Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Kenapa Kita Ingin Menjadi Orang Lain? Menurut Riset Psikologi

Kenapa Kita Ingin Menjadi Orang Lain?
Psikologi & Kehidupan

Kenapa Kita Ingin Menjadi
Orang Lain?

Sebuah penelusuran ilmiah tentang rasa iri, perbandingan sosial, dan identitas diri — serta apa yang sebetulnya kita cari ketika kita berharap jadi orang lain.

✦ Berdasarkan referensi ilmiah ⏱ Bacaan ~8 menit 🧠 Psikologi & Neurosains

Pernahkah kamu membuka Instagram dan tiba-tiba merasa hidupmu terasa kurang? Karier teman yang melaju pesat, pasangan yang romantis, tubuh yang ideal, atau gaya hidup yang tampak sempurna — semuanya hadir di layar ponselmu, satu guliran demi satu guliran. Dan tanpa sadar, kamu mulai berpikir: “Betapa menyenangkannya jadi dia.”

Kamu tidak sendirian. Hasrat untuk menjadi orang lain adalah salah satu pengalaman manusia yang paling universal, namun paling jarang dibicarakan secara terbuka. Banyak dari kita memendam perasaan ini dengan rasa malu, seolah menginginkan kehidupan orang lain adalah tanda kelemahan atau ketidaksyukuran. Padahal, ilmu psikologi dan neurosains punya penjelasan yang jauh lebih kaya — dan jauh lebih manusiawi — tentang mengapa ini terjadi.

Perbandingan adalah pencuri kebahagiaan — dan manusia adalah makhluk yang tidak bisa berhenti mencuri dari diri sendiri.

— Theodore Roosevelt (dikutip dalam Psychology Today)

Ini Bukan Kelemahanmu — Ini Biologimu

Manusia lahir sebagai makhluk yang gemar membandingkan. Jauh sebelum era media sosial, nenek moyang kita sudah melakukan evaluasi diri dengan cara yang sama: dengan melihat orang lain dan mengukur posisi mereka dalam hierarki sosial. Menurut ahli psikologi evolusi, dorongan ini bukan kecelakaan evolusi — ini adalah mekanisme bertahan hidup.

Pada tahun 1954, psikolog terkenal Leon Festinger merumuskan teori yang kini menjadi salah satu fondasi psikologi sosial modern: Social Comparison Theory. Festinger berpendapat bahwa kecenderungan mengevaluasi diri dengan membandingkan terhadap orang lain adalah sesuatu yang melekat di otak manusia — bukan kebiasaan yang dipelajari, melainkan kebutuhan kognitif yang alami.

Teori ini menjelaskan dua jenis perbandingan. Pertama, upward comparison — membandingkan diri dengan mereka yang tampak “lebih” dari kita dalam hal-hal yang kita anggap penting: kecantikan, karier, kekayaan, atau kebahagiaan. Inilah yang memunculkan rasa ingin menjadi orang lain. Kedua, downward comparison — membandingkan diri dengan mereka yang tampak “kurang” dari kita — yang sementara meningkatkan rasa percaya diri, namun menyimpan bahaya tersendiri.

4,2 M
pengguna media sosial dunia yang berpotensi melakukan perbandingan sosial setiap hari
>2 jam
rata-rata waktu harian yang dihabiskan di media sosial per orang secara global
↑ Depresi
risiko meningkat bagi pengguna media sosial intensif yang sering melakukan upward comparison

Ketika Iri Hati Berbicara: Apa yang Sebenarnya Diinginkan Otak Kita?

Rasa ingin menjadi orang lain hampir selalu bersumber dari satu emosi inti: rasa iri (envy). Banyak orang menghindari kata ini karena terdengar buruk. Namun psikologi memandang iri hati secara lebih bernuansa.

Menurut Psychology Today, iri hati terbagi menjadi dua bentuk. Malicious envy — rasa iri yang penuh kebencian, yang menginginkan agar orang lain kehilangan apa yang mereka miliki. Dan benign envy — rasa iri yang lebih jinak, yang justru memotivasi kita untuk tumbuh dan mendapatkan apa yang orang lain miliki bagi diri sendiri.

Para psikolog evolusi berpendapat bahwa benign envy sesungguhnya adalah mekanisme adaptif yang membantu manusia purba bersaing untuk mendapatkan sumber daya yang dibutuhkan demi kelangsungan hidup. Rasa iri mendorong tindakan, memacu ambisi, dan menjaga motivasi. Masalahnya: di era modern, “sumber daya” yang kita perebutkan bukan lagi makanan atau tempat berlindung — melainkan pengakuan, validasi, dan citra diri.

Yang membuat ini semakin kompleks adalah fakta yang dikemukakan oleh para peneliti: kita cenderung merasa paling iri pada orang-orang yang paling dekat dengan kita — bukan pada tokoh terkenal atau orang asing. Teman kuliah yang lebih dulu sukses, sepupu yang baru menikah, atau rekan kerja yang naik jabatan — merekalah yang paling sering memicu rasa “ingin menjadi orang lain”. Ini karena kedekatan sosial menciptakan referensi yang terasa relevan dan dapat dicapai, sehingga kesenjangan yang dirasakan terasa lebih menyakitkan.

💡 Dari Riset Psychology Today

Penelitian menunjukkan bahwa perbandingan sosial yang berlebihan — bahkan yang dimulai dengan niat baik untuk “memotivasi diri” — dapat berakhir dengan perasaan tidak berdaya dan kehilangan koneksi dengan jati diri sendiri. Klien-klien dalam terapi sering berkata: “Saya tidak tahu siapa saya sebenarnya, karena saya terlalu sibuk memikirkan orang lain.”

Media Sosial: Panggung yang Memperburuk Segalanya

Jika iri hati dan perbandingan sosial sudah ada sejak manusia purba, mengapa masalah ini terasa semakin berat di era sekarang? Jawabannya ada di genggaman tanganmu: media sosial.

Sebelum era digital, kita membandingkan diri dengan lingkaran terbatas — keluarga, teman sebaya, tetangga. Kini, lingkaran itu tak terbatas. Dalam satu sesi menggulir beranda, seseorang bisa terpapar ratusan “versi terbaik” dari kehidupan orang lain: liburan mewah, pencapaian karier, tubuh ideal, dan pasangan sempurna — semuanya sudah disunting, difilter, dan dipilih secara hati-hati untuk memberikan kesan terbaik.

Para peneliti menemukan bahwa pengguna media sosial kelas berat — mereka yang menghabiskan lebih dari lima jam sehari — cenderung memiliki rasa harga diri yang lebih rendah, lebih rentan terhadap depresi, dan lebih sering percaya bahwa kehidupan orang lain lebih bahagia dan lebih sukses dari kehidupan mereka sendiri. Inilah yang oleh para ahli disebut sebagai ilusi kebahagiaan sosial — sebuah distorsi persepsi yang diciptakan oleh platform digital.

Lebih jauh, riset yang dipublikasikan dalam berbagai jurnal ilmiah menunjukkan bahwa paparan konstan terhadap perbandingan ke atas di media sosial memiliki efek kumulatif: semakin sering seseorang melihat posting yang “lebih baik” dari hidupnya, semakin besar penurunan dalam harga diri, suasana hati, dan kepuasan hidup secara keseluruhan.

🔬 Temuan Ilmiah Penting
  • Perbandingan ke atas di Instagram terbukti secara signifikan menurunkan harga diri global dan body-esteem pada remaja dan dewasa muda
  • Pengguna media sosial yang intensif lebih cenderung percaya bahwa orang lain lebih bahagia, lebih sukses, dan punya kehidupan yang lebih baik
  • Efek negatif dari perbandingan sosial bersifat kumulatif — semakin banyak scrolling, semakin besar dampaknya pada psikologis
  • Variasi individual berperan besar: mereka yang memiliki harga diri lebih stabil lebih tahan terhadap dampak negatif perbandingan sosial

Siapa Dirimu, Sebenarnya? Krisis Identitas di Balik Hasrat Ini

Di balik keinginan untuk menjadi orang lain, ada pertanyaan yang lebih dalam dan lebih menakutkan: Siapa sebenarnya aku? Ilmu psikologi dan neurosains modern memberikan perspektif yang menarik tentang ini.

Penelitian dalam neurosains kognitif menemukan bahwa konsep diri — atau self-concept — direpresentasikan secara fisik di dalam otak, khususnya di area yang disebut medial prefrontal cortex (mPFC). Daerah ini adalah pusat di mana otak memproses informasi tentang siapa kita, apa yang kita anggap penting bagi identitas kita, dan bagaimana kita menempatkan diri dalam hubungan dengan orang lain.

Yang menarik, psikologi modern juga mengajarkan bahwa identitas manusia bukanlah sesuatu yang tunggal dan statis. Kita semua hidup dengan berbagai peran, suasana hati, kenangan, dan “subpribadi” yang terus bergeser tergantung konteks dan emosi. Kamu adalah satu orang yang berbeda saat bersama keluarga, di tempat kerja, saat sendirian, dan saat bersama teman lama.

Ketika kita sangat ingin menjadi orang lain, seringkali itu bukan berarti kita ingin secara harfiah mengganti identitas kita. Yang kita inginkan adalah kualitas tertentu yang kita lihat pada orang lain — rasa percaya diri, keberanian mengambil risiko, kemampuan dicintai, atau kebebasan finansial. Objek iri hati kita adalah cermin dari nilai-nilai yang paling kita dambakan untuk diri sendiri.

Orang yang kamu iri bukan bayangan mimpimu — mereka adalah cermin dari apa yang kamu inginkan untuk dirimu sendiri, yang belum kamu izinkan untuk kamu kejar.

— Distillasi dari riset Psychology Today & Social Comparison Theory

Ketika Identitas Mengambang: “Aku Tidak Tahu Siapa Diriku”

Ada titik bahaya yang perlu diwaspadai. Ketika perbandingan sosial menjadi obsesi dan keinginan menjadi orang lain berubah menjadi gaya hidup, seseorang bisa kehilangan jejak siapa dirinya yang sesungguhnya.

Para psikolog klinis mencatat pola yang berulang: pasien yang terlalu berfokus pada harapan orang lain atau terlalu tenggelam dalam upaya “menjadi seperti seseorang” akhirnya merasakan keterasingan dari diri sendiri. Mereka merasa tidak autentik, tidak tahu apa yang mereka sukai, apa yang mereka inginkan, atau siapa mereka tanpa referensi orang lain. Kondisi ini dalam psikologi dikenal sebagai identity diffusion — sebuah kondisi di mana identitas seseorang tidak memiliki struktur yang jelas dan konsisten.

Rasa ingin menjadi orang lain, pada titik ekstremnya, juga bisa menjadi gejala dari masalah psikologis yang lebih dalam: harga diri yang rendah, depresi, atau kecemasan kronis. Itulah mengapa hasrat ini penting untuk dipahami — bukan dengan penghakiman, melainkan dengan rasa ingin tahu yang penuh kasih kepada diri sendiri.

✦

Mengubah “Aku Ingin Jadi Dia” Menjadi Bahan Bakar Pertumbuhan

Lalu, apa yang bisa kita lakukan dengan semua ini? Kabar baiknya: hasrat untuk menjadi orang lain, jika dikelola dengan bijak, bisa menjadi salah satu kekuatan pendorong paling kuat dalam perjalanan menuju versi terbaik diri sendiri. Kuncinya adalah mengubah perbandingan dari ancaman menjadi informasi.

1
Jadikan rasa iri sebagai kompas, bukan penjara

Tanyakan: kualitas apa dari orang itu yang membuatmu iri? Itu adalah petunjuk berharga tentang nilai-nilai yang paling kamu inginkan untuk dirimu sendiri. Gunakan sebagai panduan untuk menetapkan tujuan yang autentik.

2
Kurangi paparan perbandingan yang tak sehat

Sadari akun-akun media sosial yang secara konsisten membuatmu merasa kurang. Bukan berarti kamu lemah — ini adalah kebersihan mental yang penting. Kuratasi lingkungan digitalmu secara aktif.

3
Praktikkan perbandingan yang sehat — dengan dirimu sendiri

Alih-alih membandingkan dirimu dengan orang lain, bandingkan dirimu hari ini dengan dirimu bulan lalu. Pertumbuhan personal tidak pernah linear, tetapi selalu bermakna jika kamu mau melihatnya.

4
Bangun identitas yang kuat dari dalam

Luangkan waktu untuk mengenal diri sendiri di luar definisi orang lain. Apa yang kamu sukai? Apa yang membuatmu merasa hidup? Identitas yang kuat adalah tameng terbaik dari jebakan perbandingan sosial.

5
Cari bantuan profesional jika diperlukan

Jika keinginan menjadi orang lain telah mengganggu kualitas hidupmu secara signifikan, seorang psikolog atau terapis dapat membantu kamu menggali akar dari perasaan ini dan membangun rasa diri yang lebih kokoh.

Kamu Bukan Orang Lain — dan Itu Bukan Kekuranganmu

Menginginkan kehidupan orang lain adalah sinyal dari otak yang sedang mencari makna, pertumbuhan, dan pengakuan. Di balik setiap “aku ingin jadi dia”, ada sebuah “aku ingin hidupku berarti” yang menunggu untuk didengar. Kamu tidak rusak karena merasakan ini — kamu manusia. Dan manusia selalu bisa tumbuh, bukan dengan menjadi orang lain, melainkan dengan menggali lebih dalam siapa dirinya yang sesungguhnya.

Referensi & Sumber
  • Festinger, L. (1954). A Theory of Social Comparison Processes. Human Relations. — Dasar dari Social Comparison Theory.
  • Psychology Today. Social Comparison Theory & Understanding Envy. psychologytoday.com
  • JED Foundation. (2026). Understanding Social Comparison on Social Media. jedfoundation.org
  • Levorsen et al. (2023). The Self-Concept Is Represented in the Medial Prefrontal Cortex. Journal of Neuroscience.
  • Society for Psychotherapy. (2025). The Effects of Social Media on Self-Esteem. societyforpsychotherapy.org
  • National Social Anxiety Center. (2023). Social Anxiety and the Problematic Metric of Social Comparison.
  • PMC / NCBI. Navigating the Relationship Between Social Media Use and Mental Health in the Digital Age. (2025)
  • Smith, R. H. The Evolutionary Psychology of Envy. — dikutip dalam Bustle.com & Psychology Today.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *