Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Knowing About Types Of Attachment

Bowlby (1969) mengusulkan terdapat empat tahap perkembangan attachment yang akan dihadapi oleh seorang anak dalam tiga tahun pertama kehidupan. Tiga fase terjadi dalam tahun pertama kehidupan, dan fase keempat terjadi menjelang akhir tahun ketiga kehidupan atau awal tahun keempat (Wilson-Ali et al., 2019).

Proses attachment berkembang dari pola interaksi pengasuh atau orangtua dan anak serta ditentukan oleh seberapa baik pengasuh dapat merespons kebutuhan emosional anak. Sifat attachment seseorang pada masa anak-anak tampaknya tetap stabil sepanjang hidup seseorang dan dianggap sebagai konstruksi yang vital dalam perkembangan sosial individu (Gaziano, 2017). Perilaku attachment memungkinkan anak untuk tetap dekat dengan sosok attachment mereka dengan menunjukkan perilaku isyarat seperti menangis dan tersenyum, atau mendekati perilaku seperti mengikuti dan menempelinya (Wilson-Ali et al., 2019)

Attachment dapat didefinisikan sebagai “ikatan kasih sayang yang dibentuk oleh satu orang dengan orang yang spesifik lainnya—ikatan yang mengikat mereka bersama dan bertahan dari waktu ke waktu” (Meyer et al., 2013). Attachment merupakan ikatan utama yang dibentuk oleh setiap anak dengan salah satu pengasuhnya (biasanya ibu). Anak berusaha mempertahankan keintiman fisik dengan figur kelekatan mereka dan mengalami kecemasan saat berpisah dari mereka. Kelekatan memberikan anak rasa aman yang dibutuhkannya untuk mengeksplorasi lingkungan dan membentuk dasar hubungan interpersonal. Secara bertahap, anak-anak belajar membedakan di antara berbagai sinyal yang dikirimkan oleh ibu kepada mereka dan kemudian melihat diri mereka sendiri sebagai orang yang mandiri (Agbaria et al., 2021).

Perilaku attachment diklasifikasikan menjadi empat gaya (Agbaria et al., 2021; Cherry, 2020):

  • Secure attachment styles

Anak-anak dengan style ini umumnya tampak kesal ketika orang tua mereka pergi dan bahagia ketika orang tua mereka kembali. Saat ketakutan, anak-anak ini akan mencari kenyamanan dari orang tua atau pengasuhnya. Kontak yang dimunculkan oleh orang tua mudah diterima oleh anak-anak dan mereka menyambut kembalinya orang tua dengan perilaku positif. Anak-anak dapat dihibur sampai batas tertentu oleh orang lain tanpa kehadiran orang tua atau pengasuh, dimana mereka jelas lebih memilih orang tua daripada orang asing.

  • Insecure-avoidant attachment styles.

Anak-anak dengan gaya attachment ini cenderung menghindari orang tua dan pengasuh. Penghindaran ini sering menjadi sangat jelas setelah ketidakhadiran orang tua. Anak-anak ini mungkin tidak menolak perhatian dari orang tua, tetapi mereka juga tidak mencari kenyamanan atau kontak. Anak-anak dengan style ini tidak menunjukkan sisi emosional ketika berhubungan dengan ibu mereka atau orang asing.

  • Insecure-anxious/ambivalent styles

Style ini berasal dari pemukulan yang pernah dialami anak, anak dari ibu yang depresi, dan anak yang orang tuanya mengalami trauma atau kehilangan anggota keluarga dekat. Anak-anak dengan style ini cenderung sangat curiga terhadap orang asing. Anak-anak ini menunjukkan kesulitan yang cukup besar ketika dipisahkan dari orang tua atau pengasuh, meskipun telah diyakinkan atau dihibur dengan kembalinya orang tua.

 

  • Disorganized/disoriented attachment styles

Gaya attachment ini dapat terjadi akibat kurangnya konsistensi dalam perilaku mengasuh. Orang tua atau pengasuh yang mungkin tampak seperti sosok yang menakutkan dan menenangkan anak dapat menyebabkan anak menjadi linglung, bingung, atau khawatir di hadapan mereka. Pada gilirannya, tindakan anak seringkali merupakan campuran dari perilaku termasuk penghindaran atau penolakan.

Attachment theory sangat penting karena memberikan cara untuk memahami bagaimana keterikatan yang aman pada anak usia dini dapat mendukung perkembangan otak anak di masa depan. Otak anak dibentuk oleh pengalaman awal mereka dan kualitas pengalaman ini memiliki efek yang substansial terhadap perkembangan anak. Attachment memainkan peran penting dalam mendukung anak-anak untuk mengembangkan potensi mereka dan mempengaruhi kesejahteraan fisik dan mental di masa depan (Wilson-Ali et al., 2019).

Semoga Bermanfaatt!!

 

Sumber Gambar: https://www.dreamstime.com/illustration/attachment-theory.html

REFERENSI:

Agbaria, Q., Mahamid, F., & Veronese, G. (2021). The Association Between Attachment Patterns and Parenting Styles With Emotion Regulation Among Palestinian Preschoolers: SAGE Open, 11(1). https://doi.org/10.1177/2158244021989624

Cherry, K. (2020, June 3). Secure Attachment and Other Attachment Styles. https://www.verywellmind.com/attachment-styles-2795344

Gaziano, C. (2017). Adult Attachment Style and Political Ideology: SAGE Open, 7(3), 1–17. https://doi.org/10.1177/2158244017724493

Meyer, D., Wood, S., & Stanley, B. (2013). Nurture Is Nature: Integrating Brain Development, Systems Theory, and Attachment Theory. The Family Journal, 21(2), 162–169. https://doi.org/10.1177/1066480712466808

Wilson-Ali, N., Barratt-Pugh, C., & Knaus, M. (2019). Multiple perspectives on attachment theory: Investigating educators’ knowledge and understanding: Australasian Journal of Early Childhood, 44(3), 215–229. https://doi.org/10.1177/1836939119855214

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *