Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Konsep Diri : Bagaimana Kamu Memandang Dirimu?

Sudahkah kita mengenal diri? Setelah melewati masa remaja dan memiliki identitas diri, apakah kita sudah menyadari diri kita sepenuhnya? Dalam berkehidupan pastinya kita memiliki konsep dan persepsi sendiri terhadap apapun, dan dalam topik ini akan dibahas mengenai konsep diri. Apa konsep diri itu?

Konsep diri adalah kumpulan keyakinan dan persepsi diri mengenai diri sendiri, serta merupakan kerangka acuan yang memiliki pengaruh yang kuat terhadap tingkah laku seseorang dalam berinteraksi dengan lingkungannya (Fitts, dalam Sutaminingsih, 2010; Khairul Anwar, 2016). Rakhmat (2007) mengartikan konsep diri sebagai pandangan dan perasaan kita tentang diri sendiri. Persepsi tentang diri ini bersifat psikologis, sosial, dan fisik. Jadi untuk mengetahui konsep diri kita positif atau negatif, secara sederhana terangkum dalam tiga pertanyaan berikut, “bagaimana watak saya sebenarnya?”, “bagaimana orang lain memandang saya?” dan “bagaimana pandangan saya tentang penampilan saya?”. Jawaban pada pertanyaan pertama menunjukkan persepsi psikologis, jawaban kedua menunjukkan persepsi sosial, dan jawaban pada pertanyaan ketiga menunjukkan persepsi fisik tentang diri kita.

 

ASPEK KONSEP DIRI

Maria (2007) berpendapat bahwasanya aspek dari konsep diri adalah : (1) Aspek Fisik, menggambarkan bagaimana individu memandang kondisi kesehatannya, badannya, dan penampilan fisiknya. (2) Aspek Psikis, yang meliputi pikiran, perasaan, dan sikap-sikap terhadap dirinya sendiri. (3) Aspek Sosial, mencerminkan sejauhmana perasaan mampu dan berharga dalam lingkup interaksi sosial dengan orang lain

Sedangkan onsep diri menurut Fitts (1972) memiliki 4 aspek, yaitu :

1. Aspek pertahanan diri (self defensiveness)

Sebagian dari cara individu mereduksi perasaan tertekan, kecemasan, stress ataupun konflik adalah dengan melakukan mekanisme pertahanan diri baik yang ia lakukan secara sadar ataupun tidak. Pada dasarnya strategi-strategi hanya mengubah cara individu mempersepsi atau memikirkan masalah itu. Aspek pertahanan diri ini membuat seorang individu mampu untuk “menyimpan” keburukan dari dirinya dan tampil dengan baik sesuai yang diharapkan oleh lingkungan dari dirinya.

2. Aspek penghargaan diri (self esteem)

Label-label dan simbol yang ada dan diberikan pada dirinya menggambarkan sejauh mana individu  menilai dirinya sebagai orang yang memiliki kemampuan, keberartian, berharga dan kompeten. Jika label baik yang ditanamkan, maka akan semakin baik pula penghargaan pada dirinya sendiri. Sebaliknya, jika label kurang baik pada dirinya maka akan diinternalisasikannya dan membentuk penghargaan yang kurang baik pada dirinya sendiri.

3. Aspek integritas diri (self integration)

Mengacu pada integrasi antara bagian-bagian dalam diri seseorang. Semakin tinggi integrasi bagian-bagian diri seseorang, maka akan semakin baik pula individu tersebut menjalankan fungsinya dan eksistensinya.

4. Aspek kepercayaan diri (self confidence)

Kepercayaan akan kemampuan sendiri yang memadai dan menyadari kemampuan yang dimiliki, serta dapat memanfaatkannya secara tepat. Percaya diri merupakan modal dasar untuk pengembangan aktualisasi diri. Dengan percaya diri orang akan mampu mengenal dan memahami diri sendiri. Sementara itu, kurangnya percaya diri akan menghambat pengembangan potensi diri. Jadi orang yang kurang percaya diri akan menjadi seseorang yang pesimis dalam menghadapi tantangan, takut dan ragu-ragu untuk menyampaikan gagasan, serta bimbang dalam menentukan pilihan dan sering membanding-bandingkan dirinya dengan orang lain.

 

 

 

Referensi :

Khairul Anwar, M. and , Mr Taufik, M.Si., Ph.D (2016) Hubungan Antara Konsep Diri Dengan Interaksi Sosial Pada Perawat Di Rumah Sakit Islam Surakarta. Skripsi thesis, Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *