Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Keluarga Disfungsional: Ketika Keluarga Menjadi Sumber Konflik

Keluarga adalah lingkungan pertama bagi anak untuk tumbuh dan berkembang. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa setiap keluarga memiliki permasalahannya masing-masing. Adakalanya keluarga yang diharapkan menjadi sumber cinta dan kasih sayang justru menjadi sumber kecemasan. Jika seperti ini, maka keluarga tidak bisa menjalankan fungsinya secara optimal atau bisa disebut sebagai keluarga disfungsional.

Apa Itu Keluarga Disfungsional?

Psikologi modern mendefinisikan keluarga disfungsional sebagai keluarga yang memiliki sistem kecemasan di dalamnya. Sebagian besar anggota keluarga memiliki gangguan emosional yang disertai dengan adanya penelantaran dan pelecehan anak. Keluarga yang disfungsional adalah tempat yang dipenuhi dengan pengabaian, pelecehan, kerahasiaan, kecanduan, atau penolakan. Biasanya perilaku-perilaku buruk ini terjadi secara konstan dan terus-menerus. Dalam keluarga seperti ini, kebutuhan emosional anak tidak terpenuhi karena kebutuhan orang tua lebih diutamakan.

Tidak ada keluarga tanpa masalah, tetapi dalam keluarga disfungsional permasalahan atau konflik dalam keluarga diabaikan. Orang tua dalam keluarga disfungsional biasanya memiliki permasalahan, seperti penggunaan zat, gangguan kepribadian, gangguan mood, kecanduan kerja, kecanduan belanja, perjudian, makan berlebihan, atau perselingkuhan. Tidak jarang juga pola asuh yang digunakan adalah pola asuh otoriter.

Keluarga yang disfungsional memiliki efek buruk pada perkembangan anak. Anak-anak yang berasal dari keluarga disfungsional sering kali memiliki rasa percaya diri yang rendah atau harga diri yang rendah. Mereka juga cenderung menganggap konflik yang terjadi dalam keluarga adalah hal yang wajar. Hal ini dikarenakan mereka berada dalam situasi tersebut dalam jangka waktu yang lama sehingga tidak menyadari berada dalam keluarga disfungsional.

Dalam keluarga disfungsional kebutuhan emosional anak tidak terpenuhi karena yang diutamakan adalah kebutuhan orang tua. Orang tua dalam keluarga disfungsional melarang anak-anak bercerita dengan orang luar seperti teman, guru, ataupun saudara. Anak-anak yang berani bercerita kemungkinan akan dipermalukan atau dihukum hingga mereka menyangkal persepsi mereka sendiri tentang realitas.

Penyebab disfungsi dalam keluarga tertentu bervariasi, tetapi satu hal yang dapat dipastikan adalah anak-anak yang termasuk dalam keluarga disfungsional menderita. Mereka kehilangan sosok orang tua yang seharusnya memelihara kebutuhan emosional, memberikan stabilitas, dan membantu menyelesaikan masalah.

Penyebab Disfungsional dalam Keluarga

1. Keuangan

Kesulitan secara finasial dapat menyebabkan tekanan pada orang dewasa yang dalam hal ini adalah orang tua. Tekanan ini dapat berubah menjadi stres yang mengarah pada perilaku disfungsional dalam anggota keluarga. Saat keluarga menghadapi masalah uang, orang tua menjadi cemas dan ini menyebabkan pertengkaran dan ketidakharmonisan dalam keluarga.

2. Riwayat Disfungsi Keluarga

Jika pada generasi sebelumnya telah ada riwayat disfungsi keluarga yang dialami oleh salah satu atau bahkan kedua orang tua, maka siklusnya tetap tidak terputus. Anak yang dibesarkan dari keluarga disfungsional memiliki kecenderungan untuk melakukan hal yang sama.

3. Kekerasan

Riwayat kekerasan, baik secara fisik, emosional, atau seksual dapat mengarah pada ketakutan, perilaku destruktif, dan kekerasan antara orang tua dan anak yang menyebabkan disfungsi dalam keluarga.

4. Sistem Keyakinan yang Terlalu Religius

Jika orang tua memiliki keyakinan agama yang kuat, tanpa memberi ruang untuk bercakap atau memberi penjelasan pada anak, maka mereka akan memaksakan keyakinan yang sama pada anak-anak mereka tanpa mempertimbangkan pendapat dari anak. Orang tua yang seperti ini dapat menyebabkan disfungsional.

5. Otoritas

Penyebab keluarga yang disfungsional bisa jadi karena orang tua yang memaksa, agresif, dan berperilaku seperti tirani. Hal ini mengarah pada sikap posesif dan ketidaksukaan yang berlebihan di antara anggota.

Ciri-Ciri Keluarga Disfungsional

1. Kurang Komunikasi

Anggota keluarga yang disfungsional biasanya memiliki masalah dalam hal komunikasi karena mereka tidak tahu bagaimana berkomunikasi secara terbuka satu sama lain. Dalam keluarga disfungsional tidak tercipta lingkungan yang sehat untuk berdiskusi, anggota keluarga tidak saling mendengarkan. Komunikasi yang sering terjadi adalah berteriak atau berkelahi.

2. Kurang Empati

Dalam keluarga yang disfungsional tidak ada cinta dan kasih sayang yang menyebabkan kurangnya empati anggota keluarga. Selalu ada hukuman untuk kesalahan yang dilakukan oleh anggota keluarga, terutama anak-anak. Ini akan mneyebabkan anak ketakutan secara terus-menerus.

3. Rawan Kecanduan

Anak-anak yang melihat orang tua mereka kecanduan narkoba, merokok atau alkohol, sering kali ikut menggunakan zat-zat tersebut saat dewasa.

4. Masalah Kesehatan Mental

Anak-anak yang tumbuh melihat orang tua atau saudara mereka menderita gangguan mental sering tidak tahu bagaimana mengatasi atau berperilaku seperti orang dewasa. Mereka juga memiliki kecenderungan untuk menderita penyakit yang sama karena kecenderungan genetik.

5. Kontrol Perilaku

Kadang-kadang orang tua yang terlalu mengontrol kehidupan anak-anak mereka justru akan menghambat kemampuan anak untuk tumbuh dan berkembang. Kontrol berlebihan juga dapat menyebabkan anak-anak meragukan dan tidak percaya dengan kemampuan mereka sendiri.

6. Perfeksionisme

Orang tua sering memberi tekanan yang berlebihan pada anak-anak untuk berprestasi tanpa menyadari kalau tekanan yang diberikan telah memberi dampak negatif, seperti takut gagal dan tumbuh menjadi perfeksionis.

7. Kritik Berlebihan

Anak-anak yang tumbuh dalam keluarga yang disfungsional akan dikritik secara terus menerus karena kekurangan atau kesalahan mereka. Orang tua dalam keluarga disfungsional sering merendahkan, menggurui, menghukum, dan menanamkan rasa tidak berdaya dan kurang percaya pada anak yang menyebabkan rendahnya harga diri.

8. Kurang Privasi

Orang tua dalam keluarga disfungsional akan terus-menerus mengganggu privasi anak dan menekan kebebasan anak dalam mengambil keputusan. Orang tua akan memeriksa apa yang dilakukan anak setiap saat.

9. Tidak Ada Dukungan Emosional

Tidak ada ruang yang aman bagi anak untuk mengekspresikan emosinya secara jelas dan positif. Anak-anak sering tumbuh kesepian atau terisolasi karena tidak adanya dukungan emosional dari orang tua.

10. Kekerasan dan Pelecehan

Orang tua dalam keluarga yang disfungsional dapat menggunakan kekerasan terhadap anak, baik secara verbal, fisik, seksual, ataupun emosional. Situasi seperti ini menyebabkan anak-anak menganggapnya sebagai hal yang normal dan berpotensi menunjukkan perilaku yang sama dimasa depan.

Apa Saja Dampak yang Ditimbulkan dari Keluarga Disfungsional?

  • Anggota keluarga disfungsional cenderung memiliki citra diri yang buruk, tidak percaya diri dan memiliki harga diri yang rendah.
  • Kesulitan untuk membentuk hubungan dengan orang lain, pemalu atau memiliki gangguan kepribadian.
  • Mudah marah, dan lebih suka menyendiri.
  • Biasanya memiliki prestasi akademik yang buruk karena sulit berkonsentrasi dan fokus.
  • Kecenderungan berperilaku menyakiti diri sendiri atau merusak diri sendiri.
  • Rentan terhadap kecanduan alkohol, obat-obatan, atau merokok.
  • Berpotensi menderita gangguan kesehatan mental seperti depresi, pikiran untuk bunuh diri, kecemasan, paranoia, dan lain-lain.
  • Kurang disiplin dan bertanggung jawab karena kurangnya panutan untuk diteladani saat tumbuh dewasa.
  • Kehilangan masa kanak-kanak yang seharusnya karena mereka harus mengambil tanggung jawab besar pada usia dini.

Lalu, Langkah Apa yang Harus Kita Lakukan Jika Kita Berada Dalam Keluarga Disfungsional?

Langkah pertama yang perlu kita lakukan adalah menyadari dan mengakui kalau keluarga kita memang disfungsional. Namun, pengakuan saja tidak cukup untuk mengatasi masalah. Kita juga perlu berkonsultasi dengan profesional layanan kesehatan mental atau bergabung dengan support group untuk bisa membantu kita mengatasi efek dari keluarga disfungsional, seperti trauma, cemas, atau depresi.

Melakukan terapi dengan profesional seperti psikolog atau psikiater dapat mengajari kita cara menggunakan keterampilan koping yang sehat untuk mengatur emosi negatif. Psikolog atau psikiater juga dapat membantu menetapkan batasan antara kita dengan anggota keluarga yang disfungsional.

 

Referensi :

Arora, M. (2021, February 17). Dysfunctional Family – Characteristics and Effects. FirstCry Parenting. Retrieved October 15, 2021, from https://parenting.firstcry.com/articles/dysfunctional-family-characteristics-and-tips-to-overcome-its-effects/

Nittle, N. (2021, August 9). What Is a Dysfunctional Family? Verywell Mind. Retrieved October 15, 2021, from https://www.verywellmind.com/what-is-a-dysfunctional-family-5194681

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *