Temper tantrum adalah suatu luapan emosi yang meledak-ledak dan tidak terkontrol. Temper tantrum seringkali muncul pada anak suai 15 bulan hingga 6 tahun (Zaviera, 2008). Umumnya anak kecil lebih emosional daripada orang dewasa karena pada usia ini anak masih relatif muda dan belum dapat mengendalikan emosinya. Pada usia 2-4 tahun, karakteristik emosi anak muncul pada ledakan marahnya atau
temper tantrum (Hurlock, 2000). Sikap yang ditunjukkan untuk menampilkan rasa tidak senangnya, anak melakukan tindakan yang
berlebihan, misalnya menangis, menjeritjerit, melemparkan benda, berguling-guling, memukul ibunya atau aktivitas besar lainnya
(Hurlock, 2000).
Tasmin dalam Syamsuddin (2013) mengemukakan bahwa beberapa faktor yang dapat menyebabkan terjadinya tantrum pada anak. Seperti, terhalangnya keinginan anak mendapatkan sesuatu, adanya kebutuhan yang tidak terpenuhi. Misalnya sedang lapar, ketidakmampuan anak mengungkapkan atau mengkomunikasikan diri dan keinginannya sehingga orangtua meresponnya tidak sesuai dengan keinginan
anak. Pola asuh orangtua yang tidak konsisten juga salah satu penyebab tantrum; termasuk jika orangtua terlalu memanjakan atau terlalu menelantarkan anak. Saat anak mengalami stres, perasaan tidak aman (unsecure) dan ketidaknyaman (uncomfortable) juga dapat memicu terjadinya tantrum.
Bagaimana Menghadapi Anak yang Tantrum Berdasarkan penelitian Gina dan Jessica (2007) ditemukan bahwa orangtua sering sekali
merespon anak yang tantrum dengan cara yang tidak tepat, yakni 59% mencoba menenangkan anak, 37 % mengacuhkan dan sebanyak 31%
menyuruh anak diam. Data ini menunjukan bahwa orangtua sering keliru ketika menghadapi anak yang mengalami tantrum. Padahal,
sejatinya tantrum adalah sebuah kesempatan bagi orangtua untuk mengenalkan emosi marah pada anak dan bagaimana mengatasinya.
Karena itulah penting sekali bagi orangtua untuk mengetahui cara merespon tantrum secara tepat.
Tasmin dalam Syamsuddin (2013) mengemukakan bahwa untuk mencegah terjadinya tantrum dapat dilakukan dengan :
- Mengenali kebiasaan-kebiasaan anak dan mengetahui secara pasti pada kondisi-kondisi seperti apa tantrum terjadi pada anak. Misalnya, pada anak yang aktif bergerak dan gampang stres maka orangtua perlu mengatur kondisi agar anak tidak dibuat bosan agar selama perjalanan diusahakan sering-sering beristirahat di jalan, untuk memberikan waktu bagi anak berlari-lari di luar mobil.
- Mendampingi anak mengerjakan tugas-tugas sekolah dan mengajarkan hal-hal yang dianggap sulit, akan membantu
mengurangi stres. - Mendampingi anak bahkan tidak terbatas pada tugas-tugas sekolah, tapi juga pada permainan-permainan, sehingga ketika ia mengalami kesulitan orangtua dapat membantu dengan memberikan petunjuk. Hal lain yang bisa dilakukan adalah orangtua perlu memperlakukan anak secara tepat dengan tidak
terlalu memanjakan dan tidak pula terlalu menelantarkan anak, hubungan anak adalah hubungan kasih sayang dan perhatian yang proposional.
Mah (2008) menambahkan beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk mencegah tantrum, yakni :
- Perlunya mengidentifikasi konsekuensi dari tantrum, maksudnya bahwa orang tua perlu mengetahui adakah perilaku
dari orangtua atau orang lain disekitar anak yang justru mendorong dan memberi penguatan terhadap terjadinya tantrum. Jika ada maka perlu dihilangkan. - Mewujudkan atau membangun sebuah sistem reward (penghargaan) untuk menjaga anak tetap berperilaku terkontrol.
- Memberikan penghargaan atau hadiah pada saat tantrum terjadi adalah tidak tepat sebab akan mengkondisikan anak untuk selalu mengulanginya.
Perilaku tantrum adalah perilaku yang bersifat universal dan normal
terjadi pada anak. Hanya saja banyak orangtua yang meresponnya secara tidak tepat dengan menganggapnya sebagai sesuatu yang
mengganggu dan distress. Salah merespon anak yang tantrum akan sangat berpengaruh terhadap perkembangan berikutnya. Bukannya menjadi disiplin dan belajar memecahkan masalah yang dihadapi secara solutif tetapi menjadi semakin destruktif dan agresif.
Referensi :
Gina, M., & Jessica, T. (2007). Tantrums and Anxiety in Early Childhood: A Pilot Study. Early Childhood Research And Practice Juornal. Vol. 9 No. 2.
Hurlock, Elizabeth, B. (2000). Psikologi Perkembangan. Jakarta: Erlangga.
Mah, R. (2008). The One-Minute Temper Tantrum Solution: Strategies for Responding to Children’s Challenging Behaviors. Thousand Oaks: Corwin Press.
Syamsudin, S. (2013). Mengenal Perilaku Tantrum Dan Bagaimana Mengatasinya. Sosio Informa, 18(2).
Zaviera, Ferdinand. (2008). Mengenali dan Memahami Tumbuh Kembang Anak. Jogjakarta: Katahati.