Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Kenapa Perasaan Bisa Berubah Tanpa Sebab yang Pasti?

Kenapa Perasaan Bisa Berubah Tanpa Sebab yang Pasti
Psikologi & Neurosains

Kenapa Perasaan Bisa Berubah Tanpa Sebab yang Pasti?

Suatu hari kamu merasa bahagia, esoknya murung tanpa tahu kenapa. Sains punya jawaban yang lebih dalam — dan lebih manusiawi — dari yang kamu kira.

🧠
Tim Redaksi Berdasarkan riset psikologi & neurosains terkini
📖 ± 10 menit baca

Pernahkah kamu bangun pagi dengan perasaan ringan tanpa alasan jelas, lalu sore harinya tiba-tiba merasa kosong atau cemas — padahal tidak ada peristiwa besar yang terjadi? Atau sebaliknya: kamu sedang bersantai, tiba-tiba gelisah muncul begitu saja, seperti bayangan yang tak diundang?

Banyak orang mempertanyakan hal ini, bahkan merasa ada yang “salah” dengan dirinya. Padahal, fenomena ini adalah bagian dari cara otak dan tubuh bekerja — sebuah sistem yang jauh lebih kompleks dan cerdas dari sekadar respons terhadap kejadian di luar diri kita.

Artikel ini mengupas mengapa perasaan bisa berubah tanpa pemicu yang jelas, berdasarkan temuan dari psikologi modern, neurosains, dan penelitian tentang bagaimana tubuh dan pikiran saling bicara satu sama lain.

✦

Emosi Bukan Sekadar Reaksi — Ia Adalah Konstruksi

Selama bertahun-tahun, ilmu pengetahuan populer mengajarkan bahwa emosi adalah reaksi otomatis terhadap kejadian luar: kamu melihat ular, kamu takut. Kamu menerima kabar baik, kamu bahagia. Sederhana dan linear.

Namun penelitian kontemporer menunjukkan gambaran yang jauh lebih rumit. Lisa Feldman Barrett, profesor psikologi dari Northeastern University dan penulis buku How Emotions Are Made, menunjukkan bahwa emosi bukan sekadar respons yang terpicu secara otomatis. Setiap emosi yang kita rasakan adalah sebuah konstruksi — otak menggunakan pengalaman masa lalu, kondisi tubuh saat ini, dan konteks lingkungan untuk secara aktif “menciptakan” perasaan tersebut.

Insight Ilmiah
“Setiap emosi adalah peristiwa yang melibatkan seluruh otak. Otak menggunakan pengalaman masa lalu untuk menggabungkan informasi dari tubuh — seperti detak jantung — dengan informasi dari lingkungan sekitar, lalu mengonstruksi sebuah emosi.” — Prof. Lisa Feldman Barrett, BBC Science Focus / Northeastern University

Ini berarti: emosi yang kamu rasakan tidak selalu memiliki satu “penyebab” tunggal yang bisa ditunjuk. Ia adalah hasil dari banyak faktor yang berinteraksi — banyak di antaranya berlangsung di bawah ambang kesadaran kita.

Hormon: Orkestra Kimia yang Bekerja Tanpa Izin

Salah satu penyebab paling nyata (namun sering tidak disadari) dari perubahan perasaan yang “tiba-tiba” adalah fluktuasi hormon di dalam tubuh. Hormon bekerja seperti orkestra kimia — ketika satu seksi tidak harmonis, seluruh simfoni perasaanmu ikut bergeser.

🌊
Kortisol

Hormon stres ini berfluktuasi sepanjang hari mengikuti ritme sirkadian. Kadar tinggi yang berkepanjangan bisa memicu iritabilitas dan perubahan suasana hati yang tajam.

✨
Dopamin

Naik turunnya dopamin memengaruhi rasa motivasi dan kebahagiaan. Ketika kadarnya turun mendadak, kamu bisa merasa hampa tanpa tahu sebabnya.

🌸
Estrogen & Progesteron

Pada wanita, fluktuasi kedua hormon ini selama siklus menstruasi, kehamilan, atau perimenopause bisa menghasilkan perubahan suasana hati yang signifikan.

🌿
Hormon Tiroid

Gangguan tiroid sering kali menyamar sebagai masalah emosional — dari kecemasan hingga depresi — karena tiroid memengaruhi metabolisme energi otak secara langsung.

Menurut Psychology Today, lonjakan hormon seperti oksitosin dan dopamin bisa memicu perasaan bahagia atau bersemangat, sementara penurunan kadar estrogen dan progesteron sering kali memicu perubahan suasana hati yang terasa negatif tanpa pemicu eksternal yang jelas.

Temuan Penting
Kadar kortisol yang sangat tinggi awalnya dapat menciptakan euforia sesaat — namun paparan berkepanjangan terhadap kortisol tinggi justru memicu iritabilitas, ketidakstabilan emosi, hingga gejala depresi. — Journal of Clinical Medicine (PMC8584322)

Tubuhmu sedang bicara padamu setiap saat — dan sebagian besar percakapan itu terjadi jauh di bawah permukaan kesadaran.

Interoception: Tubuhmu Sedang Berbisik, Kamu Tidak Selalu Mendengar

Ada sebuah konsep dalam neurosains yang semakin banyak mendapat perhatian: interoception — kemampuan otak untuk mendeteksi dan menginterpretasikan sinyal dari dalam tubuh sendiri. Detak jantung, tekanan di perut, ritme napas, ketegangan otot — semua ini adalah “pesan” yang dikirimkan tubuh ke otak, dan otak menggunakannya untuk membentuk kondisi emosional kita.

Penelitian yang dipublikasikan di jurnal ScienceDirect (2025) menunjukkan bahwa sinyal dari usus dan organ internal lainnya memengaruhi area otak yang terlibat dalam pemrosesan emosi secara langsung. Dengan kata lain, kondisi fisikmu — bahkan sesuatu seperti perut yang sedikit tidak nyaman atau ritme pernapasan yang dangkal — bisa diterjemahkan oleh otak sebagai “perasaan cemas” atau “tidak bersemangat,” tanpa ada trigger psikologis yang nyata.

Dari Riset Terkini
Melalui proses interoception, sinyal dari usus dan organ internal lainnya memberikan pengaruh nyata terhadap ‘perasaan’ kita — mencakup emosi, kognisi, dan suasana hati. Gangguan dalam interoception memiliki dampak pada kondisi neuropsikiatrik. — Springer Nature (Interoception and Gut Feelings, 2024)

Inilah mengapa kamu mungkin pernah merasakan kecemasan yang datang tiba-tiba setelah makan makanan berat, atau merasa lebih bersemangat setelah berolahraga ringan — bukan hanya karena “endorfin,” tetapi karena tubuh secara harfiah mengirimkan informasi berbeda ke otak, dan otak mengonstruksi emosi yang berbeda pula.

Koneksi usus-otak (gut-brain axis) kini menjadi salah satu frontier terpenting dalam riset neurosains. Temuan terbaru menunjukkan bahwa interaksi antara lambung dan otak berhubungan langsung dengan kesehatan mental secara dimensional — bukan hanya dalam kondisi penyakit, tetapi dalam fluktuasi suasana hati sehari-hari.

Memori Bawah Sadar dan Appraisal: Otak yang Menilai Tanpa Bertanya Padamu

Neurolog Antonio Damasio dari University of Iowa telah mendedikasikan dekade penelitiannya untuk memahami bagaimana perasaan lahir. Menurut Damasio, emosi pada dasarnya adalah sinyal fisik tubuh yang merespons rangsangan eksternal — dan perasaan adalah bagaimana otak menginterpretasikan sinyal fisik tersebut.

Yang menarik: otak melakukan proses penilaian (appraisal) ini secara terus-menerus, bahkan saat kamu tidak menyadarinya. Sebuah aroma, pencahayaan ruangan, lagu yang samar-samar terdengar dari kejauhan — semuanya bisa memicu asosiasi memori yang tidak kamu sadari, dan memori itu membawa nuansa emosional bersamanya.

Teori Kognitif-Mediasional
Emosi tidak berlawanan dengan akal. Sebaliknya, emosi lebih fundamental dari itu — mereka mampu memandu dan mengelola perilaku bahkan dalam konteks baru dan tanpa logika yang eksplisit. Penilaian berulang (repeated appraisal) sering mengubah atau mengoreksi kesan pertama, sehingga emosi yang dihasilkan pun berubah. — PMC (Understanding Emotions: Origins and Roles of the Amygdala)

Dengan kata lain, otak kamu tidak pernah benar-benar “diam.” Ia terus-menerus mengevaluasi lingkungan, mencocokkan dengan arsip pengalaman lalu, dan menyesuaikan kondisi emosionalmu — seringkali tanpa pemberitahuan sebelumnya kepada kesadaranmu.

Itulah mengapa kamu mungkin merasa tidak nyaman di sebuah tempat yang “terasa asing,” atau tiba-tiba merasa sedih saat melewati sudut kota yang pernah menjadi bagian dari kenangan lama — meski kamu tidak secara sadar “mengingat” kenangan tersebut.

Ritme Biologis dan Pengaruh Waktu dalam Sehari

Tubuh manusia beroperasi dalam siklus yang disebut ritme sirkadian — jam biologis internal yang mengatur tidur, suhu tubuh, metabolisme, dan secara tidak langsung, suasana hati. Kortisol, misalnya, mencapai puncaknya antara pukul 08.00 hingga 10.00 pagi — itulah mengapa banyak orang merasa lebih awas dan fokus di pagi hari.

Namun ketika ritme sirkadian terganggu — karena kurang tidur, pola makan tidak teratur, atau paparan cahaya biru berlebih di malam hari — kadar kortisol dan hormon-hormon lain menjadi tidak stabil. Akibatnya: perubahan suasana hati yang terasa “tanpa sebab” namun sebenarnya memiliki akar biologis yang sangat konkret.

National Institutes of Health merekomendasikan bahwa tidur yang cukup dan konsisten adalah salah satu fondasi terpenting dalam menjaga stabilitas emosi. Bukan karena tidur “menyembuhkan masalah,” tetapi karena tidur adalah saat di mana otak secara harfiah melakukan kalibrasi ulang terhadap sistem kimia yang mengendalikan perasaan kita.

Pikiran sebagai Pemicu Tersembunyi

Selain faktor biologis, ada dimensi kognitif yang sering luput dari perhatian: pikiran itu sendiri adalah pemicu emosi yang sangat kuat. Penelitian dalam neurosains menunjukkan bahwa ketika otak “membangkitkan” sebuah pikiran atau kenangan — bahkan tanpa disengaja — area otak yang bertanggung jawab atas respons emosional bisa langsung teraktivasi.

Artinya: sebuah fragmen ingatan tentang rasa malu atau kemarahan yang “muncul begitu saja” di benak kita bisa langsung memicu respons fisik dan emosional yang nyata — jantung berdetak lebih cepat, otot menegang, suasana hati berubah. Dan karena pikiran ini sering berlangsung di lapisan bawah sadar, kita tidak selalu menyadari “siapa yang memulai” perubahan perasaan itu.

Tidak ada emosi yang datang dari kekosongan. Selalu ada sesuatu yang memicunya — hanya saja, pemicu itu tidak selalu kasat mata.

Lalu, Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Memahami bahwa perubahan perasaan adalah fenomena yang kompleks dan multi-lapisan adalah langkah pertama yang penting. Ini bukan berarti kamu tidak bisa mengelolanya — justru sebaliknya. Dengan memahami sumber-sumber yang mungkin, kamu bisa merespons perasaan dengan lebih bijak alih-alih langsung terbawa arus.

Pendekatan Berbasis Sains untuk Stabilitas Emosi

  • Jaga kualitas tidur. Ritme sirkadian yang stabil adalah fondasi keseimbangan hormon dan suasana hati. Hindari cahaya biru berlebih di malam hari dan usahakan waktu tidur yang konsisten.
  • Gerakkan tubuh secara teratur. Olahraga ringan 30 menit sehari terbukti mampu meningkatkan suasana hati melalui perubahan biokimia nyata — bukan hanya “perasaan senang” semata.
  • Perhatikan sinyal tubuh (interoception). Ketika suasana hati berubah, tanyakan pada diri sendiri: apakah saya lapar? Lelah? Dehidrasi? Tidak nyaman secara fisik? Tubuh sering berbicara lebih dulu sebelum pikiran sadar mengerti.
  • Jangan langsung percaya narasi yang dibuat emosi. Ketika perasaan negatif datang, ingat bahwa itu adalah “konstruksi” otak berdasarkan data yang tersedia saat itu — bukan fakta mutlak tentang kenyataan.
  • Tetap terhubung dengan orang-orang terdekat. Koneksi sosial memengaruhi sistem hormon secara langsung. Oksitosin — hormon yang dilepaskan dalam interaksi positif — adalah penyeimbang alami terhadap stres.
  • Konsultasikan jika perubahan terasa intens atau persisten. Ketika perubahan suasana hati terasa berat, berlangsung lama, atau memengaruhi fungsi sehari-hari, konsultasi dengan profesional kesehatan mental adalah langkah yang tepat dan bijak.

Perasaan yang Berubah Bukan Tanda Kelemahan

Kita hidup di era di mana stabilitas emosi sering dikaitkan dengan kekuatan karakter, dan ketidakstabilan perasaan dianggap sebagai kelemahan atau bahkan “gangguan.” Padahal, sains justru menunjukkan sebaliknya: fleksibilitas emosional — kemampuan perasaan untuk berubah — adalah tanda bahwa sistem saraf kita bekerja dengan baik, merespons dan beradaptasi terhadap lautan informasi yang mengalir setiap detik.

Perasaan yang berubah tanpa sebab yang jelas bukan berarti kamu rapuh atau tidak stabil. Itu berarti kamu adalah makhluk biologis yang hidup — dengan otak yang terus-menerus belajar, menilai, dan menyesuaikan diri. Yang paling penting bukan memaksa perasaan untuk selalu stabil, melainkan membangun hubungan yang lebih sadar dengan apa yang kamu rasakan: mengenalinya, memahami kemungkinan akarnya, dan merespons dengan kebaikan pada diri sendiri.

Seperti yang dikatakan Damasio: perasaan bukan sekadar “bayangan” dari pikiran — ia adalah cara otak merangkum kondisi kehidupan kita pada satu momen tertentu. Dan momen selalu berubah. Itu bukan masalah. Itu namanya hidup.

✍️

Disusun oleh Tim Redaksi

Artikel ini disusun berdasarkan riset dari berbagai sumber ilmiah terpercaya, termasuk Psychology Today, Verywell Mind, BBC Science Focus, Scientific American, serta publikasi jurnal dari PubMed/PMC dan ScienceDirect. Tujuannya adalah menyajikan informasi yang akurat, mudah dipahami, dan berdampak positif bagi pembaca.

Sumber & Referensi Ilmiah
  • Barrett, L.F. How Emotions Are Made: The Secret Life of the Brain. Houghton Mifflin Harcourt, 2017. lisafeldmanbarrett.com
  • Barrett, L.F. “We don’t understand how emotions work.” BBC Science Focus Magazine, 2023. sciencefocus.com
  • Damasio, A.R. “Feeling Our Emotions.” Scientific American. scientificamerican.com
  • “Hormones.” Psychology Today. psychologytoday.com
  • “The Link Between Hormones and Mental Health.” Dirangkum dari Verywell Mind oleh Hawai’i CARES 988. hicares.hawaii.gov
  • “Mental vs. hormonal mood changes: How to tell them apart.” Medical News Today, 2023. medicalnewstoday.com
  • Pariante et al. “Cortisol as a Biomarker of Mental Disorder Severity.” PMC / Journal of Clinical Medicine. pmc.ncbi.nlm.nih.gov
  • “Understanding Emotions: Origins and Roles of the Amygdala.” PMC. pmc.ncbi.nlm.nih.gov
  • “Interoceptive modulation of emotions.” ScienceDirect / Current Opinion in Neurobiology, 2025. sciencedirect.com
  • Springer Nature. “Interoception and Gut Feelings: Unconscious Body Signals’ Impact on Brain Function, Behavior and Belief Processes.” link.springer.com
  • “Emotions: Overview.” Introduction to Neuroscience, MSU Open Books. openbooks.lib.msu.edu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *