Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Facial Feedback Hypothesis: Ekspresi Wajah Mempengaruhi Emosi

Emosi adalah bagian yang sangat mendasar bagi kehidupan manusia dan mengekspresikan emosi secara tepat adalah bagian dari kesehatan mental yang baik. Kita dapat menunjukkan emosi kita dengan banyak cara, tetapi cara tercepat dan paling umum adalah melalui ekspresi wajah. Tahukah kamu kalau ekspresi wajah bukan hanya berfungsi untuk menunjukkan perasaan kita kepada orang lain? Lebih dari itu, para ilmuwan telah mengemukakan sebuah hipotesis yang disebut facial feedback untuk menjelaskan lebih detail tentang hubungan antara ekspresi wajah dan emosi.

Facial feedback hypothesis menyatakan bahwa ekspresi wajah seseorang mempengaruhi emosi yang ada dalam dirinya. Jika hipotesis ini benar, maka kita tidak hanya tersenyum ketika kita merasa bahagia, tetapi tersenyum juga dapat membuat kita merasa bahagia, bahkan ketika kita mulai merasa sedih. Jika seperti ini, maka tindakan tersenyumlah yang menghasilkan perasaan bahagia, begitu pun dengan emosi-emosi yang lain.

Facial feedback hypothesis ini berawal dari pernyataan Charles Darwin yang menulis bahwa ekspresi wajah dapat memperkuat emosi, sedangkan menahan ekspresi dapat melemahkannya. Selain Charles darwin, tokoh yang memperkuat hipotesis ini adalah William James. James menyatakan bahwa kesadaran terhadap pengalaman tubuh adalah dasar dari emosi. Jadi, jika kita tahu ekspresi wajah kita adalah ekspresi yang berkaitkan dengan kesedihan, maka kita pun akan merasakan perasaan sedih.

Untuk menguji pengaruh ekspresi wajah dengan emosi dilakukan sebuah penelitian dengan tiga prosedur yang berbeda. Prosedur pertama, peserta diinstruksikan dengan jelas untuk mengadopsi ekspresi wajah yang relevan secara emosional. Prosedur kedua, peserta tidak diberitahukan makna emosional dari ekspresi yang mereka tampilkan, tetapi eksperimen akan menunjuk pada otot-otot wajah mana yang seharusnya berkontraksi. Prosedur ketiga, ekspresi wajah dirangsang oleh prosedur yang membutuhkan kontraksi otot tertentu dengan tujuan agar ekspresi wajah tidak memiliki makna emosional apa pun. Misalnya, peserta diminta untuk menggigit pena dengan gigi atau bibir untuk menghambat ekspresi tersenyum.

Ketiga prosedur berhasil membuktikan adanya pengaruh antara ekspresi wajah dengan emosi tertentu. Namun, ketiga metode ini memberikan interpretasi teoretis yang berbeda. Secara khusus, semakin besar kemungkinan rangsangan ekspresi wajah terkait dengan pengenalan makna emosional, maka semakin besar kemungkinan orang dapat menyimpulkan emosi yang mereka rasakan berdasarkan ekspresi wajah. Misalnya, orang akan menyimpulkanan bahwa jika mereka tersenyum, mereka pasti merasa senang. Artinya individu dapat menyimpulkan keadaan emosional mereka dari apa yang mereka lakukan.

Secara fisiologis, ekspresi wajah dapat mengatur volume khususnya suhu darah yang mengalir ke otak yang mempengaruhi korteks serebral. Ekspresi wajah juga terkait tindakan otot perifer, kelenjar, atau vaskular yang dapat mengubah pengalaman emosional. Penjelasan lain yang didasarkan pada bukti dari ilmu saraf mengidentifikasi bahwa ekspresi wajah yang terkait dengan emosi pendekatan (misalnya, kegembiraan) dikaitkan dengan aktivitas otak frontal kiri yang lebih dominan, sementara emosi penghindaran (misalnya, ketakutan dan kemarahan) dikaitkan dengan aktivasi frontal kanan yang lebih besar. Sedangkan jika ditinjau dari perspektif psikologis, facial feedback dapat dipahami sebagai hasil dari orientasi motivasi. Contohnya, asumsi bahwa perilaku positif memfasilitasi pemrosesan informasi positif, sedangkan perilaku negatif memfasilitasi pemrosesan informasi negatif.

Pada kesimpulannya jika kita biasanya berpikir bahwa emosi kitalah yang menentukan ekspresi wajah, maka facial feedback hypothesis memberikan gagasan yang berbeda. Facial feedback hypothesis telah mengasumsikan bahwa ekspresi dapat bekerja dalam arah yang berlawanan. Artinya, cara kita mengontraksikan otot-otot wajah kita dapat menimbulkan perasaan emosional dalam diri kita.

 

Referensi:

Iresearchnet.com. (2016, January 22). Facial-Feedback Hypothesis – IResearchNet. Iresearchnet.Com: Psychology Research and Reference. Retrieved October 14, 2021, from http://psychology.iresearchnet.com/social-psychology/emotions/facial-feedback-hypothesis/

Thomas, J. (2020, December 3). What Is The Facial-Feedback Hypothesis, & Does It Work? | BetterHelp. Betterhelp. Retrieved October 14, 2021, from https://www.betterhelp.com/advice/general/what-is-the-facial-feedback-hypothesis-does-it-work/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *