Mengapa Wanita Dewasa
Masih Menyukai Boneka
di Usia 30 Tahun ke Atas
Lebih dari sekadar nostalgia — ini adalah bahasa emosi, identitas, dan kebutuhan psikologis yang dalam.
Di sudut kamar seorang wanita berusia 34 tahun, duduk dengan rapih sebuah koleksi boneka rajut buatan tangan, boneka karakter anime, dan satu boneka beruang usang yang telah menemaninya sejak kecil. Bagi sebagian orang, pemandangan ini mungkin tampak mengherankan — bahkan dianggap “tidak sesuai usia”. Namun bagi jutaan wanita dewasa di seluruh dunia, boneka bukan sekadar mainan. Boneka adalah objek yang sarat makna, penuh nilai emosional, dan memiliki fungsi psikologis yang kompleks.
Fenomena ini lebih umum dari yang kita bayangkan. Survei global menunjukkan bahwa pasar boneka koleksi untuk orang dewasa terus tumbuh signifikan. Pertanyaan yang kemudian muncul bukan lagi “apakah ini normal?” — melainkan “mengapa ini terjadi, dan apa yang sesungguhnya disampaikan oleh keterikatan ini?”
Artikel ini berupaya menjawab pertanyaan tersebut secara mendalam, dengan mengacu pada temuan-temuan dari psikologi perkembangan, neurosains afeksi, dan studi budaya pop kontemporer.
Objek Transisional: Akar Keterikatan yang Bertahan
Untuk memahami mengapa boneka memiliki tempat khusus di hati wanita dewasa, kita perlu kembali ke dasar psikologi perkembangan. Ahli pediatri dan psikoanalisis Donald W. Winnicott memperkenalkan konsep transitional object (objek transisional) pada tahun 1953. Ia mendefinisikannya sebagai benda fisik pertama yang diakui seorang anak sebagai “bukan-aku” namun tetap merupakan bagian dari dunia emosionalnya — jembatan antara dunia internal dan eksternal.
Boneka, selimut, atau mainan menjadi objek yang memberikan rasa aman ketika figur lekat (biasanya ibu) tidak hadir. Yang menakjubkan, Winnicott sendiri mencatat bahwa fungsi ini tidak sepenuhnya hilang ketika seseorang dewasa — ia hanya bertransformasi ke dalam seni, agama, kebiasaan budaya, dan tentu saja, koleksi objek bermakna.
Winnicott (1953) dalam “Transitional Objects and Transitional Phenomena” menyatakan bahwa objek transisional memainkan peran penting dalam perkembangan psikologis individu, dan jejak fungsinya dapat bertahan hingga masa dewasa dalam bentuk yang lebih sublim — termasuk keterikatan pada objek-objek personal yang bermakna secara emosional.
Winnicott, D.W. (1953). International Journal of Psycho-Analysis, 34, 89–97.Dengan kata lain, wanita dewasa yang merasa tenang saat memeluk boneka kesayangannya bukan sedang “bertindak seperti anak kecil” — ia sedang mengakses mekanisme regulasi emosi yang secara psikologis sangat valid dan berakar dalam sejarah perkembangan dirinya sendiri.
Neurosains Kelucuan: Respons Otak terhadap “Cute”
Pernahkah Anda bertanya mengapa melihat boneka dengan mata besar dan pipi bulat langsung membuat hati terasa hangat? Ini bukan kebetulan estetika. Ini adalah mekanisme neurologis yang disebut Kindchenschema (skema bayi), pertama kali diidentifikasi oleh etologis Konrad Lorenz pada tahun 1943.
Lorenz menemukan bahwa manusia dan banyak mamalia secara instinktif tertarik pada fitur-fitur yang menyerupai bayi: kepala besar, mata lebar, hidung kecil, dan tubuh gemuk. Fitur-fitur ini memicu respons pengasuhan yang kuat di otak — melepaskan oksitosin, hormon yang sama yang bekerja saat menyusui, berpelukan, atau jatuh cinta.
Penelitian oleh Glocker et al. (2009) yang diterbitkan di jurnal PNAS (Proceedings of the National Academy of Sciences) menemukan bahwa manipulasi fitur wajah bayi secara eksperimental terbukti mengaktifkan nucleus accumbens — pusat reward otak manusia — pada orang dewasa, terlepas dari jenis kelamin. Wajah-wajah dengan fitur Kindchenschema yang lebih kuat dinilai lebih menggemaskan dan memotivasi keinginan untuk mengasuh.
Glocker, M.L. et al. (2009). PNAS, 106(22), 9115–9119. doi:10.1073/pnas.0811620106Boneka — khususnya yang dirancang dengan estetika kawaii, chibi, atau rag doll — secara deliberat memanfaatkan prinsip Kindchenschema. Setiap kali seorang wanita dewasa menatap boneka kesayangannya, otaknya merespons dengan cara yang serupa dengan merespons wajah bayi: penuh kelembutan, dorongan untuk menjaga, dan rasa hangat yang menenangkan.
“Keterikatan emosional manusia terhadap objek yang memiliki fitur wajah bukan sekadar romantisme — ini adalah hardwiring evolusioner yang sangat mendalam.”
— Adaptasi dari Lorenz, K. (1943). Studies in Animal and Human BehaviorRegulasi Emosi dan Kenyamanan Psikologis
Kehidupan seorang wanita di usia 30-an kerap dipenuhi tanggung jawab yang kompleks: karier, hubungan, mungkin parenting, atau tekanan sosial yang tiada henti. Di tengah semua itu, kebutuhan akan rasa aman dan kenyamanan tidak lenyap — justru semakin tinggi.
Penelitian dalam psikologi klinis menunjukkan bahwa manusia secara umum menggunakan berbagai strategi regulasi emosi untuk menghadapi stres. Salah satu strategi yang tidak banyak dibahas secara terbuka — namun sangat efektif — adalah melalui comfort objects atau objek penghibur.
Behnke, Eichenberg & Zerbe (2020) dalam studi mereka tentang orang dewasa yang mempertahankan attachment pada objek dari masa kecil menemukan bahwa individu yang masih memiliki ikatan emosional dengan objek-objek tersebut cenderung menunjukkan kecerdasan emosional yang lebih tinggi dan kemampuan regulasi emosi yang lebih baik, bukan sebaliknya. Temuan ini menantang stigma bahwa keterikatan pada boneka adalah tanda imaturitas.
Behnke, J., Eichenberg, C., & Zerbe, A. (2020). European Journal of Developmental Psychology, 17(3), 345–362.Menariknya, peneliti menemukan bahwa keterikatan ini bersifat flexible dan adaptif. Artinya, wanita yang memiliki boneka sebagai comfort object tidak menggantungkan seluruh kesehatan mentalnya pada benda tersebut — melainkan menggunakannya sebagai satu di antara banyak strategi koping yang sehat.
Bayangkan seorang wanita yang pulang kerja setelah meeting melelahkan, lalu duduk sejenak sambil memeluk boneka berbulu di sofa. Itu bukan kelemahan — itu adalah act of self-care yang disengaja, sebuah sinyal kepada diri sendiri bahwa “kamu aman, kamu bisa istirahat sekarang.”
Poin Kunci: Regulasi emosi melalui comfort object bukan tanda regresi psikologis. Penelitian justru menunjukkan korelasi positif antara keterikatan adaptif pada objek bermakna dengan kesehatan emosional yang lebih baik pada orang dewasa.
Nostalgia sebagai Sumber Kekuatan
Boneka sering kali adalah portal waktu. Ia membawa kita kembali ke masa ketika dunia terasa lebih sederhana, lebih aman, dan lebih penuh kemungkinan. Ini adalah fungsi nostalgia — dan dalam dua dekade terakhir, psikologi telah merevolusi pemahaman kita tentang emosi yang satu ini.
Dulu, nostalgia dianggap sebagai kondisi melankolis yang merugikan — semacam kerinduan menyakitkan akan masa lalu yang tak bisa kembali. Namun riset kontemporer menunjukkan pandangan yang jauh lebih nuansi dan positif.
Sedikides, Wildschut, & Baden (2004) dari University of Southampton mengembangkan kerangka ilmiah pertama tentang nostalgia sebagai emosi yang secara fungsional positif. Riset mereka menemukan bahwa nostalgia meningkatkan perasaan kontinuitas diri, memperkuat harga diri, meningkatkan koneksi sosial yang dirasakan, dan bahkan memberikan makna pada kehidupan. Boneka koleksi yang memiliki sejarah personal berfungsi sebagai “anchor” nostalgia yang konkret dan bisa dipegang secara harfiah.
Sedikides, C., Wildschut, T., & Baden, D. (2004). Psychological Inquiry, 15(3), 235–238.Bagi wanita dewasa, boneka dari masa kecil tidak hanya menyimpan kenangan — ia menyimpan versi diri yang lebih muda, yang mungkin lebih bebas, lebih bermain, lebih tidak terbebani. Menatap atau memegang boneka itu adalah cara mengingatkan diri bahwa perjalanan hidup ini utuh, memiliki akar, dan berkelanjutan.
Sementara itu, boneka baru yang dibeli saat dewasa bisa menjadi cara untuk “memberi hadiah” kepada diri sendiri — merayakan pencapaian, menghibur diri saat sedih, atau mengekspresikan sisi kepribadian yang mungkin tidak selalu mendapat tempat dalam keseharian yang penuh tuntutan.
Ekspresi Identitas dan Kreativitas
Mengoleksi boneka bagi banyak wanita dewasa bukanlah pasif — ia adalah praktik aktif ekspresi diri. Pilihan boneka yang dikumpulkan — dari karakter anime spesifik, boneka artisan buatan tangan, hingga reborn doll yang menyerupai bayi sungguhan — mencerminkan nilai-nilai estetika, minat personal, bahkan pandangan dunia pemiliknya.
Dalam kerangka teori identitas sosial yang dikembangkan Tajfel & Turner (1979), objek-objek yang kita pilih untuk berada di sekitar kita berfungsi sebagai penanda dan konstruktor identitas. Kita tidak hanya memiliki boneka — kita meng-kurasi dunia visual di sekitar kita sebagai cerminan siapa kita dan apa yang kita hargai.
- ✓ Boneka karakter: Menunjukkan afiliasi dengan komunitas (anime, gaming, film tertentu) dan menjadi medium koneksi sosial dengan orang-orang yang memiliki minat sama.
- ✓ Boneka handmade/artisan: Mengekspresikan apresiasi terhadap kerajinan tangan, keaslian, dan penolakan terhadap produksi massal — suatu pernyataan nilai estetika dan etika.
- ✓ Reborn dolls: Sering dipilih oleh wanita yang mengalami kehilangan (keguguran, empty nest syndrome) sebagai cara memproses duka dan kebutuhan pengasuhan yang tidak tersalurkan.
- ✓ Boneka vintage: Menjadi medium koneksi dengan sejarah, memori kolektif, dan estetika era tertentu yang dianggap bermakna secara personal atau kultural.
Jenkins & Shresthova (2012) dalam riset tentang fandom dan budaya partisipatif menemukan bahwa koleksi figur dan boneka karakter adalah bentuk ekspresi kreatif yang sah — sebuah cara membaca ulang, merayakan, dan berpartisipasi dalam narasi budaya yang bermakna bagi individu. Koleksi ini bukan konsumsi pasif, melainkan konstruksi identitas yang aktif.
Jenkins, H., & Shresthova, S. (2012). Transformative Works and Cultures, 10.Dimensi Gender: Mengapa Lebih Banyak Wanita?
Pertanyaan yang menarik untuk diajukan adalah: mengapa fenomena ini secara budaya lebih sering diasosiasikan dengan wanita dibanding pria? Jawabannya berakar pada konstruksi sosial gender yang kompleks, bukan pada perbedaan biologis semata.
Sejak kecil, anak perempuan secara konsisten diarahkan — melalui iklan, pilihan hadiah, dan ekspektasi orang tua — untuk bermain dengan boneka. Mainan ini dikodekan sebagai “mainan perempuan” dan membawa serta seluruh skript sosial tentang pengasuhan, kelembutan, dan relasi emosional. Sementara itu, anak laki-laki diarahkan ke mainan yang menekankan aksi, kompetisi, dan konstruksi.
Akibatnya, keterikatan emosional terhadap boneka pada wanita dewasa sebagian mencerminkan kontinuitas pengalaman — sebuah jalur yang secara sosial tidak pernah sepenuhnya ditutup. Pada pria, keterikatan serupa (misalnya pada action figure atau model kit) sering diperlakukan secara berbeda secara sosial, meski secara psikologis memiliki fungsi yang ekuivalen.
“Apa yang kita sebut ‘mainan perempuan’ adalah lebih tepatnya ‘mainan emosional’ — objek yang mengundang relasi, narasi, dan perasaan — dan tidak ada alasan ilmiah mengapa domain ini hanya milik satu gender.”
— Adaptasi dari Bem, S.L. (1993). The Lenses of Gender, Yale University PressPenting juga dicatat bahwa di era kontemporer, batas-batas ini mulai mencair. Komunitas doll collectors kini semakin inklusif gender, dengan banyak pria yang secara terbuka mengoleksi boneka karakter, resin figures, dan sejenisnya tanpa stigma yang sebesar sebelumnya — khususnya dalam komunitas anime, gaming, dan seni rupa.
Kapan Keterikatan Ini Perlu Diperhatikan?
Dengan semua pemaparan di atas, penting untuk menegaskan satu hal: mayoritas besar wanita dewasa yang menyukai boneka melakukannya dalam batas-batas yang sehat dan adaptif. Namun, seperti halnya semua perilaku manusia, ada spektrum yang perlu dikenali.
Psikolog klinis menyarankan untuk memperhatikan jika keterikatan pada boneka mulai berfungsi sebagai replacement total untuk hubungan manusia — bukan sebagai komplemen — atau jika ia digunakan secara obsesif untuk menghindari pemrosesan trauma yang membutuhkan penanganan profesional.
Garis batas yang sehat: Boneka sebagai comfort object, ekspresi kreatif, medium nostalgia, atau praktik koleksi = sehat dan valid. Boneka sebagai pengganti koneksi manusia secara total, atau sebagai cara menghindari realitas yang diperlukan = perlu dibicarakan dengan profesional.
Dalam konteks terapi, boneka bahkan digunakan sebagai alat terapeutik yang sah. Doll therapy telah terbukti efektif dalam mengurangi agitasi pada pasien demensia (Bisiani & Angus, 2013) dan digunakan dalam play therapy untuk berbagai kelompok usia. Ini semakin memperkuat pandangan bahwa objek-objek seperti boneka memiliki nilai psikologis yang nyata dan diakui secara klinis.
Bisiani & Angus (2013) dalam tinjauan sistematis mereka di jurnal Dementia menemukan bahwa doll therapy secara signifikan mengurangi agitasi, meningkatkan ketenangan, dan memperbaiki kualitas interaksi sosial pada pasien dengan demensia. Temuan ini mengilustrasikan betapa kuatnya potensi terapeutik dari objek sederhana seperti boneka ketika digunakan dengan tepat.
Bisiani, L., & Angus, J. (2013). Dementia, 12(4), 447–462. doi:10.1177/1471301211431632Menyukai boneka di usia 30 tahun ke atas bukan tanda bahwa seorang wanita belum “dewasa”. Justru sebaliknya — ia adalah tanda bahwa ia cukup mengenal dirinya sendiri untuk tahu apa yang membuatnya merasa aman, bahagia, dan utuh. Itu adalah kedewasaan emosional dalam wujud yang paling jujur.