Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Setiap Individu Sebenarnya Biseksual? Temui Jawaban dari Anima-Animus!

Carl Gustav Jung, salah satu tokoh psikologi yang memiliki teori kontroversial yaitu teorinya tentang ketidaksadaran kolektif (collective unconscious) sebagai salah satu dari konsepnya tentang kepribadian manusia yang tersusun dari ego, ketidaksadaran personal, dan ketidaksadaran kolektif-arketipe. Pada pembahasan kali ini, saya akan membahas mengenai salah satu bagian penting pembentukan arketipe yang dinilai Jung sebagai bagian kepribadian dan tingkah laku manusia, yaitu anima dan animus. Bagaimana sih kepribadian dari teori kontoversial ini?

Seperti yang kita pahami sehari-hari bahwa, sisi feminim melekat dengan perempuan, sedangkan sisi maskulin melekat dengan hal yang berbau laki-laki. Secara fisiologis, laki-laki mengeluarkan hormon laki-laki, demikian juga dengan perempuan. Namun secara psikologis, sifat-sifat maskulin dan feminim ada pada keduanya baik pada laki-laki maupun perempuan. Bagi laki-laki yang memiliki sisi feminim (perempuan), dinamakan Anima; sedangkan bagi perempuan yang memiliki sisi maskulin (laki-laki) dinamakan Animus.

Anima dan Animus merupakan sisi kewanitaan dalam pria dan sisi pria dalam wanita. Anima dan animus merujuk pada dasar manusia yang sebenarnya biseksual. Dalam kehidupan psikologi, setiap jenis kelamin akan termanifestasi dalam karekteristik, tempramen, dan sikap dari jenis kelamin tertentu. Psyche perempuan memiliki aspek maskulin (arketipe animus) yang sebenarnya dimiliki laki-laki, dan psyche laki-laki berisi aspek feminim (arketipe anima) yang sebenarnya dimiliki perempuan. Laki – laki yang memiliki sifat anima bisa bersikap perhatian layaknya seorang wanita. Seorang laki-laki yang lebih menonjolkan Anima; sisi feminimnya atau sifat kewanitaan, akan cenderung bersikap lemah lembut dan menampilkan kelemahlembutannya atau misalnya menampilkan bentuk perhatian dalam setiap aktifitasnya. Sedangkan perempuan dengan animus atau sifat kelakian (maskulin)nya akan menampilkan sosok yang kuat, bentuk berpikir logis dalam mengelola dan mengolah infromasi, dan sisi maskulin lainnya (Setiawan & Maulinda, 2020). Kedua hal ini perlu dipahami secara menyeluruh dan dijadikan sebagai suatu kekayaan psikologis yang dimiliki masing-masing individu.

Dalam kombinasi, anima dan animus dikenal sebagai Syzygy; bayangan cermin dari seks biologis kita. Oleh karena itu terdapat sisi feminin bawah sadar pada pria dan kecenderungan maskulin pada wanita. Inilah bukti bahwa manusia adalah makhluk yang unik dengan berbagai macam karakteristik. Kita terkadang menganggap orang yang memiliki kecenderungan kepada salah satu sisi misalnya laki-laki yang feminim kita bahasakan sebagai manusia yang kurang wajar, demikian pula sebaliknya pada perempuan. Padahal itu adalah suatu hal yang wajar dan merupakan kekayaan yang secara psikologis jarang dimiliki orang lain (Ismail, 1999).

 

 

Referensi :

Ismail, F. (1999). Pemikiran Carl Gustav Jung Tentang Teori Kepribadian (Implikasinya Terhadap Interaksi Sosial). https://docplayer.info/38275328-Pemikiran-carl-gustav-jung-tentang-teori-kepribadian-implikasinya-terhadap-interaksi-sosial-feiby-ismail-1-abstrak.html

Setiawan, H., & Maulinda, R. (2020). Studi Arketipe Terhadap Tokoh Kiran Dalam Novel Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur Karya Muhidin M Dahlan. Mafsau Jurnal Penelitian Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Pamulang, 1(1), 97–113.

https://www.psychologytoday.com/intl/blog/views-through-the-psychiatrist-s-lens/201905/game-thrones-the-iron-throne

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *