Psikolog: Jika Kamu Tidak Bisa Diam Saat Telepon, Kamu Mungkin Memiliki 9 Sifat Ini
Plus, cara praktis untuk “memarkirkan diri” saat menerima panggilan telepon.
- Bergerak saat menerima telepon bisa mencerminkan sifat kepribadian yang mendasar, bukan sekadar kebiasaan buruk.
- Dr. Brittney Pearson menjelaskan gerakan saat telepon bisa terkait neurotisisme, ekstraversi, atau kebutuhan efisiensi.
- Mindfulness, gerakan mikro, dan teknik relaksasi dapat membantu seseorang duduk lebih tenang saat telepon.
Pernahkah kamu menyadari bahwa ketika telepon berdering, kakimu mulai melangkah, tanganmu memain-mainkan benda di sekitar, atau kamu berjalan bolak-balik seperti pendulum jam dinding? Kamu tidak sendirian. Jutaan orang di seluruh dunia tidak mampu duduk diam saat berbicara di telepon — dan menurut para ahli psikologi, kebiasaan ini menyimpan cerita yang jauh lebih dalam dari sekadar kegugupan biasa.
Dalam era komunikasi digital yang didominasi pesan teks, email, dan video call, telepon suara masih memegang peranan penting. Dr. Brittney Pearson, Ph.D., psikolog klinis berlisensi dari Thriveworks, menjelaskan bahwa panggilan telepon menawarkan keintiman dan kehadiran yang tidak bisa ditiru oleh layar manapun. Namun di balik itu, telepon juga bisa memantik respons tubuh yang tidak terduga — termasuk ketidakmampuan untuk duduk diam.
“Kebiasaan adalah perilaku spesifik yang kita pelajari dan ulangi secara sadar, sementara sifat adalah ‘pengaturan biologis’ yang kita bawa sejak lahir,” jelas Dr. Pearson. “Dalam kebanyakan kasus, sifat kitalah yang mendorong kebiasaan kita.”
Kegelisahan fisik saat telepon bukan sekadar gangguan konsentrasi. Ia bisa menjadi cermin yang memantulkan siapa dirimu sesungguhnya — kepribadianmu, cara otakmu bekerja, bahkan kondisi emosionalmu hari ini.
— Dr. Brittney Pearson, Ph.D., Psikolog Klinis Berlisensi, ThriveworksPenelitian dalam psikologi kepribadian, khususnya model Big Five (OCEAN) yang telah menjadi standar global sejak dikembangkan oleh Costa dan McCrae pada 1970-an, menunjukkan bahwa sifat-sifat seperti neurotisisme, ekstraversi, dan conscientiousness secara signifikan memengaruhi perilaku motorik kita — termasuk bagaimana tubuh kita merespons situasi komunikasi yang intens seperti telepon.
Lalu, apa saja sifat yang umumnya dimiliki oleh orang-orang yang tidak bisa diam saat menerima telepon? Dr. Pearson mengidentifikasi sembilan di antaranya.
9 Sifat Orang yang Tidak Bisa Diam Saat Telepon
Panggilan telepon dapat menjadi sumber tekanan besar bagi individu dengan neurotisisme tinggi — yaitu mereka yang cenderung mengalami emosi negatif seperti kecemasan, keraguan diri, dan mudah tertekan. Menurut Dr. Pearson, individu ini sering merasakan tekanan internal yang intens untuk “tampil sempurna” selama percakapan. Gerakan fisik seperti mondar-mandir atau menggerak-gerakkan tangan menjadi katup penglepas energi cemas yang menumpuk. Riset dalam model kepribadian Big Five mengkonfirmasi bahwa neurotisisme adalah prediktor terkuat dari distres psikologis, termasuk dalam situasi komunikasi yang membutuhkan perhatian penuh seperti telepon.
Orang dengan conscientiousness tinggi adalah para “pengoptimal” sejati. Bagi mereka, berdiri diam selama telepon terasa seperti membuang-buang waktu. Berjalan sambil berbicara, mencuci piring sambil telepon, atau menyortir pakaian sembari berdiskusi adalah bentuk habit stacking alami. “Individu dengan conscientiousness tinggi sering memandang gerakan saat telepon sebagai penggunaan waktu yang efisien,” jelas Dr. Pearson. Dorongan internal untuk selalu produktif membuat mereka merasa tidak nyaman jika harus duduk pasif.
Conscientiousness tinggi juga berkorelasi erat dengan perilaku yang berorientasi pada tujuan. Ketika seseorang bergerak selama telepon, ini sering kali bukan karena tidak fokus — melainkan karena otaknya sedang aktif memproses solusi. Dr. Pearson menjelaskan bahwa gerakan fisik dalam konteks ini mencerminkan keterlibatan aktif dan bertujuan dalam diskusi. Mereka bergerak karena sedang berpikir keras, bukan karena menghindar.
Di sisi berlawanan dari spektrum, individu dengan conscientiousness rendah atau kontrol impuls yang lemah juga cenderung tidak bisa diam saat telepon. “Jika seseorang kesulitan mengendalikan impuls, ambang kontrol inhibisi mereka rendah,” kata Dr. Pearson. Gerakan tubuh menjadi pelepasan ketegangan internal yang sehat — lebih baik dilepaskan melalui fisik daripada ditahan. Kondisi ini sangat umum pada individu dengan ADHD, di mana fidgeting atau kegelisahan motorik adalah salah satu ciri khas yang diakui secara klinis dalam DSM-5.
Dalam kerangka tipologi kepribadian, individu dengan preferensi sensing-perceiving cenderung memproses informasi melalui tindakan fisik. Bagi mereka, duduk diam justru bisa menghambat konsentrasi. Bergerak saat telepon justru meningkatkan fokus dan keterlibatan, bukan mengalihkannya. Ini adalah bukti bahwa “normal” dalam konteks kognitif sangat bervariasi — apa yang tampak seperti gangguan bagi orang lain bisa jadi adalah cara otak mereka bekerja paling optimal.
Para ekstravert mendapatkan energi dari interaksi sosial dan cenderung membutuhkan stimulasi sensorik yang lebih tinggi. Dr. Pearson menerangkan bahwa mondar-mandir atau berjalan saat telepon memberikan masukan sensorik yang dibutuhkan ekstravert untuk tetap fokus pada percakapan. Tanpa gerakan itu, otak ekstravert justru bisa “bosan” dan perhatian mereka malah mudah melayang. Stimulasi fisik ringan ini membantu mereka hadir sepenuhnya dalam percakapan.
Orang yang sangat mudah setuju dan sangat peduli pada persepsi orang lain terhadap dirinya bisa menggunakan gerakan fisik sebagai “displacement activity” — aktivitas pengalih — saat berbicara di telepon. “Ini terjadi ketika seseorang merasa cemas tentang bagaimana mereka dipersepsikan,” jelas Dr. Pearson. Gerakan bukan karena tidak nyaman dengan situasi secara umum, melainkan karena mereka terlalu peduli ingin meninggalkan kesan yang baik pada lawan bicaranya.
Sebagian orang memproses pikiran mereka ke luar — mereka berpikir sambil berbicara, menggambar, atau bergerak. Dr. Pearson menjelaskan bahwa bagi pemroses eksternal, baik ucapan maupun gerakan adalah ekspresi luar dari pola pikir internal mereka. Telepon, yang mengandalkan audio saja, justru memaksa mereka untuk “memindahkan” sebagian dari kebutuhan ekspresif itu ke tubuh mereka — hasilnya adalah gerakan yang tampak gelisah bagi orang luar.
Orang dengan pikiran yang sangat aktif — yang selalu mendambakan hal baru dan kerap terlibat dalam pengejaran kreatif — bisa menggunakan gerakan sebagai jangkar perhatian. Dr. Pearson menjelaskan paradoks ini dengan elegan: “Gerakan dapat bertindak sebagai aktivitas pembumi yang mencegah pikiran mereka mengembara, memungkinkan mereka tetap fokus pada tugas yang ada.” Dengan kata lain, tubuh yang bergerak justru menjaga pikiran mereka tetap hadir dalam percakapan.
Apa Kata Ilmu Pengetahuan?
Perilaku fidgeting — atau kegelisahan motorik — bukan sekadar kebiasaan tanpa dasar. Penelitian ilmiah memberikan konteks yang kaya untuk memahami fenomena ini. Studi yang diterbitkan dalam jurnal psikiatri terkemuka menunjukkan bahwa pada individu dengan ADHD, fidgeting sering kali bukan sekadar tanda gangguan — melainkan mekanisme kompensasi untuk membantu mempertahankan perhatian dan kewaspadaan selama tugas yang membutuhkan konsentrasi kognitif tinggi.
Lebih jauh, penelitian juga menunjukkan bahwa individu dengan ADHD yang mengalami kecemasan lebih tinggi cenderung menunjukkan detak jantung yang lebih tinggi, variabilitas detak jantung yang lebih rendah, dan intensitas fidgeting yang lebih besar. Ini mengisyaratkan bahwa kegelisahan fisik adalah sinyal biologis yang nyata, bukan semata pilihan perilaku.
Dalam konteks telepon secara khusus, absennya isyarat visual dari lawan bicara — ekspresi wajah, bahasa tubuh, kontak mata — menciptakan beban kognitif tambahan. Otak harus bekerja lebih keras untuk menafsirkan nada suara, jeda, dan intonasi. Bagi individu dengan ADHD, ekstravert, atau pemroses eksternal, gerakan fisik menjadi cara otak “menyeimbangkan buku” — melepaskan sebagian beban kognitif melalui kanal motorik.
Telepon hanya menawarkan audio — tidak ada wajah, tidak ada bahasa tubuh. Otak kita harus bekerja ekstra keras. Bagi sebagian orang, gerakan fisik adalah cara mereka mempertahankan keseimbangan kognitif itu.
— Disarikan dari penelitian psikologi kognitif dan neurosains komunikasiCara Duduk Lebih Tenang Saat Telepon
Apakah bergerak saat telepon selalu menjadi masalah? Tidak selalu. Namun jika kebiasaan ini mengganggu kualitas percakapan, hubungan profesional, atau membuat kamu merasa tidak nyaman dengan diri sendiri, ada beberapa strategi yang bisa dicoba. Dr. Pearson merekomendasikan tiga pendekatan praktis:
Mindfulness bertujuan untuk menambatkan dirimu — pikiran termasuk — pada momen saat ini. Teknik ini mendorong observasi bermakna tanpa reaksi otomatis. Saat dorongan untuk bergerak muncul, amati itu sebagai sensasi, bukan sebagai perintah untuk bertindak. Dengan latihan rutin, jarak antara “dorongan” dan “tindakan” akan semakin lebar, memberimu ruang untuk memilih respons yang lebih tenang.
Alih-alih menghilangkan gerakan sepenuhnya — yang bisa kontraproduktif bagi pemroses eksternal dan individu dengan ADHD — cobalah menyusutkan gerakan besar menjadi gerakan kecil yang terkendali. Menggunakan fidget spinner, menekan kedua kaki bersama-sama, menggerakkan jari secara ritmis, atau sekadar mengubah postur duduk adalah bentuk “micromovement” yang dapat memuaskan dorongan fisik tanpa mengganggu percakapan.
Ketegangan otot sering menjadi bahan bakar kegelisahan. Progressive Muscle Relaxation (PMR) melibatkan pengencangan lalu pelepasan kelompok otot secara sistematis untuk melepas stres fisik. Sementara itu, box breathing mengaktifkan sistem saraf parasimpatik yang memicu respons relaksasi. Caranya sederhana: tarik napas 4 detik, tahan 4 detik, hembuskan 4 detik, tahan 4 detik — ulangi. Lakukan ini sebelum atau di awal panggilan telepon untuk menurunkan ambang kegelisahanmu.
Kesimpulan: Ini Bukan Kelemahan, Ini Bahasa Tubuhmu
Tidak bisa diam saat telepon bukan serta-merta tanda bahwa ada yang “salah” dengan dirimu. Seperti yang telah kita eksplorasi bersama, perilaku ini bisa menjadi cerminan dari kekuatan kepribadian — efisiensi tinggi, kemampuan memecahkan masalah, ekstraversi yang hangat, atau pikiran yang aktif dan kreatif.
Yang terpenting adalah memahami mengapa kamu bergerak. Apakah itu karena kecemasan yang perlu dikelola? Karena cara otakmu memproses informasi? Atau karena dorongan produktivitas yang sebenarnya positif? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini bisa membantumu membuat keputusan yang lebih sadar tentang kapan gerakan itu membantu dan kapan perlu dimoderasi.
Jika kebiasaan bergerak saat telepon terasa mengganggu kehidupan profesional atau pribadimu, atau jika disertai gejala kecemasan, kesulitan konsentrasi, atau hiperaktivitas yang signifikan, berkonsultasi dengan psikolog atau profesional kesehatan mental adalah langkah yang sangat disarankan. Memahami dirimu lebih dalam adalah investasi terbaik yang bisa kamu lakukan.