Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Keterkaitan Ponsel Bagi Kesehatan Mental

Kecemasan dan kesedihan bukanlah lagi fenomena baru di kalangan anak remaja milenial. Namun, dalam beberapa tahun terakhir terdapat peningkatan signifikan dalam persentase remaja atau orang muda berusia 12-20 tahun yang tercatat mengalami depresi berat. Beberapa hal yang dihubungkan dengan meningkatnya tendensi gangguan jiwa pada generasi milenial, di antaranya penggunaan media sosial, sikap perfeksionis, dan berbagai faktor lainnya.

Sumber gambar : Pinterest.

Sebelum tahun 1980, para profesional kesehatan jiwa ragu dalam menegakkan diagnosa depresi pada remaja. Karena perubahan mood pada usia remaja masih dianggap hal yang wajar. Sehingga memungkinkan remaja yang sebetulnya mengalami depresi jadi tidak tertangani dengan baik karena dianggap mengalami perubahan suasana hati yang wajar.

Walaupun kemajuan teknologi sangat luar biasa di era modern sekarang, media sosial juga dapat memiliki dampak bagi kesehatan mental. Dari sekian banyaknya generasi milenial menggunakan yang berbagai media sosial ini bisa menjadi hal yang positif. Namun tidak bisa dipungkiri jika penggunaan media sosial justru membuat seseorang menjadi lebih mudah membandingkan hidupnya dengan orang lain, merasa bahwa kehidupan orang lain jauh lebih baik dari hidupnya, merasa rendah diri saat berinteraksi dengan orang lain, bahkan depresi, serta merasa cemas yang berlebihan dan ini dapat dengan mudah mempengaruhi kesehatan jiwa mereka.

Lalu, apa yang harus dilakukan remaja milenial yang memiliki keluhan seperti di atas? Cara yang pertama adalah lebih terbuka dengan lingkungan sekitar bisa dengan cara menceritakan masalah yang menganggu pikirannya pada keluarga atau teman terdekat.

Bagaimana jika tidak memiliki teman bicara? Sekarang sudah ada berbagai komunitas penanganan depresi dan pencegahan bunuh diri yang dapat diakses 24 jam.

Opsi terakhir adalah dokter, berkonsultasi lah dengan dokter. Dokter akan melakukan wawancara medis serta pemeriksaan fisik secara langsung guna membantu menentukan penyebab dan upaya penanganan yang paling tepat. Setelah itu, selalu berusaha untuk menjalani pola hidup sehat juga sangat penting untuk meningkatkan kualitas hidup.

Selain itu, ada suatu keadaan dimana manusia itu sendiri mengalami kejadian ini tanpa mereka sadari yang dikatakan sebagai “fenomena psikologis.” Fenomena tersebut didefinisikan sebagai “trik otak”. Yaitu, ‍Phantom Vibration Syndrome, persepsi dimana seseorang merasa ponsel mereka bergetar atau berdering padahal tidak.

Sumber Gambar : GooglePenelitian menunjukkan bahwa sindrom ini muncul karena keterlibatan seseorang dengan ponsel secara berlebihan. Getaran mulai memanifestasikan diri dalam waktu sebulan setelah orang tersebut memiliki ponsel.

Hal tersebut bisa disebut sebagai halusinasi akibat seringnya penggunaan ponsel. Sebanyak 9 dari 10 orang mengalami phantom vibration syndrome saat telepon genggam disimpan di saku pakaian.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *