Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Ketahui Gejala Retardasi Mental pada Anak

Retardasi atau keterbelakangan mental didefinisikan sebagai tingkat fungsi intelektual (yang diukur dengan tes standar untuk kecerdasan) yang jauh di bawah rata-rata dan keterbatasan yang signifikan dalam keterampilan hidup sehari-hari (fungsi adaptif). Retardasi mental muncul sebelum anak berusia 18 tahun. American Association on Mental Retardation (AAMR) menetapkan batas fungsi intelektual retardasi mental adalah 70 – 75.

Secara umum anak-anak yang menderita retardasi mental mengalami keterlambatan perkembangan, seperti berjalan dan berbicara lebih lambat daripada populasi umum. Anak penderita retardasi mental biasanya memiliki kesulitan dengan keterampilan sosial, komunikasi, dan akademik fungsional. Gejala keterbelakangan mental dapat muncul saat lahir atau saat masa kanak-kanak.

Retardasi mental memiliki empat tingkatan, yaitu:

  • Mild (ringan): memiliki skor IQ antara 50 hingga 75, dapat memperoleh keterampilan akademik hingga tingkat kelas enam, dapat hidup mandiri dengan dukungan keluarga, komunitas, dan sosial.
  • Moderate (sedang): memiliki skor IQ antara 35 hingga 55, dapat melakukan tugas harian dan merawat diri dengan pengawasan sedang, memperoleh keterampilan komunikasi di masa kanak-kanak, mampu hidup dan berfungsi dalam lingkungan yang diawasi, seperti rumah.
  • Severe (berat): memiliki skor IQ 20 sampai 40, dapat menguasai keterampilan perawatan diri dasar dan beberapa keterampilan komunikasi,
  • Profound (sangat berat): memiliki skor IQ di bawah 20 hingga 25, dapat mengembangkan keterampilan perawatan diri dan komunikasi dasar dengan dukungan dan pelatihan yang sesuai, biasanya disebabkan oleh gangguan neurologis.

Penyebab Retardasi Mental

Genetik

Sekitar 5 persen retardasi mental disebabkan oleh faktor keturunan, seperti sindrom X rapuh, cacat gen tunggal, dan kerusakan metabolisme bawaan. Kegagalan mutasi dalam perkembangan genetik juga dapat menyebabkan keterbelakangan, seperti pengembangan kromosom ekstra 18 (trisomi 18) dan kelainan perkembangan kromosom 21.

Penyakit dan Masalah Prenatal

Beberapa kebiasaan buruk ibu saat masa kehamilan, seperti merokok, konsumsi, alkoho dan obat-obatan juga dapat menyebabkan retardasi mental. Penyakit dan infeksi yang diderita ibu selama kehamilan juga menjadi salah satu penyebab retardasi mental pada anak, seperti gangguan kelenjar, rubella, toksoplasmosis, infeksi sitomegalovirus, tekanan darah tinggi (hipertensi), dan keracunan darah (toksemia).

Penyakit dan Cedera Masa Kecil

Penyakit-penyakit, seperti hipertiroidisme, batuk rejan, cacar air, campak, dan penyakit Hib (infeksi bakteri) dapat menyebabkan keterbelakangan mental jika tidak diobati secara tepat. Infeksi pada selaput yang menutupi otak (meningitis) atau radang otak itu sendiri (ensefalitis) dapat menyebabkan pembengkakan yang mengakibatkan kerusakan otak dan keterbelakangan mental. Cedera otak traumatis yang disebabkan oleh pukulan atau guncangan keras di kepala juga dapat menyebabkan kerusakan otak dan keterbelakangan mental pada anak-anak.

Faktor Lingkungan

Bayi yang diabaikan atau tidak diberikan stimulasi mental dan fisik yang diperlukan untuk perkembangan normal dapat menderita gangguan belajar permanen. Anak-anak yang hidup dalam kemiskinan dan menderita kekurangan gizi , kondisi hidup yang tidak sehat, dan perawatan medis yang tidak memadai juga dapat berisiko tinggi mengalami retardasi mental. Paparan timbal juga dapat menyebabkan keterbelakangan mental karena banyak anak mengalami keracunan timbal dengan memakan cat berbahan dasar timbal yang mengelupas yang sering ditemukan di gedung-gedung tua.

Gejala Retardasi Mental pada Anak

Tanda dan gejala retardasi mental dapat berbeda dan bervariasi pada anak-anak tergantung pada karakteristik tertentu. Tanda dan gejala ini mungkin pertama kali terlihat pada masa bayi atau dalam beberapa kasus mungkin tidak terlihat sampai anak mencapai usia sekolah. Beberapa gejala yang paling umum meliputi:

  1. Belajar dan berkembang lebih lambat dari anak-anak lain secara umum;
  2. Tengkurap, duduk, merangkak, atau berjalan lebih lambat dari perkembangan yang seharusnya;
  3. Kesulitan berkomunikasi atau bersosialisasi dengan orang lain;
  4. Memiliki skor rata-rata IQ yang rendah, kurang dari 70;
  5. Kesulitan berbicara atau berbicara terlambat;
  6. Memiliki masalah daya ingat;
  7. Ketidakmampuan untuk menghubungkan tindakan dengan konsekuensi;
  8. Kesulitan dengan pemecahan masalah atau pemikiran logis;
  9. Kesulitan belajar di sekolah;
  10. Ketidakmampuan untuk melakukan tugas sehari-hari seperti berpakaian atau buang air kecil tanpa bantuan.

Referensi:

Encyclopedia for Children’s Health. (n.d.). Mental Retardation – baby, symptoms, average, Definition, Description, Demographics, Causes and symptoms. Retrieved October 21, 2021, from http://www.healthofchildren.com/M/Mental-Retardation.html

Millcreek of Magee Treatment Center. (2018, September 20). Signs & Symptoms of Intellectual Disabilities. Retrieved October 11, 2021, from https://www.millcreekofmagee.com/disorders/intellectual-disability/signs-causes-symptoms/

Walker, W. O., & Johnson, C. P. (2006). Mental Retardation: Overview and Diagnosis. Pediatrics in Review, 27(6), 204–212. https://doi.org/10.1542/pir.27-6-204

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *