Di tengah populernya istilah psikologi dalam percakapan sehari-hari, kata gaslighting telah berubah menjadi label serba guna yang sering ditujukan pada setiap bentuk ketidaksepakatan, perbedaan ingatan, atau perilaku menyebalkan dalam sebuah hubungan, padahal tidak semua dinamika emosional yang tak menyenangkan merupakan bentuk manipulasi psikologis yang berbahaya.
Dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir, literasi kesehatan mental mengalami peningkatan yang sangat pesat di masyarakat global. Istilah-istilah klinis yang dahulu hanya ditemukan di dalam ruang terapi atau jurnal ilmiah, kini berseliweran bebas di media sosial seperti TikTok, Instagram, hingga perbincangan santai di kedai kopi. Fenomena yang dikenal oleh para ahli sebagai therapy speak atau “bahasa terapi” ini memiliki sisi positif, yakni meningkatnya kesadaran publik terhadap kesehatan emosional. Namun, di sisi lain, fenomena ini melahirkan masalah baru: penggunaan istilah klinis secara tidak tepat dan berlebihan.
Salah satu kata yang paling sering mengalami penyimpangan makna adalah gaslighting. Istilah ini berasal dari drama panggung tahun 1938 berjudul Gas Light (dan diadaptasi menjadi film terkenal pada tahun 1944), di mana seorang suami secara sistematis manipulatif meyakinkan istrinya bahwa sang istri telah kehilangan akal sehatnya. Secara klinis, gaslighting didefinisikan sebagai bentuk manipulasi psikologis secara kronis dan terselubung yang bertujuan untuk membuat korban meragukan persepsi, ingatan, pertimbangan, atau kesehatan mental mereka sendiri demi memperoleh kontrol dan kekuasaan penuh atas korban tersebut.
Namun saat ini, ketika seseorang berbeda pendapat dengan pasangannya, lupa menyimpan kunci mobil, atau membatalkan janji secara sepihak, tidak jarang tuduhan “kamu melakukan gaslighting padaku!” langsung dilontarkan. Para psikolog, psikiater, dan pakar hubungan menyatakan keprihatinan mereka terhadap salah kaprah ini. Ketika istilah medis seberat gaslighting digunakan secara asal-asalan untuk melabeli ketidaknyamanan biasa, makna asli dari kekerasan emosional tersebut menjadi pudar, dan dinamika hubungan justru menjadi kian beracun akibat label salah sasaran.
Penggunaan istilah psikologi di publik mengalami pergeseran signifikan menurut survei dan studi kesehatan mental terkini:
Untuk meluruskan pemahaman publik dan membangun komunikasi yang lebih sehat dalam berhubungan, para pakar psikologi menggarisbawahi perbedaan tegas antara dinamika hubungan yang mengecewakan dengan manipulasi gaslighting yang sebenarnya. Berikut adalah 7 hal yang sering dianggap sebagai gaslighting, padahal sebenarnya bukan, menurut analisis para psikolog dan literatur kesehatan mental bereputasi.
1. Seseorang yang Memiliki Ingatan Berbeda dari Anda
Manusia bukanlah perekam video digital yang mencatat setiap peristiwa secara objektif dan sempurna. Otak manusia memproses informasi melalui filter persepsi, emosi, tingkat kelelahan, dan latar belakang pribadi masing-masing. Ketika Anda dan pasangan berdebat mengenai kronologi suatu peristiwa—misalnya siapa yang pertama kali memunculkan ide liburan, atau kalimat persis apa yang diucapkan saat makan malam minggu lalu—perbedaan sudut pandang tersebut adalah hal yang wajar dalam kognisi manusia.
Banyak orang tergesa-gesa menuduh pasangannya melakukan gaslighting saat sang pasangan berkata, “Aku tidak pernah mengatakan hal itu,” atau “Setahuku peristiwanya tidak seperti itu.” Padahal, dalam banyak kasus, pasangan tersebut memang secara jujur mengingat peristiwa itu secara berbeda. Ini dikenal dalam dunia psikologi kognitif sebagai distorsi memori alami.
Perbedaan mendasar antara ingatan yang berbeda dan gaslighting terletak pada niat dan pola. Seseorang yang sekadar lupa atau salah ingat akan terbuka untuk berdiskusi dan mendengarkan versi Anda, meskipun mungkin mereka tetap tidak mengingatnya. Sebaliknya, pelaku gaslighting menggunakan perbedaan ingatan sebagai senjata berulang untuk meruntuhkan kepercayaan diri Anda terhadap akal sehat Anda sendiri.
2. Menyatakan Pendapat atau Sudut Pandang yang Berbeda
Perbedaan opini adalah fondasi dari setiap interaksi manusia. Namun di era di mana validasi emosional sangat diagungkan, muncul kecenderungan di mana seseorang merasa bahwa jika orang lain tidak menyetujui atau mempercayai sudut pandangnya, maka orang tersebut sedang mencoba memanipulasi kenyataan mereka.
Jika pasangan Anda berkata, “Menurutku film itu sangat membosankan,” sementara Anda menganggapnya mahakarya, atau ketika rekan kerja Anda merasa suatu proyek berjalan gagal sementara Anda menganggapnya sukses, itu bukanlah gaslighting. Itu adalah kebebasan berpendapat dan perbedaan persepsi nilai. Mengkritik argumen Anda atau tidak setuju dengan interpretasi Anda atas suatu peristiwa tidak serta-merta berarti mereka sedang menghancurkan realitas Anda.
Mengutip ulasan kesehatan mental dari publikasi terkemuka seperti Verywell Mind dan Harvard Health Publishing, hubungan yang sehat justru membutuhkan ruang untuk ketidaksepakatan. Pasangan yang saling menghormati bisa memiliki interpretasi yang sama sekali bertolak belakang mengenai suatu situasi tanpa ada pihak yang mencoba mengendalikan pihak lain.
3. Mengungkapkan Perasaan yang Tidak Nyaman atau Menyalahkan Anda
Menjelaskan kepada seseorang bagaimana tindakan mereka berdampak negatif pada emosi Anda sering kali memicu rasa bersalah pada pihak yang dikritik. Sayangnya, untuk menghindari rasa bersalah atau tanggung jawab tersebut, sebagian orang menggunakan tuduhan gaslighting sebagai perisai pertahanan diri.
Sebagai contoh, jika pasangan Anda datang dan berkata dengan jujur, “Ketika kamu sibuk bertelepon saat aku sedang bicara, aku merasa tidak dihargai dan diabaikan,” ini adalah bentuk komunikasi emosional yang jujur dan rentan. Perilaku ini sama sekali bukan gaslighting. Bahkan jika pasangan Anda mengekspresikan kekecewaan, kejengkelan, atau kemarahan atas tindakan Anda, mereka hanya sedang membagikan realitas internal mereka.
Pelaku gaslighting tidak membagikan perasaan mereka secara rentan; mereka memutarbalikkan fakta untuk membuat Anda merasa bahwa reaksi emosional Anda yang sah adalah bukti bahwa Anda “gila,” “terlalu sensitif,” atau “paranoid.”
4. Menolak Berkomunikasi atau Membutuhkan Ruang (Stonewalling / Boundaries)
Saat perselisihan memuncak, salah satu pihak mungkin memilih untuk berdiam diri, menghentikan pembicaraan, atau meminta waktu untuk menyendiri. Perilaku ini sering dikeluhkan sebagai bentuk kekejaman mental dan tak jarang disatukan dengan istilah gaslighting.
Para pakar hubungan dari Gottman Institute membedakan secara tegas antara menetapkan batasan emosional (setting boundaries) dengan tindakan manipulasi. Ketika seseorang merasa luapan emosinya sudah terlalu penuh (emotional flooding) dan berkata, “Aku sangat marah saat ini dan aku tidak bisa berpikir jernih. Aku butuh waktu tenang selama 30 menit sebelum kita melanjutkan pembicaraan ini,” tindakan tersebut adalah bentuk regulasi emosi yang sangat sehat.
Meskipun penolakan untuk berbicara saat itu juga terasa menyakitkan atau memicu kecemasan bagi pihak yang lain, menunda percakapan untuk menenangkan diri bukanlah gaslighting. Perilaku ini baru berubah menjadi toksik (dikenal sebagai stonewalling beracun) jika digunakan secara sengaja untuk mengabaikan, memelihara hukuman tanpa batas waktu, dan menolak menyelesaikan masalah secara permanen. Namun sekali lagi, stonewalling pun merupakan taktik komunikasi buruk yang terpisah, bukan tindakan mengubah persepsi realitas seperti pada gaslighting.
5. Berbohong Sekali Waktu atau Melakukan Kebohongan Kecil (White Lies)
Secara etika, berbohong memang tindakan yang tidak benar dalam sebuah hubungan. Namun, dari sudut pandang psikologi klinis, setiap kebohongan bukanlah gaslighting. Ini adalah kekeliruan konsep yang paling umum terjadi di masyarakat luas.
Seseorang mungkin berbohong karena berbagai alasan manusiawi yang dangkal: takut dimarahi, merasa malu, ingin menghindari konflik singkat, atau mencoba melindungi perasaan orang lain. Misalnya, ketika pasangan Anda menyembunyikan fakta bahwa ia membeli sepatu baru yang mahal, atau berbohong tentang alasan ia terlambat datang. Perilaku ini adalah kebohongan biasa (atau ketidakjujuran biasa) yang menandakan kurangnya integritas atau rasa takut akan konfrontasi.
Bertujuan menyembunyikan suatu fakta atau kesalahan spesifik demi menghindari konsekuensi atau konflik sesaat.
Bertujuan merusak rasa percaya diri korban terhadap ingatan dan kewarasan mereka sendiri agar korban bergantung sepenuhnya pada narasi pelaku.
Ketika seseorang melakukan gaslighting, kebohongan bukanlah tujuan akhir. Kebohongan hanyalah alat untuk meruntuhkan pijakan realitas korban. Jika seseorang berbohong tetapi saat terbukti salah ia akhirnya mengaku dan merasa bersalah, ia tidak sedang melakukan gaslighting—ia hanya sedang bersikap tidak jujur.
6. Menolak Melakukan Apa yang Anda Inginkan (Memasang Batasan)
Dalam dinamika hubungan romantis maupun pertemanan, menetapkan batasan pribadi (personal boundaries) sering kali menimbulkan rasa kecewa pada pihak yang permintaannya ditolak. Ketika seseorang menolak memenuhi kehendak kita, ego kita secara otomatis merasa terserang.
Sebagai contoh, jika Anda meminta pasangan untuk tidak lagi berteman dengan rekan kerjanya, lalu pasangan Anda menjawab, “Aku menyayangimu, tetapi aku berhak memilih teman-temanku sendiri dan aku tidak akan memutuskan komunikasi profesional dengannya,” ini adalah bentuk penegakan batasan pribadi yang sehat. Pasangan Anda tidak sedang mencoba membuat Anda meragukan akal sehat Anda; mereka hanya menolak untuk dikontrol.
Tuduhan gaslighting sering kali dijadikan senjata oleh individu yang memiliki kecenderungan mengontrol ketika batasan mereka ditolak. Mengklaim bahwa seseorang “memanipulasi” Anda hanya karena mereka berkata “tidak” pada keinginan Anda adalah bentuk salah guna istilah psikologi yang merusak makna kebebasan individu.
7. Perubahan Perasaan atau Ketidakpastian dalam Hubungan
Perasaan manusia bersifat dinamis dan kompleks. Seseorang bisa sangat mencintai pasangannya pada satu fase kehidupan, namun seiring berjalannya waktu, rasa cinta itu berkurang atau pandangan hidup mereka berubah. Mengalami perubahan perasaan atau merasa ragu terhadap masa depan hubungan adalah pengalaman emosional yang sangat umum, meski menyakitkan.
Ketika seseorang jujur dan berkata, “Aku merasa hubungan kita tidak lagi berjalan seperti dulu, dan aku tidak tahu apakah aku masih memiliki perasaan yang sama,” ini merupakan kejujuran emosional yang pahit, bukan gaslighting. Bahkan jika mereka sempat mengatakan “Aku akan mencintaimu selamanya” di masa lalu, perubahan perasaan di masa kini bukanlah bukti manipulasi historis.
Gaslighting dalam ranah perasaan hanya terjadi jika seseorang secara aktif berpura-pura mencintai Anda sambil secara sistematis menyabotase kesehatan emosional Anda dari belakang, atau menyalahkan Anda sepenuhnya atas perubahan perasaan mereka dengan mengatakan hal-hal seperti, “Aku jadi tidak mencintaimu lagi karena kamu yang membuatku gila.”
Mengapa Menggunakan Istilah dengan Tepat Sangat Penting?
Mengapa kita harus peduli dengan perbedaan tipis antara kebiasaan buruk, perselisihan biasa, dan gaslighting yang sebenarnya? Para pakar kesehatan mental yang mempublikasikan karyanya di platform ternama seperti New York Times dan Forbes Health menekankan beberapa alasan krusial:
Pertama, pencemaran makna kosa kata klinis. Ketika semua bentuk ketidaksepakatan disebut gaslighting, kita kehilangan kata untuk mendeskripsikan kekerasan psikologis yang sesungguhnya. Korban asli dari manipulasi gaslighting—mereka yang benar-benar kehilangan rasa percaya pada ingatan dan akal sehat mereka akibat siksaan mental terselubung—menjadi semakin sulit mengidentifikasi trauma mereka atau mendapatkan empati yang layak dari masyarakat.
Kedua, merusak komunikasi dalam hubungan. Menggunakan kata “gaslighting” dalam perselisihan rumah tangga atau pertemanan seperti melempar bom atom ke dalam ruang percakapan. Istilah tersebut membawa konotasi jahat dan manipulatif. Ketika Anda menuduh pasangan melakukan gaslighting padahal ia hanya sekadar salah ingat, pasangan Anda akan secara otomatis bersikap defensif. Percakapan konstruktif untuk mencari penyelesaian masalah pun seketika terhenti dan berganti menjadi perang label.
Sebelum menuduh seseorang melakukan gaslighting, tanyakan pada diri sendiri tiga pertanyaan kunci ini: 1) Apakah orang ini sengaja mencoba membuat saya meragukan kewarasan saya? 2) Apakah ini merupakan pola manipulasi yang berulang dan sistematis? 3) Atau apakah ini hanya perbedaan pendapat, kegagalan ingatan, atau komunikasi yang tidak sempurna?
Memahami batas-batas istilah psikologi membantu kita menjadi individu yang lebih matang secara emosional. Hubungan yang sehat tidak membutuhkan istilah-istilah keren yang disalahgunakan, melainkan membutuhkan kerendahan hati untuk menerima perbedaan, kesediaan untuk mendengarkan, serta empati dalam menyelesaikan konflik interpersonal sehari-hari.