Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

“I’M SORRY” : Sebuah Penyesalan dan Bahasa Permintaan Maaf

Kita sebagai makhluk yang tidak sempurna dan memiliki hati nurani/moralitas maka pasti berkeinginan untuk memperbaiki kembali hubungan yang goyah atau rusak. Maka dari itu kebutuhan untuk meminta dan menerima maaf penting, karena akan meredakan amarah dan kekerasan.

Untuk permintaan maaf yang sesuai, ada praktik yang dinamakan dengan Bahasa Permintaan Maaf atau Apology Language. Apology Language menunjukan atau mengekspresikan permintaan maaf dan bagaimana mempersepsikan maaf dari orang lain. Memahami apology language memberikan manfaat yaitu sebagai media komunikasi, cara memperbaiki kesalahan, mempererat atau memperbaiki hubungan, serta memahami cara memberi dan meminta maaf.

 

Ada berapa sih aplogy language itu?

Sama seperti bahasa cinta, Chapman membagi bahasa permintaan maaf kedalam 5 bentuk atau tindakan, yaitu :

1. Expressing Regret

Mengucap maaf atau mengungkapkan penyesalan. Menyampaikan penyesalan tentang kesalahan secara spesifik baik lewat lisan atau tulisan dengan tulus. Mengekspresikan penyesalan adalah aspek emosional dari permintaan maaf untuk mengakui rasa sakit, tidak nyaman, kecewa, rasa bersalah, dan rasa malu. Poin terpenting adalah menyadari kesalahan.

Do = Meminta maaf dengan kata-kata tulus yang spesifik -> contoh : maaf ya.. karena (sebutkan kesalahanmu); Menggunakan bahasa tubuh yang baik dan sesuai dengan perkataan; Bertanggung jawab; Tidak ada motif tersembunyi.

Don’t = Tidak mengucapkan maaf; Meminta maaf secara asal-asalan.

2. Accepting Responsibilty

Menerima dan mengakui kesalahan tanpa excuse atau pembelaan dan paham bahwa perilaku tersebut menyebabkan orang lain tersakiti. Apology Language ini biasanya diucapkan dengan kata-kata “Saya salah”. Individu dengan apology language seperti ini akan bertangggung jawab dengan spefifik dan eksplisit.

Do = Menyatakan dengan jelas “aku udah melakukan (what).. (when).. sehingga membuat kamu (feels)”; Mengakui kesalahan sepenuhnya

Don’t = Meremehkan kesalahan; Membenarkan diri sendiri; Membuat alasan

3. Genuinely Repenting

Menunjukan penyesalan dengan tulus dan berusaha tidak mengulangi kesalahan yang sama. Berubah atau bertaubat, dimulai dengan pola pikir “saya ingin berubah”.  Terdapat 3 langkah yang menunjukan bahwa kita benar-benar menyesal, yaitu : 1) Mindset “aku bisa berubah” dan niat dengan sungguh-sungguh, 2) Buat rencana untuk perubahan yang akan terjadi, 3) Menerapkan perubahan yang direncanakan.

Do = Mengakui kesalahan yang berulang dan terus mencoba untuk berubah; “Maaf ya kata-kataku kemarin jahat, aku akan (melakukan apa supaya tidak seperti itu lagi)”

Don’t = Hindari kata yang tidak menunjukan kesalahan atau tidak ada kata pembelaan

4. Requesting Forgiveness

Permintaan maaf ini sering terdengar ketika individu meminta untuk dimaafkan. Permintaan maaf diucapkan dengan langsung dan nyata. Menyadari kesalahan dan menginginkan hubungan kembali baik.

Apology languange ini adalah salah satu hal tersulit yang harus dilakukan dalam permintaan maaf, tindakan meminta maaf dengan mengucapkan kata-kata “maukah kamu memaafkan saya?” mungkin menjadi sulit karena menakutkan. Tiga alasan paling umum mengapa proses ini menjadi sulit adalah sebagai berikut:

– untuk melepaskan kendali atas hubungan

– takut ditolak

– takut gagal

Do = Meminta maaf dengan berserah pada orang lain apakah dia akan menerima maaf atau tidak.

Don’t = Memaksa permintaan maafnya diterima.

5. Making Restitution

Berusaha menebus kesalahan untuk menunjukan atau sebagai bukti kita meminta maaf dengan tulus. Membuat restitusi dengan menjawab pertanyaan “Apa yang dapat saya lakukan untuk memperbaikinya?”. Restitusi pada dasarnya adalah penyetaraan, untuk menebus atau melakukan sesuatu terhadap kesalahan yang dilakukan.

Do = “Apa yang bisa aku lakukan untuk menebus kesalahanku?” atau “aku mau perbaiki keadaan, apa yang bisa aku lakukan?”

Don’t = Tidak berusaha memperbaiki keadaan. Lepas tangan atas apa yang terjadi. Asumsi perbaikan tanpa konfirmasi.

Lima Bahasa Cinta/Love Language berfungsi sebagai panduan untuk restitusi yang efektif. 5 bahasa cinta itu adalah words of affirmation, acts of service, receiving gift, quality time, dan physical touch. Kamu bisa baca selengkapnya di https://dictio.id/ganti-aku-cinta-kamu-dengan-uungkapan-cinta-yang-kamu-banget/

 

 

 

Referensi :

Chapman G and Thomas J. (2006). The Five Languages of Apology. Chicago:Northfield Publishing.

Salma Dias. (2021). Webinar “Love and Apology Language” [PowerPoint slides]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *