Pada zaman sekarang, hampir semua remaja bahkan orang tua yang mengikuti perkembangan media sosial pasti sudah tidak asing dengan kata insecure.
Istilah insecure jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia berarti gelisah atau tidak kokoh. Sedangkan pengertian dari insecure adalah perasaan tidak mampu atau tidak cukup baik yang seringkali membuat kita berada pada situasi ketidakpastian. Perasaan ini membuat seseorang mengalami kecemasan tentang tujuan dalam hidup, hubungan, kemampuan, dan kualitas diri.
Mungkin pada awalnya munculnya gejala psikologis ini adalah karena adanya rasa minder, kepribadian seseorang, kecemburuan, sifat perfeksionis, dan kurangnya kepercayaan dalam diri seseorang serta faktor lingkungan yang belum terlalu berpengaruh. Sedangkan saat ini, tokoh papan atas pun bisa mengalami kondisi seperti ini, ditambah lagi dengan berbagai tuntutan fisik yang ada.
Gejala Insecure
Berikut adalah beberapa gejala dari insecure:
1. Mencoba membuat orang lain merasa insecure dengan menunjukkan kehebatan kita,
2. Memamerkan diri secara terselubung alias merendah untuk meroket,
3. Menceritakan pencapaian mereka setiap saat,
4. Menyalahkan diri sendiri bila suatu hal tidak berjalan dengan sempurna,
5. Memiliki kepercayaan yang tipis terhadap orang lain atau kecurigaan yang selalu dan berlebihan.
Faktor Risiko Seseorang Nengalami Insecure
Faktor yang dapat membuat seseorang lebih beresiko mengalami insecure, antara lain:
1. Menderita gangguan mental,
2. Pernah mengalami kejadian traumatis atau memiliki trauma terhadap keadaan tertentu yang membuat dirinya merasa tertekan, sangat kurang atau sangat buruk.
Nah kembali ke topik utama artikel ini, mengapa perasaan insecure saat ini semakin mewabah? Beberapa uraian yang akan disebutkan adalah hasil dari riset di internet dan kolaborasi dengan pikiran pribadi penulis.
1. Terpengaruh dari orang lain atau lingkungan luar yang merasakan insecure terlebih dulu.
Bisa jadi perasaan insecure itu tidak seharusnya ada dalam diri kita, tapi muncul karena dorongan dari lingkungan luar yang mempengaruhi pola pikir kita. Entah seusai mendengarkan curhatan orang lain, seringnya mendengar pembahasan dan cerita-cerita tentang perasaan ini, atau akibat pengaruh konten-konten di media sosial yang sedikit banyak menggugah munculnya perasaan itu dalam diri kita dan akan makin menjadi bila kita terus-terusan meladeni.
2. Kecemasan yang berlebihan pada segala sesuatu yang seharusnya bisa dipilih untuk menjadi prioritas.
Banyaknya hal yang harus dipikir membuat pikiran kita keruh dan tidak dapat berpikir sehat. Jika kita tidak menyegarkan pikiran terlebih dahulu untuk kembali memfokuskan pikiran, maka overthinking yang akan melanda kita. Pikiran-pikiran yang tidak terlalu penting selama seharian ini berlanjut dengan pemikiran untuk esok dan kedepannya sehingga membuat kita akan merasa selalu kurang dan salah. Sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu sebegitunya menjadi sangat beban bagi kita akibat pemikiran berlebihan ini.
3. Edukasi dan pemberian motivasi tentang insecure yang kurang tepat sehingga menimbulkan pemahaman yang keliru.
Saat ini semua pihak berlomba-lomba untuk memberikan edukasi kesehatan mental melalui media manapun, seperti halnya artikel penulis yang saat ini sedang anda baca. Namun penyampaian yang kurang tepat, misalnya dengan bumbu merendah untuk meroket atau tanpa sadar memamerkan keunggulan dirinya justru tidak akan memperbaiki apapun. Bagi orang tertentu mungkin dapat membantu meredakan rasa insecure mereka, namun bagi orang-orang yang pikirannya sudah kalut dan lebih peka akan berbagai hal yang berhubungan dengan insecure, mereka akan semakin merasa dirinya kurang dan tidak berguna. Itu tidaklah lebih dari hinaan yang dikemas dengan cantik.
4. Perkembangan media sosial yang menekan diri untuk mengikuti berbagai standar masa kini.
Munculnya berbagai tren kecantikan, kesehatan, gaya hidup, teknologi, gaya, pekerjaan, dan makanan apabila terlalu diikuti dan dipenuhi akan memberi tuntutan berlebih pada diri kita. Apabila kita tidak mencoba menjadi independen dan mengikuti tren mana sesuai kebutuhan dan kesanggupan, maka setiap kegagalan dari langkah kita adalah keterpurukan besar dan tujuan utama perubahan dalam diri kita adalah untuk meniru seseorang tersebut atau agar bisa ikut-ikutan tren dan memamerkan diri sendiri.
5. Lingkungan yang sudah terpengaruh dan berpatokan pada standar tertentu sehingga menghambat sebagian orang untuk mendapatkan hak yang sama.
Sebab yang satu ini mungkin lebih banyak terjadi di dunia percintaan dan pekerjaan dimana mayoritas mengedepankan penampilan sebelum menyeleksi kualitas diri dan kepribadian sesungguhnya orang tersebut. Untuk mendapatkan pekerjaan yang biasa saja kita harus dituntut untuk memiliki penampilan fisik seperti a, b, c, d, e dan menguasai kemampuan tertentu, apalagi pekerjaan dengan banyak pesaing. Hal ini bisa berdampak positif bila disikapi dengan merubah diri menjadi lebih baik, namun bisa juga membuat munculnya rasa insecure karena putus asa tak dapat menggapai impian tersebut.
6. Bully atau perundungan.
Fenomena sosial dalam pergaulan ini menurut penulis adalah hal yang mengawali rasa insecure jauh sebelum adanya pandemi. Cemoohan dan berbagai lontaran yang membuat diri sendiri terkesan buruk tentunya memberikan pengaruh pada kondisi psikologi seseorang. Jika bijak dalam menyikapi, kita akan terbiasa untuk menjadi bodo amat dengan berbagai ujaran dan lontaran isu yang memang tidak sesuai kebenarannya. Namun jika kita terlalu memasukkan ke dalam hati hal-hal tersebut, mental kita menjadi tidak baik dan salah satu perasaan yang akan muncul adalah insecure ini.
Penanganan Ganguan Insecure
Insecure adalah perasaan yang sangat wajar dialami oleh semua orang. Namun cara kita menyikapi keadaan yang menjadi penyebab dan rasa insecure tersebut menentukan bagaimana diri kita kedepannya.
Jika kita dapat memandang beberapa penyebab di atas sebagai waktu untuk mengoreksi dan memperbaiki diri dengan menerapkan prinsip “Gagal? bangkit lagi!”, maka kita dapat berubah menjadi lebih baik dan hidup dengan perasaan tenang, bahkan tak jarang malah mempermudah berbagai urusan kedepannya.
Tapi jika kita memandang hal-hal tadi sebagai ketidakmampuan diri untuk mendapatkan ini dan itu, maka kita akan tetap begini-begini saja, diam dalam zona nyaman, di dalam lautan penuh kecemasan dan serba kekurangan yang tak kunjung terobati atau mereda.
Kadangkala kita memang perlu mengubah diri untuk mengikuti standar tertentu, tapi jangan terlalu menuntut untuk langsung melampauinya karena bisa jadi dengan cukup memenuhi standar tersebut, kita akan merasakan berbagai perubahan dan dampak dalam kehidupan.
Pentingnya komunikasi juga akan membantu kita untuk meredakan perasaan insecure ini asalkan dengan orang yang tepat dan dapat benar-benar mengerti.
”JADILAH YANG TERBAIK VERSI KAMU, JANGAN BERDASARKAN YANG ORANG LAIN MAU.”
Lebih lanjut, penanganan yang dapat dilakukan ketika level insecure tersebut sangat mengganggu pikiran sehari-hari dan berlangsung secara kontinyu yaitu dengan berkonsultasi kepada psikolog atau psikiater. Kita juga bisa menstimulasi diri sendiri untuk mengubah pola pikir dan sikap dalam menanggapi dan menghadapi situasi tertentu asalkan tepat dalam melakukannya.
Daftar pustaka:
Foto: Pinterest (https://pin.it/3WNRIJH)
Referensi artikel:
1. https://www.dove.com/id/stories/tips-and-how-to/tips-keringat/mengenal-istilah-insecure-yang-membuat-orang-merasa-tidak-aman.html#:~:text=Contohnya%2C%20saat%20kita%20gagal%20mengerjakan,ditandai%20dengan%20perasaan%20kurang%20sempurna
2. https://lifestyle.kompas.com/read/2021/09/06/152242820/apa-itu-insecure-penjelasan-gejala-dan-cara-mengatasinya?page=all#:~:text=Insecure%20adalah%20perasaan%20tidak%20mampu,kemampuan%20untuk%20mengatasi%20situasi%20tertentu
3. https://www.alodokter.com/insecure
4. https://satupersen.net/blog/insecure-mengenal-dan-cara-mengatasinya