Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Kecemasan : Definisi, Faktor Penyebab, Jenis dan Komponen Kecemasan.

Definisi Kecemasan


 Kecemasan merupakan hal yang dialami oleh semua orang ketika mereka merasakan hal yang mengancam mereka, kecemasan sudah dianggap sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Kecemasan dasar berasal dari takut; suatu peningkatan yang berbahaya dari perasaan tak berteman dan tak berdaya dalam dunia penuh ancaman (Alwisol: 2011).

Menurut Phares dan Trull (dalam Ardani, Rahayu, Sholichatun, 2007) kecemasan adalah kondisi-kondisi lingkungan yang membentu ego dan super ego menghasilkan pengalaman emosi yang menyakitkan.

Sedangkan menurut May (dalam Koeswara, 1987) menjelaskan bahwa kecemasan adalah yang dialami oleh individu-individu masyarakat moderen sebagai gejala yang ditimbulkan oleh perubahan traumatik yang terjadi sebelumnya, yakni hilangnya nilai kebersaingan individual (individual competitiveness).

Sundbreg, Winebarger, dan Taplin, (2007) memberikan pengertian kecemasan merupakan gangguan mental yang ditandai dengan perasaan-perasaan khawatir, takut, aprehensi, yang bersifat menyebar, kabur, dan tidak menyenangkan.

Kecemasan adalah kondisi ketika individu merasakan kekhawatiran/kegelisaan, ketegangan, dan rasa tidak nyaman yang tidak terkendali mengenai kemungkinan akan terjadinya sesuatu yang buruk (Halgin dan Whitboune, 2010).

Kecemasan menjadi sumber masalah jika sudah sampai pada tingkat ketengangan yang sedemikian rupa, sehingga mempengaruhi kemampuan berfungsinya seseorang dalam kehidupan sehari-hari. Yosep (dalam Sobur, 2010) menambahkan dalam kecemasan orang terancam, orang yang terancam keselamatannya itu Sama sekali tidak mengetahui langkah dan cara yang harus diambil dalam menyelamatkan dirinya.

Menurut Gunarsa (2008) kecemasan merupakan rasa khawatir, takut yang tidak jelas sebabnya. Kecemasan juga merupakan kekuatan yang besar dalam menggerakan tingkahlaku, baik tingkah laku yang menyimpang ataupun yang terganggu, kedua-duanya merupakan peryataan, penampilan, penjelmaan dari pertahanan terhadap kecemasan tersebut. Sedangkan menurut Dacey (2000) Kecemasan adalah kondisi kejiwaan yang penuh dengan kekhawatiran dan ketakutan akan apa yang mungkin terjadi, baik berkaitan dengan permasalahan yang terbatas maupun hal-hal yang aneh.

Berdasarkan ahli-ahli diatas dapat disimpulkan bahwa kecemasan adalah perasaan dalam diri individu dalam kekhawatiran, ketegangan, timbul gangguan jantung berdebar, keringat dingin, gangguan tidur dan rasa was was pada individu dalam suatu situasi karena keadaan yang mengancamnya.

Ketika individu mengalami kecemasan yang berlebihan maka individu akan mengalami ketakutan dan rasa was-was dengan hal-hal yang belum jelas bentuk dari objek yang dia takutkan.

Faktor-faktor Penyebab Kecemasan


Adler (dalam Gufron & Risnawati, 2010) menyatakan terdapat dua faktor yang menyebabkan adanya kecemasan:

  • Pengalaman negatif pada masa lalu. Pengalaman ini merupakan hal yang tidak menyenangkan pada masa lalu mengenai peristiwa yang dapat terulang lagi pada masa mendatang.
  • Pikiran yang tidak irasional. Kepercayaan atau kenyakinan tentang suatu kejadian yang menjadi penyebab kecemasan

Sedangkan menurut beberapa ahli, faktor yang mempengaruhi adanya kecemasan yaitu:

  1. Lingkungan Keluarga. Keadaan rumah dengan kondisi yang penuh dengan pertengkaran atau penuh dengan kesalahpahaman serta adanya ketidakpedulian orangtua terhadap anak- anaknya, dapat menyebabkan ketidak nyamanan serta kecemasan pada anak saat berada didalam rumah.
  1. Lingkungan Sosial. Lingkungan sosial adalah salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kecemasan individu. Jika individu tersebut berada pada lingkungan yang tidak baik, dan individu tersebut menimbulkan suatu perilaku yang buruk, maka akan menimbulkan adanya berbagai penilaian buruk dimata masyarakat. Sehingga dapat menyebabkan munculnya kecemasan.

Daradjat (2001) juga menambahkan beberapa penyebab dari kecemasan yaitu:

  1. Rasa cemas yang timbul akibat melihat adanya bahaya yang mengancam Kecemasan ini lebih dekat dengan rasa takut, karena sumbernya terlihat jelas didalam pikiran.
  2. Cemas karena merasa berdosa atau bersalah, karena melakukan hal-hal yang berlawanan dengan keyakinan atau hati nurani. Kecemasan ini sering pula menyertai gejala-gejala gangguan mental, yang kadang-kadang terlihat dalam bentuk yang
  3. Kecemasan yang berupa penyakit dan terlihat dalam beberapa bentuk. Kecemasan ini disebabkan oleh hal yang tidak jelas dan tidak berhubungan dengan apapun yang terkadang disertai dengan perasaan takut yang mempengaruhi keseluruhan kepribadian penderitanya.

Berdasarkan ahli di atas dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang menyebabkan individu merasakan kecemasan adalah faktor internal dan faktor ekternal dari individu. Faktor internal meliputi usia, gender, usia, pengalaman, penyakit yang diderita oleh individu, respon terhadap stimulus,merasa berdosa. Sedangkan faktor eksternal meliputi kurangnya dukungan dari keluarga, lingkungan, dan sosial.

Jenis-jenis Kecemasan


 Menurut Stuart dan Sundeen (1995) tingkat kecemasan adalah sebagai berikut:

  1. Kecemasan ringan. Tingkat kecemasan yang terjadi pada kehidupan sehari-hari dan individu menjadi waspada dan bagaimana mencegah berbagai kemungkinan.
  2. Kecemasan sedang. Individu lebih menfokuskan hal penting saat ini dan mengesampingkan yang lain sehingga mempersempit lahan persepsinya.
  3. Kecemasan berat. Individu cenderung memusatkan perhatian pada hal-hal lain untuk mengurangi kecemasan dan memerlukan banyak pengarahan.
  4. Panik. Keadaan ini mengancam pengendalian diri,individu tidak mampu untuk melakukan sesuatu walaupun dengan pengarahan.

Sedangkan Pedak (2009) membagi menjadi tiga jenis kecemasan  yaitu kecemasan rasional, kecemasan irrasional dan kecemasan fundamental:

  • Kecemasan Rasional. Merupakan suatu ketakutan akibat adanya objek yang memang mengancam, misalnya ketika menunggu hasil ujian. Ketakutan ini dianggap sebagai suatu unsur pokok normal dari mekanisme pertahanan dasariah kita.
  • Kecemasan Irrasional. Yang berarti bahwa mereka mengalami emosi ini di bawah keadaan-keadaan spesifik yang biasanya tidak dipandang mengancam.
  • Kecemasan Fundamental. Kecemasan fundamental merupakan suatu pertanyaan tentang siapadirinya, untuk apa hidupnya, dan akan kemanakah kelak hidupnya berlanjut. Kecemasan ini disebut sebagai kecemasan eksistensial yang mempunyai peran fundamental bagi kehidupan manusia.

Freud (dalam Alwisol, 2011) juga mengemukakan tiga jenis kecemasan, yaitu:

  • Realistic anxienty. Kecemasan realitik adalah takut kepada bahaya yang nyata dari luar. Kecemasan realitik ini menjadi asal-muasal timbulnya kecemasan neurotik dan kecemasan moral.
  • Neurotic anxienty. Kecemasan neurotik adalah ketakutan terhadap hukuman yang bakal diterima dari orang tua atau figure penguasa lainnya kalau seseorang memuaskan insting dengan Cara sendiri, yang diyakininya bakal menuai hukuman.
  • Moral anxienty. Kecemasan ini bersumber dari ancaman terhadap sistem super ego yang berkembang baik sehingga individu akan merasa bersalah bila melakukan sesuatu yang bertentangan dengan ego idealnya yang selama ini telah dimasukan oleh lingkungan kedalam lingkungannya.

Berdasarakan ahli-ahli di atas dapat disimpulkan bahwa jenis-jenis kecemasan adalah ringan, sedang, berat dan panik. Dimana kecemasan-kecemasan ini terjadi karena adanya kekhawatiran yang mengancam individu pada saat, dan yang akan datang. Kecemasan-kecemaan ini juga terjadi akibat dari respon yang mengancam.

Komponen Kecemasan


Menurut Dacey (2000), dalam mengenali gejala kecemasan dapat ditinjau melalui tiga komponen, yaitu:

  • Komponen psikologis adalah reaksi yang tampak pada pada gejala-gejala psikologis berupa kegelisahan, gugup, tegang, cemas, rasa tidak aman, takut, cepat
  • Komponen fisiologis adalah tubuh terutama pada organ-organ berupa jantung berdebar, keringat dingin pada telapak tangan, tekanan darah meninggi (mudah emosi), sentuhan dari luar berkurang.
  • Komponen sosial adalah sebuah perilaku yang ditunjukkan oleh individu Perilaku itu dapat berupa: tingkah laku (sikap) dan gangguan tidur.

Sedangkan menurut Maher (dalam Sobur, 2010) menyebutkan bahwa reaksi kecemasan mempunyai tiga komponen yaitu emosional, kognitif, fisiologis.

  1. Komponen emosional adalah: orang tersebut mempunyai ketakutan yang amat sangat dan sangat sadar.
  2. Komponen kognitif adalah: ketakutan meluas dan sering berpengaruh terhadap kemampuan berfikir jernih, memecahkan masalah, dan mengatasi tuntunan
  3. Komponen psikologis adalah: tanggapan tubuh terhadap rasa takut berupa pengerasan diri untuk bertindak, baik tindakan itu dikehendaki atau

Kecemasan ada saat seseorang menghadapi masalahan pemenuhan potensi, mendapatkan kebebasan pastinya berakibat pada kecemasan, kebebasan tidak dapat hadir tanpa kecemasan, begitu pula sebaliknya, kecemasan tidak dapat hadir tanpa kebebasan.

Shah (dalam Ghufron & Risnawita, 2010) membagi kecemasan menjadi tiga komponen:

  • Komponen fisik, seperti pusing, sakit perut, tangan berkeringat, perut mual, mulut kering, grogi dll.
  • Emosional seperti panik dan takut
  • Mental dan kognitif seperti, gangguan perhatian, dan memori, kekhawatiran, ketidakteraturan dalam berfikir dan bingung.

Berdasarkan ahli-ahli di atas dapat disimpulkan bahawa komponen-komponen dari kecemasan adalah komponen yang ada dalam individu sendiri dari segi psikologis, fisiologis, kognitif, emosional dan sosial. Hal ini terjadi karena adanya bahaya yang membuat individu merespon dengan adanya rasa cemas.

Referensi :

Alwisol. (2011). Psikologi Kepribadian. Malang: UMM press.

Ardani, A, T, Rahayu, & Sholichatun, Y. (2007). Psikologi Klinis. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Koeswara, E. (1987). Psikologi Eksistensial Suatu Pengantar. Bandung: Rosda offset.

Sundberg, D, Winebarger, A & Taplin, R. (2007). Psikologi Klinis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Halgin, R, Whitbourne, K, S. (2010). Psikologi Abnormal. Jakarta: Salemba Humanika.

Sobur, Alex. (2010). Psikologi Umum. Bandung: Pustaka Setia.

Gunarsa, S.D. (2009). Dari Anak Sampai Usia Lanjut: Bunga Rampai Psikologi Perkembangan. Jakarta: PT BPK Gunung Mulia.

Dacey, J.S. (2000). Your anxious child: How parents and teachers can relieve anxiety in children. San Fransisco: Jossey-Bass Publishers.

Ghufron, N. & Risnawita, R. (2010). Teori-Teori Psikologi. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.

Daradjat, Z. (2001). Kesehatan Mental. Jakarta: Gunung Agung J.

Stuart, G.W. & Sundeen, S.J (1995). Principles and Practice of Psychiatric Nursing. St. Louis: Mosby Year Book

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *