Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Adanya Perubahan Perilaku; Adanya Hasil dari Belajar

Teori belajar behavioristik merupakan teori belajar klasik yang beranggapan bahwa seseorang  dianggap  belajar  jika mengalami perubahan tingkah laku di dalam diri individu tersebut, sehingga  teori belajar  ini  sering disebut  dengan  teori  belajar  tingkah  laku. Teori behavioristik menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar. Merupakan perubahan tingkah laku sebagai akibat dari adanya reaksi antara stimulus dan respon. Program-program pembelajaran yang berpijak pada konsep hubungan stimulus respon serta mementingkan faktor-faktor penguat (reinforcement), merupakan program pembelajaran yang menerapkan teori belajar, tidak menganjurkan digunakannya hukuman dalam kegiatan pembelajaran. Pengganti hukuman ini disebut dengan penguat negatif (negative reinforcement). Ketidaksamaannya terletak pada bila hukuman harus diberikan (sebagai stimulus) agar respon yang muncul berbeda dengan respon yang sudah ada, sedangkan penguat negatif (sebagai stimulus) harus dikurangi agar respon yang sama menjadi semakin kuat. Penggunaan reinforcement dalam teori belajar ini, merupakan teori dari tokoh psikologi yaitu Burrhus Frederic Skinner atau biasa disebut dengan Skinner.

Tidak hanya Skinner, tokoh-tokoh lainpun mengajarkan tentang teori belajar behavioristik melalui eskperimennya. Tokoh psikologi Pavlov menggunakan anjing dalam eskperimennya dan menghasiljan bahwa individu (atau makhluk hidup) dapat dikendalikan melalui cara mengganti stimulus alami dengan stimulus yang tepat untuk mendapatkan pengulangan respon yang diinginkan, sementara individu tidak menyadari bahwa ia dikendalikan oleh stimulus yang berasal dari luar dirinya.

Tokoh psikologi Thorndike memberikan kontribusi tentang teori koneksionisme. Asumsinya bahwa belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon. Stimulus adalah apa yang merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran, perasaan, atau hal-hal lain yang dapat ditangkap melalui alat indera. Sedangkan respon adalah reaksi yang dimunculkan peserta didik ketika belajar, yang dapat pula berupa pikiran, perasaan, atau gerakan/tindakan.

 

Ciri-Ciri Teori Belajar Behavioristik

Teori belajar behavioristik melihat semua tingkah laku manusia dapat ditelusuri dari bentuk refleks. Dalam psikologi teori belajar behavioristik disebut juga dengan teori pembelajaran yang didasarkan pada tingkah laku yang diperoleh dari pengkondisian melalui interaksi individu dengan lingkungan.

Menurut Ahmadi (2003), teori belajar behavioristik mempunyai ciri-ciri, yaitu :

  • Behavioristik ini mempelajari perbuatan manusia bukan dari kesadarannya, melainkan mengamati perbuatan dan tingkah laku yang berdasarkan kenyataan. Pengalaman-pengalaman batin di kesampingkan serta gerak-gerak pada badan yang dipelajari. Oleh sebab itu, behaviorisme adalah ilmu jiwa tanpa jiwa.
  • Segala perbuatan individu dikembalikan kepada refleks. Behaviorisme mencari unsur-unsur yang paling sederhana yakni perbuatan-perbuatan bukan kesadaran yang dinamakan refleks. Refleks adalah reaksi yang tidak disadari terhadap suatu pengarang. Manusia dianggap sesuatu yang kompleks refleks atau suatu mesin.
  • Behaviorisme berpendapat bahwa pada waktu dilahirkan semua orang adalah sama. Menurut behaviorisme pendidikan adalah maha kuasa, manusia hanya makhluk yang berkembang karena kebiasaan-kebiasaan, dan pendidikan dapat mempengaruhi reflek keinginan hati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *