Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Mengenal Histrionic Personality Disorder: Ketika Kebutuhan Akan Perhatian Menjadi Pola yang Menetap

Tidak semua orang yang suka menjadi pusat perhatian memiliki gangguan kepribadian. Namun, ketika kebutuhan untuk diperhatikan, ekspresi emosi yang sangat dramatis, dan ketergantungan pada respons orang lain menjadi pola yang menetap hingga mengganggu hubungan, pekerjaan, atau kehidupan sehari-hari, kondisi tersebut dapat berkaitan dengan Histrionic Personality Disorder (HPD).

Ketika “Suka Diperhatikan” Menjadi Sebuah Pola

Setiap manusia pada dasarnya membutuhkan perhatian, penerimaan, dan pengakuan dari orang lain. Kita senang ketika pekerjaan diapresiasi, merasa bahagia ketika mendapat pujian, dan tentu saja ingin didengar ketika sedang mengalami sesuatu yang penting. Kebutuhan tersebut merupakan bagian normal dari kehidupan sosial.

Masalahnya muncul ketika kebutuhan akan perhatian tidak lagi sekadar salah satu bagian dari kepribadian, tetapi menjadi pola yang sangat menetap dan memengaruhi hampir seluruh hubungan sosial. Seseorang mungkin merasa sangat tidak nyaman ketika tidak menjadi pusat perhatian, menggunakan ekspresi emosi yang berlebihan untuk mendapatkan respons, atau menilai kedekatan suatu hubungan jauh lebih tinggi daripada yang sebenarnya.

Dalam konteks klinis, pola seperti ini dapat menjadi bagian dari Histrionic Personality Disorder atau HPD, salah satu gangguan kepribadian dalam kelompok Cluster B. Kelompok ini mencakup gangguan kepribadian yang secara umum berkaitan dengan pola perilaku, emosi, dan interaksi sosial yang dramatis, impulsif, atau tidak stabil.

Perhatian, validasi, dan kebutuhan untuk merasa dilihat
Ilustrasi menggambarkan kebutuhan akan perhatian dalam konteks sosial. Kebutuhan untuk diperhatikan sendiri bukan tanda HPD; yang menjadi perhatian klinis adalah pola yang menetap dan menimbulkan gangguan bermakna.

Apa Itu Histrionic Personality Disorder?

Histrionic Personality Disorder adalah kondisi kesehatan mental yang ditandai oleh pola menetap berupa emosionalitas yang berlebihan dan kebutuhan kuat untuk mendapatkan perhatian. Istilah “histrionic” secara umum berkaitan dengan sesuatu yang dramatis atau teatrikal, tetapi istilah tersebut tidak seharusnya digunakan sebagai label untuk seseorang hanya karena ia ekspresif, percaya diri, ramah, atau senang tampil.

HelpGuide menjelaskan HPD sebagai pola jangka panjang berupa pencarian perhatian dan ekspresi emosi yang berlebihan, dengan kebutuhan kuat untuk mendapatkan persetujuan dan merasa diperhatikan. Cleveland Clinic juga menekankan bahwa harga diri seseorang dengan HPD dapat sangat bergantung pada persetujuan orang lain dan bahwa keinginan untuk diperhatikan dapat memengaruhi cara mereka berinteraksi.

HPD biasanya mulai terlihat pada akhir masa remaja atau awal masa dewasa. Namun, diagnosis tidak ditentukan hanya berdasarkan usia atau beberapa perilaku tertentu. Kepribadian seseorang masih berkembang selama masa kanak-kanak dan remaja, sehingga profesional kesehatan mental perlu melihat pola perilaku secara menyeluruh dan menetap.

Hal penting: seseorang yang suka tampil di depan umum, senang menerima pujian, ekspresif, fashionable, mudah bergaul, atau aktif di media sosial tidak otomatis mengalami HPD. Gangguan kepribadian berkaitan dengan pola yang menetap dan berdampak nyata terhadap fungsi kehidupan atau hubungan interpersonal.

Seberapa Sering HPD Terjadi?

Angka prevalensi HPD berbeda-beda bergantung pada penelitian, metode diagnosis, dan populasi yang diteliti. Cleveland Clinic memperkirakan sekitar 1% populasi mengalami HPD, sementara Merck Manual menyebut estimasi kurang dari 2%. Sebuah studi epidemiologi besar di Amerika Serikat yang menggunakan data National Epidemiologic Survey on Alcohol and Related Conditions pada 2001–2002 menemukan prevalensi HPD sekitar 1,84% pada populasi dewasa yang diteliti.

Perbedaan angka tersebut menunjukkan bahwa prevalensi tidak sebaiknya dipahami sebagai satu angka pasti yang berlaku untuk semua negara dan semua kelompok masyarakat. Diagnosis gangguan kepribadian juga memiliki tantangan tersendiri karena gejalanya dapat tumpang tindih dengan gangguan kepribadian lain dan kondisi kesehatan mental lainnya.

Data menarik: penelitian epidemiologi Amerika Serikat terhadap 43.093 orang menemukan prevalensi HPD sebesar 1,84%. Angka ini berasal dari data 2001–2002 dan tidak dapat langsung dianggap sebagai angka prevalensi global saat ini.

Gejala Histrionic Personality Disorder

HPD tidak ditentukan oleh satu gejala. Dalam kriteria DSM-5-TR, diagnosis berkaitan dengan pola perhatian dan emosionalitas yang menetap serta adanya setidaknya lima dari sejumlah karakteristik yang telah ditentukan secara klinis. Evaluasi dilakukan oleh profesional kesehatan mental, bukan melalui pengamatan singkat terhadap seseorang di lingkungan sosial.

1. Tidak nyaman ketika bukan pusat perhatian

Seseorang dapat merasa sangat tidak nyaman, kecewa, atau tertekan ketika perhatian lingkungan beralih kepada orang lain.

2. Ekspresi emosi sangat dramatis

Emosi dapat ditampilkan secara intens atau teatrikal, bahkan ketika situasinya relatif biasa.

3. Emosi cepat berubah dan tampak dangkal

Perasaan dapat berubah dengan cepat dan ekspresinya mungkin tampak sangat kuat tetapi tidak berlangsung lama.

4. Menggunakan penampilan untuk memperoleh perhatian

Penampilan fisik dapat menjadi salah satu sarana utama untuk mendapatkan perhatian atau pengakuan sosial.

5. Cara berbicara yang impresif tetapi kurang detail

Seseorang dapat menyampaikan pendapat dengan sangat kuat atau dramatis tetapi memberikan sedikit fakta atau rincian pendukung.

6. Mudah dipengaruhi

Pendapat, keputusan, atau perilaku dapat relatif mudah berubah mengikuti orang lain atau lingkungan yang dianggap penting.

7. Perilaku menggoda atau provokatif yang tidak sesuai konteks

Perilaku tersebut dapat muncul bahkan dalam situasi yang tidak berkaitan dengan ketertarikan romantis atau seksual.

8. Menganggap hubungan lebih dekat daripada kenyataannya

Seseorang dapat menilai hubungan sosial sebagai sangat intim meskipun orang lain mungkin tidak memandangnya demikian.

Daftar tersebut berasal dari karakteristik diagnostik yang dijelaskan dalam sumber klinis seperti Merck Manual dan Cleveland Clinic. Memiliki satu atau dua karakteristik tersebut tidak berarti seseorang mengalami HPD. Diagnosis membutuhkan penilaian terhadap pola secara keseluruhan, durasi, konteks, serta dampaknya terhadap kehidupan.

Mengapa Seseorang Bisa Mengembangkan HPD?

Sampai sekarang, tidak ada satu penyebab tunggal yang dapat menjelaskan mengapa seseorang mengalami HPD. Seperti gangguan kepribadian lainnya, perkembangan HPD kemungkinan melibatkan interaksi antara faktor biologis, genetik, pengalaman masa kecil, lingkungan keluarga, dan pola belajar sosial.

Faktor genetik menjadi salah satu area yang dipertimbangkan karena karakteristik kepribadian tertentu dapat memiliki komponen yang diwariskan. Namun, faktor genetik bukan berarti seseorang “pasti” mengalami HPD apabila ada anggota keluarga yang memiliki gangguan kepribadian.

Pengalaman masa kanak-kanak juga dapat berperan. Beberapa sumber klinis menyebut trauma, pola pengasuhan yang tidak konsisten, batasan yang sangat lemah, atau lingkungan keluarga yang sangat dramatis sebagai faktor yang mungkin berkontribusi. Namun, faktor-faktor tersebut sebaiknya dipahami sebagai faktor risiko atau kemungkinan pengaruh, bukan sebagai penyebab tunggal yang berlaku untuk semua orang.

HelpGuide juga membahas kemungkinan hubungan antara pengalaman relasional awal dan kebutuhan berulang untuk mendapatkan kepastian atau perhatian. Dalam beberapa kasus, seseorang mungkin belajar sejak dini bahwa cara tertentu untuk mendapatkan perhatian merupakan strategi yang efektif untuk memenuhi kebutuhan emosionalnya. Pola tersebut kemudian dapat terbawa ke dalam hubungan ketika dewasa.

Pengalaman awal Pola belajar Pola relasi
Perkembangan kepribadian merupakan proses kompleks. Pengalaman awal dapat berinteraksi dengan faktor biologis dan lingkungan, tetapi tidak ada satu pengalaman yang otomatis menyebabkan HPD.

HPD Bukan Sekadar “Orang yang Suka Cari Perhatian”

Istilah “attention seeker” sering digunakan dalam percakapan sehari-hari. Masalahnya, label tersebut terlalu sederhana untuk menjelaskan kondisi psikologis yang kompleks. Seseorang dapat mencari perhatian karena sedang kesepian, mengalami stres, membutuhkan dukungan, menghadapi masalah hubungan, atau sekadar memiliki gaya komunikasi yang ekspresif.

Dalam konteks HPD, perhatian menjadi bagian dari pola yang lebih luas. Ada kombinasi antara kebutuhan kuat untuk menjadi pusat perhatian, ekspresi emosi yang berlebihan, ketergantungan pada validasi eksternal, kecenderungan mudah dipengaruhi, dan kesulitan dalam memahami tingkat kedekatan hubungan secara realistis.

Perbedaan pentingnya bukan sekadar “seberapa banyak seseorang mencari perhatian”, tetapi apakah pola tersebut menetap, meluas ke berbagai situasi, dan menimbulkan masalah nyata dalam kehidupan.

HPD dan Gangguan Kepribadian Lain Bisa Terlihat Mirip

Salah satu alasan diagnosis gangguan kepribadian membutuhkan profesional adalah karena sejumlah gejala dapat muncul pada lebih dari satu kondisi.

HPD, misalnya, dapat memiliki kemiripan tertentu dengan Narcissistic Personality Disorder (NPD), terutama dalam hal kebutuhan mendapatkan perhatian. Namun, pola motivasi dan karakteristik keseluruhannya tidak sama. Dalam gambaran umum HPD, kebutuhan utama berkaitan dengan memperoleh perhatian dan respons sosial, sedangkan NPD memiliki karakteristik seperti grandiositas, kebutuhan akan kekaguman, rasa berhak mendapatkan perlakuan khusus, dan masalah empati.

HPD juga dapat memiliki kemiripan dengan Borderline Personality Disorder (BPD), khususnya dalam perubahan emosi dan hubungan interpersonal yang tidak stabil. Namun, BPD memiliki karakteristik inti yang berbeda, termasuk masalah identitas, perasaan kosong, ketakutan terhadap pengabaian, dan pola emosi yang sangat reaktif.

Karena itu, seseorang tidak sebaiknya menyimpulkan “ini HPD” hanya karena melihat perilaku dramatis, hubungan yang rumit, atau seseorang yang sering membutuhkan perhatian. Diagnosis bukan proses mencocokkan seseorang dengan daftar perilaku di internet.

Bagaimana HPD Didiagnosis?

Tidak ada satu tes darah, pemindaian otak, atau pemeriksaan laboratorium yang dapat memastikan HPD. Diagnosis dilakukan melalui evaluasi psikologis dan psikiatris yang mempertimbangkan sejarah hidup, pola hubungan, perilaku, cara berpikir, kontrol impuls, serta tingkat gangguan yang ditimbulkan.

Profesional juga perlu mempertimbangkan apakah gejala lebih tepat dijelaskan oleh kondisi lain. Hal ini penting karena seseorang dapat memiliki lebih dari satu gangguan atau mengalami kondisi lain seperti depresi, kecemasan, atau gangguan kepribadian lainnya secara bersamaan.

Karena itu, self-diagnosis sebaiknya dihindari. Membaca artikel tentang HPD dapat membantu seseorang memahami pola perilaku, tetapi tidak dapat menggantikan asesmen oleh psikolog atau psikiater.

Bagaimana Histrionic Personality Disorder Ditangani?

Penanganan HPD terutama menggunakan psikoterapi atau terapi berbasis percakapan. Tujuannya bukan membuat seseorang menjadi pribadi yang “tidak emosional”, melainkan membantu membangun cara yang lebih sehat untuk memahami emosi, kebutuhan, hubungan, harga diri, dan respons terhadap lingkungan sosial.

Merck Manual menyebut psikoterapi psikodinamik sebagai pendekatan yang dapat digunakan dalam penanganan HPD. Pendekatan ini berusaha memahami konflik psikologis yang mendasari pola perilaku dan membantu seseorang mengenali bagaimana perilaku tertentu digunakan untuk memperoleh perhatian atau mengelola harga diri.

Dalam praktik psikoterapi yang lebih luas untuk gangguan kepribadian, pendekatan dapat disesuaikan dengan kebutuhan individu. Literatur psikoterapi modern semakin menekankan pentingnya memahami mekanisme seperti regulasi emosi, hubungan interpersonal, identitas, impulsivitas, dan pola kognitif daripada sekadar memasukkan seseorang ke dalam satu kategori diagnosis.

Terapi kognitif-perilaku juga dapat digunakan untuk membantu seseorang mengenali hubungan antara pikiran, emosi, dan perilakunya. HelpGuide menyebut CBT sebagai salah satu pendekatan yang dapat membantu mengubah pola pikir dan perilaku yang tidak adaptif.

Untuk obat-obatan, tidak ada obat khusus yang secara langsung menyembuhkan HPD. Namun, obat dapat digunakan untuk menangani kondisi lain yang muncul bersamaan, seperti depresi atau kecemasan, apabila secara klinis diperlukan.

Mengenali pola → memahami kebutuhan → membangun respons yang lebih sehat
Psikoterapi dapat membantu seseorang memahami pola emosi dan hubungan, meningkatkan kesadaran diri, serta mengembangkan cara berinteraksi yang lebih adaptif.

Apakah HPD Bisa Membuat Seseorang Tetap Menjalani Hidup Produktif?

Diagnosis gangguan kepribadian tidak berarti seseorang tidak dapat bekerja, belajar, memiliki hubungan, atau menjalani kehidupan yang bermakna. MedlinePlus mencatat bahwa orang dengan HPD dapat tetap berfungsi pada tingkat tinggi dan berhasil dalam pekerjaan maupun kehidupan sosial. Masalah biasanya muncul ketika pola tersebut menyebabkan konflik yang berulang atau mengganggu kemampuan seseorang untuk mempertahankan hubungan dan pekerjaan.

Terapi dapat membantu seseorang memperoleh pemahaman yang lebih baik terhadap perilakunya dan mengembangkan cara yang lebih efektif dalam menghadapi kebutuhan emosional maupun interpersonal. Cleveland Clinic juga menyebut bahwa orang dengan HPD yang mengikuti psikoterapi dapat memperoleh insight dan meningkatkan fungsi sosialnya.

Perubahan tersebut biasanya bukan sesuatu yang terjadi dalam satu atau dua sesi. Gangguan kepribadian berkaitan dengan pola yang sudah berlangsung lama, sehingga proses terapi juga dapat berlangsung selama berbulan-bulan atau lebih lama, bergantung pada kebutuhan dan kondisi setiap individu.

Bagaimana Seharusnya Kita Memahami Orang dengan HPD?

Salah satu risiko terbesar dalam pembahasan HPD adalah penggunaan label secara sembarangan. Istilah seperti “drama queen”, “manipulatif”, “haus perhatian”, atau “cari sensasi” sering digunakan untuk menggambarkan perilaku seseorang. Label seperti itu mungkin terasa mudah, tetapi tidak membantu memahami kondisi psikologis yang sebenarnya.

Perilaku yang tampak dramatis dari luar dapat memiliki fungsi psikologis yang berbeda pada setiap orang. Pada seseorang, perilaku tersebut mungkin berkaitan dengan kebutuhan mendapatkan validasi. Pada orang lain, perilaku serupa dapat muncul karena kecemasan, pengalaman penolakan, masalah hubungan, atau kondisi mental yang berbeda.

Karena itu, memahami HPD membutuhkan jarak antara perilaku dan penilaian moral. Memahami bukan berarti membenarkan perilaku yang merugikan orang lain. Sebaliknya, pemahaman memungkinkan seseorang mendapatkan bantuan yang lebih tepat dan memungkinkan orang-orang di sekitarnya menetapkan batasan secara sehat.

Empati dan batasan dapat berjalan bersamaan. Keluarga, pasangan, teman, maupun rekan kerja tidak harus menerima perilaku yang merugikan hanya karena seseorang memiliki gangguan kepribadian. Namun, memahami bahwa perilaku tersebut mungkin merupakan bagian dari pola psikologis yang kompleks dapat membantu komunikasi menjadi lebih konstruktif.

Kapan Seseorang Sebaiknya Mencari Bantuan?

Evaluasi profesional layak dipertimbangkan ketika pola emosi, kebutuhan perhatian, konflik hubungan, atau perilaku tertentu mulai menyebabkan masalah yang berulang dalam kehidupan. Misalnya, hubungan romantis terus berakhir dengan konflik yang sama, pekerjaan terganggu karena masalah interpersonal, seseorang mengalami tekanan berat ketika merasa diabaikan, atau muncul depresi dan kecemasan setelah konflik maupun kehilangan hubungan.

Orang tidak perlu menunggu sampai kehidupannya benar-benar kacau sebelum mencari bantuan. Psikoterapi pada dasarnya dapat digunakan untuk membantu seseorang memahami emosi, pikiran, perilaku, serta pola hubungan yang mengganggu fungsi sehari-hari.

Jika seseorang mengalami pikiran untuk menyakiti diri sendiri atau bunuh diri, situasinya membutuhkan bantuan profesional segera. Hubungi layanan kesehatan mental atau layanan darurat setempat dan jangan menghadapi kondisi tersebut sendirian.

HPD dalam Kehidupan Modern: Ketika Perhatian Mudah Diukur

Media sosial membuat perhatian menjadi sesuatu yang lebih mudah terlihat. Jumlah likes, komentar, views, followers, dan pesan dapat memberikan umpan balik secara cepat. Dalam konteks tertentu, hal ini dapat membuat pencarian validasi terasa semakin mudah dilakukan.

Namun, penting untuk tidak melompat pada kesimpulan bahwa media sosial menyebabkan HPD. Bukti mengenai HPD jauh lebih kompleks daripada hubungan sederhana antara penggunaan media sosial dan diagnosis. Forbes Health, misalnya, membahas bagaimana perilaku pencarian perhatian di media sosial dapat memiliki hubungan dengan berbagai faktor psikologis, tetapi kebutuhan akan perhatian sendiri merupakan perilaku manusia yang normal dan tidak identik dengan gangguan kepribadian.

Dengan kata lain, seseorang yang sering mengunggah foto, membuat konten emosional, atau menikmati perhatian publik tidak otomatis memiliki HPD. Diagnosis tetap membutuhkan pola yang menetap, menyeluruh, dan bermakna secara klinis.

Kesimpulan

Histrionic Personality Disorder adalah kondisi kesehatan mental yang berkaitan dengan pola menetap berupa kebutuhan kuat untuk mendapatkan perhatian dan emosionalitas yang berlebihan. Gejalanya dapat mencakup ketidaknyamanan ketika tidak menjadi pusat perhatian, ekspresi emosi yang dramatis, perubahan emosi yang cepat, kebutuhan validasi, perhatian berlebihan terhadap penampilan, perilaku menggoda yang tidak sesuai konteks, mudah dipengaruhi, serta kecenderungan menilai hubungan lebih dekat daripada kenyataannya.

Penyebab HPD tidak dapat dijelaskan oleh satu faktor. Genetik, pengalaman masa kecil, pola pengasuhan, lingkungan, dan proses belajar sosial kemungkinan berinteraksi dalam perkembangan kepribadian. Karena itu, seseorang tidak dapat disalahkan begitu saja atas kondisi tersebut, tetapi tetap memiliki ruang untuk mempelajari pola yang lebih sehat.

Diagnosis dilakukan oleh profesional kesehatan mental melalui evaluasi menyeluruh. Tidak semua perilaku dramatis, ekspresif, atau mencari perhatian merupakan HPD. Perbedaan utamanya terletak pada pola yang menetap dan dampaknya terhadap fungsi kehidupan serta hubungan.

Penanganan terutama menggunakan psikoterapi. Pendekatan dapat membantu seseorang memahami pola emosi dan relasi, memperkuat kesadaran diri, membangun harga diri yang lebih stabil, dan menemukan cara yang lebih adaptif untuk memenuhi kebutuhan emosional. Obat bukan terapi khusus untuk HPD, tetapi dapat digunakan untuk kondisi lain yang muncul bersamaan apabila diperlukan.

Pada akhirnya, memahami HPD bukan tentang mencari siapa yang “dramatis” atau “haus perhatian”. Yang lebih penting adalah memahami pola psikologis di balik perilaku, dampaknya terhadap kehidupan, dan kemungkinan untuk mendapatkan bantuan yang tepat.

Referensi editorial

HelpGuide — Histrionic Personality Disorder: Causes, Symptoms, and Treatment.

Cleveland Clinic — Histrionic Personality Disorder: Causes, Symptoms & Treatment.

Merck Manual Professional Edition — Histrionic Personality Disorder (HPD).

MedlinePlus — Histrionic Personality Disorder.

American Psychological Association — Personality Disorders dan sumber psikoterapi.

PubMed / National Library of Medicine — publikasi mengenai Histrionic Personality Disorder dan epidemiologi gangguan kepribadian.

Forbes Health — Histrionic Personality Disorder: Signs, Symptoms, and Treatment Options.

NIMH — Psychotherapies.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *