang Buruk

Berapa kali kita mendengar saran, “Jangan pernah menyerah!” atau “Menyerah adalah sesuatu yang buruk” “Menyerah adalah kata yang diucapkan oleh orang yang lemah” ? Atau kita mendapatkan cerita-cerita terkait orang yang selalu berusaha dan tidak pernah menyerah sehingga mereka mendapatkan kesuksesan ? Atau kita membaca quote-quote seperti “Pemenang tidak pernah berhenti, dan orang yang menyerah tidak pernah menang”, “Kelemahan Terbesar Manusia Adalah Menyerah”. Pertanyaannya, benarkah demikian ? Benarkah kata menyerah begitu buruk sehingga menyerah buanlah sebuah pilihan ?

Mindset yang ada di masyarakat sudah terlanjur memberikan konotasi yang buruk terhadap kata menyerah tanpa melihat alasan dibaliknya. Kita selalu diajari untuk terus bertahan, apa pun yang terjadi. Padahal, kenyatannya, tidak semua apa yang kita impikan dan inginkan akan selalu terwujud. Banyak situasi kehidupan yang menuntut kita untuk memilih terus berusaha atau menyerah: misalnya dalam kehidupan professional maupun kehidupan sosial kita. Terkadang, terus berusaha merupakan keputusan yang tepat. Tetapi disisi lain, terus berusaha bukanlah pilihan yang terbaik.

Menyerah tidak selalu membuat diri kita menjadi orang jahat, atau gagal atau hal buruk apa pun yang diri kita atau orang lain katakan. Terkadang menyerah mempunyai arti bahwa kita sudah cukup dewasa untuk tahu dampak yang akan terjadi ketika kita terus bertahan dan terus melanjutkan hidup serta berani mengambil risiko untuk mengubah arah tujuan. Penekannanya adalah, kita boleh menyerah dalam suatu hal untuk mendapatkan hasil yang lebih baik di sisi lain dalam kehidupan kita. Seperti yang dikatakan Albert Einstein, “Definisi kegilaan adalah melakukan hal yang sama berulang-ulang dan mengharapkan hasil yang berbeda.”

Lalu kapan sebaiknya kita menyerah ? Berikut merupakan beberapa rangkaian alasan yang dapat kita jadikan acuan bahwa kita boleh menyerah.

1. Ketika Kita Sudah Tidak Termotivasi Lagi Ketika Melakukannya

Motivasi merupakan salah satu penentu utama perilaku utama. Apabila kita sudah tidak punya motivasi lagi untuk melakukan sesuatu, maka kita tidak akan pernah bisa mengeluarkan usaha maksimal. Ketika kita sudah kehilangan motivasi, kita juga tidak akan merasakan kesenangan atau kebahagiaan dalam melakukan sesuatu. Tapi hati-hati dengan keadaan ini. Bisa jadi ketidakmotivasian yang kamu rasakan saat ini bersifat sementara waktu. Bisa jadi ketidakmotivasianmu didasarkan oleh emosi yang buruk dalam dirimu saat ini. Ketika kamu merasa sudah tidak termotivasi lagi, berikan waktu istirahat atau melakukan hal-hal yang menyenangkan. Lihat apa yang terjadi kemudian ? Apakah muncul motivasi baru untuk meraih impianmu itu atau memang sudah benar-benar hilang ? Pastikan bahwa kamu sudah memberikan waktu yang cukup untuk memikirkannya.

2. Ketika Segala Sesuatunya Tidak Menjadi Lebih Baik Atau Bahkan Menjadi Lebih Buruk

Pernahkan kamu berada dalam posisi bahwa segala sesuatunya tidak menjadi lebih baik atau bahkan lebih buruk ? Ketika kamu yakin bahwa sudah tidak ada lagi kesempatan untuk menjadi lebih baik, maka mungkin saatnya kita memikirkan untuk menyerah. Sebagai contoh, adalah Tina Kiberg, seorang penyanyi opera yang sangat terkenal. Di usia mudanya, dia bermimpi menjadi pemain biola yang hebat. Dia selalu berlaith dan berlatih dan berlatih untuk mewujudkan impiannya. Suatu hari dia mengikuti kontes biola dan menyadari bahwa dia tidak akan pernah bisa menjadi pemain biola yang hebat. Dia juga lebih menikmati bernyanyi dibandingkan bermain biola. Kemudian dia meninggalkan impiannya untuk menjadi pemain biola, dan mulai berlatih menyanyi….

Kehidupan memang penuh liku-liku dan terkadang terasa aneh bagi diri kita sendiri. Kehidupan penuh dengan kemungkinan-kemungkinan. Kehidupan juga selalu menuntut perubahan. Kita tidak tahu secara pasti apa yang akan terjadi di kemudian hari. Yang harus kita lakukan adalah selalu berusaha yang terbaik (titik).

3. Ketika Kita Sudah Melakukan Yang Terbaik

Keyakinan bahwa kita sudah melakukan yang terbaik dan sudah berusaha semaksimal mungkin merupakan indikasi terpenting bahwa kita sudah boleh menyerah. Mengapa hal ini penting ? Karena dengan keyakinan seperti itu, maka tidak ada kata penyesalan, apapun yang terjadi di kemudian hari. So, sebelum menyerah, yakinkan diri kita sendiri bahwa kita sudah berusaha yang terbaik dan keputusan untuk menyerah adalah memang benar-benar keputusan yang terbaik. Yakinkan pada diri kita bahwa keputusan ini tidak hanya dipengaruhi oleh perasaan atau emosi kita saja, tetapi benar-benar sudah melibatkan akal pikiran kita. Banyak kasus orang-orang merasa menyesal di kemudian hari atas keputusannya walaupun mereka beralasan bahwa mereka “sudah melakukan yang terbaik”. Penyesalan tersebut muncul karena mereka sadar bahwa keputusan yang diambil didasari oleh emosi semata.

Mengingat menyerah merupakan keputusan yang besar dan bisa jadi mempunyai dampak yang luar biasa, pastikan bahwa ketiga hal diatas memang sudah terjadi pada diri kita. Ketika kita sudah tidak termotivasi lagi, keadaannya sudah tidak dapat menjadi lebih baik atau bahkan menjadi lebih buruk serta kita sudah melakukan yang terbaik, baru kita boleh memikirkan untuk menyerah. Mungkin tulisan Tidak Seharusnya Kita Menyerah Dengan Mudah bisa dijadikan pertimbangan ketika kita benar-benar ingin menyerah.

Satu hal yang kita tidak boleh menyerah, yaitu kita tidak boleh menyerah untuk mendapatkan kebahagiaan dalam kehidupan kita. Ketika kita sudah menyerah didalam kehidupan kita sendiri, maka pada dasarnya kita sudah tidak hidup lagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *