Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Cara Agar Tetap Tegak Walau Badai Menghadang

sumber: https://id.pngtree.com/freepng/hand-drawn-vector-cartoon-boat_5456154.html

Pernah gak ‘sih, Kita mengalami hari yang buruk? Rasanya seperti semua kejadian buruk bertubi-tubi datang di saat yang bersamaan.

 

Tadi siang Saya bertukar kabar dengan seorang teman lama. Dia sedang PKL untuk lima bulan ke depan di pelosok Kalimantan yang mengandalkan internet dari membeli paket wifi seharga sepuluh ribu rupiah hanya untuk tiga jam. Sebagai anak kota yang bernafas dengan internet, tentu ini merupakan masalah. Ia juga bercerita bahwa kuliahnya sedikit berantakan karena PKL-nya lebih lama daripada yang dia perkirakan sehingga berdampak pada pengerjaan skripsinya menjadi terhambat, menunda untuk mengulang matkul yang nilainya jelek, menunda mengikuti seminar-seminar yang menjadi syarat sidang skripsi nantinya. Wah, rasanya semua hal tersebut bertabrakan di waktu yang sama dan bikin pusing. Haduhhh!

 

Tapi begitulah hidup berjalan. Hal-hal terjadi diluar kendali Kita, sehingga rencana yang Kita susun menjadi berantakan dan seakan rumit terbentur sana-sini. Atau misalnya Kita sedang terpuruk alih-alih dapat lekas bangkit, Semesta malah berkonspirasi menambah keterpurukan Kita dengan hal-hal buruk lainnya. Lantas, apakah Kita akan menyerah? Atau adakah cara agar setidaknya Kita bisa memperbaiki keadaan?

 

Nah, berikut Saya berikan beberapa tips agar Kita bisa menguasai situasi dan tetap tegak walau badai menghadang.

 

Jangan berharap bahwa hidup akan berjalan dengan mulus

Seringkali Kita berekspektasi bahwa hal yang terjadi akan sama persis dengan apa yang Kita rencanakan. Misalnya, Kita berencana short escape ke Jogja. Pagi-pagi sampai di Bandara Adisutjipto, makan siang Gudeg Yu Djum, malamnya makan angkringan sambil menikmati suasana Malioboro. Indah banget.

 

Ketika Kita membayangkan hal yang indah-indah, seringkali Kita lupa bahwa hidup gak berjalan semulus itu. Dengan mengatur ekspektasi indah Kita terhadap sesuatu dapat mengurangi kekecewaan Kita jika hal yang tidak diinginkan benar-benar terjadi.

 

Sadari ketika Kita mulai mempersonalisasi keadaan

Saya seorang perantau dari Medan ke Bogor. Karena pandemi, Saya sudah dua kali lebaran tidak mudik. PSBB, PPKM, dan peraturan lainnya mungkin tidak terlalu berpengaruh bagi orang lain, atau bahkan hal yang baik bagi mereka misalnya mengurangi biaya transportasi untuk WFO. Tapi bagi Saya, hal-hal seperti adanya kelompok yang menolak divaksin membuat Saya kesal karena ini berarti herd immunity semakin lama tercapai dan mudik Sayapun semakin lama lagi akan terwujud. Butuh waktu hingga akhirnya Saya menyadari bahwa Saya sudah terlalu banyak mempersonalisasi keadaan sesuai dengan apa yang ideal bagi Saya padahal apa yang dilakukan orang lain merupakan di luar kuasa Saya.

 

Sayangi Dirimu Sendiri

Tanpa sadar Kita sering kali membanding-bandingkan diri sendiri dengan orang lain. Kita mengkritik diri sendiri ketika tidak bisa menguasai situasi, mengatasi masalah, kesedihan, kekecewaan, kegagalan, dan sebagainya dengan baik. Terbesit dalam pikiran Kita perkataan seperti, “Orang lain aja gak kenapa-napa ‘kok, mereka bakalan santai aja.” Nah, pada kejadian seperti ini, menayangi diri sendiri bakalan sangat membantu mengatasi pemikiran kurang tepat seperti tadi.

 

Pahami Apa yang Penting bagi Kita

Minggu lalu teman jauh Saya yang menderita lupus meninggal dunia, kemudian Saya juga baru tahu bahwa Vidi Aldiano beberapa tahun lalu sempat menderita kanker ginjal. Berita-berita ini mengagetkan Saya dan membuat Saya cemas padahal mereka bukanlah orang yang terlalu Saya kenal. Penting untuk menyadari bahwa tidak semua berita di luar sana penting untuk dipikirkan secara mendalam dan terus menerus yang akhirnya akan memicu kecemasan Kita muncul secara berlebihan.

 

Jauhi Berburuk Sangka dengan Kesialan yang Akan Tejadi

Jari Saya tergores ketika sedang memotong sayur pagi ini. Ketika itu perasaan Saya langsung kacau melihat darah yang terus menetes. Saya membayangkan bagaimana jika luka ini parah dan harus dijahit ke rumah sakit sementara situasi sedang pandemi begini dan Saya sudah ada janji beberapa jam dari sekarang. Kita sering menambah kekacauan situasi dengan pemikiran seperti ini, seakan kesialan akan terus datang bertubi-tubi bak habis jatuh pasti akan tertimpa tangga. Padahal kenyataannya situasi tidak benar-benar seperti yang dibayangkan. Beberapa saat setelah itu darahna sudah berhenti menetes dan Saya bisa menyelesaikan masakan Saya tanpa masalah.

 

Hindari Menjadi Deadliner

Umumnya, Kita tidak akan buntu ketika hal terjadi diluar rencana Kita jika Kita memiliki rencana-rencana cadangan dan tidak mendekati deadline. Misalnya, ketika Saya butuh mortar untuk praktikum hari senin, jika mortar tersebut kosong di toko langganan Saya ketika Saya berbelanja di hari rabu, maka Saya masih punya waktu untuk mencarinya di toko lain atau memesan melalui e-commerce dibanding jika Saya sepele dan baru mencari mortar tersebut di hari sabtu.

 

Jadikan Kesempatan untuk Berkembang

Ketika hal terjadi di luar rencana Kita, sebenarnya ini adalah kesempatan yang tepat untuk melatih kekurangan atau menguatkan kelebihan Kita. Kita bisa bertanya pada diri sendiri, “kemampuan apa yang bisa Saya gunakan untuk kesempatan ini?” Misalnya ketika mobil Saya rusak, daripada merasa ini adalah kesialan, lebih baik berpikir bahwa ini adalah kesempatan yang bagus untuk melatih komunikasi Saya dengan meminta tolong tetangga sebelah.

 

Berita buruk memang menjengkelkan. Hal-hal terjadi tidak semestinya juga dapat membuat Kita kesal walaupun itu kesalahan kecil. Kita tidak bisa mengatur hal-hal yang akan terjadi, tapi Kita bisa mengatur bagaimana Kita merespon situasi tersebut dengan lebih baik.

 

Referensi : https://www.psychologytoday.com/intl/blog/in-practice/202108/7-ways-cope-when-life-gets-tough

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *