Bereavement adalah periode kesedihan saat seseorang kehilangan orang yang ia cintai dan waktu yang dihabiskan untuk menyesuaikan diri dengan kehilangan itu. Kematian orang yang dicintai adalah salah satu kesedihan terbesar yang dapat terjadi dalam hidup. Kehilangan pasangan, sahabat, saudara, ataupun orang tua pasti akan berdampak pada kehidupan seseorang.
Sejauh ini tidak ada batasan waktu standar dan cara yang benar atau salah saat berkabung. Respons orang terhadap kesedihan akibat kehilangan orang yang dicintai akan berbeda-beda, tetapi respons yang umum adalah insomnia, kemarahan, mati rasa, keputusasaan, dan penurunan berat badan secara tiba-tiba. Jika bereavement berlangsung dalam jangka waktu yang lama, maka seseorang dapat menderita depresi. Perasaan sedih dan bersalah tidak berhenti dan semakin rumit hingga membuat seseorang menjadi merasa tidak berharga.
Bereavement tidak harus dipandang sebagai masa pemulihan, karena belum tentu seseorang akan kembali menjadi dirinya seutuhnya seperti sebelum kehilangan. Ditinggalkan orang yang kita cintai adalah proses yang dapat meninggalkan perubahan jangka panjang. Jadi, cara terbaik yang bisa dilakukan adalah memperlakukan bereavement sebagai salah satu penerimaan, penyesuaian, dan kenangan.
Tahapan Bereavement:
Berikut ini tahap-tahap bereavement secara umum, meskipun tidak harus dalam intensitas atau urutan yang sama:
1. Merasakan Emosi
Kehilangan tidak hanya akan memunculkan kesedihan, tetapi juga emosi-emosi lain yang menyertainya, seperti menyalahkan diri sendiri, marah, tidak berharga, putus asa, kesepian, mati rasa, dan hilang harapan. Apa pun yang kita rasakan, penting untuk membiarkan diri sendiri mengatasi emosi-emosi ini tanpa menekannya, sesakit apa pun.
2. Mencoba Menyesuaikan
Tahap ini akan bergantung pada hubungan yang kita miliki dengan orang yang meninggal. Jika ia adalah bagian dari kehidupan sehari-hari, perubahannya akan sangat banyak sehingga proses penyesuaian diri bisa memakan waktu lama dan sulit. Beri diri kitaa waktu hingga pada akhirnya kitaa akan merasa lebih mampu untuk menjalani kehidupan sehari-hari tanpa mereka.
3. Penerimaan
Mungkin akan sangat sulit untuk memahami bahwa seseorang tidak ada lagi bersama kita dan proses ini dapat memakan waktu yang lama. Penerimaan dapat terasa seperti datang dan pergi sebelum benar-benar tertanam dalam diri.
4. Move on
Kita mungkin berpikir kalau kita akan berduka selamanya, tetapi pada waktunya setiap orang akan mulai move on dari kesedihannya. Ketika kita sudah bisa move on jangan merasa bersalah ini adalah perkembangan yang alami. Bukan karena kita melupakan orang yang telah pergi meninggalkan kita, tetapi ini adalah tanda bahwa kita bisa mengatasi kesedihan.
Seseorang mungkin merasa dirinya berhenti pada tahap tertentu dan merasa tidak mampu untuk melanjutkan ke tahap berikutnya. Jika kamu atau ada orang terdekatmu yang berada dalam situasi ini, mungkin dapat mempertimbangkan untuk mendapatkan dukungan profesional, seperti psikolog atau psikiater.
Mengelola Perasaan Duka
Perasaan duka sangat bersifat pribadi dan setiap orang memiliki cara yang berbeda untuk melewatinya, bahkan meskipun kehilangan orang yang sama. Namun, ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengelola perasaan duka akibat kehilangan. Salah satu hal yang dapat kamu lakukan adalah curhat dengan orang terdekat, seperti sahabat, pasangan, atau kerabat lain. Kamu juga bisa melakukan konseling pada psikolog atau psikiater. Ketika seseorang berbicara tentang ingatan dan perasaan yang ia rasakan saat kehilangan, ini akan membantu untuk memproses emosi dan mengatasinya. Jangan mengasingkan diri atau menghindar dari perasaan sendiri. Bersikaplah terbuka untuk meminta dukungan dan bantuan orang sekitar ketika membutuhkan. Jangan lupa makan makanan sehat dan istirahat yang cukup. Kasihi dan berikan diri waktu dan ruang untuk berduka dengan caranya sendiri. Jangan merasa bersalah saat kamu sudah bisa ‘melupakan’ atau saat kamu bisa tertawa atau menikmati diri sendiri. Seperti yang dikatakan seorang terapis “mengingat begitu menyakitkan sehingga kita mencoba untuk melupakan; melupakan begitu menyakitkan sehingga kita harus mengingatnya”.
Referensi:
Moore, L. (2021, September 9). What Are the Symptoms of Bereavement? Psych Central. https://psychcentral.com/disorders/bereavement-symptoms#risk-factors
Psychology Today. (2021, August 17). Bereavement. https://www.psychologytoday.com/us/conditions/bereavement
Welldoing. (2019, April 30). Bereavement. https://welldoing.org/therapy/bereavement