Dalam sebuah hubungan, lupa membalas pesan, kehilangan fokus ketika pasangan berbicara, atau gagal menyelesaikan sesuatu yang sudah dijanjikan dapat terasa seperti masalah perhatian atau kepedulian. Pada orang dewasa dengan ADHD, persoalannya bisa jauh lebih kompleks: gejala ADHD dapat memengaruhi cara seseorang mengatur perhatian, waktu, impuls, emosi, dan tanggung jawab sehari-hari—semuanya merupakan bagian penting dari kehidupan bersama.
ADHD pada Orang Dewasa Bukan Sekadar “Sulit Fokus”
Attention-deficit/hyperactivity disorder atau ADHD sering dikaitkan dengan masa kanak-kanak. Namun, ADHD dapat berlanjut hingga dewasa dan memengaruhi pekerjaan, pengelolaan aktivitas sehari-hari, kesehatan psikologis, serta hubungan interpersonal.
Harvard Health menekankan bahwa ADHD pada orang dewasa bukan sekadar masalah kemauan atau kemalasan. Kondisi ini berkaitan dengan perbedaan fungsi otak dan dapat berdampak pada kemampuan mempertahankan perhatian, mengatur aktivitas, memenuhi tanggung jawab, serta mengelola berbagai tuntutan kehidupan dewasa.
Dalam hubungan romantis, dampaknya menjadi lebih kompleks karena hubungan membutuhkan koordinasi terus-menerus. Pasangan perlu mengingat janji, mendengarkan percakapan, mengelola keuangan, membagi pekerjaan rumah, merencanakan kegiatan, dan memberikan respons emosional.
Ketika salah satu pasangan mengalami kesulitan pada fungsi-fungsi tersebut, masalah yang muncul tidak selalu terlihat sebagai “gejala ADHD”. Pasangan mungkin hanya melihat bahwa seseorang sering lupa, tidak menyelesaikan tugas, terlambat, sulit mendengarkan, atau bertindak spontan.
Di sinilah ADHD dapat menciptakan kesenjangan antara niat dan perilaku. Seseorang mungkin benar-benar peduli kepada pasangannya, tetapi mengalami kesulitan menerjemahkan kepedulian tersebut menjadi perilaku yang konsisten.
Ketika Lupa Terasa Seperti Tidak Peduli
Salah satu tantangan yang paling sering muncul adalah lupa.
Seseorang dengan ADHD mungkin lupa membeli sesuatu yang sebelumnya sudah dijanjikan, lupa tanggal penting, kehilangan barang, atau tidak mengingat detail percakapan. Dari sudut pandang pasangan, kejadian tersebut dapat terasa sangat personal.
Jika pola tersebut terjadi berulang kali, pasangan dapat mulai menyimpulkan bahwa dirinya tidak dianggap penting. Sebaliknya, orang dengan ADHD dapat merasa terus-menerus dikritik karena sesuatu yang sebenarnya tidak sengaja dilakukan.
HelpGuide menjelaskan bahwa kesulitan memperhatikan, lupa, disorganisasi, dan impulsivitas dapat menjadi sumber frustrasi dalam hubungan. Pasangan dapat merasa diabaikan atau tidak dihargai ketika percakapan tidak diikuti dengan tindakan yang diharapkan.
Masalahnya bukan selalu “siapa yang benar”. Satu kejadian yang sama dapat memiliki dua pengalaman berbeda: bagi satu orang, itu adalah kelupaan yang tidak disengaja; bagi pasangannya, itu dapat terasa seperti bukti bahwa dirinya tidak diprioritaskan.
Dari Hubungan Pasangan Menjadi Hubungan “Orang Tua dan Anak”
Salah satu pola yang perlu diperhatikan adalah ketika pasangan tanpa ADHD secara perlahan mengambil alih terlalu banyak fungsi pengelolaan kehidupan bersama.
Awalnya, hal tersebut mungkin terasa membantu. Satu orang mengingat jadwal, mengingatkan pembayaran, memastikan pekerjaan rumah selesai, mengatur janji, atau terus mengingatkan pasangannya mengenai tanggung jawab.
Namun, jika berlangsung lama, hubungan dapat berubah menjadi pola “pengawas dan yang diawasi”. Pasangan yang satu merasa harus selalu mengingatkan, sementara pasangan dengan ADHD merasa terus dikontrol atau diperlakukan seperti anak kecil.
WebMD menyebut pola tersebut sebagai salah satu tantangan yang dapat muncul dalam hubungan ketika salah satu pasangan memiliki ADHD. Ketika satu pihak mengambil terlalu banyak peran pengelolaan, kedua orang dapat mengalami frustrasi dan resentimen.
Hubungan yang sehat membutuhkan dua orang dewasa yang bekerja sebagai pasangan, bukan satu orang sebagai manajer kehidupan dan satu orang sebagai orang yang terus-menerus menerima instruksi.
Pasangan dengan ADHD
Dapat merasa sering dikritik, disalahpahami, dikontrol, atau dianggap tidak bertanggung jawab meskipun sebenarnya memiliki niat yang baik.
Pasangan tanpa ADHD
Dapat merasa lelah karena harus mengingatkan, mengambil alih tugas, atau memastikan berbagai hal tetap berjalan.
Risiko Bersama
Keduanya dapat masuk ke pola defensif, saling menyalahkan, dan semakin sulit melihat masalah sebagai persoalan yang dapat dikelola bersama.
Mengapa Komunikasi Bisa Menjadi Lebih Sulit?
Komunikasi membutuhkan perhatian yang berkelanjutan. Ketika seseorang sedang berbicara, kita tidak hanya mendengar kata-katanya, tetapi juga mempertahankan konteks, mengingat detail, memahami maksud, dan memberikan respons yang sesuai.
ADHD dapat membuat proses tersebut lebih menantang. Seseorang dapat kehilangan fokus di tengah percakapan, terdistraksi oleh suara atau pikiran lain, memotong pembicaraan, atau berpindah topik sebelum percakapan selesai.
Hal tersebut tidak otomatis berarti seseorang tidak menghargai pasangannya.
Namun, niat tidak menghapus dampak. Jika pasangan berulang kali merasa tidak didengarkan, hubungan tetap dapat mengalami tekanan meskipun perilaku tersebut tidak disengaja.
Penelitian mengenai hubungan romantis pada orang dewasa dengan ADHD menunjukkan bahwa literatur secara umum menemukan lebih banyak tantangan relasional pada kelompok ini dibandingkan populasi tanpa ADHD. Para peneliti juga menekankan bahwa penyebabnya tidak sederhana dan melibatkan berbagai faktor yang bekerja bersama.
ADHD dan Siklus Konflik
Masalah hubungan sering kali tidak berhenti pada gejala awal. Yang lebih penting adalah siklus yang terbentuk setelah masalah terjadi.
Misalnya, seseorang lupa melakukan tugas rumah. Pasangan menjadi kesal dan mengingatkan dengan nada keras. Orang dengan ADHD merasa diserang lalu menjadi defensif. Pasangan merasa respons tersebut menunjukkan ketidakpedulian. Akhirnya percakapan berubah menjadi pertengkaran mengenai karakter, bukan lagi mengenai tugas yang sebenarnya.
Jika pola tersebut terus berulang, setiap kejadian baru membawa akumulasi pengalaman sebelumnya.
Penelitian eksperimental juga menunjukkan bahwa orang dewasa dengan ADHD dapat lebih rentan terhadap komunikasi negatif ketika sumber daya pengendalian diri mereka sedang terkuras. Temuan ini menunjukkan bahwa konteks dan kondisi saat konflik terjadi dapat ikut berperan.
Beban yang Dialami Pasangan Juga Perlu Diakui
Pembahasan tentang ADHD dalam hubungan tidak seharusnya hanya berpusat pada orang yang memiliki diagnosis. Pasangan juga dapat mengalami dampak nyata.
Sebuah studi kualitatif yang melibatkan 13 perempuan tanpa ADHD yang memiliki pasangan dengan ADHD menemukan tema berupa beban dalam kehidupan sehari-hari, pengalaman terbebani, dan berbagai strategi untuk mengatasi hambatan yang berkaitan dengan ADHD. Para peneliti juga menekankan perlunya dukungan terhadap kedua pasangan, bukan hanya individu dengan ADHD.
Temuan tersebut tentu tidak berarti semua pasangan dengan ADHD akan mengalami pola yang sama. Sampelnya kecil dan spesifik, sehingga tidak dapat digeneralisasi kepada seluruh jenis hubungan. Namun, penelitian tersebut memperlihatkan satu hal penting: dampak ADHD dalam hubungan merupakan pengalaman sistemik yang dapat dirasakan oleh lebih dari satu orang.
ADHD Tidak Berarti Hubungan Tidak Bisa Berhasil
Adanya tantangan relasional tidak berarti orang dewasa dengan ADHD tidak dapat membangun hubungan yang sehat.
Justru, memahami pola ADHD dapat membantu pasangan berhenti menafsirkan setiap masalah sebagai bukti kurangnya cinta atau karakter buruk.
HelpGuide merekomendasikan pendekatan yang melibatkan dua sisi: pasangan dengan ADHD perlu belajar mengelola gejalanya, sementara pasangan tanpa ADHD juga perlu memahami bagaimana merespons masalah tersebut tanpa memperkuat pola konflik.
Pendekatan ini penting karena tanggung jawab tidak seharusnya seluruhnya dibebankan kepada salah satu pihak.
ADHD bukan alasan untuk mengabaikan tanggung jawab, tetapi memahami ADHD dapat membantu pasangan menentukan bentuk tanggung jawab yang lebih realistis.
Membuat Sistem, Bukan Sekadar Mengandalkan Ingatan
Salah satu perubahan paling praktis adalah berhenti menganggap bahwa semua hal harus diingat di dalam kepala.
Kalender bersama, pengingat digital, daftar tugas, catatan visual, alarm, dan pembagian tanggung jawab yang eksplisit dapat mengurangi ketergantungan pada memori dan perhatian spontan.
Contohnya, daripada mengatakan “jangan lupa bayar tagihan”, pasangan dapat menentukan siapa yang bertanggung jawab, kapan tugas dilakukan, dan bagaimana sistem pengingatnya.
Daripada mengandalkan “nanti aku ingat”, pasangan dapat menggunakan kalender bersama.
Daripada mengatakan “kamu harus lebih perhatian”, pasangan dapat menyepakati perilaku konkret seperti memberikan waktu 15 menit tanpa ponsel untuk berbicara setiap malam.
Tujuannya bukan membuat hubungan menjadi seperti proyek manajemen, melainkan menggunakan sistem eksternal untuk mengurangi beban fungsi eksekutif.
Empat Strategi yang Dapat Membantu Pasangan
1. Buat Hal Penting Menjadi Terlihat
Gunakan kalender bersama, daftar tugas, pengingat, papan visual, atau sistem digital untuk hal-hal yang mudah terlupakan.
2. Pisahkan Masalah dari Karakter
Fokuskan pembicaraan pada perilaku tertentu. “Tugas ini belum selesai” lebih konstruktif daripada “kamu memang tidak bertanggung jawab”.
3. Bagi Tanggung Jawab dengan Jelas
Tentukan siapa melakukan apa dan kapan. Hindari sistem di mana satu orang terus menjadi pengingat bagi orang lainnya.
4. Berikan Ruang untuk Perbaikan
Kesalahan tetap perlu dipertanggungjawabkan, tetapi satu kesalahan tidak harus menjadi bukti bahwa seluruh hubungan bermasalah.
5. Kenali Pemicu Konflik
Perhatikan kapan komunikasi biasanya memburuk: saat lelah, terburu-buru, lapar, stres, atau ketika terlalu banyak tuntutan datang bersamaan.
6. Cari Bantuan Bila Diperlukan
Penanganan ADHD dan konseling individual atau pasangan dapat dipertimbangkan ketika konflik terus berulang dan sulit diselesaikan sendiri.
Komunikasi yang Lebih Spesifik Lebih Mudah Diproses
Dalam hubungan dengan ADHD, komunikasi yang terlalu abstrak dapat menyulitkan penyelesaian masalah.
Kalimat seperti “kamu tidak pernah mendengarkan aku” biasanya membawa akumulasi emosi dan pengalaman. Pasangan mungkin langsung masuk ke mode defensif karena merasa sedang dinilai sebagai pribadi.
Pendekatan yang lebih konkret adalah menjelaskan kejadian, dampak, dan kebutuhan.
“Ketika kita sedang berbicara dan kamu melihat ponsel, aku merasa percakapan kita tidak mendapat perhatian. Aku ingin kita menyelesaikan pembicaraan ini tanpa ponsel selama beberapa menit.”
Contoh komunikasi yang berfokus pada perilaku dan kebutuhan, bukan label terhadap karakter.Model seperti ini tidak menjamin konflik langsung hilang. Namun, pembicaraan menjadi lebih spesifik sehingga pasangan memiliki sesuatu yang dapat diubah.
Ketika Konflik Berkaitan dengan Keintiman
Dampak ADHD juga dapat masuk ke wilayah kedekatan emosional dan seksual.
Distraksi, impulsivitas, kesulitan mengatur perhatian, serta dinamika “orang tua dan anak” yang berkembang dalam hubungan dapat mengurangi rasa dekat antara pasangan. WebMD juga mencatat bahwa masalah terkait perhatian, impulsivitas, dan dinamika hubungan dapat berkontribusi terhadap kesulitan dalam kehidupan intim.
Karena itu, pasangan perlu berhati-hati agar masalah seksual tidak dipandang semata-mata sebagai persoalan “ketertarikan”. Dalam beberapa kasus, masalah yang terlihat di kamar tidur merupakan bagian dari pola relasional yang sudah berkembang dalam kehidupan sehari-hari.
Keintiman membutuhkan rasa aman, perhatian, dan hubungan emosional—bukan hanya ketertarikan fisik.
Bagaimana dengan Pengobatan dan Dukungan Profesional?
Penanganan ADHD pada orang dewasa dapat melibatkan pendekatan medis dan nonmedis sesuai kondisi individu. Harvard Health menekankan pentingnya evaluasi profesional karena gejala ADHD dapat tumpang tindih dengan berbagai persoalan lain, sehingga diagnosis sebaiknya tidak didasarkan hanya pada tes atau penilaian diri secara informal.
Dalam konteks hubungan, dukungan tidak harus berhenti pada individu dengan ADHD. Salah satu studi mengenai program psychoeducation untuk orang dewasa dengan ADHD dan pasangan mereka menemukan bahwa pengetahuan mengenai ADHD meningkat setelah intervensi, sementara ukuran kualitas hubungan dan kesejahteraan psikologis juga menunjukkan perbaikan pada peserta penelitian. Studi tersebut merupakan penelitian kelayakan awal, sehingga hasilnya tidak boleh dianggap sebagai bukti bahwa satu program pasti efektif untuk semua pasangan.
Jika konflik hubungan sudah sangat intens, konseling pasangan yang memahami ADHD dapat membantu pasangan memetakan pola interaksi, membagi tanggung jawab, dan membangun strategi komunikasi yang lebih sesuai.
ADHD dan Konflik Bukan Hal yang Sama dengan Kekerasan
Ada satu batas penting yang perlu diperhatikan.
ADHD dapat berkaitan dengan impulsivitas, kesulitan mengatur diri, dan konflik interpersonal, tetapi diagnosis ADHD tidak boleh digunakan untuk membenarkan perilaku kekerasan atau menyalahkan korban.
Sebuah penelitian yang diterbitkan pada 2025 menemukan hubungan antara risiko ADHD pada orang dewasa dan pengalaman sebagai korban maupun pelaku intimate partner violence dalam sampel penelitian tersebut. Peneliti sendiri menekankan perlunya dukungan psikologis yang secara khusus memperhatikan risiko tersebut. Temuan ini merupakan asosiasi penelitian dan tidak berarti setiap orang dengan ADHD akan melakukan kekerasan.
Jika sebuah hubungan melibatkan ancaman, kekerasan fisik, kontrol yang ekstrem, atau perilaku yang membuat seseorang tidak aman, persoalannya perlu diperlakukan sebagai persoalan keselamatan—bukan sekadar “masalah komunikasi ADHD”.
Hubungan yang Sehat Tidak Menuntut Kesempurnaan
Pada akhirnya, hubungan dengan ADHD bukan tentang menemukan pasangan yang tidak pernah lupa, tidak pernah terdistraksi, atau selalu mampu mengendalikan impuls.
Hubungan yang sehat juga bukan berarti pasangan tanpa ADHD harus menerima semua dampak tanpa batas.
Yang lebih realistis adalah membangun cara hidup bersama yang mengakui tantangan sekaligus mempertahankan tanggung jawab kedua belah pihak.
Orang dengan ADHD dapat belajar mengenali gejalanya, mencari penanganan yang sesuai, menggunakan sistem eksternal, dan bertanggung jawab ketika perilakunya berdampak pada pasangan.
Pasangan tanpa ADHD dapat belajar membedakan gejala dari niat, menyampaikan kebutuhan secara konkret, menetapkan batas, dan menghindari mengambil alih seluruh tanggung jawab kehidupan bersama.
Dengan demikian, ADHD tidak lagi dipahami sebagai penjelasan untuk setiap konflik, tetapi sebagai salah satu faktor yang perlu dipahami dalam membangun pola hubungan yang lebih efektif.
Tujuan akhirnya bukan membuat ADHD “menghilang” dari hubungan. Tujuannya adalah membangun hubungan di mana kedua orang memahami tantangannya, memiliki sistem untuk mengatasinya, dan tetap dapat menjadi pasangan—bukan pengawas dan yang diawasi.
Kesimpulan
Adult ADHD dapat membawa tantangan nyata dalam hubungan romantis. Kesulitan memperhatikan, lupa, impulsivitas, disorganisasi, dan masalah pengaturan diri dapat memengaruhi komunikasi, pembagian tanggung jawab, keintiman, dan kepuasan hubungan.
Namun, dampak tersebut tidak harus diterjemahkan menjadi kesimpulan bahwa seseorang dengan ADHD tidak mampu mempertahankan hubungan.
Penelitian justru menunjukkan pentingnya memahami faktor-faktor yang membentuk masalah hubungan dan mengembangkan intervensi yang melibatkan individu dengan ADHD sekaligus pasangannya.
Memahami ADHD dapat mengubah pertanyaan dari “Mengapa kamu selalu melakukan ini?” menjadi “Sistem apa yang dapat membantu kita mengatasi pola ini?”
Perubahan kecil tersebut dapat menjadi titik awal yang penting: bukan menghapus perbedaan, melainkan membuat kedua orang memiliki cara yang lebih baik untuk hidup bersama.
Rujukan Utama
- HelpGuide.org — Adult ADHD and Relationships.
- Wymbs, B. T., Canu, W. H., Sacchetti, G. A., & Ranson, L. M. — Adult ADHD and Romantic Relationships: What We Know and What We Can Do to Help, Journal of Marital and Family Therapy.
- Harvard Health Publishing — Confronting Adult ADHD.
- WebMD — How ADHD Can Affect Your Marriage dan ADHD and Relationships.
- Penelitian PubMed mengenai ADHD, hubungan romantis, beban pasangan, komunikasi, dan psychoeducation.