Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Hubungan Tanpa Status: Nyaman atau Menyakitkan?

Hubungan Tanpa Status: Nyaman atau Menyakitkan?
Psikologi Hubungan Kesehatan Mental

💌Hubungan Tanpa Status:
Nyaman atau Menyakitkan?

Di antara status “hanya teman” dan “resmi berpacaran”, ada ruang abu-abu yang dihuni jutaan orang — menyenangkan di awal, namun diam-diam bisa menggerus jiwa.

✍️
Tim Redaksi Psikologi & Hubungan Referensi: Psychology Today · Verywell Mind · PsyPost

Pernahkah kamu berada dalam kondisi ini: saling SMS setiap hari, pergi berdua ke mana-mana, tidur saling berdekatan — namun ketika seseorang bertanya, “Kalian pacaran?”, jawabannya hanya senyuman canggung atau kalimat, “Kita lagi jalan-jalan aja sih.”

Inilah yang disebut situationship — atau dalam bahasa populer Indonesia, Hubungan Tanpa Status (HTS). Fenomena yang bukan hal baru, namun mendapat nama dan perhatian besar di era digital ini. Sebuah hubungan yang secara emosional terasa seperti pacaran, namun tanpa garis kepastian yang jelas.

Pertanyaannya bukan sekadar soal label. Ini tentang apa yang sebenarnya terjadi di dalam diri kita — secara psikologis dan emosional — ketika kita hidup dalam ketidakpastian relasional yang berkepanjangan.

60%
Anak muda usia 18–30 tahun pernah terlibat dalam HTS
49%
Peningkatan pengguna Tinder yang menyebut “situationship” di bio mereka (2022)
100%
Perempuan dalam studi Gibson mengalami dampak emosional negatif dari HTS
Survei NBC News Tinder Year in Swipe 2022 Gibson Study via IFStudies

Apa Sebenarnya Hubungan Tanpa Status Itu?

Istilah situationship pertama kali dipopulerkan oleh penulis Carina Hsieh pada 2017 untuk menggambarkan “hookup with emotional benefits” — sebuah koneksi yang lebih dari sekadar kencan kasual, namun belum mencapai komitmen penuh layaknya hubungan romantis resmi.

Menurut Cleveland Clinic, situationship adalah hubungan yang terjadi tanpa ada status resmi — terasa seperti pertemanan yang mengarah ke asmara, namun tidak bisa didefinisikan dan tidak memiliki batasan yang jelas. Keduanya terlibat secara emosional, bahkan fisik, namun tidak menetapkan ekspektasi bersama tentang masa depan.

“Situationship mengisi celah — bukan hubungan, namun bukan pula bukan apa-apa. Kata itu sendiri memberi ruang bagi sesuatu yang nyata tapi tak terdefinisi.”

— Psychology Today, “The Non-Relationship Situationship” (2025)

Penelitian Dr. Michael R. Langlais dan timnya (2024), yang melibatkan hampir 300 partisipan, mengungkap temuan menarik: dalam hal afeksi, perilaku seksual, dan waktu yang dihabiskan bersama, situationship tidak berbeda secara signifikan dari hubungan romantis eksklusif. Itulah yang membuatnya begitu membingungkan — semuanya terasa seperti hubungan sungguhan, kecuali satu hal: tidak ada kepastian tentang masa depan.

❀

Mengapa Orang Memilih Jalan Ini?

HTS tidak terjadi karena kebetulan. Ada faktor-faktor psikologis, sosial, dan kultural yang mendorong orang — sadar maupun tidak — ke dalam ruang yang tidak terdefinisi ini.

🔍 Faktor-Faktor Pendorong HTS
  • →Aplikasi kencan dan budaya digital — Kelimpahan pilihan membuat orang enggan “mengunci” satu hubungan terlalu cepat. FOMO (fear of missing out) membuat komitmen terasa seperti menutup pintu lain.
  • →Kecemasan romantis (romantic anxiety) — HTS membiarkan dua orang dekat tanpa harus menghadapi percakapan sulit tentang “apa kita ini.” Meminta kejelasan berarti mengakui bahwa kamu cukup peduli — dan itu terasa rentan.
  • →Insecure attachment style — Menurut teori attachment Ainsworth, mereka yang memiliki pola kelekatan cemas (anxious) atau menghindar (avoidant) sejak masa kecil cenderung memilih hubungan berkomitmen rendah sebagai cara memenuhi kebutuhan kasih sayang tanpa risiko ditolak atau ditinggalkan.
  • →Kesepian situasional — Dalam banyak kasus, HTS dimulai bukan karena ketertarikan mendalam, melainkan sekadar untuk mengusir rasa sepi di tengah kehidupan modern yang semakin individualistis.
  • →Sunk cost fallacy — Penelitian dari Journal of Economic Psychology menunjukkan bahwa orang cenderung terus berinvestasi dalam sesuatu hanya karena sudah banyak waktu dan emosi yang dikeluarkan — bahkan ketika hubungan itu tidak lagi memberi kebaikan.
Psychology Today, 2025–2026 LM Psikologi UGM, 2024 Ainsworth Attachment Theory
❀

Kenyamanan yang Sesungguhnya — Atau Ilusi?

Pada awalnya, HTS memang bisa terasa seperti oasis. Tidak ada tuntutan, tidak ada tekanan untuk bertemu orang tua, tidak ada diskusi tentang masa depan. Hanya kebersamaan yang ringan dan menyenangkan.

Psikolog mencatat bahwa HTS dapat memberikan kebebasan bagi individu untuk menjelajahi perasaan dan preferensi mereka tanpa merasa terikat. Bagi sebagian orang — terutama yang baru pulih dari hubungan menyakitkan, atau sedang dalam masa transisi hidup — ini bisa menjadi jeda yang menyehatkan.

✦ Sisi yang Melegakan
  • Bebas dari tekanan komitmen formal
  • Ruang untuk mengenal diri dan preferensi
  • Keintiman dan kasih sayang tanpa beban ekspektasi besar
  • Fleksibilitas dalam gaya hidup pribadi
  • Bisa menjadi jembatan menuju hubungan serius
✦ Sisi yang Menguras
  • Ketidakpastian yang memicu kecemasan kronis
  • Harapan yang tidak selaras antar pihak
  • Sulit mengekspresikan kebutuhan emosional
  • Rentan terjebak dalam ketidakseimbangan kuasa
  • Memperkuat pola attachment yang tidak sehat

Namun, penelitian Langlais dan timnya (2024) memberikan pukulan telak bagi romantisasi HTS: secara keseluruhan, situationship dinilai secara signifikan kurang memuaskan dan berkualitas lebih rendah dibandingkan hubungan romantis eksklusif. Ini memunculkan pertanyaan besar: jika tidak memuaskan, mengapa orang tetap bertahan?

Langlais et al., Sexuality & Culture (2024) Psychology Today (2024)
❀

Ketika Ambiguitas Menjadi Racun Diam-diam

Di balik kenyamanan yang terasa di permukaan, ada proses psikologis yang diam-diam berjalan — dan tidak selalu jinak.

Menurut Psychology Today, ketidakpastian relasional secara konsisten dikaitkan dengan stres dan kecemasan, dalam bentuk peningkatan reaktivitas internal terhadap kortisol — hormon stres tubuh. Semakin lama seseorang hidup dalam ketidakjelasan, semakin besar beban psikologis yang ditanggung.

“These arrangements often leave individuals uncertain about boundaries and future expectations, creating emotional ambiguity.”

— Dr. A. Shaji George, penelitian tentang situationship (2024)

Studi Gibson yang dikutip oleh Institute for Family Studies menemukan bahwa seluruh perempuan dalam penelitian tersebut mengalami kerugian emosional serius — peningkatan kecemasan, ketidakadilan, ketidakpastian, depresi, dan perasaan dimanfaatkan. Bukan karena mereka lemah, tetapi karena ambiguitas itu sendiri adalah kondisi yang tidak alami bagi jiwa manusia yang pada dasarnya mendambakan kepastian dan koneksi yang bermakna.

Ada pola yang sering terulang: di awal, periode tanpa komitmen terasa normal dan menyenangkan — memang itulah yang diharapkan dalam tahap awal hubungan. Namun ketika ketidakjelasan itu berlanjut tanpa batas waktu, orang mulai “terjebak di ruang liminal” — dan sinyal kecemasan yang awalnya wajar berubah menjadi beban yang melelahkan.

⚠️ Tanda-tanda HTS Mulai Menguras Kesehatan Mentalmu
  • !Kamu terus-menerus memikirkan “apa maksudnya ini” setelah setiap interaksi — overthinking yang tidak kunjung reda
  • !Kamu menekan kebutuhan emosionalmu (ingin kejelasan, ingin ditemani saat susah) karena takut “merusak suasana”
  • !Ada rasa cemburu yang tidak punya tempat untuk diungkapkan, karena kamu tidak punya “hak” sebagai pasangan resmi
  • !Kamu merasa lebih cemas setelah bersamanya daripada sebelumnya — padahal kedekatan seharusnya memberi ketenangan, bukan memperburuk kekhawatiran
  • !Kamu mulai meragukan diri sendiri: “Mungkin aku memang tidak cukup layak untuk dicomit.”
Psychology Today (2026) IFStudies.org – Gibson Study Priem & Solomon, 2011 – Cortisol & Relational Uncertainty
❀

Attachment Theory: Luka Lama yang Ikut Bermain

Psikologi modern tidak memandang HTS sebagai pilihan semata — melainkan sering kali sebagai cerminan dari pola kelekatan (attachment style) yang terbentuk jauh sebelum kita mengenal aplikasi kencan.

Teori attachment yang dikembangkan oleh John Bowlby dan Mary Ainsworth menunjukkan bahwa cara kita terhubung dengan orang-orang terdekat di masa dewasa sangat dipengaruhi oleh hubungan kita dengan pengasuh di masa kecil. Pola ini tidak hilang begitu saja saat kita tumbuh dewasa.

🧠 Attachment Style & Kecenderungan HTS
  • AAnxious Attachment (Cemas) — Sangat menginginkan kedekatan namun takut ditolak. Mungkin bertahan dalam HTS karena lebih baik “separuh kepastian” daripada kehilangan sama sekali.
  • AAvoidant Attachment (Menghindar) — Menginginkan koneksi namun takut ketergantungan. HTS memberi “jarak aman” yang terasa nyaman secara permukaan, namun mempertahankan tembok emosional.
  • ADisorganized Attachment (Tidak Teratur) — Campuran cemas dan menghindar. Paling rentan terjebak dalam dinamika HTS yang tidak sehat dan sulit keluar dari polanya.
  • ASecure Attachment (Aman) — Lebih mampu mengkomunikasikan kebutuhan dan meninggalkan situasi yang tidak memberi kejelasan. Biasanya tidak bertahan lama dalam ketidakpastian relasional.

Menurut kajian LM Psikologi UGM (2024), seseorang yang terus-menerus terlibat dalam hubungan tidak berstatus dapat kesulitan membangun kedekatan dan kepercayaan yang dibutuhkan dalam hubungan sehat — dan pola insecure attachment tidak akan hilang dengan sendirinya jika tidak dihadapi.

Artinya, HTS bukan sekadar “fase” — bagi sebagian orang, ia bisa menjadi siklus yang berulang, memperkuat keyakinan bahwa mereka “tidak cukup layak” untuk mendapatkan cinta yang penuh dan pasti.

❀

Generasi Z dan Pergeseran Cara Kita Mencinta

Fenomena HTS tidak bisa dipisahkan dari konteks sosial yang lebih besar. Generasi Z tumbuh di tengah era digital di mana pilihan terasa tidak terbatas, dan ekspektasi terhadap hubungan pun berubah.

Laporan Tinder Year in Swipe 2022 mencatat peningkatan 49% pengguna yang menyebut “situationship” dalam bio mereka — sebuah indikasi bahwa ketidakjelasan relasional kini tidak lagi dianggap memalukan, tetapi bahkan menjadi identitas yang dirayakan.

Namun ada tanda pergeseran yang menarik: laporan Tinder 2024 mengungkap bahwa semakin banyak pengguna justru mulai mencari komitmen dibanding koneksi kasual. Ada kelelahan kolektif dari ambiguitas — generasi yang dulu meromantisasi “tidak perlu label” kini mulai menyadari bahwa kepastian bukan berarti keterbatasan, melainkan fondasi.

“Situationships menjanjikan kebebasan, namun sering kali justru menciptakan tekanan mental. Ambiguitasnya yang membuatmu terus ‘tergantung’ — dan itu bukan kebetulan.”

— Healing Pathways Psychological Services, 2025

Penelitian juga mencatat bahwa fenomena ini semakin mengaburkan nilai-nilai relasional yang lebih dalam. Jurnal psikologi EXPERIENTIA (Universitas Widya Mandala Surabaya) menemukan bahwa mereka yang memandang HTS secara positif cenderung kembali terlibat di dalamnya — karena menerima kasih sayang tanpa tuntutan. Namun di sisi lain, temuan ini juga mencerminkan pergeseran di mana pernikahan atau hubungan serius tidak lagi dianggap sebagai tujuan utama relasi romantis.

❀

Keluar dari Kabut: Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Tidak ada jawaban universal tentang apakah HTS “baik” atau “buruk” — karena pengalaman setiap orang berbeda. Namun psikologi modern menawarkan beberapa panduan praktis untuk menavigasi ruang abu-abu ini dengan lebih bijak dan bertanggung jawab terhadap kesehatan emosionalmu sendiri.

  1. 1
    Kenali apa yang sebenarnya kamu butuhkan Sebelum bisa berkomunikasi dengan orang lain, kenali dulu dirimu sendiri. Apakah ketidakjelasan ini nyaman bagimu secara tulus, atau kamu hanya bertahan karena takut kehilangan atau takut meminta lebih?
  2. 2
    Buka percakapan tentang ekspektasi Psychology Today menyarankan: pertimbangkan untuk mencari kejelasan jika situationship-mu menciptakan lebih banyak kecemasan daripada ketenangan. Percakapan yang jujur bukan ancaman bagi hubungan yang sehat — justru sebaliknya.
  3. 3
    Perhatikan pola attachment-mu Apakah kamu selalu berakhir dalam hubungan tanpa kepastian? Itu bisa jadi sinyal bahwa ada pola kelekatan yang perlu dijelajahi lebih dalam — idealnya bersama profesional.
  4. 4
    Tetapkan batas waktu untuk dirimu sendiri Hubungan yang tidak menuju ke mana-mana bisa bertahan bertahun-tahun karena sunk cost fallacy. Berikan dirimu sendiri batas evaluasi yang jelas — bukan ultimatum untuk orang lain, tapi komitmen untuk menghormati waktumu sendiri.
  5. 5
    Hormati apa yang kamu rasakan Menekan kebutuhan emosionalmu untuk terlihat “santai” atau “tidak posesif” adalah bentuk penyangkalan diri. Kamu berhak merasakan, mengungkapkan, dan mendapatkan validasi atas perasaanmu.
✦ Kapan Sebuah HTS Bisa Menjadi Fondasi yang Sehat?
  • ✓Kedua pihak memiliki ekspektasi yang selaras dan tidak ada pihak yang diam-diam berharap lebih
  • ✓Komunikasi tetap terbuka, jujur, dan bebas dari permainan kekuasaan
  • ✓Kedua pihak merasa dihormati dan tidak ada yang merasa “dimanfaatkan” atau “dibiarkan menunggu”
  • ✓Ada pemahaman bersama bahwa ini adalah fase transisi dengan arah yang disepakati, bukan limbo tanpa akhir
❀

Pada akhirnya, HTS adalah cermin dari kompleksitas manusia modern: kita mendambakan koneksi, namun takut terluka. Kita ingin dicintai, namun enggan membuka diri sepenuhnya. Kita menginginkan kepastian, namun takut kehilangan kebebasan.

Tidak ada yang salah dengan ambiguitas di awal sebuah hubungan — itu adalah hal yang alami. Yang perlu diperhatikan adalah ketika ambiguitas bukan lagi kondisi sementara, melainkan menjadi fondasi dari hubungan itu sendiri. Karena jiwa manusia, bagaimanapun juga, tidak dirancang untuk hidup selamanya di antara dua jawaban.

Kamu berhak mendapatkan hubungan yang jelas, tulus, dan saling menghormati. Dan langkah pertama menuju itu bukan selalu dari orang lain — melainkan dari keberanianmu sendiri untuk mengakui apa yang sebenarnya kamu inginkan.

Cinta yang Baik Tidak Membuatmu Bertebak-tebak

Hubungan yang sehat memberi kamu ketenangan, bukan kecemasan. Kejelasan, bukan kebingungan. Dan ruang untuk menjadi dirimu sendiri — sepenuhnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *