Psikopat merupakan seseorang yang menggunakan daya tarik, manipulasi, intimidasi, dan kekerasan untuk mengendalikan seseorang demi memuaskan kebutuhan egois mereka. Psikopat memiliki hati nurani dan empati yang rendah. Mereka adalah orang yang berdarah dingin, mengambil apa yang mereka inginkan dan melakukan apa yang mereka harapkan, melanggar norma sosial dan berekspektasi terhadap sesuatu tanpa adanya rasa menyesal atau bersalah.
Karakteristik atau ciri-ciri seorang psikopat adalah fasih dalam berbicara dan memiliki penampilan yang menarik. Para psikopat cenderung mendominasi orang lain dan tidak memiliki penyesalan atas kesalahan yang dilakukannya. Secara umum psikopat memiliki kepribadian yang muluk, egois, dan memiliki kemampuan dalam melakukan manipulasi. Mereka pandai dalam berbohong, khusunya memiliki kehidupan layaknya parasit yang dikarakterisasikan dari kurangnya kepedulian terhadap sesama. Lainnya, psikopat menunjukkan sikap dingin atau tidak berperasaan yang ditunjukkan dari terbatasnya kemampuan mereka dalam memahami perasaan orang lain. Sikap dingin yang dimiliki oleh psikopat didukung dengan emosi psikopat yang labil dan dangkal. Selain itu, psikopat juga memiliki kepribadian yang impulsif (berpusat pada isi hati). Mereka cenderung mencari perhatian orang lain, yang sering menyebabkan mereka terlibat dalam tindak kejahatan.
Menurut Robert Hare, terdapat beberapa karakteristik atau ciri-ciri seorang dapat dikatakan sebagai seorang psikopat. Beberapa karakteristik atau ciri-ciri tersebut antara lain,
1. Mempunyai Kepribadian Anti-sosial
Psikopat umumnya tidak memiliki hubungan yang baik terhadap sesamanya. Psikopat dan gangguan kepribadian anti-sosial secara positif memiliki keterkaitan satu sama lain. Hal ini dilihat dari faktor yang berkaitan dengan psikopat yaitu emosi psikopat yang berpendirian teguh dan gaya hidup anti-sosial. Emosi teguh yang dimiliki psikopat mencakup kurangnya kemampuan dalam memproses informasi secara emosional, kurangnya kemampuan dalam memahami orang lain, dan mengabaikan emosi orang lain.
2. Egosentris, dan Kurangnya Kepedulian Terhadap Sesama
Egosentris disini meliputi kurangnya rasa empati dan berperilaku impulsif. Hare menyatakan bahwa psikopat sangat pandai dalam memberikan perhatian secara penuh terhadap sesuatu yang mereka sukai, bersamaan dengan ketidakpedulian mereka terhadap hal lain.
Sifat para psikopat sering terlihat arogan bagai pembual yang tidak tahu malu, percaya diri, keras kepala, dominan dan angkuh. Mereka memiliki ketertarikan dalam mengendalikan orang lain dan tidak menginginkan orang lain memiliki opini yang berbeda dari opini mereka. Para psikopat terlihat karismatik bagi sebagian orang.
Disamping sikap egosentris, Hare juga mengungkapkan, secara umum psikopat memiliki kepribadian impulsif. Perilaku impulsif psikopat dapat dilihat dari kurangnya refleksi diri yang ditunjukkan dari tidak dipikirkannya terlebih dahulu tindakan yang akan dilakukan. Psikopat umumnya bertindak atas kemauannya sendiri, atas alasan “mereka merasa ingin melakukannya.”
Berdasarkan kepribadian impulsif dan keegoisan yang dimiliki para psikopat, tidak jarang psikopat cepat dalam beremosi dan melakukan tindakan kekerasan terhadap orang lain. Hare menyatakan bahwa kepribadian psikopatk juga memiliki kaitan yang erat dengan emosi yang dangkal, ditunjukkan dari kurangnya rasa empati dan tidak dimilikinya perasaan terkait sikap acuh tak acuh terhadap hak, perasaan dan keselamatan orang lain.
Psikopat terlihat sinis dan egois. Mereka merasakan merasakan penderitaan dan kesengsaraan orang secara abstrak dan intelektual. Bahkan mereka dapat menertawakan ketidakberuntungan orang lain, walau ia sebagai penyebabnya.
3. Kurangnya Kemampuan Dalam Mengontrol Diri
Kemampuan mengontrol diri yang rendah disini meliputi emosi yang dangkal dan tidak adanya rasa takut. Menurut Hare, psikopat memiliki kaitan yang erat dengan emosi yang dangkal. Hare menyebut “emosi yang dangkal” sebagai gangguan emosional yang membuat para psikopat terlihat dingin, juga tidak memiliki kemampuan untuk mendalami rasa emosi.
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh Hare, Hare mengutip psikopat pelaku pemerkosa yang menurutnya sulit dalam berempati,
“Mereka ketakutan, bukan? Tapi lihatlah, aku tidak mengerti. Aku juga merasa takut sendiri, tapi hal itu menyenangkan.”
Para psikopat mengerti akan rasa emosi, namun emosi yang dirasakan terlihat sangat dangkal. Selain itu, terdapat juga psikopat lain yang tidak mengerti akan “rasa takut”. Ketika mereka ditanya apa yang mereka rasakan ketika dibidik dengan pistol, mereka tidak merasakan sensasi apapun pada tubuh mereka. Berdasarkan bukti tersebut, Hare menyimpulkan bahwa psikopat kurang memiliki hati nurani sebab mereka tidak mengalami rasa emosi berupa rasa takut dan kegelisahan yang kuat dalam hidupnya.
4. Keinginan Yang Besar Untuk Memonopoli
Keinginan untuk memonopoli segala sesuatunya disini mempunyai arti bahwa mereka memiliki keinginan yang kuat untuk memiliki segala sesuatunya demi kepuasan pribadi.
Berdasarkan penelitian Hare, terdapat beberapa psikopat yang mampu dalam berperilaku, namun perilaku yang ditunjukkan oleh mereka bukan hanya terlihat mengerikan tapi juga mengherankan bagi manusia normal.
Terkait secara emosional, Hare menyatakan bahwa para psikopat cenderung memandang emosional sebagai wujud kelemahan. Mereka memanfaatkan perasaan tersebut untuk masuk ke dalam perasaan orang lain dengan tujuan mengeksploitasi mereka. Psikopat memungkinkan dapat memperlakukan orang lain tanpa adanya perasaan dan juga kejam. Tindakan yang dilakukan oleh psikopat secara umum melibat tindakan kekerasan. Akan tetapi, tindakan yang mereka lakukan tidak selalu berupa tindakan kriminalitas.
5. Melakukan Penipuan dan Manipulasi Terhadap Orang Lain
Salah satu ciri dari seorang psikopat adalah mereka memiliki penampilan luar yang menarik, misalnya menyangkut akan kecantikan atau ketampanan yang dimiliki para psikopat. Namun, penekanan dari penampilan luar yang menarik tidak semata hanya dalam penampilan fisik. Hare mengartikan penampilan luar yang menarik sebagai kemampuan mereka dalam fasih berbicara dan bermuka dua yang memiliki daya tarik.
Dalam percakapan, psikopat terlihat sangat halus, menarik, dan menghibur. Akan tetapi hal tersebut dipersenjatai dengan sindiran yang cerdas dan mampu meyakinkan orang lain dengan menceritakan sesuatu yang mencerminkan secara positif atas dirinya. Meskipun demikian, mereka dapat dipercaya sepenuhnya oleh orang lain.
Hare menyatakan kebohongan yang ditunjukkan oleh para psikopat terlihat begitu nyata. Sikap pengabaian akan kebohongan oleh para psikopat ini benar-benar luar biasa. Hal tersebut menyebabkan pendengar menjadi takjub akan pembicaraannya.
Selain kepandaian para psikopat dalam berbicara dan mengelabui lawan bicaranya, diungkap juga bahwa para psikopat tidak mengerti atau bahkan tidak mampu dalam mengungkapkan rasa cinta yang sebenarnya terhadap orang lain. Berdasarkan pernyataan oleh Hare, mereka dapat bersyair, namun perkataan mereka tidak dapat menunjukkan emosi dari cinta yang sebenarnya. Tidak hanya ketidakmampuan psikopat dalam hal cinta, psikopat juga memiliki kelemahan dalam merasakan akibat dari kepribadian yang dimiliki mereka.
Mereka melakukan kebohongan untuk memanipulasi, melakukan kecurangan, dan menipu orang lain. Motivasi mereka adalah untuk keuntungan pribadi, dan perilaku manipulatif mereka dapat dilakukan tanpa disadari oleh para korban. Perilaku manipulatif para psikopat tidak memerlukan tindakan kriminal. Ketika Hare melakukan wawancara pada para psikopat, mereka dapat berkata,
“Bagaimana saya sejauh ini?”
Hal tersebut menunjukkan meski psikopat memiliki gangguan kepribadian, mereka mampu berperilaku wajar dengan menanyakan situasi diri mereka ketika di wawancara.
6. Berperilaku Kejam Terhadap Orang Lain
Hare menyatakan bahwa kepribadian para psikopat memiliki kecenderungan untuk melanggar aturan serta melanggar norma masyarakat. Mereka dianggap sebagai orang yang tidak mengerti akan hati nuraninya sendiri. Hare menyebutkan bahwa hati burani yang akan menghasilkan rasa bersalah dan penyesalan atas kesallahan yang dilakukan manusia. Hal tersebut merupakan sesuatu yang tidak dimengerti oleh para psikopat.
Bagi mereka, hati nurani merupakan kesadaran secara intelektual bagi setiap orang untuk berbaikan. Para psikopat mengerti arti kata dalam kamus, namun mereka gagal dalam memahami makna emosional. Standar tes neuropsikologis gagal dalam mengungkapkan adanya indikasi kerusakan otak pada kelompok yang didefinisikan sebagai psikopat. Hal ini mengungkapkan bahwa psikopat tidak gila.
Berdasarkan penelitian Hare, bagi psikopat, kalimat “aku mencintaimu” mempunyai kandungan emosi yang sama, atau bahkan kurang, dengan kalimat “aku akan minum kopi”.
Hare menyatakan bahwa psikopat dianggap sebagai sosok gangguan kepribadian yang paling sulit untuk diobati. Psikopat kurang memiliki wawasan terhadap gangguan yang dimiliki oleh mereka, termasuk ketidakmampuan mereka dalam membentuk dan menopang hubungan yang kekal dan berarti bagi pasangan mereka.
Terkait kurangnya wawasan psikopat terhadap gangguan yang dimilikinya, serta keegoisan psikopat yang terlihat ekstrim, psikopat bahkan memiliki aturan mereka sendiri. Hare mengumpamakan bahwa psikopat melihat diri mereka sendiri sebagai “pusat alam semesta” bagai makhluk superior yang hidup dalam aturan mereka sendiri. Berdasarkan penelitiannya, salah satu subjek Hare mengucapkan,
“Bukan berarti aku tidak mengikuti aturan. Aku mengikuti aturanku sendiri. Aku tidak pernah melanggar aturanku.”
Demikian ia mendeskripsikan aturan yang dimilikinya dalam ruang lingkup “tujuan utama” yang dimilikinya. Hal tersebut menunjukkan bahwa para psikopat tidak ingin untuk disalahkan.
7. Memiliki Permasalahan Kronis di Usia Muda
Bagaimana seseorang dapat mengalami gangguan kepribadian atau bagaimana seseorang dapat menjadi psikopat, tidak secara langsung terjadi bagi manusia berkepribadian normal. Hare mengungkapkan bahwa terdapat pengalaman di buruk di masa lalu oleh para psikopat, salah satunya adalah siksaan secara emosional oleh anggota keluarga. Berdasarkan pernyataan tersebut, terdapat kaitan yang erat antara hubungan anak dan orang tua dalam perkembangan kepribadian anak.
Pada masa kanak-kanak, faktor sosial yang mempengaruhi perkembangan kepribadian. Masa kecil ditandai oleh adanya dua kebutuhan, yaitu kebutuhan terhadap rasa aman dan kepuasan. Keduanya merupakan dorongan yang bersifat universal dan sangat penting. Akan tetapi, rasa aman jauh lebih penting daripada kepuasan.
Hal utama yang menentukan kepribadian adalah kebutuhan rasa aman, yang berarti perlindungan dan bebas dari rasa takut. Ada tidaknya rasa aman dan ketakutan akan menentukan tingkat normal tidaknya perkembangan kepribadian selanjutnya. Rasa aman seorang anak sepenuhnya bergantung pada perlakuan yang diterimanya dari orang tua, salah satunya berupa ada tidaknya kehangatan dan kasih sayang yang diperoleh anak oleh orang tua. Bentuk perilaku mengurangi rasa aman oleh orang tua dapat berupa pilih kasih terhadap saudara kandung secara terang-terangan, hukuman yang tidak adil, perilaku yang tidak menentu, janji yang tidak ditepati, ejekan, hinaan, dan pengasingan anak dari orang lain.
Selain itu, terdapat banyak faktor dalam lingkungan yang dapat menyebabkan timbulnya rasa tidak aman pada seorang anak, yang biasa disebut sebagai basic evil. Basic evil meliputi pengabaian, penolakan, kurangnya perhatian terhadap kebutuhan anak, kurangnya bimbingan, penghinaan, kurangnya kehangatan, diskriminasi, dan sebagainya. Rasa tidak aman membuat anak mengembangkan berbagai strategi untuk mengatasi perasaan-perasaan isolasi dan tidak berdayanya. Ia dapat menjadi bermusuhan dan ingin membalas dendam terhadap orang-orang yang menolaknya.
Referensi : Hare, Robert D. (2003). Manual for the Revised Psychopathy Checklist (2nd ed.). Toronto, Ontario, Canada: Multi-Health Systems.