Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Haruskah Khawatir Jika Pasangan Masih Berteman dengan Mantan? Ini yang Perlu Diperhatikan

Mengetahui pasangan masih berteman dengan mantan bisa memunculkan perasaan yang sulit dijelaskan: cemburu, takut dibandingkan, atau khawatir bahwa hubungan lama ternyata belum benar-benar berakhir. Namun, keberadaan seorang mantan dalam kehidupan pasangan tidak otomatis berarti hubungan Anda sedang terancam.

Bagi sebagian orang, mendengar bahwa pasangan masih berteman dengan mantannya mungkin terdengar biasa saja. Bagi yang lain, informasi tersebut dapat langsung memunculkan serangkaian pertanyaan: Mengapa mereka masih berhubungan? Seberapa sering mereka berbicara? Apakah masih ada perasaan? Apakah pasangan saya lebih nyaman bercerita kepada mantannya daripada kepada saya?

Perasaan tersebut bukan sesuatu yang aneh. Verywell Mind menjelaskan bahwa ketidaknyamanan terhadap hubungan pasangan dengan mantan dapat muncul karena adanya ketidakpastian mengenai motif, tingkat kedekatan, dan kemungkinan munculnya kembali hubungan romantis.

Namun, persoalannya tidak sesederhana “pasangan masih berteman dengan mantan berarti red flag” atau sebaliknya, “kalau percaya pasangan, seharusnya tidak boleh cemburu.” Kedua kesimpulan tersebut terlalu sederhana.

Yang jauh lebih penting adalah memahami seperti apa hubungan pasangan dengan mantannya sekarang, mengapa hubungan tersebut masih dipertahankan, dan apakah keberadaan hubungan itu mengganggu batas serta rasa aman dalam hubungan Anda.

Percakapan mengenai mantan tidak harus menjadi pertengkaran. Yang dibutuhkan adalah ruang aman untuk membicarakan rasa tidak nyaman dan batas hubungan.

Apakah Wajar Pasangan Masih Berteman dengan Mantan?

Ya, bisa saja. Tidak ada aturan universal yang mengatakan bahwa seseorang harus menghapus seluruh hubungan dengan mantan setelah memulai hubungan baru.

Dalam beberapa situasi, hubungan dengan mantan memang memiliki alasan yang masuk akal. Mereka mungkin sudah berteman sebelum berpacaran. Mereka mungkin berada dalam lingkaran pertemanan yang sama, bekerja di tempat yang sama, memiliki bisnis bersama, berbagi hewan peliharaan, atau membesarkan anak bersama.

Bahkan jika tidak ada alasan praktis, sebagian orang mampu mengubah hubungan romantis menjadi hubungan pertemanan setelah perasaan romantis benar-benar mereda.

Penelitian mengenai post-romantic friendship menunjukkan bahwa hubungan pertemanan setelah putus memang terjadi. Salah satu studi menemukan bahwa orang yang merasa lebih puas dengan hubungan romantis mereka sebelumnya justru lebih mungkin mempertahankan pertemanan setelah hubungan tersebut berakhir. Ini menunjukkan bahwa hubungan masa lalu tidak selalu berubah menjadi permusuhan hanya karena hubungan romantisnya selesai.

Dengan kata lain, status “mantan” tidak dengan sendirinya menentukan apakah sebuah hubungan sekarang sehat atau berbahaya. Konteksnya jauh lebih penting.

288
orang dewasa diteliti dalam penelitian mengenai alasan seseorang mempertahankan pertemanan dengan mantan pasangan.
4
motif utama yang ditemukan: keamanan, alasan praktis, menjaga hubungan tetap sopan, dan keinginan romantis yang belum selesai.

Mengapa Pasangan Memilih Tetap Berteman dengan Mantan?

Motif di balik sebuah hubungan sering kali lebih penting daripada bentuk hubungan itu sendiri.

Penelitian yang dirangkum dalam literatur psikologi hubungan menemukan beberapa alasan mengapa seseorang tetap mempertahankan hubungan dengan mantan. Ada yang sehat dan masuk akal, sementara ada pula yang dapat menjadi sumber masalah.

Karena mereka memang sudah berteman sebelumnya

Hubungan romantis mungkin hanya merupakan satu fase dari hubungan yang jauh lebih panjang. Setelah hubungan romantis selesai, keduanya dapat kembali memiliki hubungan yang lebih bersifat pertemanan.

Karena ada hubungan praktis yang tidak bisa begitu saja diputus

Anak, pekerjaan, bisnis, hewan peliharaan, keluarga besar, atau lingkungan sosial yang sama membuat kontak tetap diperlukan. Dalam kondisi seperti ini, komunikasi dengan mantan bukan otomatis tanda adanya perasaan romantis.

Karena ada rasa nyaman dan sejarah bersama

Mantan adalah seseorang yang pernah mengenal mereka secara mendalam. Ada kenangan, pengalaman, dan bahasa emosional yang mungkin sulit digantikan begitu saja.

Ini dapat menjadi sesuatu yang normal, tetapi juga perlu diperhatikan jika mantan akhirnya menjadi sumber utama dukungan emosional sementara pasangan sekarang justru semakin tersisih.

Karena masih ada kebutuhan emosional yang belum selesai

Ini merupakan situasi yang lebih rumit. Seseorang mungkin mengatakan mereka hanya berteman, tetapi sebenarnya masih berharap hubungan romantis kembali.

Jika ini yang terjadi, hubungan tersebut memiliki potensi lebih besar untuk mengganggu hubungan saat ini.

Karena rasa bersalah, kesepian, atau ketidakmampuan melepaskan masa lalu

Dalam beberapa kasus, mempertahankan hubungan dengan mantan bukan benar-benar tentang persahabatan, melainkan tentang sulit menerima bahwa hubungan telah berakhir.

Kapan Anda Tidak Perlu Terlalu Khawatir?

Ada sejumlah karakteristik yang membuat hubungan dengan mantan cenderung lebih mudah dipahami dan tidak terlalu mengancam hubungan saat ini.

Misalnya, pasangan tidak menyembunyikan hubungan tersebut. Anda mengetahui siapa mantannya, bagaimana mereka saling mengenal, dan mengapa mereka masih berkomunikasi.

Pasangan juga tidak keberatan ketika Anda bertanya secara wajar. Mereka tidak harus menunjukkan setiap pesan kepada Anda, tetapi tidak membuat hubungan tersebut terasa seperti sesuatu yang harus dirahasiakan.

Hal lain yang penting adalah posisi Anda dalam hubungan tersebut. Anda tetap menjadi pasangan utama dalam kehidupan romantisnya. Mantan bukan orang pertama yang selalu dicari ketika ada masalah emosional, bukan tempat untuk mendapatkan validasi romantis, dan bukan orang yang mendapatkan sisi intim pasangan yang seharusnya dibangun dalam hubungan Anda.

Dalam situasi seperti ini, hubungan dengan mantan lebih menyerupai hubungan sosial biasa daripada hubungan romantis yang disamarkan sebagai pertemanan.

“Memahami konteks dan sejarah hubungan pasangan dengan mantannya dapat membantu menentukan seperti apa sebenarnya dinamika hubungan tersebut.”

— Inti pandangan Dr. Sabrina Romanoff dalam Verywell Mind

8 Tanda Hubungan dengan Mantan Mulai Menjadi Masalah

1. Hubungan tersebut disembunyikan dari Anda

Ini salah satu tanda yang paling penting untuk diperhatikan.

Masalahnya bukan semata-mata karena pasangan berbicara dengan mantan, tetapi karena mereka merasa perlu menyembunyikan percakapan, pertemuan, atau bentuk interaksi tertentu.

Rahasia dan privasi bukan hal yang sama. Setiap orang tetap memiliki hak atas ruang pribadi, tetapi hubungan yang sehat tidak membutuhkan kebohongan untuk mempertahankan hubungan sosial tertentu.

2. Pasangan menjadi sangat defensif ketika Anda mengungkapkan kekhawatiran

Anda mungkin tidak membutuhkan pasangan untuk langsung memutus hubungan dengan mantan. Yang Anda butuhkan mungkin hanya penjelasan dan reassurance.

Namun jika setiap pertanyaan langsung dianggap sebagai serangan, Anda disebut posesif, atau pasangan menolak membicarakannya sama sekali, persoalannya mulai bergeser dari “mantan” menjadi cara pasangan menangani rasa aman Anda dalam hubungan.

3. Mantan mendapatkan kedekatan emosional yang seharusnya dibangun dengan Anda

Pasangan mungkin selalu menghubungi mantan ketika sedang stres, sedih, bingung, atau membutuhkan validasi.

Jika hampir semua kebutuhan emosional penting dialihkan kepada mantan, sementara Anda semakin jarang dilibatkan, wajar jika Anda mempertanyakan posisi Anda dalam hubungan.

4. Ada sejarah perasaan romantis yang belum benar-benar selesai

Ini berbeda dengan sekadar memiliki kenangan masa lalu.

Jika pasangan masih membicarakan kemungkinan kembali bersama, sering mengatakan mantan adalah “orang yang paling memahami saya”, atau menunjukkan tanda-tanda ingin menghidupkan kembali hubungan, situasinya jelas lebih serius.

5. Ada standar ganda mengenai kedekatan

Misalnya, pasangan menganggap dirinya bebas bertemu empat mata dengan mantan, tetapi menjadi sangat marah ketika Anda melakukan hal yang sama dengan teman lawan jenis.

Masalahnya bukan hanya kecemburuan. Standar ganda dapat menunjukkan bahwa batas hubungan tidak diterapkan secara adil.

6. Mantan terlalu sering menjadi bagian dari kehidupan pasangan

Berkomunikasi sesekali tentu berbeda dengan menghabiskan sebagian besar waktu luang bersama, saling menghubungi setiap hari, bertemu berdua secara rutin, atau menjadikan mantan sebagai salah satu orang paling penting dalam kehidupan sehari-hari.

Frekuensi saja tidak menentukan apakah hubungan itu bermasalah, tetapi frekuensi perlu dilihat bersama dengan konteks dan tingkat keintimannya.

7. Pasangan membandingkan Anda dengan mantannya

“Mantan saya dulu lebih mengerti soal ini.”

“Dia memang lebih suka melakukan hal seperti itu.”

Perbandingan semacam ini dapat merusak rasa aman dan menciptakan kompetisi yang sebenarnya tidak perlu ada.

8. Batas yang sudah disepakati terus dilanggar

Ini mungkin merupakan tanda paling objektif.

Anda dan pasangan sudah membicarakan batas yang dianggap masuk akal, tetapi pasangan terus melanggarnya, lalu mengecilkan dampaknya terhadap Anda.

Masalah terbesar bukan lagi siapa mantannya, tetapi apakah pasangan menghormati kesepakatan yang dibuat bersama.

BATAS TRANSPARANSI KEPERCAYAAN RASA AMAN
Batas yang sehat bukan berarti mengendalikan pasangan, melainkan menciptakan kesepakatan yang membuat kedua pihak merasa dihormati dan aman.

Kecemburuan Tidak Selalu Berarti Anda Posesif

Salah satu kesalahan umum dalam pembicaraan mengenai mantan adalah menganggap bahwa orang yang merasa cemburu pasti memiliki masalah kepercayaan diri.

Padahal, kecemburuan merupakan respons emosional yang kompleks. Dalam literatur psikologi hubungan, kecemburuan romantis dapat muncul ketika seseorang menafsirkan situasi tertentu sebagai ancaman terhadap hubungan intimnya.

Artinya, perasaan cemburu tidak otomatis menunjukkan bahwa Anda tidak percaya kepada pasangan. Perasaan tersebut dapat menjadi sinyal bahwa ada sesuatu yang Anda anggap penting dan sedang merasa terancam.

Yang menentukan apakah kecemburuan menjadi masalah adalah apa yang Anda lakukan terhadap perasaan tersebut.

Anda dapat merasakan cemburu lalu menggunakannya sebagai informasi untuk membuka percakapan. Sebaliknya, Anda juga dapat merasakan cemburu lalu memeriksa ponsel pasangan setiap malam, melarang semua pertemanan, meminta laporan setiap menit, atau mencoba mengisolasi pasangan dari orang lain.

Perasaan dan perilaku bukan hal yang sama.

“Kecemburuan adalah emosi; cara seseorang merespons emosi tersebut yang menentukan apakah ia menjadi konstruktif atau merusak hubungan.”

— Prinsip yang konsisten dalam literatur psikologi mengenai kecemburuan romantis

Menariknya, Bahkan Interaksi Sederhana dengan Mantan Bisa Memicu Kecemburuan

Penelitian tentang kecemburuan memberikan gambaran menarik mengenai bagaimana konteks interaksi dapat memengaruhi persepsi seseorang.

Dalam sebuah penelitian yang dipublikasikan di PLOS ONE, peserta diminta membayangkan pasangan mereka berinteraksi dengan mantan dalam berbagai situasi. Hasilnya menunjukkan bahwa aktivitas makan bersama dapat memunculkan kecemburuan lebih tinggi dibandingkan interaksi tatap muka tertentu seperti minum kopi.

Temuan tersebut tidak berarti makan bersama mantan adalah tindakan yang salah. Justru penelitian itu menunjukkan bahwa manusia tidak menilai semua bentuk interaksi sosial dengan cara yang sama. Konteks dapat membuat sebuah aktivitas terasa lebih intim atau lebih mengancam.

2.918
peserta terlibat dalam rangkaian 11 studi mengenai friendship jealousy dan ancaman pihak ketiga terhadap hubungan pertemanan.
4.888
orang terlibat dalam penelitian mengenai respons terhadap hubungan pasangan di luar relasi romantis, menunjukkan bahwa kecemburuan dapat hadir bersama emosi positif maupun negatif.

Karena itu, daripada bertanya “Boleh atau tidak berteman dengan mantan?”, pertanyaan yang lebih berguna adalah: “Aktivitas seperti apa yang membuat hubungan ini terasa aman atau justru mengancam bagi kami?”

Jangan Menganggap Semua Mantan adalah Ancaman yang Sama

Bayangkan dua situasi.

Pada situasi pertama, pasangan Anda sesekali menghubungi mantan yang sekarang sudah menikah. Mereka dulu memiliki dua anjing bersama dan masih sesekali bertukar kabar mengenai kehidupan masing-masing. Pasangan Anda terbuka mengenai hubungan tersebut dan bahkan tidak keberatan jika Anda bertemu dengan mantannya.

Pada situasi kedua, pasangan Anda menghapus percakapan dengan mantan, bertemu secara diam-diam, menjadi sangat defensif ketika ditanya, dan mengatakan bahwa mantannya adalah orang yang paling memahami dirinya.

Kedua situasi sama-sama memiliki label “masih berteman dengan mantan”. Tetapi secara psikologis, konteksnya sangat berbeda.

Verywell Mind juga menekankan beberapa pertanyaan yang relevan untuk memahami konteks: berapa lama mereka berpacaran, apakah mereka berteman sebelum berpacaran, apakah mereka memiliki anak atau hewan peliharaan bersama, bagaimana hubungan itu berakhir, dan berapa lama waktu telah berlalu sejak putus.

Semakin banyak konteks yang Anda pahami, semakin kecil kemungkinan Anda mengambil kesimpulan hanya berdasarkan status “mantan”.

Bagaimana Cara Membicarakannya Tanpa Terdengar Mengontrol?

Ini mungkin bagian tersulit.

Anda ingin mengatakan bahwa Anda tidak nyaman, tetapi tidak ingin pasangan merasa dikekang. Anda ingin meminta batasan, tetapi tidak ingin terdengar seperti sedang memberikan perintah.

Kuncinya adalah membicarakan dampak hubungan tersebut terhadap Anda, bukan langsung menyerang karakter mantan atau pasangan.

Mulai dengan mengakui perasaan sendiri

Alih-alih mengatakan, “Aku tahu kamu masih punya perasaan sama dia,” cobalah mengatakan, “Aku menyadari aku merasa tidak nyaman ketika kalian sering berkomunikasi, dan aku ingin memahami kenapa perasaan itu muncul.”

Tanyakan konteks, bukan melakukan interogasi

Anda dapat bertanya bagaimana hubungan tersebut dimulai, mengapa masih berlanjut, dan seperti apa bentuk pertemanannya sekarang.

Tujuannya mendapatkan pemahaman, bukan mengumpulkan bukti.

Jelaskan batas yang Anda butuhkan

Batas berbeda dengan larangan.

“Kamu tidak boleh bertemu mantan lagi” adalah kontrol terhadap pasangan.

“Aku tidak nyaman jika hubungan kalian sangat intens dan dilakukan secara rahasia. Aku membutuhkan transparansi agar bisa merasa aman dalam hubungan ini” adalah penyampaian kebutuhan.

Bangun kesepakatan bersama

Verywell Mind menyarankan pasangan membangun tujuan bersama dalam percakapan dan menetapkan batas yang disepakati. Misalnya, bagaimana mereka berkomunikasi dengan mantan, kapan mereka bertemu, topik pribadi apa yang tidak dibicarakan dengan mantan, atau bagaimana transparansi dijaga.

Jangan menjadikan mantan sebagai musuh

Mantan bukan selalu pihak yang bertanggung jawab atas rasa tidak aman dalam hubungan Anda. Bahkan dalam banyak kasus, mantan mungkin sama sekali tidak melakukan sesuatu yang salah.

Fokus utama seharusnya tetap pada hubungan Anda dan pasangan: apakah kebutuhan emosional Anda terpenuhi dan apakah pasangan menghormati batas yang disepakati?

Batas yang Sehat Seperti Apa?

Batas dalam situasi ini tidak harus berarti memutus semua kontak. Batas dapat sangat spesifik dan disesuaikan dengan konteks hubungan.

Misalnya, pasangan tetap boleh berkomunikasi dengan mantan karena memiliki anak bersama, tetapi tidak membicarakan masalah intim hubungan Anda kepada mantan.

Atau mereka tetap dapat berada dalam satu kelompok pertemanan, tetapi menghindari pertemuan empat mata yang tidak memiliki alasan jelas.

Dalam hubungan yang sehat, batas tersebut sebaiknya dibicarakan dan disepakati, bukan dipaksakan sepihak.

Literatur psikologi mengenai hubungan dengan mantan juga menekankan pentingnya kejelasan ekspektasi. Jika hubungan tersebut tetap dipertahankan, kedua pihak perlu memahami apa arti “berteman” dan apa yang sudah tidak termasuk dalam hubungan tersebut.

Privasi tidak sama dengan kerahasiaan.

Pasangan tetap berhak memiliki ruang pribadi. Namun ketika sebuah hubungan sosial harus disembunyikan, pesan dihapus, pertemuan ditutupi, atau informasi penting sengaja disembunyikan dari pasangan, persoalannya bukan lagi sekadar privasi.

Bagaimana Jika Pasangan Meminta Anda “Percaya Saja”?

Kepercayaan memang penting. Tetapi kepercayaan bukan berarti Anda harus mematikan seluruh intuisi atau menolak membicarakan sesuatu yang membuat tidak nyaman.

Kalimat “kalau kamu percaya aku, kamu tidak akan cemburu” juga dapat menjadi terlalu menyederhanakan masalah.

Kepercayaan dibangun melalui pengalaman berulang: pasangan mengatakan sesuatu dan melakukannya; mereka transparan ketika diperlukan; mereka menghormati batas; dan ketika terjadi kesalahpahaman, mereka bersedia memperbaikinya.

Kepercayaan bukan tuntutan untuk tidak pernah merasa cemas. Kepercayaan adalah pengalaman bahwa ketika Anda merasa cemas, pasangan bersedia membantu menciptakan rasa aman.

Begitu pula sebaliknya. Pasangan tidak harus memenuhi setiap permintaan yang muncul dari kecemburuan. Jika Anda meminta akses terhadap seluruh ponsel, melarang semua teman lawan jenis, atau meminta pasangan memutus hubungan dengan setiap orang yang pernah dekat dengannya, persoalan mungkin sudah bergeser menjadi kontrol.

Hubungan yang sehat membutuhkan dua hal sekaligus: rasa aman dan otonomi.

PERCAYA + BATAS + TRANSPARANSI
Hubungan yang aman bukan hubungan tanpa batas, melainkan hubungan yang mampu menyeimbangkan kepercayaan, transparansi, kebutuhan pribadi, dan rasa hormat.

Kapan Hubungan dengan Mantan Sebaiknya Menjadi Perhatian Serius?

Ada situasi ketika kekhawatiran Anda memang memiliki dasar yang lebih kuat.

Misalnya, pasangan pernah berselingkuh dengan mantan tersebut. Atau hubungan mereka berakhir baru-baru ini tetapi langsung dilanjutkan sebagai “pertemanan” yang sangat intens. Atau mantan masih menunjukkan perasaan romantis dan pasangan membiarkannya tanpa batas yang jelas.

Situasi lain adalah ketika pasangan terus-menerus menjadikan mantan sebagai tempat utama untuk mendapatkan kebutuhan emosional, membandingkan Anda dengan mantan, menyembunyikan interaksi, atau menolak semua bentuk transparansi.

Dalam keadaan seperti ini, rasa tidak nyaman Anda bukan sekadar persoalan “cemburu”. Ada perilaku konkret yang dapat mengganggu keamanan hubungan.

Namun bahkan dalam situasi tersebut, langkah pertama tetap bukan pengawasan tanpa batas. Langkah pertama adalah percakapan yang jelas mengenai apa yang terjadi dan apa yang Anda butuhkan agar hubungan dapat berjalan secara sehat.

Jika Pasangan Meminta Anda Memutus Hubungan dengan Teman atau Mantan

Situasinya juga dapat terjadi sebaliknya. Anda mungkin adalah orang yang masih berteman dengan mantan, sementara pasangan merasa terganggu.

Dalam keadaan ini, penting untuk tidak langsung menganggap pasangan sebagai orang yang posesif. Cobalah memahami apa sebenarnya yang membuat mereka tidak aman.

Apakah masalahnya karena Anda bertemu mantan berdua? Karena Anda masih berbicara setiap hari? Karena Anda merahasiakan hubungan tersebut? Karena mantan masih menunjukkan ketertarikan? Atau karena pasangan memiliki pengalaman buruk sebelumnya?

Setelah sumber kekhawatiran diketahui, barulah pasangan dapat mencari kompromi.

Verywell Mind memberikan contoh bahwa batas dapat berupa transparansi mengenai interaksi, menghindari pembicaraan terlalu pribadi tentang hubungan saat ini dengan mantan, atau mencari sumber pertemanan dan dukungan sosial lain agar seseorang tidak terlalu bergantung pada mantan.

Tujuannya bukan menghapus masa lalu, tetapi memastikan masa lalu tidak mengambil terlalu banyak ruang dari hubungan yang sedang dijalani.

Jadi, Haruskah Anda Khawatir?

Jawabannya: tidak selalu.

Pasangan yang masih berteman dengan mantan tidak otomatis berarti masih mencintai mantannya. Hubungan masa lalu dapat berubah menjadi hubungan sosial yang sehat, terutama ketika keduanya sudah benar-benar move on, memiliki batas yang jelas, dan tidak menyembunyikan hubungan tersebut dari pasangan masing-masing.

Namun, Anda juga tidak perlu memaksa diri mengatakan “aku baik-baik saja” jika sebenarnya ada sesuatu yang membuat Anda tidak nyaman.

Perasaan tersebut layak dibicarakan.

Yang perlu diperiksa bukan hanya keberadaan mantan, tetapi kualitas hubungan pasangan dengan mantan, transparansi yang diberikan, batas yang berlaku, dan respons pasangan terhadap kebutuhan emosional Anda.

Penelitian mengenai hubungan dengan mantan menunjukkan bahwa alasan seseorang mempertahankan hubungan tersebut sangat menentukan hasilnya. Hubungan yang dibangun karena alasan praktis atau karena memang ada fondasi pertemanan dapat memiliki dinamika berbeda dengan hubungan yang dipertahankan karena keinginan romantis yang belum selesai.

Karena itu, pertanyaan yang lebih tepat bukan “Apakah orang yang sudah punya pasangan boleh berteman dengan mantannya?”

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

“Apakah hubungan dengan mantan ini memiliki tempat yang sehat dalam kehidupan pasangan saya—dan apakah tempat itu menghormati hubungan kami?”

Jika jawabannya ya, mungkin tidak ada alasan untuk menjadikan masa lalu sebagai musuh hubungan Anda.

Jika jawabannya tidak, persoalannya bukan semata-mata karena pasangan memiliki seorang mantan. Persoalannya adalah adanya batas yang kabur, kebutuhan yang tidak terpenuhi, atau perilaku yang membuat kepercayaan dalam hubungan terus terkikis.

Pada Akhirnya, Kepercayaan Tidak Berarti Harus Mengabaikan Perasaan

Hubungan romantis tidak meminta seseorang untuk berhenti memiliki masa lalu. Sebelum bertemu dengan Anda, pasangan memiliki teman, kenangan, pengalaman, bahkan mungkin orang-orang yang pernah sangat berarti dalam hidupnya.

Menjadi pasangan bukan berarti menghapus seluruh bagian tersebut.

Yang dibutuhkan adalah memastikan bahwa masa lalu memiliki tempat yang tepat.

Anda tidak harus bersaing dengan mantan pasangan Anda. Hubungan yang sehat seharusnya tidak membuat Anda merasa harus mengalahkan seseorang dari masa lalu untuk membuktikan bahwa Anda lebih dicintai.

Jika rasa cemburu muncul, gunakan perasaan tersebut sebagai kesempatan untuk memahami diri dan hubungan. Tanyakan apa yang sebenarnya Anda takutkan. Bicarakan dengan pasangan. Dengarkan penjelasannya. Kemudian lihat apakah ada kesediaan untuk membangun batas dan rasa aman bersama.

Sebab pada akhirnya, yang membuat hubungan bertahan bukan absennya semua orang dari masa lalu pasangan.

Yang membuat hubungan bertahan adalah hadirnya kejujuran, batas yang sehat, rasa hormat, dan keyakinan bahwa kedua orang di dalam hubungan tersebut masih memilih satu sama lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *