Kata abnormal atau abnormalitas mungkin terdengar tidak asing di telingan kita. Namun, tidak sedikit juga yang belum mengetahui apa maksud atau arti dari abnormal atau abnormalitas. Kita sering mendengar kata abnormal diucapkan oleh mereka yang berkecimpung di dunia Psikologi. Namun belakangan ini, masyarakat awam pun sudah banyak yang mengerti tentang abnormal.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata abnormal berarti tidak sesuai dengan keadaan yang biasa; mempunyai kelainan; tidak normal.
KBBI membahas abnormal dari pandangan umum. Label “abnormal” secara umum ditentukan berdasarkan beberapa karakteristik seperti kesenjangan statistik, pelanggaran norma, stres, ketidakmampuan atau disfungsi, dan respon-respon yang tidak diharapkan. Di Psikologi, abnormalitas dapat diartikan sebagai perilaku yang menyimpang, maladaptif atau menimbulkan tekanan pada diri seseorang dalam rentan waktu yang relatif lama.
Perilaku menyimpang dalam abnormalitas dapat diartikan sebagai suatu perilaku yang tidak sesuai dengan norma atau standar sosial yang berlaku di wilayah tersebut. Perilaku dikatakan menyimpang apabila seseorang berperilaku tidak sesuai dengan kebudayaan yang berlaku dan tidak dapat diterima oleh masyarakat. Sebagai contoh, seseorang yang membasuh atau mencuci tangannya sebanyak 10x dalam satu hari. Mungkin kebiasaan ini dianggap “aneh” karena tidak sesuai dengan kebiasaan di masyarakat sekitar. Namun, beda konteksnya jika seseorang mencuci tangan sebanyak 10x tersebut dalam kondisi pandemi, maka hal tersebut dianggap wajar.
Abnormalitas memiliki karakteristik lain yaitu perilaku maladaptif. Perilaku maladaptif merupakan perilaku yang mengganggu kemampuan dari diri seseorang untuk berfungsi secara efektif dalam kehidupan sehari-hari (disfungsi). Ketika perilaku yang dilakukan seseorang sudah mengganggu fungsi kehidupannya, maka perilaku tersebut dapat tergolong abnormal. Sebagai contoh, seseorang yang memiliki anggapan bahwa ketika dirinya berada di lingkungan pertemanan, maka tidak ada yang ingin menerima dirinya. Anggapan ini, membuat dirinya berperilaku menarik diri dan mengisolasi diri untuk menghindari dirinya dijauhi dari pertemanannya. Hal ini justru membuatnya enggan untuk pergi bermain, pergi ke sekolah atau bekerja, dan malas bertemu orang lain. Perilaku ini justru memberikan dampak negatif bagi dirinya dan juga mungkin orang di sekitarnya.
Karakteristik terakhir dari perilaku abnormal atau abnormalitas yaitu menimbulkan tekanan pada diri seseorang. Seseorang yang memiliki perilaku yang tergolong dalam abnormalitas biasanya akan terganggu dengan perilaku yang dimilikinya. Sebagai contoh, seseorang yang memiliki perilaku abnormal yaitu tidur yang berlebihan (narkolepsi). Seseorang dengan perilaku ini tentu akan merasa terganggu karena keinginan yang besar untuk tertidur tanpa mengenal waktu ataupun tempat. Sehingga membuatnya merasa lelah, kurang produktif, ataupun malu.
Perilaku abnormalitas biasanya akan memenuhi satu dari tiga karakteristik yang telah dijelaskan. Namun biasanya perilaku abnormal memiliki dua atau bahkan tiga karakteristik tersebut.
Berikut adalah penjelasan singkat mengenai abnormal atau abnormalitas. Semoga dapat memberikan manfaat dan pemahaman bagi sobat Psike.
References:
- King, L. A. (2017). Psikologi umum – Sebuah pandangan apresiatif. Salemba Humanika
- Gerald C. Davison, John M. Neale, Ann M. Kring (2012). Psikologi abnormal edisi 9. RajaGrafindo Persada.
- Alodokter. (2020). Narkolepsi. Diakses: https://www.alodokter.com/narkolepsi.